NovelToon NovelToon
SIAPA TAKUT Jadi BEDA?

SIAPA TAKUT Jadi BEDA?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:548
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Di saat fisiknya yang sawo matang selalu dihina oleh geng Ivanka, Alisha membuktikan bahwa kecerdasan dan rasa percaya diri jauh lebih memikat daripada standar kecantikan dunia. Namun, ketangguhannya diuji oleh Reyshaka, rival abadi berotak encer yang hobinya berdebat, tapi diam-diam selalu pasang badan paling depan saat Alisha direndahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

topeng kuat alisha

Pagi itu, cermin di kamar mandi seolah mempertegas takdir yang berbeda bagi dua gadis di rumah itu.

Alisha menatap pantulan dirinya: kulit sawo matang khas Indonesia, rambut hitam pekat yang lebat, dan bibir penuh yang tebal. Sementara di sebelahnya, Aleta—sang adik yang baru menginjak bangku kelas satu SMA—sedang asyik mengoleskan pelembap ke wajahnya yang putih bersih, berbibir tipis, dengan fitur wajah blasteran bak bule desa yang diturunkan dari nenek buyut mereka.

"Kak, pinjam jedai yang warna hitam dong," celetuk Aleta tanpa menoleh, masih sibuk mengagumi wajahnya di cermin. "Kakak pakai yang cokelat aja, lebih masuk sama warna kulit Mbak."

Alisha menghentikan gerakan menyisir rambutnya. Kalimat Aleta tidak bernada mengejek, tapi justru karena diucapkan dengan begitu santai, rasanya sedikit mencubit hati. Standar kecantikan di lingkungan mereka memang sudah melekat kuat di kepala adiknya yang baru remaja itu.

"Ambil aja di meja," balas Alisha tenang, menguncir rambutnya dengan rapi. "Gak usah repot-repot mikirin warna yang masuk di kulit gue. Semua warna kelihatan bagus kalau yang pakai orang pinter."

Aleta mendengus pelan sambil mencibir, lalu meraih tas sekolahnya. "Iya deh, yang selalu juara satu umum sesekolah mah bebas."

Kontras itu makin nyata saat mereka berjalan keluar rumah menuju koridor SMA Pelita Bangsa. Kehadiran Aleta langsung menarik perhatian, sementara Alisha berjalan dengan langkah tegap, mengabaikan bisik-bisik yang membandingkan mereka.

Langkah Alisha mendadak terhenti di koridor kelas sebelas saat Ivanka dan dua dayang-dayangnya berdiri menghadang jalan. Aleta yang berjalan di belakang Alisha refleks ikut berhenti, matanya agak cemas melihat situasi itu.

Ivanka, dengan seragam yang sengaja dikecilkan dan aroma parfum mawar yang menyengat, melipat tangan di dada. Matanya meneliti Alisha dari ujung rambut hingga ujung sepatu dengan tatapan meremehkan.

"Duh, Alisha... lo abis ikut jembatan amal atau gimana? Kulit kok makin hari makin gosong aja? Lo gak tahu ya kalau sekarang lagi tren skincare mencerahkan? Minimal modal dikit napa, kasihan tuh visual sekolah kita jadi jomplang gara-gara lo," Ivanka tertawa renyah. Matanya kemudian melirik ke arah Aleta yang berdiri di belakang Alisha.

"Padahal adik lo, si Aleta, bening banget kayak bule. Kok kakaknya bisa jauh banget gini ya? Lo beneran anak kandung bukan, sih?" tambah Ivanka memprovokasi.

Aleta tampak salah tingkah dan sedikit menunduk, tidak berani membela kakaknya karena takut dikucilkan oleh geng Ivanka yang populer.

Alisha yang menyadari ketakutan adiknya langsung mengambil satu langkah maju, menutupi posisi Aleta di belakang punggungnya. Alih-alih menangis atau menunduk malu, bibir penuh Alisha justru melengkung membentuk senyuman manis yang terlihat mengejek.

"Makasih perhatiannya, Ivanka," balas Alisha, suaranya tenang namun bergema di koridor. "Tapi setahu gue, fungsi utama sekolah itu buat nyari ilmu, bukan nyari putih. Lagian, buat apa kulit glowing maksimal kalau lembar jawaban ujian matematika lo kemarin masih glowing... alias kosong melompong?"

"Lo—!" Wajah Ivanka langsung memerah. Sindiran Alisha tepat sasaran, mengingat nilai ujian matematika Ivanka kemarin memang remedial total.

"Satu lagi," Alisha melangkah satu tapak lebih maju, membuat Ivanka refleks mundur. "Daripada lo sibuk ngurusin pigmen kulit orang lain, mending lo urusin tuh bedak lo yang ketebalan. Gak takut luntur pas jam olahraga nanti?"

"Alisha! Berani ya lo—"

Ivanka sudah mengangkat tangannya, hendak mendorong bahu Alisha. Namun, belum sempat jemari lentik ber-manikur itu menyentuh seragam Alisha, sebuah tangan kekar berseragam rapi tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Ivanka di udara.

Semua orang menahan napas, termasuk Aleta yang matanya melebar terkejut.

Reyshaka berdiri di sana. Tinggi, tegap, dengan tatapan sedingin es yang langsung ditujukan pada Ivanka.

"Ribut pagi-pagi bikin kuping gue pengang," ucap Shaka, suaranya berat dan datar. Dia menghempaskan tangan Ivanka dengan kasar seolah baru saja menyentuh debu.

"Shaka... dia duluan yang nyolot!" Ivanka langsung mengubah suaranya menjadi manja, mencoba mencari pembelaan dari cowok populer itu.

Shaka sama sekali tidak melirik Ivanka. Sepasang mata tajamnya justru berbalik menatap Alisha yang masih berdiri santai di tempatnya. Shaka mendengus pelan, menatap Alisha dengan tatapan rivalitasnya yang biasa.

"Dan lo, Alisha," cetus Shaka dingin. "Gak usah sok hebat ngelayanin orang gak penting. Lo lupa hari ini kita harus ngumpulin draf olimpiade fisika jam pertama? Kalau nilai kita turun cuma gara-gara lo telat masuk kelas, gue gak akan tinggal diam."

Alisha memutar bola matanya malas. "Gue gak bakal telat kalau jalan gue gak dipalang sama singa sirkus, Shaka."

"Makanya jalan lewat samping, lo punya mata kan?" Shaka berbalik badan, berjalan mendahului Alisha menuju kelas dengan langkah lebar. Tapi sebelum benar-benar menjauh, Shaka sempat melirik tajam ke arah Ivanka dan komplotannya. "Dan buat lo semua... minggir. Jangan menembus batas kesabaran gue pagi ini."

Ivanka hanya bisa menghentakkan kakinya kesal. Sementara itu, Alisha melirik ke arah Aleta yang masih terpaku.

"gue masuk kelas dulu, Ta. Lo langsung masuk kelas gih, jangan dengerin omongan orang gak jelas," ucap Alisha lembut namun tegas kepada adiknya, sebelum melangkah pergi menyusul Shaka.

Aleta hanya mengangguk pelan, menatap punggung kakaknya dengan perasaan campur aduk—antara kagum dengan keberanian Alisha, sekaligus sedikit cemburu karena melihat bagaimana Shaka, cowok paling diincar di sekolah, selalu pasang badan untuk kakaknya itu.

1
S3C
semangat author 👍👍👍👍
Anisa Nurlatifah: siap,Makasihhhh😍😍😍😍👍💪
total 1 replies
Anisa Nurlatifah
😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!