NovelToon NovelToon
Pita Hitam Kala Senja

Pita Hitam Kala Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Persahabatan / Trauma masa lalu
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Shourizzz BP

Semua sudah berakhir. Aku yang sulit dalam bergaul, pasti akan mudah dilupakan oleh orang – orang. Tidak dekat dengan siapapun, mau itu teman atau bahkan keluarga, pasti membuat kematianku sama seperti angin yang berlalu. Tidak dikenang oleh siapapun. Hanya kesendirianan yang tersisa. Akhir yang pantas bagi orang sepertiku. Seharusnya begitu, tapi …,
Kenapa aku bisa merasakan tetesan air mata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shourizzz BP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MASA LALU YANG TIDAK DIKETAHUI

Jarum jam telah berputar 360 derajat sebanyak dua kali dalam sehari. Tengah malam telah berlalu. Meski begitu aku tetap tidak bosan menatap pemandangan dari atas bukit. Aku masih tetap terjaga. Lebih tepatnya aku tidak bisa tidur, karena sudah tidur terlalu banyak. Ditambah, kopi yang diberikan ternyata efeknya cukup kuat. Sekarang hanya ada aku dan Bang Nanang yang masih bangun. Awan sudah tertidur pulas didalam tenda. Hal yang wajar, dia kelelahan karena sudah banyak membantuku.

Kami hanya diam. Tidak ada yang bicara, bahkan saling menatap pun tidak. Pandangan kami benar – benar terfokuskan pada alam yang terbentang luas dihadapan. Aku tidak ada niatan untuk bertanya, lagipula tidak ada yang ingin aku bicarakan. Aneh, tapi aku tidak merasa awkward. Biasanya aku selalu merasa lebih baik menjauh, daripada duduk bersama orang yang entah kenalan atau bukan, seperti cuman tau namanya, atau cuman kenalan dari kenalan. Duduk berdua dengan Bang Nanang tidak menciptakan suasana yang seperti itu. Padahal aku baru kenal beberapa saat yang lalu.

“Dulu, Awan pernah kesini sendiri.” Bang Nanang membuka pembicaraan setelah sekian lama berdiam. Mungkin karena kopi yang dia minum sudah habis. “Aku juga. Gak kenal dia dan pergi sendiri ke bukit ini. Aku memang suka liat – liat alam. Makanya aku ikut MAPALA.” Dia menunjukkan ponselnya. Didalam layar, terlihat foto – fotonya saat masih aktif berorganisasi. “Padahal aku cuman mau jadi anggota biasa, tapi karena aku dulu suka jalan – jalan ke alam sendiri, malah disuruh jadi ketua. Sialan emang abang – abang disana.” Dia tertawa sambil terus menunjukkan foto – foto diponselnya.

“Terus kenapa bisa kenal Awan?” Pertanyaanku yang belum terjawab sebelumnya kembali kutanyakan. Jujur aku masih penasaran dengan hubungan mereka berdua.

“Oh soal itu! Sekitar dua atau tiga tahun yang lalu. Waktu pertamakali liat Awan, awalnya aku liat dia cuman kaya orang biasa yang lagi muncak. Tapi, semakin jauh hari, semakin sering aku liat dia. Malahan, setiap aku datang kesini, kayaknya aku selalu liat dia.” Bang Nanang terdiam sesaat dan melihat kearah Awan yang sedang tertidur. “Tapi anehnya, dia selalu pulang tengah malam. Gak pernah sampai pagi. Pasti selalu pulang setelah jam 12 keatas. Boro – boro mau tiduran disini, bawa peralatan aja nggak. Aneh memang dia itu!” Ceritanya terhenti untuk sesaat. Bang Nanang tersenyum. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Tidak lama, dia kembali melihat alam seraya melanjutkan kisahnya. “Ada suatu waktu, aku coba negur dia. Tapi gak terlalu ditanggepin. Kayaknya dia mikir yang aneh – aneh soal aku. Tapi gak tau juga. Kan aneh aja ada orang gak kenal tiba – tiba nyapa?”

“Ternyata Bang Nanang sadar diri.”

“Entah kenapa kelakuanmu mirip kaya Awan.” Bang Nanang menatapku sinis, tapi itu malah membuatku tertawa. Reaksi yang dia buat rasanya lucu. Dia juga ikut tertawa setelah melihatku. “Lanjut nih?” Aku menggangguk. “Meski Awan gak terlalu nanggepin, tetap kucoba buat ajak bicara, aku juga nawarin tenda kalau dia mau tiduran. Tentu dia gak langsung nerima. Hari pertama ditolak, minggu depan juga, sampai akhirnya dia nerima tawaranku. Mungkin dia udah bosan nolak. HAHAHA.

Dari situ kami jadi sering ngobrol. Dia cerita kalau ada masalah dirumah, makanya sering ke puncak buat nenangin diri. Dia sengaja pulang lewat tengah malam biar gak ketemu orang rumah. Nunggu orang disana pada tidur.

  Aku cuman orang asing. Rasanya gak berhak buat ikut campur. Ngasih saran juga aneh, soalnya aku gak pernah ngalamin. Yang bisa aku lakuin cuman nawarin tenda kalau dia capek. Nawarin kopi kalau dia ngantuk. Hal – hal sederhana yang bisa bikin dia nyaman. Yang penting dia bisa lupain masalah walaupun cuman sebentar.”

Mendengar cerita Bang Nanang soal Awan, membuatku teringat akan sesuatu. Dulu, Awan sering mengajakku keluar saat malam – malam, dia juga sering minta mengingap dirumahku, dia bilang bosan dirumah. Saat itu aku selalu menolak karena tidak ingin hubunganku menjadi lebih dekat dengan siapapun. Sekarang aku baru tau alasan dia meminta hal seperti itu. Padahal dia perlu pertolonganku, padahal aku bisa saja membantunya dengan hal – hal kecil, tapi tidak kulakukan. Aku terlalu memikirkan diri sendiri, mengabaikan orang lain yang sebenarnya memerlukanku. Satu – satunya orang yang selalu membantuku, malah tidak pernah kubantu. Aku punya kesempatan untuk itu, tapi tidak kulakukan. Aku bahkan tidak tau kalau Awan punya masalah. Aku benar – benar tidak layak sebagai temannya.

“Tapi akhir – akhir ini dia udah jarang muncak. Kayaknya masalah dia sama orang tuanya udah selesai. Gak tau juga, aku gak nanya, semoga aja begitu. Makanya waktu dia nelpon, aku langsung buru – buru nyiapin peralatan karena udah lama gak ketemu. Terus dia bilang mau bawa temen. Orang yang selalu datang sendiri akhirnya ngajak temen.

Kamu pasti teman dekat Awan kan?”

Ingin kujawab dengan lantang kalau aku adalah temannya. Bahkan kalau bisa berteriak akan kulakukan. Tapi, apa aku layak? Mungkin tidak masalah kalau hanya aku yang menganggap dia adalah sahabatku, tapi mengatakannya pada orang lain, apa itu pantas? Mengaku – ngaku teman dekat, tapi tidak tau masalahnya? Tidak tau kebiasaannya, bahkan tidak tau hal spesial selain yang orang – orang biasa tau. Aku yang hanya peduli pada diri sendiri, mengaku teman baiknya? Orang sebaik Awan? Betapa angkuhnya aku. “Aku bu –“

“Iya dong! Dia satu – satunya sahabat terbaikku.”

“Dah bangun kamu Awan?”

“Bang Nanang berisik benget dari tadi, gimana aku gak kebangun.”

“Kamu kenapa?”

Awan ternyata sudah bangun. Sejak kapan? Apa saja yang sudah dia dengar? Apa dia sengaja mendengarkan dari tadi? Tidak tau. Terlepas dari itu, Awan tanpa ragu mengganggapku satu – satunya sahabat terbaik? Apakah orang sepertiku masih berhak diakui? Padahal aku tidak pernah melakukan apapun untuknya. Meski begitu, dia tetap dengan percaya diri mengungkapkan isi hatinya. Tidak pernah ada orang yang mengganggapku seperti itu sebelumnya, dianggap spesial oleh orang lain. Aku masih diberikan kesempatan. Aku tidak pernah tau kalau akan sebahagia ini rasanya ketika diakui oleh seseorang, terlebih oleh orang yang kuanggap sahabat. Air mataku tidak tertahan, rasanya ingin menangis. Pasti Bang Nanang bertanya karena ekspresiku terlalu mudah untuk dibaca. Kuusap air mataku yang hampir keluar untuk menyembunyikannya. “Gakpapa bang.”

Aku memang tidak datang ke pesta yang diadakan ketua kelas, tapi aku mendapat penggantinya yang lebih baik. Aku tidak tau seberapa menyenangkannya jika aku datang ke pesta, mungkin akan lebih heboh daripada hanya sekedar melihat alam, mungkin juga akan lebih rame daripada hanya bertiga. Tidak ada yang tau karena aku tidak bisa membandingkan sesuatu yang belum pernah kulakukan. Tapi, ada satu hal yang pasti. Menghabiskan waktu dialam sepanjang malam, membicarakan hal penting dan tidak penting, serta terdiam seraya menatap matahari yang mulai terbit, merupakan pengalaman terbaik yang kumiliki saat ini. Matahari menjadi saksi atas momen berhargaku bersama orang – orang yang juga berharga. Aku merasa menjadi bagian dari mereka. Momen ini akan selalu kuingat sampai kapanpun. Bahkan, jika hanya aku sendiri yang tetap akan mengingatnya. “Makasih Awan, Bang Nanang.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!