NovelToon NovelToon
PENGANTIN SANG JENDERAL

PENGANTIN SANG JENDERAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:253
Nilai: 5
Nama Author: Dede Queen

Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.

Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".

Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.

Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.

Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Persekutuan yang Tak Disangka

Cahaya merah itu terus memancar, berdenyut irama yang mengerikan, seolah jantung raksasa yang baru saja terbangun dari tidur berabad-abad. Getaran yang ditimbulkannya membuat dinding aula berderit, debu halus jatuh dari langit-langit batu. Warga yang berdiri di belakang Ling Yue saling pandang dengan wajah pucat; bahkan Bai Su, yang selama puluhan tahun menjaga lembah ini, tampak kehilangan ketenangannya.

"Itu dia..." gumam Paman Gao, matanya tak lepas dari pijaran merah yang semakin menyala di kejauhan. "Kekuatan yang kusebutkan. Ia tidak tidur seperti yang dipercaya. Ia hanya menunggu celah—celah yang kubuka sendiri saat mencari jalur masuk ke sini." Ia menunduk pelan, bahunya merosot. "Aku yang memanggilnya."

Keheningan menyelimuti ruangan itu, namun kali ini bukan keheningan kemarahan, melainkan keprihatinan yang mendalam. Li An melangkah maju, menatap ayahnya—pria yang selama ini ia benci dan kagumi sekaligus, yang ternyata bertindak karena ketakutan yang berlebihan, bukan kejahatan murni.

"Maka kita perbaiki," ucap Li An tegas. "Bersama."

Paman Gao menoleh, menatap anaknya seolah tidak percaya. "Kau... tidak membiarkanku pergi?"

"Kita belum selesai," jawab Ling Yue, melangkah ke samping Li An, kelopak bunga di dadanya kini bersinar lembut namun mantap. "Kau tahu kelemahannya. Kau tahu cara menghadapinya. Dan kita tidak akan menolak bantuanmu, meski jalan yang kau tempuh salah."

Bai Su menarik napas panjang, lalu mengangguk pelan. "Ling Yue benar. Musuh di luar sana tidak memihak. Jika kita terpecah, kita akan hancur satu per satu." Ia menatap Paman Gao. "Kau tahu tempat itu?"

Paman Gao mengangguk perlahan. "Pusat kekuatan itu ada di bawah dasar danau di tengah lembah. Di sana, dua kekuatan bertemu—cahaya yang dijaga klan kalian, dan bayangan yang kini bangkit. Selama ratusan tahun, keseimbangan itu terjaga. Tapi sekarang..." Ia terdiam, lalu menatap mereka dengan tekad yang baru tumbuh. "Sekarang keseimbangan itu retak. Dan hanya penyatuan kedua kekuatan yang bisa mengembalikannya."

"Maksudmu..." Ling Yue mengerutkan kening. "Menggabungkan cahaya klan kami dengan kekuatan gelap yang kau cari?"

"Bukan begitu," potong Paman Gao cepat. "Menggabungkan niat. Kekuatan cahayamu adalah perisai, kekuatan yang kupegang adalah pedang. Selama ini kita menganggapnya berlawanan, padahal keduanya lahir dari sumber yang sama. Satu tanpa yang lain tidak lengkap." Ia menatap mereka satu per satu. "Tapi untuk menyatukannya, kita harus pergi ke sana sendiri. Menghadapinya langsung. Tidak ada yang bisa melakukannya untuk kita."

"Kalau begitu kita berangkat sekarang," kata Li An, tangannya mencengkeram gagang pedang. "Sebelum ia semakin kuat."

"Aku ikut," ucap Bai Su. "Aku tahu jalur tersembunyi menuju dasar danau. Dan aku akan memastikan tidak ada lagi pengkhianatan." Tatapannya jatuh pada Paman Gao—bukan ancaman, melainkan peringatan yang jujur.

Paman Gao mengangguk. "Aku terima syaratmu."

 

Perjalanan menuju pusat kekuatan itu sunyi dan berat. Mereka berempat menyusuri lorong bawah tanah yang kini bergetar hebat di setiap langkah. Cahaya merah menyelinap dari celah-celah batu, menimpa wajah mereka dengan bayangan yang berkedip-kedip. Di sepanjang jalan, Paman Gao menjelaskan apa yang ia temukan saat meneliti naskah kuno yang dilarang—bagaimana kekuatan itu terbagi menjadi dua saat pendiri klan pertama kali menjinakkannya, bagaimana satu bagian dijaga, sementara yang lain dikurung dan dilupakan.

"Kesalahan terbesar nenek moyang kita," ucapnya pelan di tengah kegelapan, "adalah berpikir kita bisa membuang sisi gelap itu. Ia tidak bisa dimusnahkan, hanya bisa dikelola. Dan dibiarkan sendirian, ia akan tumbuh tak terkendali."

"Seperti ketakutan," gumam Ling Yue. "Semakin kita lari darinya, semakin ia mengejar."

Paman Gao menoleh, sedikit tersenyum—senyum pertama yang tulus sejak mereka bertemu. "Tepat sekali."

Tak lama kemudian, mereka tiba di tepi danau bawah tanah yang luasnya tak terlihat. Di permukaannya yang tenang, cahaya merah memantul berkilauan, dan dari kedalaman itu, suara dentuman teratur terdengar semakin keras—seperti detak jantung yang semakin cepat. Di tengah danau, muncul sebuah pulau batu kecil, tempat sebuah altar kuno berdiri sendirian, diterangi nyala api merah yang tak padam.

"Itu tempatnya," tunjuk Paman Gao. "Di sana keseimbangan harus dipulihkan."

Mereka melintasi jembatan batu yang sempit dan licin, satu per satu, tanpa kata. Udara di sini terasa berat, menekan dada seolah ada beban di atasnya. Saat menginjak pulau itu, api merah di altar tiba-tiba berkobar tinggi, menyemburkan asap hitam yang berbau belerang.

"Kau datang..." suara berat bergema dari segala arah, bukan dari mulut siapa pun, melainkan dari udara itu sendiri. "Pencari kekuatan... dan penjaga yang terlambat."

Ling Yue melangkah maju, kelopak bunga di dadanya bersinar terang, menolak kegelapan yang mendekat. "Kami tidak datang untuk mengambil apa pun. Kami datang untuk mengembalikan keseimbangan."

Suara itu tertawa, rendah dan mengerikan. "Keseimbangan sudah patah sejak lama. Tidak ada yang bisa menyambungnya kembali."

"Kau salah," jawab Li An, berdiri di samping Ling Yue, pedangnya terhunus memancarkan cahaya perak. "Selama ada keinginan untuk memperbaiki, keseimbangan belum hilang sepenuhnya."

Ia melangkah maju, namun tiba-tiba tanah di depannya terbelah, dan sosok raksasa yang terbuat dari asap dan batu melonjak keluar, tangan besarnya menghantam ke arah mereka. Li An menangkis, namun kekuatan pukulan itu mendorongnya mundur hingga terpental ke tepi pulau.

"Li An!" seru Ling Yue, bergegas mendekat, namun sosok itu menghadangnya, menangkis setiap langkahnya.

Paman Gao melangkah maju, kabut hitam di tangannya berkumpul menjadi tombak panjang. "Biarkan aku yang menahannya. Kalian cari celah untuk menyatukan kekuatan di altar."

"Tapi kau..." ragu Li An.

"Aku sudah memulai ini," potong Paman Gao tegas, matanya menatap anaknya dengan penuh pengakuan. "Biarkan aku yang mengakhirinya."

Ia melompat maju, menyerang sosok raksasa itu, menarik perhatiannya ke arah dirinya sendiri. Benturan terdengar keras, dan Paman Gao terdorong mundur, napasnya memburu, namun ia tidak mundur selangkah pun.

"Ling Yue!" serunya di tengah pertarungan. "Altar itu! Letakkan kekuatanmu di tengah piringan batu! Lalu panggil sisi lain—panggil namanya, jangan lawan!"

Ling Yue mengangguk, berlari menuju altar diiringi perlindungan Bai Su yang berdiri di belakangnya, menangkis serpihan batu yang beterbangan. Di atas piringan batu itu, terukir dua lingkaran yang saling bertaut—satu putih, satu merah. Ling Yue meletakkan tangannya di lingkaran putih, dan cahaya bercahaya memancar, menyala terang. Namun lingkaran merah tetap gelap, seolah menolak menyatu.

"Aku tidak bisa!" teriaknya. "Ia menolakku!"

"Karena kau melawannya!" seru Paman Gao yang kini berdarah di pelipisnya, namun tetap bertahan. "Jangan anggapnya musuh! Anggapnya bagian dari dirimu yang tak ingin kau lihat! Terima keberadaannya, lalu ajak ia berdiri bersama!"

Ling Yue menarik napas panjang, menutup matanya. Ia membiarkan ketakutannya, keraguannya, rasa sakitnya—semua yang selama ini ia sembunyikan—muncul ke permukaan. Ia tidak menolaknya. Ia menerimanya. Dan perlahan, ia merentangkan tangan, membuka hatinya sepenuhnya.

"Kau bagian dari kami," bisiknya ke arah kegelapan itu. "Kami tidak membuangmu. Kami hanya takut. Tapi sekarang... kami siap."

Cahaya merah di altar berkedip pelan. Perlahan, sangat perlahan, pijaran itu menyentuh telapak tangannya. Panas, menyengat, namun tidak membakar. Ia menyambutnya, menggabungkan cahayanya dengan pijaran itu, bukan menaklukkan, melainkan berbagi.

Dua cahaya itu menyatu menjadi satu—sinar keemasan yang lembut namun dahsyat, meledak perlahan ke segala arah, mendorong kegelapan, menenangkan getaran tanah, dan membungkus sosok raksasa itu dengan kehangatan yang tak pernah dirasakannya sejak ribuan tahun lalu.

Sosok itu mengecil, berubah, hingga akhirnya menjadi seberkas cahaya yang tenang, melayang perlahan turun ke piringan altar, menyatu kembali dengan tempatnya.

Keseimbangan telah pulih.

 

Semuanya tenang. Getaran lenyap. Cahaya merah yang mengancam kini menyatu dengan cahaya putih, bersinar damai di tengah altar.

Ling Yue berlutut, napasnya tersengal, tubuhnya terasa ringan seolah beban bertahun-tahun telah diangkat dari pundaknya. Li An mendekat, berlutut di sampingnya, memeluknya erat tanpa kata.

Di tepi pulau, Paman Gao berdiri diam, menatap altar itu dengan mata berkaca-kaca. Ia melangkah maju perlahan, menyentuh permukaan batu yang kini hangat dan damai.

"Ayah..." panggil Li An pelan, melepaskan pelukannya dan menatap pria itu.

Paman Gao menoleh, tersenyum tipis, senyum yang penuh kelegaan sekaligus perpisahan. "Kau melakukannya dengan baik, An. Lebih baik dariku." Ia menatap mereka berdua. "Keseimbangan ini rapuh. Ia harus dijaga, bukan dengan kekuatan, melainkan dengan kesetiaan satu sama lain. Jangan biarkan perbedaan memisahkan kalian seperti yang terjadi pada kami."

"Kau mau ke mana?" tanya Ling Yue, menyadari sesuatu.

Paman Gao menunjuk ke arah cahaya yang menyatu di altar. "Bagian dari kekuatan itu... masih menempel padaku. Jika aku pergi, ia akan ikut bersamaku, memastikan tidak ada yang salah lagi." Ia menatap anaknya dengan tatapan yang penuh kasih sayang. "Jaga dirimu, anakku. Dan maafkanlah ayahmu yang tidak sempat berada di sisimu sejak kecil."

"Ayah..." Li An melangkah maju, suaranya pecah. "Tetaplah di sini. Kita bisa bersama."

Paman Gao menggeleng pelan, mengusap pipi anaknya—sentuhan pertama yang hangat dan penuh kasih sayang. "Tempatku bukan di sini. Tapi ketahuilah... aku selalu bangga padamu. Sejak hari pertama aku melihatmu memegang pedang, aku tahu kau akan menjadi lebih baik dariku."

Ia mundur perlahan, tubuhnya mulai bersinar, menyatu dengan cahaya keemasan yang memancar dari altar. "Hiduplah dengan bahagia. Itu saja permintaan ayahmu."

Dan sebelum sempat diucapkan lagi, sosok itu lenyap, larut menjadi cahaya yang lembut, menyebar ke seluruh lembah, membawa ketenangan yang abadi.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!