NovelToon NovelToon
MANISNYA SI BOS NARSIS

MANISNYA SI BOS NARSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.


Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.

Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.

Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: STANDAR SEKRETARIS BARU

Efek mandi air dingin semalaman ternyata tidak hanya berhasil menurunkan suhu tubuh Bima, tetapi juga berhasil mengaktifkan kembali mode diktator keras kepalanya yang sempat korsleting.

Pukul delapan pagi, Bima sudah duduk tegak di balik meja marmernya dengan kemeja hitam yang dikancingkan rapi sampai ke leher—seolah-olah aksi pamer dada kemarin tidak pernah terjadi. Begitu mendengar ketukan pintu, Bima langsung memasang wajah sedingin es kutub utara.

"Masuk," suara bariton Bima menggema.

Pintu terbuka, dan masuklah Pak Doni, Kepala Divisi HRD PT Bimantara Food Internasional. Pria paruh baya bertubuh tambun itu membawa satu map tebal berisi berkas-berkas lamaran kerja dengan wajah yang tampak agak tegang.

"Selamat pagi, Pak Bima. Ini saya membawa berkas Curriculum Vitae (CV) untuk kandidat sekretaris baru, sesuai dengan instruksi Bapak kemarin sore mengenai masa one-month notice Bu Anaya, "ujar Pak Doni dengan nada sangat sopan, sambil meletakkan map tersebut di atas meja.

Masa one-month notice adalah periode wajib pemberitahuan pengunduran diri (resign) kepada perusahaan, minimal 30 hari sebelum tanggal efektif berhenti bekerja.

Mendengar nama Anaya disebut, rahang Bima sedikit mengeras. Mata elangnya langsung tertuju pada tumpukan kertas di depannya. "Sudah kamu sortir semua, Doni?"

"Sudah, Pak. Ini adalah lima kandidat terbaik yang kami pilih. Semuanya lulusan terbaik dari universitas ternama, memiliki pengalaman minimal tiga tahun sebagai sekretaris eksekutif, dan... penampilannya sangat representatif untuk mendampingi Bapak di berbagai acara korporat," jelas Pak Doni penuh percaya diri, sambil tersenyum lebar.

Bima mendengus pelan. Dia membuka map tersebut, lalu mengambil berkas kandidat pertama. Di pojok kanan atas kertas, terpampang foto seorang wanita muda berambut panjang gelombang dengan senyuman manis yang tampak sangat profesional.

"Kandidat pertama, namanya Clarissa, Pak. Dia mantan sekretaris direksi di perusahaan multinasional kosmetik. Bahasanya aktif, penampilannya anggun, dan—"

"Coret," potong Bima ketus, melemparkan berkas Clarissa ke sisi meja seolah itu adalah kertas selebaran brosur diskon minimarket.

Pak Doni berkedip, agak kaget dengan penolakan instan tersebut. "Uh... maaf, Pak? Ada yang salah dengan kualifikasinya?"

"Bulu matanya terlalu lentik," jawab Bima asal, wajahnya datar tanpa dosa. "Sekretaris itu tugasnya membaca dokumen laporan keuangan, bukan buat jadi model iklan maskara. Kalau dia keseringan kedip di depan saya, yang ada saya pusing dikira lagi ngasih kode morse. Ganti."

Pak Doni menelan ludah, buru-buru menyodorkan berkas kedua. "Baik, Pak. Ini kandidat kedua, namanya Amanda. Pengalaman empat tahun di bidang properti. Wajahnya tegas, rambutnya dipotong bob rapi, dan sangat disiplin."

Bima melirik foto Amanda selama dua detik, lalu langsung menggelengkan kepalanya dengan raut wajah jijik yang dibuat-buat. "Coret juga."

"Lho, kenapa lagi, Pak?" Pak Doni mulai berkeringat dingin.

"Dia terlalu banyak tersenyum di foto ini. Senyumnya berkadar gula tinggi," kilah Bima, otaknya mendadak memutar kembali memori senyuman "Sihir Sekretaris" milik Anaya kemarin pagi. "Saya ini pimpinan perusahaan makanan, Doni. Saya tidak butuh karyawan yang wajahnya bisa memicu penyakit diabetes bagi orang yang melihatnya. Nanti fokus kerjaan saya terganggu karena sibuk mikirin kadar glukosa. Ganti yang lain."

Pak Doni mulai merasa ada yang tidak beres dengan kesehatan mental bosnya hari ini. Dengan tangan yang sedikit gemetar, dia menyodorkan berkas ketiga, keempat, hingga kelima. Dan tebak apa yang terjadi? Semuanya dicoret oleh Bima dengan alasan yang semakin lama semakin tidak masuk akal di dunia kerja modern.

"Kandidat ketiga ini kenapa dicoret lagi, Pak? Dia bahkan lulusan S2 dari London!" tanya Pak Doni, suaranya naik setengah oktav karena frustrasi.

"Namanya terlalu mirip sama merek parfum ruangan," jawab Bima enteng sambil bersandar malas pada kursi kulitnya. "Dan yang nomor empat itu... kenapa dia pakai baju warna putih gading? Kamu tahu kan kalau warna itu gampang kotor kalau kena cipratan kuah mi instan sampel kita? Berarti dia tidak punya visi jangka panjang terhadap risiko pekerjaan. Coret semua, Doni. Tidak ada yang becus."

Pak Doni mengusap dahinya yang basah oleh keringat. Pria paruh baya itu menatap Bima dengan pandangan tidak percaya. "Pak Bima yang terhormat... ini lima orang yang saya bawa adalah jajaran top tier di bursa kerja sekretaris Jakarta. Kalau mereka semua Bapak coret hanya karena urusan bulu mata dan warna baju, lalu standar sekretaris seperti apa yang sebenarnya Bapak butuhkan?"

Bima terdiam sesaat. Pria itu menautkan jemari tangannya di depan dada, menatap lurus ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan gedung pencakar langit Jakarta. Di dalam hatinya yang paling dalam, ada sebuah pengakuan egois yang menolak untuk disuarakan: Saya tidak butuh sekretaris baru. Saya cuma butuh Anaya.

Namun, karena gengsinya masih membara akibat gosip "manusia purba" kemarin siang, Bima mendengus kasar. Dia menatap Pak Doni dengan pandangan mengintimidasi.

"Kamu mau tahu standar saya, pak Doni?" Bima memajukan tubuhnya, menumpukan kedua sikunya di atas meja kerja. "Dengar baik-baik. Saya tidak butuh sekretaris wanita cantik yang modis. Saya butuh sekretaris yang mukanya kaku kayak semen Lima Roda! Yang kalau senyum rasanya kayak mau ngajak berantem, bukan ngajak nikah!"

Pak Doni melongo, mulutnya sedikit terbuka. "Hah? Maksud Bapak?"

"Ya! Saya butuh orang yang penampilannya... kalau bisa mirip Shrek sekalian!" ketus Bima, emosinya mendadak tersulut tanpa alasan yang jelas. "Biar dia fokus kerja dan gak sibuk tebar pesona di koridor kantor! Dan satu lagi yang paling penting: dia gak boleh wangi vanilla! Wanginya harus bau minyak angin cap kapak atau minimal bau karbol wangi sekalian, biar ruangan ini steril dari aroma-aroma yang bisa merusak konsentrasi otak saya!"

Hening.

Ruangan CEO itu mendadak sunyi senyap selama beberapa detik. Pak Doni menatap bos geniusnya itu dengan pandangan prihatin yang amat sangat. Di dalam benak kepala sang kepala HRD, sebuah kesimpulan mutlak telah diambil: Fix, Pak Bima sudah gila kerja tingkat akut. Beban mental menjelang IPO bulan depan tampaknya sudah merusak sel-sel saraf di otak jeniusnya.

"Uh... baik, Pak Bima," ujar Pak Doni akhirnya, suaranya dibuat sepelan mungkin seolah sedang berbicara dengan pasien rumah sakit jiwa yang sedang mengamuk. "Saya... saya akan coba cari kandidat yang... mukanya mirip semen Lima Roda dan beraroma minyak angin di bursa lowongan kerja besok. Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak."

Dengan gerakan super cepat, Pak Doni menyambar kembali seluruh berkas lamaran yang berserakan di meja, lalu berjalan mundur teratur menuju pintu keluar seolah-olah Bima bisa berubah menjadi monster hijau kapan saja.

Begitu pintu ruangannya tertutup rapat, Bima kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi. Dia mengembuskan napas panjang, lalu melirik ke arah kubikel di luar ruangannya melalui dinding kaca yang transparan. Di sana, Anaya baru saja datang, meletakkan tasnya, lalu mulai menyalakan komputer dengan gerakan anggun yang biasa ia lakukan setiap pagi.

Bima memejamkan matanya sesaat, meraba dadanya yang kembali berdegup kencang hanya karena melihat bayangan wanita itu dari kejauhan.

"Sialan," bisik Bima pada dirinya sendiri, merutuki nasibnya yang kini benar-benar sudah berada di ujung tanduk kegilaan akibat pesona sang sekretaris.

Tunggu kelanjutannya besok, bakal rilis 2 bab tiap harinya jam 08.00 dan 11.00. Stay tune ya kakak, boleh juga kasih hadiah dan dukungannya juga kalau berkenan. Thank uuu

-

1
English Lesson
semangat 💪🏻
English Lesson
Bagus👍🏻
Mar lina
Kirain mau kiss
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
Mar lina
Di tunggu
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!