Kaelen—seorang pendekar dengan pedang besi berkarat yang menyimpan misteri dimensi lain—bersama Lyra, seorang alkemis cerdas berdarah dingin, nekat menerobos reruntuhan kuil kuno peninggalan Mazhab Pedang Purba.
Diintai oleh bayangan mematikan dari Faksi Tengkorak Darah dan desakan ancaman dari pengkhianat faksi lokal bernama Vance, perjalanan mereka bukan sekadar pelarian, melainkan perburuan berbahaya demi menemukan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit. Menghadapi entitas Qi gelap, formasi penjara kuno, dan bisikan purba yang menguji jiwa, Kaelen dan Lyra harus mempertaruhkan nyawa untuk mengungkap kebenaran di balik masa lalu yang terkubur, sebelum perangkap pengkhianatan merenggut nyawa mereka di ujung lorong yang sunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liam Harrison, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Kehadiran Sang Pemangsa dan Jeratan Jiwa
Angin dingin yang membawa aroma lumut dan kematian menerpa wajah Kaelen, seolah bisikan dari masa lalu yang terpendam. Ia dan Lyra kini menjejakkan kaki lebih dalam ke perut reruntuhan kuno yang tak bernama—sebuah labirin batu kelabu yang membentang tanpa batas di bawah langit yang selalu mendung. Ukiran-ukiran purba yang mengisahkan legenda-legenda terlupakan menyelimuti dinding-dinding yang runtuh; sebagian besar telah terkikis oleh waktu dan aura energi gelap yang kini berdenyut di setiap sudut. Pedang Besi Berkarat yang setia di pinggang Kaelen bergetar halus, sebuah resonansi aneh yang menandakan adanya kekuatan kuno yang terbangun, atau mungkin bahaya yang mengintai di balik setiap bayangan.
"Tempat ini... tidak wajar," bisik Lyra. Suaranya terdengar lebih tipis dari biasanya di tengah keheningan yang menyesakkan. Matanya yang tajam menyapu sekeliling, sesekali menyentuh dinding batu dengan ujung jari yang ramping, seolah mencoba membaca jejak-jejak tak kasat mata. Aroma logam dan sulfur yang samar mulai menusuk indra penciumannya, pertanda racun halus yang mulai merasuki udara. "Ada jejak-jejak kekuasaan yang telah lama mati, namun jiwanya masih bergentayangan. Seperti... sebuah bayangan yang menolak untuk lenyap."
Kaelen mengnoduk pelan, jemarinya menggenggam erat gagang pedang. "Aku merasakan hal yang sama. Jurus Teknik Jiwa Pedang Hampa-ku berteriak, seolah ada sesuatu yang mencoba menelannya, namun pada saat yang sama, ia merasakan resonansi yang aneh. Apakah ini terkait dengan Jiwa Artefak yang kita cari?"
Lyra menghela napas, sorot matanya mengeras. "Mungkin. Atau mungkin juga ini adalah penjaga yang ditinggalkan, sebuah entitas yang termanifestasi dari sisa-sisa energi kuno. Kekuatan ini terasa begitu tua, begitu mendalam, namun telah dirusak, dicemari... seperti ada tangan jahat yang mengubahnya."
Tiba-tiba ia terdiam, menatap ke arah celah gelap di antara pilar-pilar raksasa yang roboh. Dari sana, bayangan mulai merayap—bukan sekadar refleksi cahaya, melainkan gumpalan kegelapan pekat yang menggeliat dan membentuk siluet mengerikan.
Bayangan itu tumbuh semakin besar, semakin padat, seolah menyerap seluruh cahaya di sekitar. Udara di sekeliling mereka menipis, digantikan oleh tekanan yang mencekik. Kaelen merasakan jantungnya berdebar kencang, naluri bertarungnya berteriak. Ini bukan ilusi. Ini adalah entitas. Dari kedalaman bayangan yang kini menjelma menjadi sosok raksasa dengan mata merah menyala, terdengar sebuah desisan yang menusuk tulang—sebuah suara yang seolah berasal dari jurang terdalam neraka.
"Penyusup... kalian berani membangunkan sang penguasa... kalian akan menjadi bagian dari bayangannya..."
Kaelen menarik Pedang Besi Berkarat dari sarung; bilah usang itu memancarkan aura keemasan samar yang menolak kegelapan.
"Bersiaplah, Lyra!" raungnya, mengarahkan pedang ke arah makhluk bayangan itu, sementara Lyra dengan sigap mengeluarkan beberapa botol ramuan berwarna pekat dari jubah. Jemarinya yang lincah siap melancarkan Jurus Tangan Pemurni Racun Api. Pertempuran baru saja dimulai, dan kali ini, mereka berhadapan dengan sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih mengerikan dari yang pernah dibayangkan.
Raungan Kaelen bagai guntur membelah keheningan suram reruntuhan. Dengan satu sentakan kuat, Pedang Besi Berkarat melesat bagai kilat, meninggalkan jejak aura keemasan samar di udara gelap. Bilah usang itu menghantam inti gumpalan bayangan raksasa yang menggeliat di hadapan mereka. Tidak ada suara denting logam, tidak ada percikan darah; pedang itu hanya menembus, seolah membelah kabut tebal yang tak berwujud. Namun, efeknya jauh lebih dalam.
"Argh!" Kaelen mengerang, merasakan energi vitalnya tersedot kuat. Jurus Teknik Jiwa Pedang Hampa-nya berputar liar, melawan tarikan mematikan yang berusaha melahap jiwanya sendiri. Pedang berkarat itu—yang sering ia anggap sampah—kini bergetar hebat di tangan, memancarkan resonansi antimateri yang aneh, seolah berusaha mencabik struktur nonfisik sang bayangan. Gumpalan kegelapan itu mendesis, suaranya kini lebih mirip lolongan jutaan arwah yang tersiksa, dan dari titik yang tertembus pedang Kaelen, retakan samar muncul, memancarkan cahaya merah pekat yang langsung padam, seolah bayangan itu tengah menyembuhkan diri.
"Ini bukan tubuh fisik, Kaelen!" seru Lyra. Matanya menyipit saat ia melompat maju, membuang tiga botol ramuan sekaligus. Cairan pekat di dalam botol meledak, memancarkan kabut kehijauan yang menari-nari bagai api hantu. "Jurus Tangan Pemurni Racun Api!"
Nyala api kehijauan itu, bukannya membakar, justru meresap ke dalam bayangan seperti asam yang melarutkan es. Desisan sang penguasa berubah menjadi jeritan tertahan, dan bagian tubuh bayangan yang terkena kabut mulai menipis serta transparan, seolah eksistensinya terancam.
"Kalian... berani... menyentuh... inti... penguasa!"
Suara itu kini tidak lagi hanya desisan, melainkan gema dari kedalaman jurang yang mengguncang fondasi reruntuhan rapuh. Bayangan raksasa itu mengayunkan lengan gelapnya, bukan untuk menyerang secara fisik, melainkan untuk melontarkan gelombang tekanan mental yang memekakkan. Pikiran Kaelen diserbu visi-visi mengerikan: kehancuran sebuah peradaban kuno, jeritan jutaan jiwa yang terenggut, dan sebuah tangan bayangan yang menggenggam artefak bercahaya lalu meremasnya hingga hancur. Ini bukan ilusi sederhana; ini adalah memori, atau mungkin rasa, yang termanifestasi dari entitas yang mereka lawan.
Kaelen tersentak, hampir kehilangan pijakan. Tekanan itu mencoba meremukkan tekadnya dan menenggelamkannya dalam keputusasaan. Namun, Pedang Besi Berkarat di tangan kembali bergetar, memancarkan denyutan hangat yang menepis kegelapan. "Ini... bukan sekadar penjaga!" Kaelen berseru, menyalurkan energi spiritual ke dalam pedang yang kini bersinar lebih terang, menembus kabut mental yang menyelimuti. "Ini adalah sisa-sisa dari sesuatu yang telah hancur, namun jiwanya dipaksa untuk bertahan!"
Lyra mengnoduk cepat, tangannya tak henti melemparkan ramuan dan mantra pemurnian. "Tepat sekali! Racun api-ku menemukan jejak-jejak pemaksaan, energi yang diikat dan dipelintir! Kekuatan ini... rasanya tidak asing. Ada kemiripan dengan aura korupsi yang ditinggalkan oleh para penganut Sekte Kuno, yang mencari dan mencemari artefak berharga!" Ia menatap tajam ke arah mata merah menyala sang bayangan. "Bukan sekadar penjaga, Kaelen. Ini mungkin adalah Jiwa Artefak itu sendiri, yang telah dirusak dan dijadikan boneka!"
Bayangan itu meraung; jeritannya kali ini dipenuhi amarah yang membara. Retakan-retakan samar di tubuhnya membesar, namun bukan untuk pecah, melainkan untuk memuntahkan gelombang energi bayangan yang lebih padat dan tajam, bagai ribuan panah kegelapan yang melesat ke arah mereka. Udara di sekeliling Kaelen dan Lyra terasa seperti dirobek, dan aroma sulfur semakin kuat menusuk hidung. Ini adalah serangan putus asa, namun mematikan. Sang penguasa—atau apa pun namanya—tidak akan menyerah begitu saja tanpa perlawanan. Mereka telah menyentuh intinya, dan kini, inti itu membalas dengan segenap kekuatan yang masih tersisa.
Gelombang energi bayangan yang menusuk udara bagai ribuan panah kegelapan itu melesat tanpa ampun. Kaelen tidak punya waktu untuk berpikir. Refleksnya mengambil alih; Pedang Besi Berkarat terangkat tinggi, memancarkan aura kehampaan yang aneh. Ia mengayunkan pedangnya dalam gerakan menyapu luas—jurus dasar dari Jurus Teknik Jiwa Pedang Hampa yang kini terisi dengan determinasi membara, bukan untuk menangkis, melainkan untuk memotong dan melarutkan. Setiap panah kegelapan yang bersentuhan dengan bilah berkarat itu seolah tersedot ke dalam kehampaan, lenyap tanpa jejak, meninggalkan riak energi kosong yang dingin di udara. Namun, jumlahnya terlalu banyak, dan beberapa berhasil menembus celah pertahanan, meninggalkan goresan perih di jubah dan kulitnya.
"Sisi utara! Ada simpul pengikat!" seru Lyra. Suaranya tegang namun tetap fokus, melontarkan bola-bola api pemurni yang meledak di tengah rentetan panah kegelapan, menciptakan celah bagi Kaelen. "Aku merasakan ada benang energi gelap yang terkonsentrasi di sana, mengikat inti jiwanya! Sepertinya itu adalah sumber paksaan Sekte Kuno!"
Tubuh bayangan raksasa itu memang tampak sedikit lebih padat di sisi yang Lyra tunjuk, seolah ada benang tak kasat mata yang menjeratnya, memancarkan aura korupsi yang lebih pekat. Racun api Lyra—yang sejatinya adalah api pemurni untuk membakar energi negatif—berdesir hebat saat menyentuh titik itu, menyebabkan bayangan tersebut bergetar hebat dan mengeluarkan desisan kesakitan yang memilukan, bukan lagi raungan amarah.
Kaelen merasakan gelombang penderitaan yang terpancar dari bayangan itu. Bukan amarah murni, melainkan putus asa yang diubah menjadi agresi. "Jadi ia tidak menyerang karena kehendaknya sendiri!" gumam Kaelen, matanya menyipit. "Ia menyerang karena terpaksa mempertahankan diri dan ikatan itu!"
Dengan pemahaman baru tersebut, Kaelen mengarahkan Pedang Besi Berkarat ke simpul yang Lyra tunjuk. Jiwa Pedang Hampa-nya beresonansi, bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk membebaskan. Ia melesat maju, mengabaikan sisa-sisa panah kegelapan yang masih bertebaran, fokus pada satu tujuan: memutus benang yang mengikat jiwa artefak menderita ini. Sebuah kilatan cahaya keperakan melesat dari pedang, meninggalkan jejak kekosongan di udara.
Tepat ketika kilatan pedang Kaelen hampir mencapai simpul energi gelap tersebut, sebuah aura dingin yang mematikan tiba-tiba memenuhi reruntuhan, seolah jutaan bayangan telah bangkit dari tidur panjang. Kaelen dan Lyra merasakan rambut di tengkuk mereka berdiri; insting menjerit memperingatkan bahaya yang lebih besar. Sebuah tawa renyah, namun bergetar dengan nada sadis, bergema dari lorong gelap yang tiba-tiba terbuka di salah satu sisi reruntuhan. Siluet ramping seorang wanita muncul, dikelilingi oleh kabut kehitaman yang menari-nari di sekelilingnya. Matanya merah menyala dalam kegelapan, memancarkan ambisi dan kekejaman yang tak tersembunyi. Liliyana telah tiba, dan tatapannya terpaku pada bayangan raksasa yang kini mengerang kesakitan, bukan pada Kaelen ataupun Lyra.
"Oh, oh, oh... Jiwa Artefak Reruntuhan Langit. Sebuah hidangan yang lezat. Dan sepertinya, kalian berdua sudah melakukan sebagian pekerjaan kotor untukku."
Suaranya berbisik, namun setiap kata mengandung janji akan bahaya yang tak terlukiskan. Situasi yang sudah genting kini berubah menjadi permainan mematikan dengan tiga pemain.