Rakanza Elson adalah mimpi buruk bagi musuh-musuhnya. Dingin, tak tersentuh, dan bos terkuat organisasi Teratai Hitam. Namun di balik kekuasaan dan ketampanannya, Rakanza menyimpan dua rahasia. Mysophobia parah dan ketakutan akan sentuhan yang membuatnya menganggap pernikahan sebagai sebuah kutukan.
Hingga suatu malam di Meksiko, sebuah misi membawanya pada Annabella. Gadis misterius yang terkurung di laboratorium eksperimen ilegal. Dipenuhi rasa jijik pada tempat yang kotor dan terkontaminasi, Rakanza seharusnya membiarkan gadis itu tewas. Namun, karena tuntutan orang tuanya untuk segera menikah, Rakanza terpaksa menikahi gadis itu. Namun tak sangka, setelah wajah istrinya disembuhkan, ternyata istrinya mirip dengan adik iparnya.
Di sisi lain, Rafandra, adik Rakanza merasa telah menemukan cinta sejati saat berhasil melamar Luviana Winston. Namun, dibalik senyum manis Luviana sang pianis terkenal, ada kebohongan besar yang siap menghancurkan segalanya. Luviana yang dicintainya ternyata menyimpan agenda balas dendam yang mematikan.
Siapa sebenarnya Annabella? Dan apa hubungannya dengan keluarga Winston?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sayang!!!
Di studio musik Rafandra, suasana riuh dengan dentuman instrumen yang sedang diuji coba oleh beberapa staf. Di ruangan khusus, berjejer rapi piala penghargaan, sertifikat, dan album fisik karya-karya Luviana yang menjadi kebanggaan keluarga.
Annabella yang berjalan anggun di samping Rafandra, tersenyum dengan wajah penuh kepolosan. Namun, matanya yang tajam dan dingin diam-diam menyapu seluruh sudut studio, mencari celah.
“Pencapaian Luviana… mahakarya Luviana… Cih! Rasanya mau muntah dengarnya,” batin Annabella, jemarinya mengepal di balik gaun bahagianya. “Kalau karya-karya dan studio ini hancur, Rafa bakal hancur total. Dan di saat dia terpuruk, cuma aku tempat dia bergantung!”
“Mas Rafa…” panggil Annabella dengan suara manja yang dibuat-buat, memegang lengan Rafandra pelan.
“Aku haus banget. Boleh tolong belikan aku jus buah atau air hangat dari kafe depan studio? Perutku agak mual dari tadi.”
Rafandra memandang istrinya dengan tatapan cemas. “Mual? Ya ampun. Kamu pasti kecapekan. Ya sudah, kamu duduk di sofa ini ya. Jangan kemana-mana, aku belikan jus untukmu sekarang.”
“Terima kasih, Mas Rafa sayang… Kamu baik banget,” desis Annabella sambil memberikan kecupan kecil di pipi Rafandra.
Begitu Rafandra menghilang di balik pintu utama studio dan para staf lagi fokus di studio rekaman kedap suara di lantai dua, senyum manis Annabella lenyap seketika. Wajah lugunya berganti menjadi begitu licik dan penuh kebencian.
Ia menyambar botol cairan pembersih berbahan dasar alkohol tinggi dari troli kebersihan, lalu berjalan menuju lemari kaca tempat penyimpanan karya Luviana.
bruk!
Dengan sengaja ia menyenggol dan merusak engsel pintu lemari kaca itu. Tanpa ragu, ia menyiramkan cairan alkohol ke atas tumpukan album fisik, naskah lagu asli berbingkai, serta susunan piala penghargaan milik Luviana.
Ia merogoh tas mewahnya, mengeluarkan korek api gas berdesain elegan.
“Selamat tinggal, mahakarya Luviana Winston,” bisiknya dingin dengan senyum miring yang menyeramkan.
Cletuk.
Api menyala. Annabella melemparkan korek api itu tepat ke atas tumpukan album yang sudah dibasahi alkohol.
Bzzzzt! Wuuush!
Api berkobar cepat! Kobaran merah-oranye langsung melahap lemari, membakar habis kertas naskah lagu, sampul album, dan merambat ke gorden kain tebal di dinding. Asap hitam pekat mulai membumbung tinggi.
Annabella tersenyum puas melihat api yang membesar. Namun, agar rencananya sempurna, ia tak langsung lari keluar.
Ia sengaja menjatuhkan beberapa susunan tirai dan rak kayu ke arah dirinya, lalu sengaja menggoreskan ujung rak yang tajam ke lengan mulusnya hingga berdarah. Setelah itu, Annabella berguling di lantai yang mulai panas, mengotori gaun cantiknya dengan jelaga hitam, lalu mematikan lampu ruangan dari sakelar dekat pintu.
Alarm kebakaran mulai memekik nyaring!
Beeep! Beeep! Beeep!
Di lantai dua, para staf panik dan berhamburan turun. Tepat saat itu, Rafandra berlari kencang masuk ke studio dengan membawa secangkir jus hangat. Matanya membelalak horor melihat asap hitam membumbung dari ruangan istrinya berada.
“LUVIA!!! SAYANG!” teriak Rafandra melemparkan cangkirnya hingga pecah dan menerobos masuk ke dalam ruangan yang membara.
“Mas… Rafa… tolong…” suara lirih dan rintihan kesakitan terdengar dari balik tumpukan meja yang agak jauh dari pusat api.
Rafandra panik hebat. Ia memindahkan kayu yang menghalangi dengan tangan kosongnya, mengabaikan panas api. Di sana, ia melihat istrinya terbaring lemah, tubuhnya bergetar hebat, gaunnya kotor teroles jelaga, dan tangannya berdarah.
“Astaga, Luviaaa!” Rafandra langsung menarik tubuh Annabella ke dalam pelukannya, membawanya keluar dari kobaran api yang kian membesar menuju area luar studio.
Staf studio sibuk mencoba memadamkan api dengan tabung pemadam, namun ruang dokumen dan album legendaris Rafandra sudah hangus tak tersisa. Studio utama Rafandra lumpuh total dan rusak parah.
Di luar, Rafandra memangku kepala Annabella dengan napas terengah dan air mata menetes. “Sayang! Kamu tidak apa-apa?! Kenapa bisa begini?!”
Annabella perlahan membuka mata. Matanya dibuat berkaca-kaca, dadanya naik turun seolah sesak napas yang parah. Air matanya menetes dramatis ke pipinya yang kotor oleh abu.
“M-Mas Rafa… maafkan aku…” bisiknya serak, jemarinya yang gemetaran memegang erat baju Rafandra dengan raut wajah sangat ketakutan dan bersalah.
“Kenapa minta maaf? Apa yang terjadi, sayang?!”
“Tadi… tadi aku cuma mau lihat-lihat album lamamu… aku mau bersihin buat Mas…” tangis Annabella secara dramatis, terisak di dada Rafandra.
“Tapi tiba-tiba ada konsleting kabel di belakang lemari… ada percikan api! Aku coba padamkan pakai kain, tapi apinya cepat banget membesar… aku takut, Mas! Aku tertimpa rak waktu mau lari keluar…”
Annabella menyembunyikan wajahnya di leher Rafandra, menyeringai tipis tanpa terlihat oleh siapa pun, sambil terus meraung pura-pura trauma.
“Maafkan aku, Mas… studio kamu rusak… album-album mahal itu terbakar habis… aku istri yang tidak berguna! Seharusnya aku saja yang terbakar di dalam!” ratapnya penuh kepalsuan.
Hati Rafandra hancur berkeping-keping. Melihat studio dan pencapaian istrinya hangus adalah pukulan berat, namun melihat istrinya yang dianggapnya polos, tak berdaya, dan terluka demi menyelamatkan kenangan itu membuat rasa bersalah Rafandra membumbung tinggi.
Rafandra mendekap tubuh Annabella semakin erat, mengelus rambutnya dengan tangan yang gemetar.
“Tidak, sayang… tidak! Jangan bicara begitu!” bisik Rafandra, terbuai sepenuhnya oleh drama Annabella.
“Studio dan album itu tidak ada artinya dibanding nyawamu. Yang penting kamu selamat… Aku tidak peduli harta itu hilang, asal kamu baik-baik saja!”
Di dalam dekapan Rafandra, Annabella tersenyum culas. Rencana pertamanya sukses besar. Studio Rafa hancur, karya Luviana asli lenyap, dan Rafandra kini sepenuhnya ada di dalam genggamannya. Tinggal mengendalikan pria itu untuk menyingkirkan keluarganya sendiri.
dasar anabella hantu gila astaga 😡😡😡
jangan lama ya thor 🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻