Zemima dan Arsyad sudah menikah selama dua tahun. Selama itu pula pernikahan mereka baik-baik saja. Apalagi Arsyad juga selalu bersikap baik dan lembut sebagai suami.
Selama itu pula mereka belum di karuniai anak, dan Arsyad tak mempermasalahkan hal itu. Tapi berbeda dengan sang ibu yang menginginkan cucu dengan alasan Arsyad sudah mapan dan memiliki pekerjaan bagus. dia sudah harus punya keturunan.
Namun beberapa bulan terakhir, suaminya sering sekali ke rumah ibunya tanpa mengajak Zemima. Namun suatu hari, saat Arsyad tengah malam pergi diam-diam, Zemima mengikutinya. ternyata Arsyad pulang ke rumah ibunya dan di sambut wanita hamil.
Apa Zemima akan menghancurkan keluarga Arsyad yang sudah membohonginya? padahal pekerjaan bagus yang di dapat Arsyad tak lepas dari bantuan Zemima. Mereka tidak tahu kalau Zemima adalah pewaris tunggal perusahaan besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zemima 32
Dua pengawal bertubuh tegap itu mencengkeram kedua bahu Arsyad dengan sangat kokoh, menguncinya di tempat hingga pria itu tak mampu berkutik sedikit pun. Urut-urat di leher Arsyad menegang, wajahnya memerah padam antara malu, panik, dan murka yang membakar dada.
"Lepasin saya! Kamu nggak tahu saya siapa, hah?! Saya ini calon Pimpinan Cabang di Altamas Group!" bentak Arsyad histeris, berusaha menepis tangan-tangan kekar yang menahannya.
Namun, para pengawal itu bahkan tidak bergeming. Salah satu dari mereka memberikan tekanan lebih kuat pada bahu Arsyad, membuat pria itu merintih kesakitan seraya dipaksa mundur beberapa langkah dari pintu mobil.
Di dalam mobil sedan mewah beratap kedap udara itu, Zemima duduk tenang di jok belakang. Ia bahkan tak sudi menengok ke balik kaca gelap untuk melihat kehisterisan suaminya. Jemari lentiknya sibuk menggeser dokumen digital di tablet kerja yang disodorkan oleh Maya.
"Bu Zemima, Pak Arsyad sepertinya masih mencoba mengejar," ujar Maya pelan seraya melirik spion samping.
"Apakah perlu tim keamanan kafe ikut menertibkan?"
"Tidak perlu, Maya," tutur Zemima sehalus sutra, suaranya mengalun dingin tanpa sedikit pun emosi.
"Biarkan dia meluapkan kebingungannya di jalanan. Jalan saja sekarang."
"Baik, Bu."
Mobil sedan mewah itu meluncur mulus membelah jalanan kota, meninggalkan Arsyad yang terhuyung-huyung di trotoar setelah para pengawal melepaskan cengkeramannya dan ikut melompat ke mobil pengawal di belakangnya.
"Sialan! Bangsat!" umpat Arsyad histeris, menendang tiang lampu di pinggir jalan hingga kakinya kesakitan. Pria itu mengacak rambutnya kasar, napasnya memburu bagaikan binatang buruan yang terpojok.
Kepalanya serasa mau pecah dihantam fakta-fakta gila yang baru saja terjadi secara beruntun.
'Ibu? Kenapa Maya dipanggil bawahan dan memanggil Zemima dengan sebutan Ibu?! Sejak kapan Zemima punya pengawal pribadi yang garang begitu?! Dan... Rayhanan Arisanjaya?! Kenapa pemilik utama Arisanjaya menelpon Zemima dengan nada seakrab itu?!'
Ponsel di saku celana Arsyad mendadak berdering nyaring, mengagetkan saraf-sarafnya yang tegang. Dengan tangan gemetar, ia menyambar benda itu. Nama Ibu tertera di layar.
"Halo, Bu..." sapa Arsyad dengan suara serak dan bergetar.
"Arsyad! Kamu di mana sih?!" suara ibunya terdengar melengking di seberang sana, penuh nada menuntut.
"Ini Dina dari tadi nangis terus! Katanya kamu bentak-bentak dia di telepon?! Kamu ini gimana sih, Dina kan lagi hamil tua, cucu Ibu! Dia ngidam mi kocok sama mau kalung emas buat acara tujuh bulanan minggu ini! Kamu cepat pulang, belikan pesanan Dina!"
Mendengar ocehan ibunya yang seolah tak paham situasi, emosi Arsyad yang sudah berada di puncak seketika meledak.
"Bisa diam nggak sih, Bu?!" teriak Arsyad frustrasi di tepi jalan raya.
"Emas lagi, emas lagi! Dina itu cuma numpang di rumah Ibu! Uang Arsyad lagi menipis, Bu! Arsyad lagi pusing urusan kantor!"
"Lho, Arsyad! Kok kamu malah ngebentak Ibu?!" sahut ibunya tak terima, suaranya makin meninggi.
"Kamu kan calon Pimpinan Cabang! Masa beli kalung emas beberapa gram aja teriak-teriak?! Uang bonus proyek Surabaya kamu dikemanain?! Jangan bilang kamu kasih ke si Zemima, istri tidak berguna itu?!"
"Zemima bukan tidak berguna, Bu!" potong Arsyad gagap, rasa takut mendadak menyusup kencang saat mengingat tatapan dingin istrinya tadi.
"Zemima... Zemima tadi ketemu Arsyad di Altamas Pusat! Dia punya pengawal, Bu! Dia dijemput mobil mewah dan dipanggil 'Ibu' sama sekretarisnya! Dia bahkan ditelepon langsung sama Pemilik perusahaan besar!"
Hening sejenak di seberang telepon. Namun detik berikutnya, tawa ejekan ibunya menyambar tajam.
"Hahaha! Kamu ini ketempelan setan apa sih, Arsyad?! Kena gertak si Zemima begitu saja langsung percaya!" cemooh ibunya tanpa beban.
"Mana ada si Zemima yang dasteran dan cuma tahu masak tahu-tempe itu punya pengawal?! Paling dia sewa mobil sama orang buat nakut-nakutin kamu biar kamu nggak jadi nikahin Dina secara resmi! Kamu jangan mau dibodohi perempuan miskin itu!"
Arsyad mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin. "Tapi Bu... Arsyad lihat sendiri..."
"Sudah! Nggak usah banyak alasan!" pangkas ibunya tak mau kalah.
"Cepat kamu belikan kalung emas Dina dan pulang! Ibu nggak mau tahu, acara tujuh bulanan calon cucu Ibu harus mewah di depan tetangga! Awas kalau kamu bikin malu Ibu!"
Bip.
Telepon diputus sepihak oleh ibunya. Arsyad berdiri membeku di pinggir jalan, memandangi layar ponselnya yang meredup dengan tatapan kosong.
Pikirannya kini terbelah hebat. Logikanya mencoba memercayai ucapan sang ibu bahwa Zemima hanya sedang berakting dan menggertaknya demi melampiaskan cemburu. Namun, rasa dingin dari tamparan Zemima, cengkeraman keras para pengawal, serta suara tegas Rayhanan Arisanjaya di telepon terus membentur kesadarannya.
"Nggak... Nggak mungkin Zemima pemilik perusahaan," gumam Arsyad menenangkan dirinya sendiri dengan napas memburu, berusaha meraih kembali sisa-sisa kesombongannya.
"Dia pasti cuma pura-pura karena cemburu dan curiga dengan keberadaan Dina! Dia cuma mau bikin aku panik sebelum pengumuman hari Senin! Ya... pasti begitu! Hari Senin nanti aku akan dilantik jadi Pimpinan Cabang, dan aku akan buktikan kalau dia cuma wanita halusinasi!"
Arsyad mengepalkan tangannya erat-erat, mencoba menghapus rasa gentar yang menggerogoti dadanya. Ia memutar tubuh melangkah kembali ke mobilnya, bertekad menjalani akhir pekan ini sesuai skenario, tanpa menyadari bahwa jurang kehancuran karier dan hidupnya sudah terbuka lebar tepat di hari Senin pagi nanti.
Arsyad menginjak pedal gas dalam-dalam, meluncurkan sedan hitamnya menuju kantor cabang Altamas Group. Penjelasan sang ibu di telepon tadi berhasil memberinya suntikan keberanian palsu, namun denyut di pelipisnya sama sekali belum mereda. Ia butuh duduk di kursi kerjanya, melihat tumpukan dokumen proyek Surabaya, dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa posisi Pimpinan Cabang sudah hampir berada di genggamannya.
Namun, baru saja Arsyad melintasi pintu kaca area divisi keuangan, langkahnya mendadak terhenti.
"Pak Arsyad! Kebetulan sekali Bapak sudah kembali!" seru Pak Bowo, Kepala Divisi Keuangan Cabang, dari balik meja kerjanya. Pria berkacamata tebal itu bergegas berdiri seraya memeluk sebuah map tebal berwarna merah menyala.
Arsyad menetralkan raut wajahnya, berusaha memasang wibawa seorang calon pimpinan.
"Ada apa, Pak Bowo? Kelihatannya buru-buru sekali."
"Sangat mendesak, Pak," sahut Bowo seraya mengajak Arsyad masuk ke dalam ruangan kerjanya dan menutup pintu rapat-rapat.
"Tim audit internal dari Holding Pusat baru saja mengirimkan instruksi mendadak. Seluruh Laporan Pertanggungjawaban dana operasional proyek Surabaya harus rampung sore ini sebelum sistem dikunci untuk evaluasi pelantikan hari Senin!"
Deg.
Jantung Arsyad kembali berdetak tak beraturan.
"Sore ini? Bukankah batas akhirnya biasanya hari Senin pagi sebelum rapat auditorium?"