NovelToon NovelToon
SISTEM IQ TAK TERBATAS

SISTEM IQ TAK TERBATAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.

Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.

Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Dari layar monitor pengawas, juri yang memantau kamera bilik Tommy terlihat mengerutkan kening.

"Pak Darmawan, coba lihat murid Anda ini," panggil salah satu juri di ruang kontrol.

Pak Darmawan mendekat ke layar dan melihat Tommy sedang asyik menggambar pola bintang di kertas jawabannya.

"Anak ini benar-benar tidak bisa ditebak," batin Pak Darmawan menelan ludah dengan susah payah.

"Sepertinya dia sudah menyerah dan malah menggambar di kertas ujiannya," komentar juri itu sambil menggelengkan kepala.

Hanya butuh waktu lima belas menit bagi Tommy untuk menyelesaikan mahakaryanya.

Ia meletakkan pensilnya dan menyandarkan kepalanya ke meja, berpura-pura tidur pulas selama sisa waktu ujian.

Waktu dua jam terasa seperti siksaan panjang bagi peserta lain, terutama Nadin yang terus memijat pelipisnya.

Teng!

"Waktu habis! Letakkan alat tulis kalian dan keluar dari bilik sekarang juga!" perintah dewan juri.

Semua peserta melangkah keluar dengan wajah lelah dan pucat pasi.

Nadin berjalan menghampiri Tommy dengan langkah gontai.

"Gimana, Tom? Lo isi kan jawabannya?" tanya Nadin dengan nada khawatir.

"Isi dong, Din, penuh malah kertasnya," jawab Tommy nyengir lebar.

"Syukurlah kalau gitu, semoga aja banyak yang bener tebakan lo," Nadin sedikit bernapas lega.

Di sudut lain, Leo sedang melakukan tos dengan rekan setimnya sambil tersenyum penuh kemenangan.

Panitia segera mengumpulkan kertas jawaban tersebut dan memasukkannya ke dalam mesin pemindai optik di atas panggung.

Proses penilaian menggunakan komputer itu hanya memakan waktu sepuluh menit.

Kepala juri naik ke atas panggung membawa selembar kertas hasil cetakan komputer dengan wajah yang terlihat sangat tegang dan pucat.

"Pengumuman hasil akhir Olimpiade Akademik tingkat kota," ucap kepala juri dengan suara bergetar.

Seluruh isi aula menjadi sangat sunyi, semua mata tertuju pada panggung utama.

"Juara ketiga diraih oleh SMA Pelita Bangsa dengan total nilai seratus lima puluh poin."

"Juara kedua..." Kepala juri menelan ludah dan menatap ke arah rombongan SMA Nusantara.

"Diraih oleh SMA Nusantara dengan total nilai seratus tujuh puluh poin."

Mendengar pengumuman itu, Leo langsung berdiri dari kursinya dengan wajah terkejut bukan main.

"Juara kedua?! Mustahil!" teriak Leo tidak terima.

"Saya yakin nilai saya dan rekan saya adalah yang tertinggi di ruangan ini!"

Pak Lukas, guru pembimbing Leo, juga terlihat sangat marah dan tidak terima.

"Lalu siapa yang menjadi juara pertamanya, Pak Juri?!" tuntut Pak Lukas dengan nada tinggi.

Kepala juri mengusap keringat di dahinya dan menatap lurus ke arah meja SMA Garuda.

"Juara pertama, diraih oleh SMA Garuda dengan total nilai seratus tujuh puluh tiga poin," umumkan juri tersebut.

Hening seketika menyelimuti seluruh ruangan.

Nadin yang sedang duduk mematung seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

"K-kita menang?" gumam Nadin dengan mata terbelalak lebar.

"Hore! Kita juara satu, Din!" teriak Tommy sambil melompat-lompat kegirangan dengan gaya yang sangat norak.

"Tunggu dulu, ada yang tidak beres di sini!" potong Leo sambil menunjuk ke arah Tommy.

"Nadin mungkin pandai, tapi tidak mungkin anak idiot ini menyumbang poin yang cukup untuk mengalahkan total poin kami!"

"Saya minta kertas jawabannya ditampilkan di layar utama sekarang juga!" tuntut Leo agresif.

Kepala juri tampak ragu, namun karena desakan dari peserta lain yang juga curiga, ia akhirnya mengangguk.

"Baik, kami akan menampilkan analisis lembar jawaban milik peserta atas nama Tommy Nugroho," ucap kepala juri pasrah.

Layar proyektor raksasa di belakang panggung menyala dan menampilkan pindaian kertas jawaban Tommy.

Begitu gambar itu muncul, seluruh orang di dalam aula terdiam seribu bahasa.

Termasuk Leo dan Nadin.

Di layar tersebut, terlihat jelas bahwa Tommy menghitamkan bulatan jawaban tidak secara normal dari atas ke bawah.

Bulatan-bulatan hitam itu membentuk sebuah pola gambar bintang yang sangat presisi dan simetris di tengah kertas LJK.

"A-apa ini?" gagap Leo dengan wajah memerah. "Dia cuma menggambar bintang?!"

"Benar," jawab kepala juri dengan nada yang masih terdengar syok.

"Peserta Tommy Nugroho menggambar pola bintang di kertas jawabannya."

"Namun karena kebetulan yang sangat tidak masuk akal secara matematis..." Juri itu menunjuk ke arah skor di sudut layar.

"Pola bintang yang digambarnya itu tepat mengenai delapan puluh delapan kunci jawaban yang benar."

Gubrak!

Leo langsung jatuh terduduk di kursinya dengan tatapan kosong dan mulut terbuka lebar.

Otak arogan anak itu seakan konslet tidak mampu menerima kenyataan yang ada di depan matanya.

Ia dikalahkan oleh seorang murid yang bahkan tidak membaca soal ujiannya sama sekali.

Nadin menoleh perlahan ke arah Tommy dengan leher yang terasa kaku seperti robot rusak.

Gadis pintar itu menatap wajah Tommy yang sedang tersenyum cengengesan sambil menggaruk pipinya.

"Kertasnya terlalu sepi, Din, jadi aku gambar bintang aja biar bagus," ucap Tommy beralasan dengan wajah tanpa dosa.

"Gambar... bintang?" ulang Nadin dengan suara yang nyaris tidak terdengar.

Bahkan alasan toren air kemarin masih terdengar lebih masuk akal dibandingkan kejadian mistis hari ini.

Bagaimana mungkin sebuah gambar bintang acak bisa mengenai delapan puluh delapan jawaban benar secara presisi dari seratus soal tingkat olimpiade?

Peluangnya adalah satu berbanding miliaran.

Di bangku penonton, Pak Darmawan menutupi separuh wajahnya dengan tangannya untuk menyembunyikan tawa dan kengeriannya secara bersamaan.

"Monster ini benar-benar tahu cara mempermainkan logika semua orang," batin Pak Darmawan.

Ting!

[MISI MENDADAK SELESAI.]

[Evaluasi: Pengguna berhasil memenangkan babak final dengan menciptakan ilusi probabilitas terindah yang merusak mental lawan.]

[Mengirimkan hadiah...]

[IQ pengguna meningkat +3 poin.]

[Poin Sistem bertambah +30 PS.]

[IQ Saat Ini: 129 Kategori: Jenius Awal]

[Poin Sistem Saat Ini: 200 PS]

Tommy menutup notifikasi itu dan menikmati kemenangannya dalam diam.

Ia menatap Leo yang masih terkapar syok di kursinya.

"Kecerdasan bukanlah tentang siapa yang bisa menghitung paling cepat," batin Tommy dingin.

"Kecerdasan adalah tentang siapa yang bisa mengontrol aturan permainan tanpa terlihat sedang bermain."

Kemenangan ini akan membawa nama SMA Garuda menjadi perbincangan di seluruh kota.

Namun Tommy sadar, semakin tinggi ia memanjat panggung ini, semakin terang pula sorotan lampu yang mengarah padanya.

Termasuk sorotan dari sindikat gelap yang baru saja ia hancurkan malam tadi.

1
Adelina Lin
thor, buat Clarissa dan keluarganya juga prof. handoko dipermalukan diacara Olimpiade, dan titel juara Clarissa di cabut, karena dia memenangkan oliampide yang dulu pun tidak jujur.
Wega Luna
kadang lelucon konyol selain untuk menghibur bisa jadi pisau bermata dua,aku sering memakai lelucon konyol untuk membungkam orang tua wali murid yang gengsinya gede ,teman yang sok pamer atau sok pintar, atau orang yg ngerasa dirinya itu spesial,,,🤣🤣🤣🤣
Nissa Safira: WKWKWK KAKAK INI SENIORNYA TOMMY SIH😂🤣
Bener banget kak, saya setuju banget sih!
Lelucon konyol itu senjata paling ampuh buat ngadepin orang yang gengsinya selangit. Kalau kita ladenin serius, kita capek. Kalau kita bales pakai joke receh tapi logikanya nusuk, yang gengsi gede itu yang malah keliatan bodoh sendiri.
Tommy itu emang saya inspirasikan dari orang-orang kayak kakak ini kak, yang di luar keliatan cengengesan, tapi otaknya muter cepet buat ngebalikin analogi lawan😎🔥
total 1 replies
Wega Luna
secangkir kopi untuk Tommy👍👍👍
Wega Luna: gas ,,,,aku jadi penasaran🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Wega Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣100 tom ,,,,👍
Night Watcher
ini outhor yg baik dan berfikiran maju, mau menerima kritik sekalipun pedas dgn lapang hati.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
Nissa Safira: Waaaah makasih banyak kak 😭🙏
Seneng banget. Soalnya buat saya, pembaca yang mau komen pedes jujur itu berharga banget kak.
Kritik pedesnya kakak yang bikin novel ini bisa maju. Jadi jangan kapok komen pedes lagi ya kak!🥰🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
di bab² olympiade ini jujur sangat gak masuk akal, jd bikin bosen.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
Nissa Safira: Wah makasih banget kak udah jujur, ini masukan paling berharga buat saya 🙏
Bener kak, saya akui bab olimpiade ini memang agak maksa. Harusnya kan cerdas-cepat, Teng! Jawab! Teng! Jawab selesai, bukan malah debat satu regu di atas panggung 😅
Jujur niat saya pengen nunjukin kocaknya Tommy, tapi saya kebablasan naruh dramanya di tengah lomba, jadinya kesannya kayak diskusi kelas, bukan olimpiade kota. Maaf ya kak bikin bosen🙏🙏🙏
Makasih udah diingetin kak🤝🙏
total 1 replies
Night Watcher
mana ada diacara beginian peserta sempet bercakap² soal kecepatan ngitung...
Nissa Safira: HAHAHA bener banget kak 😅🙏
Iya kak kalau di olimpiade beneran mah, jangankan ngobrol, napas aja harus dihemat ya kak, waktunya mepet banget.
Itu aku sengaja lebay-in dikit kak biar dramanya dapet. Soalnya kalau aku tulis realnya:
Teng! Jawaban 8,55 jam. Benar.
Udah gitu doang, kan kempes kak gak ada greget keselnya si Leo 😂
Anggep aja itu adegan slow-motion ala film kak, di dunia nyata cuma 2 detik, tapi di novel aku lambatin biar pembaca bisa ngerasain Nadin yang otaknya udah mau meledak denger alesan ngawur Tommy.
Makasih koreksinya kak🤝🙏🙏
total 1 replies
Night Watcher
45 kyknya bukan ukuran kecil utk standar kaki org indo deh...
logis dikit kelesss..😇😇
Night Watcher
awas, ntar kepalanya melayang sendiri..🤭🤭🤭
Night Watcher
kok kakak kelas? kan sama² kls 12?
Night Watcher
tadi pas bell masuk, listrik padam. jd utk belnya mukul velg mobil yg digantung..🤭🤭🤭
Nissa Safira: WKWKWK IDE BAGUS KAK🤣🤣🤣
Kringgg! = bel listrik normal
Teng! Teng! Teng! = pas listrik padam, Pak Satpam mukul velg mobil yang digantung di pos satpam pake kunci inggris 😂
Makasih kak idenya! Mulai bab besok kalau ada tulisan Teng Teng Teng berarti di sekolah lagi mati lampu ya kak! Detailnya dapet banget!🤣🤣🤣
total 1 replies
Night Watcher
kadang "kringgg" kadang "teng tenggg"..🤭🤭
Nissa Safira: HAHAHA ketahuan deh 🤣 kamu udah jeli banget sih kak🤣🤣
Iya kak, itu aku yang typo pas nulis kebut-kebutan, kadang bel listrik tulisnya Kringgg! kadang bel manual tulisnya Teng Teng Teng! niatnya mau bedain bel kelas sama bel upacara, tapi malah jadi bikin bingung ya kak.
Makasih udah diingetin kak😅😅
total 1 replies
Night Watcher
duh... sayang banget, sistemnya masih manual.. gak matic ehh gak otomatis terpasang..🤭🤭
Nissa Safira: HAHAHA Iya kak, sengaja aku bikin sistemnya manual, gak matic🤣🤣
Kalau otomatis kepasang terus, Tommy jadi OP gak ada obat kak, 1 detik langsung dewa hacker. Gak seru dong, musuhnya belum sempet napas udah kalah😅
Jadi di novel ini sistemnya kayak alat tukang kak, dipasang kalau dibutuhin aja. Contohnya pas di warnet Berkah Net itu, dia aktifin Kriptografi Dasar dulu baru otaknya ngebut. Kalau dia lagi di kelas pura-pura bodoh, skillnya dia matiin biar akting begonya natural 100%.
Makanya Tommy harus mikir dulu "aku butuh skill apa nih buat lawan musuh ini?" bukan sistem yang mikirin buat dia. Biar kesannya dia yang ngendaliin sistem, bukan sistem yang ngendaliin dia💪🙏🙏
total 1 replies
Wega Luna
jujur otak aku emang GK ber-IQ 140 tapi pura pura bodoh itu keahlian ku🤣🤣🤣🤣🤣,jadi tahu mana yg bener bener baik atau gk🤣🤣🤣🤣lebih suka praktek langsung daripada teori, lanjutkan tom ,,,aku mendukungmu👍🤣🤣
Nissa Safira: HAHAHA kak ini komen paling jujur se-Indonesia! 🤣🤣🤣
Setuju banget kak, pura-pura bodoh itu skill dewa tau! Soalnya pas kita pura-pura bego, baru keliatan mana temen yang beneran baik kayak Nadin, mana yang toxic kayak Clarissa.
Tommy juga gitu kak, dia IQ 140 tapi sengaja jadi peringkat 31 biar bisa ngamatin semua. Orang pinter teori banyak, tapi yang jago praktek langsung di lapangan kayak kakak & Tommy itu yang paling bahaya 😎🙏🤣🤣
total 1 replies
Rifqy Channel
saya memohon kakak untuk bisa di publik Tommy itu supaya gak pura-pura bodoh lagi. biarkan untuk segera diungkapkan dan ikut serta Olimpiade dan juga ubah pura-pura nya. aku udah bosen kalo pura-pura terus. saya mau Tommy segera di ungkap aslinya😭🙏😭
Nissa Safira: Halo kak, terima kasih banyak udah baca sampai sejauh ini dan kasih masukan jujur! 🙏
Aku paham banget rasa bosennya kalau Tommy pura-pura terus. Justru itu yang mau aku bangun kak.
Kalau dia diungkap sekarang pas IQ 117, efeknya cuma "oh pinter". Tapi kalau dia diungkap nanti pas IQ 150+ di depan ribuan orang di Olimpiade kota, efeknya bakal "GILA MERINDING".
Aku lagi nabung rasa sakit hatinya biar nanti pas payback rasanya 10x lebih puas. Sabar sedikit lagi ya kak, panggung kota sudah dekat. Topengnya akan retak di sana🤣🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!