Tommy Nugroho adalah siswa kelas 2 SMA yang harus tinggal kelas dan selalu menjadi bahan tertawaan karena nilai-nilainya yang hancur berantakan.
Kehidupannya yang menyedihkan dan penuh ejekan berubah drastis pada suatu malam ketika sebuah layar biru misterius muncul di kamarnya dan memberinya Sistem IQ Tak Terbatas.
Alih-alih memamerkan kejeniusan barunya yang kini mampu memecahkan masalah tersulit dalam hitungan detik, Tommy memilih untuk tetap berpura-pura menjadi murid bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Dari layar monitor pengawas, juri yang memantau kamera bilik Tommy terlihat mengerutkan kening.
"Pak Darmawan, coba lihat murid Anda ini," panggil salah satu juri di ruang kontrol.
Pak Darmawan mendekat ke layar dan melihat Tommy sedang asyik menggambar pola bintang di kertas jawabannya.
"Anak ini benar-benar tidak bisa ditebak," batin Pak Darmawan menelan ludah dengan susah payah.
"Sepertinya dia sudah menyerah dan malah menggambar di kertas ujiannya," komentar juri itu sambil menggelengkan kepala.
Hanya butuh waktu lima belas menit bagi Tommy untuk menyelesaikan mahakaryanya.
Ia meletakkan pensilnya dan menyandarkan kepalanya ke meja, berpura-pura tidur pulas selama sisa waktu ujian.
Waktu dua jam terasa seperti siksaan panjang bagi peserta lain, terutama Nadin yang terus memijat pelipisnya.
Teng!
"Waktu habis! Letakkan alat tulis kalian dan keluar dari bilik sekarang juga!" perintah dewan juri.
Semua peserta melangkah keluar dengan wajah lelah dan pucat pasi.
Nadin berjalan menghampiri Tommy dengan langkah gontai.
"Gimana, Tom? Lo isi kan jawabannya?" tanya Nadin dengan nada khawatir.
"Isi dong, Din, penuh malah kertasnya," jawab Tommy nyengir lebar.
"Syukurlah kalau gitu, semoga aja banyak yang bener tebakan lo," Nadin sedikit bernapas lega.
Di sudut lain, Leo sedang melakukan tos dengan rekan setimnya sambil tersenyum penuh kemenangan.
Panitia segera mengumpulkan kertas jawaban tersebut dan memasukkannya ke dalam mesin pemindai optik di atas panggung.
Proses penilaian menggunakan komputer itu hanya memakan waktu sepuluh menit.
Kepala juri naik ke atas panggung membawa selembar kertas hasil cetakan komputer dengan wajah yang terlihat sangat tegang dan pucat.
"Pengumuman hasil akhir Olimpiade Akademik tingkat kota," ucap kepala juri dengan suara bergetar.
Seluruh isi aula menjadi sangat sunyi, semua mata tertuju pada panggung utama.
"Juara ketiga diraih oleh SMA Pelita Bangsa dengan total nilai seratus lima puluh poin."
"Juara kedua..." Kepala juri menelan ludah dan menatap ke arah rombongan SMA Nusantara.
"Diraih oleh SMA Nusantara dengan total nilai seratus tujuh puluh poin."
Mendengar pengumuman itu, Leo langsung berdiri dari kursinya dengan wajah terkejut bukan main.
"Juara kedua?! Mustahil!" teriak Leo tidak terima.
"Saya yakin nilai saya dan rekan saya adalah yang tertinggi di ruangan ini!"
Pak Lukas, guru pembimbing Leo, juga terlihat sangat marah dan tidak terima.
"Lalu siapa yang menjadi juara pertamanya, Pak Juri?!" tuntut Pak Lukas dengan nada tinggi.
Kepala juri mengusap keringat di dahinya dan menatap lurus ke arah meja SMA Garuda.
"Juara pertama, diraih oleh SMA Garuda dengan total nilai seratus tujuh puluh tiga poin," umumkan juri tersebut.
Hening seketika menyelimuti seluruh ruangan.
Nadin yang sedang duduk mematung seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"K-kita menang?" gumam Nadin dengan mata terbelalak lebar.
"Hore! Kita juara satu, Din!" teriak Tommy sambil melompat-lompat kegirangan dengan gaya yang sangat norak.
"Tunggu dulu, ada yang tidak beres di sini!" potong Leo sambil menunjuk ke arah Tommy.
"Nadin mungkin pandai, tapi tidak mungkin anak idiot ini menyumbang poin yang cukup untuk mengalahkan total poin kami!"
"Saya minta kertas jawabannya ditampilkan di layar utama sekarang juga!" tuntut Leo agresif.
Kepala juri tampak ragu, namun karena desakan dari peserta lain yang juga curiga, ia akhirnya mengangguk.
"Baik, kami akan menampilkan analisis lembar jawaban milik peserta atas nama Tommy Nugroho," ucap kepala juri pasrah.
Layar proyektor raksasa di belakang panggung menyala dan menampilkan pindaian kertas jawaban Tommy.
Begitu gambar itu muncul, seluruh orang di dalam aula terdiam seribu bahasa.
Termasuk Leo dan Nadin.
Di layar tersebut, terlihat jelas bahwa Tommy menghitamkan bulatan jawaban tidak secara normal dari atas ke bawah.
Bulatan-bulatan hitam itu membentuk sebuah pola gambar bintang yang sangat presisi dan simetris di tengah kertas LJK.
"A-apa ini?" gagap Leo dengan wajah memerah. "Dia cuma menggambar bintang?!"
"Benar," jawab kepala juri dengan nada yang masih terdengar syok.
"Peserta Tommy Nugroho menggambar pola bintang di kertas jawabannya."
"Namun karena kebetulan yang sangat tidak masuk akal secara matematis..." Juri itu menunjuk ke arah skor di sudut layar.
"Pola bintang yang digambarnya itu tepat mengenai delapan puluh delapan kunci jawaban yang benar."
Gubrak!
Leo langsung jatuh terduduk di kursinya dengan tatapan kosong dan mulut terbuka lebar.
Otak arogan anak itu seakan konslet tidak mampu menerima kenyataan yang ada di depan matanya.
Ia dikalahkan oleh seorang murid yang bahkan tidak membaca soal ujiannya sama sekali.
Nadin menoleh perlahan ke arah Tommy dengan leher yang terasa kaku seperti robot rusak.
Gadis pintar itu menatap wajah Tommy yang sedang tersenyum cengengesan sambil menggaruk pipinya.
"Kertasnya terlalu sepi, Din, jadi aku gambar bintang aja biar bagus," ucap Tommy beralasan dengan wajah tanpa dosa.
"Gambar... bintang?" ulang Nadin dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
Bahkan alasan toren air kemarin masih terdengar lebih masuk akal dibandingkan kejadian mistis hari ini.
Bagaimana mungkin sebuah gambar bintang acak bisa mengenai delapan puluh delapan jawaban benar secara presisi dari seratus soal tingkat olimpiade?
Peluangnya adalah satu berbanding miliaran.
Di bangku penonton, Pak Darmawan menutupi separuh wajahnya dengan tangannya untuk menyembunyikan tawa dan kengeriannya secara bersamaan.
"Monster ini benar-benar tahu cara mempermainkan logika semua orang," batin Pak Darmawan.
Ting!
[MISI MENDADAK SELESAI.]
[Evaluasi: Pengguna berhasil memenangkan babak final dengan menciptakan ilusi probabilitas terindah yang merusak mental lawan.]
[Mengirimkan hadiah...]
[IQ pengguna meningkat +3 poin.]
[Poin Sistem bertambah +30 PS.]
[IQ Saat Ini: 129 Kategori: Jenius Awal]
[Poin Sistem Saat Ini: 200 PS]
Tommy menutup notifikasi itu dan menikmati kemenangannya dalam diam.
Ia menatap Leo yang masih terkapar syok di kursinya.
"Kecerdasan bukanlah tentang siapa yang bisa menghitung paling cepat," batin Tommy dingin.
"Kecerdasan adalah tentang siapa yang bisa mengontrol aturan permainan tanpa terlihat sedang bermain."
Kemenangan ini akan membawa nama SMA Garuda menjadi perbincangan di seluruh kota.
Namun Tommy sadar, semakin tinggi ia memanjat panggung ini, semakin terang pula sorotan lampu yang mengarah padanya.
Termasuk sorotan dari sindikat gelap yang baru saja ia hancurkan malam tadi.
lanjut thor, tak sukreb deh outhor yg begini.
ini ajang olympiade, kenapa sempat terjadi perdebatan antara 2 peserta yg satu regu mewakili satu sekolah, tentang cara menjawab pertanyaan. ditambah setiap ahir jawapan ada kata "pak" dr tomi.
ini lebih cocok kalo di ajang diskusi di kelas.
logis dikit kelesss..😇😇