Karena ingin melihat putri kembarnya (Agatha & Amanda) segera menikah, Edward menjodohkan mereka dengan pria-pria pengusaha muda tampan yang kaya, putra dari relasi-relasinya.
Agatha di jodohkan dengan Jonathan.
Amanda dijodohkan dengan Vincent.
Pertentanganpun terjadi. Agatha dan Amanda juga Jonathan dan Vincent menolak dijodohkan.
Apa yang terjadi jika Agatha bertemu dengan Vincent (jodoh buat Amanda) dan Amanda bertemu dengan Jonathan (jodoh buat Agatha).
Apakah mereka akan jatuh cinta dengan pria yang dijodohkan untuk saudara kembarnya?
*****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR Maesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH-7 Awal Cinta
Vincent duduk di teras rumahnya, disimpannya kunci mobil di meja itu. Tony menghampirinya dan berdiri di dekatnya.
“Hari yang benar-benar sial,” gerutu Vincent.
“Kenapa wanita-wanita itu muncul semua di mall. Tapi lega rasanya sudah memutuskan mereka semua,” lanjutnya.
“Bagaimana dengan gadis di counter pizza itu Pak?” tanya Tony.
“Aku tidak menyangka akan dikadalin oleh wanita itu, satu juta aku membayar pizza, benar-benar harus dibalas tuh” jawab Vincent.
“Tapi dia cantik, Pak!” ucap Tony.
“Ah secantik apa sih? Pacarku semuanya cantik-cantik,” kata Vincent.
“Saya sempet memfotonya diam-diam, saat Amanda akan ke toilet,” ucap Tony, sambil mengeluarkan handphonenya dan diperlihatkannya foto Amanda pada Vincent.
Vincentpun melihat foto itu dan dia terkejut, ternyata itu adalah wajah gadis yang dia panggil cantik itu, tapi bajunya berbeda.
“Aku bertemu dengan gadis ini tapi dia memakai baju merah,” kata Vincent, jarinya menunjuk foto di hape Tony itu.
“Sepertinya dia sengaja Pak, makanya ke toilet dia mau ganti baju, biar tidak dikenali, dia membeli pizza begitu banyak tidak mau bayar, hampir saja saya dilaporkan ke polisi oleh satpam itu,” kata Tony.
“Aku tidak menyangka aku dikerjai gadis itu. Hemm si cantik Amanda,” gumam Vincent.
Seseorang tampak keluar dari pintu rumah. Mr.Arthur terlihat sudah rapi akan bepergian.
“Vin! Daddy berangkat ke London sekarang!” kata Mr.Arthur, berdiri menatap putranya.
“Iya Daddy, hati-hati di jalan,” kata Vincent.
“Daddy minta, kau urus perusahaan dengan baik, jangan main perempuan lagi. Dan kau coba mengenal Amanda,” kata Mr.Arthur.
Mendengar kata Amanda, Vincent langsung sensi saja.
“Amanda?” tanya Vincent.
“Calon istrimu, namanya Amanda,” jawab Mr.Arthur. Vincent langsung bangun dari duduknya, menghampiri ayahnya.
“Daddy, boleh aku lihat fotonya?” tanya Vincent.
Mr.Arthur merasa senang akhirnya putranya berminat untuk melihat gadis yang dijodohkan dengannya. Diapun mengeluarkan handphonenya, mencari-cari gambar yang dikirim Edward .
“Ini fotonya, dia cantik bukan?” kata Mr.Arthur, memberikan handphonenya pada Vincent.
Putranya itu tampak terkejut melihat foto di handphone ayahnya itu. Ternyata fotonya si cantik. Dia langsung tersenyum senang.
“Aku mau menikah dengan dengannya,” ucapnya spontan.
“Apa?” Mr.Arthur tampak terkejut dengan perkataan Vincent.
“Kau serius?” tanya Mr.Arthur, menatap putranya dengan tidak percaya.
“Aku serius. Kapan aku bisa bertemu dengannya lagi?” tanya Vincent dengan bersemangat, dia benar-benar tertarik pada Agatha yang dia sebut Amanda.
“Sebenarnya dia masih kulaih dan sedang membuat skripsi. Mungkin Daddy dan Mr. Edward akan membicarakan lagi penikahan kalian setelah Amanda lulus, sekitar beberapa bulan lagi,” jawab Mr.Arthur.
Vincent merasa senang ternyata si cantik adalah gadis yang dijodohkan dengannya. Dia tidak menyangka sama sekali.
“Kalau kau serius ingin menikah, kau harus putuskan semua pacar-pacarmu. Daddy tidak mau kau menyakiti putrinya Mr.Edward, kau harus menjaga hubungan baik dengan keluarganya,” kata Mr.Arthur.
“Daddy jangan khawatir, sepertinya dia wanita yang aku cari dan aku jauh cinta pada pandangan pertama,” jawab Vincent dengan mantap.
Mr. Arthur menatap putranya lekat-lekat, dia masih khawatir dengn sifat playboy putranya itu.
“Awas ya, Daddy pegang kata-katamu, jangan menyakitinya,” pesan Mr.Arthur.
“Kau ingin tahu dia kuliah dimana?” tanya Mr.Arthur.
“Tidak, aku sudah punya nomor telponnya dan aku yang akan bicara dengannya,” jawab Vincent.
“Jadi kau sudah mengenal Amanda?” tanya Mr.Arthur, terkejut.
“Ya, aku sudah mengenalnya,” jawab Vincent.
“Baguslah kalau begitu, Daddy akan segera mengabari Mr.Edward. Setelah Amanda lulus, kalian langsung menikah saja, sesuai dengan rencana awal Daddy dan Mr.Edward, menjodohkan kalian karena ingin melihat kalian segera menikah,” kata Mr.Arthur, dia tersenyum senang. Lega rasanya putranya akan segera menikah. Ternyata menjodohkan putranya tidak sesulit yang di bayangkan.
Mr.Arthur mengambil kembali handphonenya yang tadi dipegang Vincent, kemudian dia masuk lagi ke dalam rumah, menelpon teman lamanya, Edward.
“Mr. Edward, ada yang ingin aku sampaikan tentang perjodohan anak-anak kita,” kata Mr. Arthur.
“Maksudmu apa?” tanya Edward, yang sedang ada dirumah.
“Putraku, Vincent setuju menikah dengan Amanda, ternyata mereka sudah saling kenal,” kata Mr.Arthur.
“Benarkah? Itu sangat bagus. Aku senang mendengarnya,” jawab Edward.
“Kapan kita bicarakan perjodohan mereka lebih lanjut? Maksudku kalau bisa kita langsung membicarakan pernikahan mereka saja, aku tidak mau menunda lama-lama pernikahan mereka. Kau tahu kan kondisi kesehatanku belakangan ini suka tiba-tiba memburuk,” tanya Mr.Arthur.
“Sepertinya harus menunggu putriku lulus dulu, putriku masih skripsi. Dan aku juga belum bicara secara serius soal ini aku takut mengganggu skripsinya,” jawab Edward.
“Ya ya baiklah, aku mengerti, aku juga tidak ingin mengganggu kuliah putrimu. Ak akan bicara dengan Vincent supaya bersabar untuk tidak membahas masalah ini sebelum Amanda lulus kuliah,” jawab Mr.Arthur.
“Kapan anda akan ke London?” tanya Edward.
“Hari ini. Bagaimana kalau di London kita bertemu untuk membicarakan pernikahan anak-anak kita?” usul Mr.Athur.
“Ya boleh, kebetulan aku ada urusan ke London beberapa hari lagi. Nanti kita bertemu disana,” ucap Edward.
“Ya aku setuju.” kata Mr.Arthur. Setelah berbasa basi, tidak berapa lama kemudian telponpun ditutup.
“Siapa yang menelpon?” tanya Elsa, menghampiri suaminya, ditangannya membawa secangkir teh hangat.
“Mr.Arhur. Ternyata Vincent sudah kenal dengan Amanda dan Vincent setuju menikah dengan Amanda. Mr. Arthur ingin cepat-cepat membicarakan pernikahan mereka,” jawab Edward.
“Tapi putri kita sedang skripsi, sebaiknya kita tunda dulu masalah ini, tunggu Amanda lulus kuliah, baru kita bicarakan lagi,” kata Elsa, memberikan cangkir teh itu pada suaminya.
“Aku sudah bicara seperti itu pada Mr.Arthur. Yang penting adalah ternyata Vincent setuju dengan perjodohan ini. Itu sangat bagus,” ucap Edward, kemudian meminum teh dari cangkir yang istrinya bawa tadi.
“Ya, sementara kita jangan bicara apa-apa lagi soal ini. Kau lihat sendiri kan reaksi mereka seperti apa, kita bicara dengan anak-anak dengan pelan, jangan terburu-buru,” kata Elsa.
“Ya kau benar. Lagipula aku tidak mau mengganggu kuliah mereka,” ucap Edward, sambil kembali duduk di kursi.
“Kita pulang ke perkebunan nanti sore ya, menunggu anak-anak pulang,” kata Elsa.
“Ya. Aku juga kan ke London beberapa hari lagi, ada sedikit pekerjaan,” jawab Edward.
Elsa tidak bicara apa-apa lagi, dia pergi keluar rumah, melihat tanaman anggreknya yang sudah bertahun tahun dirawatnya. Kalau dia pulang ke perkebunan, tukang kebun di rumahnya yang bertugas merawatnya. Rumah ini terasa sudah begitu tua, meskipun Edward sudah merenovasinya sedemikian rupa supaya tetap nyaman.
********
Vincent senyum senyum sendiri sambil duduk di kursi, di handphonenya sudah ada foto Amanda, dia sudah memindahkan foto gadis itu dari handphone ayahnya tadi.
“Dia sangat cantik, bukan? Aku tidak percaya dia itu calon istriku.Tahu begitu aku tidak akan pernah menolaknya dari awal,” ucap Vincent.
“Saya ikut senang mendengarnya, Pak!” ucap Tony, yang sedari tadi masih berdiri di dekat kursinya Vincent.
Mr.Arthur keluar lagi dari rumah, sebuah mobil sudah di siapkan oleh supir, ada terparkir di teras rumah.
“Vin! Daddy sudah bicara dengan Mr.Edward soal Amanda. Karena Amanda sekarang sedang mengerjakan skripsi, kau jangan dulu bicara apa-apa soal pernikahan kalian, jangan sampai mengganggu skripsinya. Nanti setelah dia lulus, baru kita bicarakan pernikahanmu, jadi kau rahasiakan dulu dari Amanda,” kata Mr.Arhur.
“Jadi si cantik sedang skripsi. Baiklah Daddy, aku mengerti. Aku akan bersabar demi gadis cantik seperti dia,” jawab Vincent mengangguk.
“Daddy berangkat!” kata Mr.Arthur sambil masuk ke dalam mobil, supir segera menyalakan mobilnya.
“Dadah Daddy,” ucap Vincent.
“Jaga diri baik-baik, bekerja yang rajin!” kata Mr. Arthur. Mobilpun melaju pelan.
“Ya baik Daddy,” jawab Vincent, sambil tersenyum. Entah kenapa hatinya sangat berbunga-bunga. Dia sangat senang hari ini. Segala kekesalannya di mall sudah terlupakan. Diapun kembali menatap foto Amanda.
“Anda sangat menyukainya Pak?” tanya Tony.
“Tentu saja, aku sangat menyukainya. Kalau tahu tadi yang kau temui di counter pizza adalah calon istriku, aku tidak akan menyuruhmu menggantikanku! Dia pasti ilfeel padaku sekarang, gara-gara melihatmu. Entah dia akan mau menerima telponku lagi atau tidak,” kata Vincent. Ditatapnya terus foto Amanda.
“Sayang, jangankan membelikanmu 1 juta pizza, dengan toko- tokonyapun jika kau mau akan aku belikan,” ucapnya, merayu foto itu.
Tony tampak tertawa melihat tingkah majikannya itu.
“Tapi Pak, bagaimana kalau nona Amanda tidak menyukai Bapak?” tanya Tony. Sekarang memanggil Amanda ditambah nona karena tahu gadis itu calon istri majikannya.
“Tony, Tony, kau seperti tidak tahu aku saja, lambat laun juga dia akan jatuh cinta padaku, lihat saja nanti. Pokoknya sebelum kita menikah, dia harus sudah jatuh cinta padaku,” jawab Vincent dengan pedenya.
Tony hanya mengangguk angguk.
*************
Mobilnya Agatha dan Amanda baru tiba di rumah.
“Hari ini benar-benar membuatku kesal,” keluh Agatha sambil turun dari mobilnya kemudian menutup pintunya, begitu juga dengan Amanda.
“Tapi setidaknya kita mendapatkan banyak pizza! Dua kotak aku berikan pada Erna dan Asti,” ucap Amanda dengan senyum mengembang di bibirnya, tangannya memegang dus dus pizza yang berumpuk.
“Cowok itu pasti kapok tidak akan mengajak bertemu lagi,” kata Agatha. Baru juga selesai dia bicara, handphonenya berdering.
“Siapa yang menelpon?” gumamya. Begitu dilihat ternyata dilayar muncul nama Vincent, padahal baru saja dia membicarakannya, pria itu sudah menelponnya.
“Halo Amanda,” panggil Vincent.
Tangan Agatha menutup handhponenya, lalu berbisik pada Amanda.
“Vincent,” ucap Agatha pada Amanda. Saudara kembarnya malah tertawa lalu dia masuk ke dalam rumah, dengan membawa pizza-pizzanya.
“Ada apa lagi?” tanya Agatha.
“Bagaimana pizzanya? Kau suka?” tanya Vincent.
“Suka. Aduh aku minta maaf ya, kau harus membayar semuanya,” jawab Agatha, pura-pura ramah padahal bibirnya mencibir.
“Tidak, tidak apa-apa, kalau kau masih mau, aku bisa pesankan deliveri ke rumahmu, kau mau toping apa? Aku pesankan sekarang,” ucap Vincent, berbaik hati, sambil mencari-cari kesempatan untuk bicara berlama-lama dengan Agatha yang dia panggil Amanda.
“Aduh bagaimana ya. Bukan aku menolak, tapi ini sudah cukup,” jawab Agatha, masih lebay.
“Trimakasih ya pizzanya,” ucap Agatha lagi. Lalu menutup telponnya. Sambunganpun terputus.
“Halo!” panggil Vincent tapi tidak ada jawaban. Dia mencoba menelponnya lagi ternyata hanya nada tut yang panjang.
Vincent menatap handphonenya. Gadis itu benar-benar mematikan handphonenya! Tapi dia tidak akan menyerah begitu saja, dia yakin bisa membuat Agatha yang dia sebut Amanda itu jatuh cinta padanya.
***************
Jangan lupa like vote dan komen
Semangat terus berkarya Kakak author 🔥😘
daripada mencintai..
karena cinta akan tumbuh seiring waktu..
karena kasih yang diberikan setiap hari akan mengikis kebekuan hati..
❤❤❤❤❤❤