Di Alam Fana yang kejam, bakat adalah segalanya. Lin Ye, seorang pemuda dengan meridian cacat, ditakdirkan menjadi pelayan seumur hidupnya. Namun, nasibnya berubah ketika darahnya tak sengaja membangkitkan sebuah relik berkarat: Kuali Penelan Bintang.
Kuali kuno ini bukan sekadar alat pelebur pil, melainkan artefak primordial yang mampu melahap esensi langit dan bumi, bahkan menelan energi bintang-bintang. Dalam perjalanan kultivasi yang lambat, penuh perhitungan, dan berdarah, Lin Ye perlahan mengubah fisik fananya, menembus kemustahilan, dan melangkah ke jalan keabadian.
Ini bukan kisah pahlawan instan, melainkan seorang pemuda biasa yang merangkak dari debu, menentang takdir surga, dan pada akhirnya, melahap seluruh kosmos untuk melindungi apa yang ia hargai. Langit kesembilan pun akan gemetar di bawah kualinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starlope, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembagian Jatah
Cahaya fajar menyapu puncak bersalju Gunung Qingyun, membawa serta semilir angin beku yang mengakhiri badai salju semalam. Di dalam gubuknya, Lin Ye menghembuskan napas panjang. Udara yang keluar dari mulutnya tidak lagi berupa uap putih biasa, melainkan kabut tipis yang seketika membekukan embun di dinding kayu gubuknya.
Puncak Tingkat Keempat telah terlewati. Kini, setiap otot, tulang, dan darah di tubuhnya berdenyut dengan kekuatan Alam Pengumpulan Qi Tingkat Kelima yang murni. Lin Ye mengepalkan tinjunya perlahan, merasakan tenaga ledakan yang tersembunyi di balik kulitnya yang tampak biasa-biasa saja.
"Kekuatanku sekarang sudah melampaui Wang Hao yang berada di Tingkat Ketiga," batin Lin Ye seraya membetulkan jubah abu-abunya yang compang-camping. "Tapi membunuhnya secara terbuka sama saja dengan bunuh diri. Wang Hao memiliki seorang paman yang menjadi Diaken di sekte luar. Kematiannya akan memicu penyelidikan yang jauh lebih ketat daripada hilangnya serangga seperti Li Mang."
Ia menekan auranya dalam-dalam menggunakan Sutra Kekosongan. Seketika, keajaiban terjadi. Hawa dingin dari Sumsum Es Hitam dan kepadatan fisiknya yang mengerikan menghilang sepenuhnya ke dalam kuali di Dantian-nya, menyisakan cangkang pemuda fana yang kurus, pucat, dan tanpa meridian. Penyamarannya sangat sempurna hingga tidak ada jejak spiritual sekecil apa pun yang bocor.
Hari ini bukanlah hari biasa di Pelataran Luar. Setiap awal bulan, Sekte Pedang Awan Mengalir menggelar Pembagian Jatah Bulanan di Alun-Alun Awan Tembaga. Ini adalah hari di mana para murid sekte luar menerima Pil Qi Darah dan Batu Spiritual tingkat rendah sebagai sokongan daya untuk kultivasi mereka.
Bagi para pelayan fana seperti Lin Ye, ini adalah hari kerja paksa terberat. Mereka harus mengangkut peti-peti kayu berat berisi ramuan, menyiapkan ribuan cangkir teh spiritual, dan membersihkan alun-alun, sembari harus menahan hinaan dari para murid yang berkumpul.
Ketika Lin Ye tiba di Alun-Alun Awan Tembaga, tempat itu sudah dipenuhi oleh ratusan murid berjubah putih yang duduk bersila di atas tikar jerami. Di depan mereka, sebuah panggung batu besar berdiri megah. Seorang Tetua sekte luar berjubah abu-abu keperakan duduk di atas kursi kayu cendana, mengawasi pembagian pil dengan mata setengah terpejam.
Lin Ye ditugaskan membawa nampan kayu besar berisi kuali kecil teh spiritual yang mendidih. Ia berjalan menunduk, bergerak dari satu barisan murid ke barisan lainnya untuk menuangkan teh. Pendengarannya yang tajam menangkap berbagai percakapan di sekitarnya.
"Kudengar Li Mang ditemukan di dasar tebing tambang es dengan keadaan cacat total. Meridian tangannya hancur, kakinya remuk, dan dia tidak bisa bicara. Tabib bilang dia terkena radang beku spiritual ekstrem."
"Cih, itu salahnya sendiri. Berlagak hebat masuk ke area terlarang tambang tanpa pil penahan dingin."
Di barisan depan, duduk bersila, Wang Hao mendengar kasak-kusuk itu dengan wajah kelam dan urat leher menonjol. Rencananya untuk mencelakai "anjing bisu" itu tidak hanya gagal, tapi dia juga kehilangan salah satu pion terbaiknya. Lebih buruk lagi, dia harus membayar sejumlah Pil Qi Darah kepada Diaken untuk menutupi biaya pengobatan dasar Li Mang, meskipun hasilnya nihil.
Suasana hati Wang Hao sedang sangat buruk. Dan saat ia menolehkan kepalanya, matanya langsung tertuju pada pemuda berbalut jubah lusuh yang sedang berjalan tertatih menuangkan teh tak jauh dari tempatnya duduk.
Mata Wang Hao memicing memancarkan kebencian yang berbisa. Sampah ini... kenapa dia masih hidup dan berjalan seolah tidak terjadi apa-apa?
Di sisi lain alun-alun, duduk di tempat kehormatan yang terpisah dari murid biasa, Su Yue tampak menutup matanya, memancarkan aura dingin yang menekan batin siapa pun di dekatnya. Kulitnya sepucat pualam, dan tidak ada satu pun murid yang berani duduk dalam radius lima tombak darinya.
Meski tampak bermeditasi, pikiran Su Yue sedang berkecamuk. Semalam, ia hampir saja hancur oleh penyimpangan Qi. Jika bukan karena sepasang telapak tangan misterius yang menyedot racun es itu dengan daya kosmik yang mengerikan, ia pasti sudah mati.
Siapa Senior itu? tanya Su Yue dalam hati, alis lentiknya sedikit berkerut. Dia memiliki daya hisap yang melampaui teknik manapun di sekte ini. Auranya liar, seolah dia bukan kultivator manusia, melainkan titisan dewa iblis kuno. Aku harus mencari tahu.
Sementara itu, Lin Ye perlahan mendekati barisan tempat Wang Hao berada. Ia tahu Wang Hao sedang menatapnya, ia bisa merasakan niat membunuh yang memancar jelas dari pemuda arogan itu. Namun, Lin Ye tetap menunduk, menuangkan teh spiritual ke cangkir-cangkir di barisan itu dengan gerakan yang sengaja dibuat sedikit gemetar layaknya manusia fana.
Ketika Lin Ye sampai tepat di depan meja kecil Wang Hao, ia menuangkan teh dengan hati-hati.
"Lebih lambat sedikit, Sampah," desis Wang Hao dengan suara pelan yang hanya bisa didengar oleh Lin Ye dan murid di sebelahnya. "Air ini berharga. Jangan sampai satu tetes pun jatuh."
Tepat saat kuali teh di tangan Lin Ye hampir kosong, Wang Hao dengan licik menjentikkan jarinya di bawah meja. Sebuah aliran Qi spiritual Tingkat Ketiga melesat tak kasatmata, menghantam tepat di tulang kering kaki kanan Lin Ye.
Bagi manusia fana biasa, hantaman Qi tersembunyi ini setara dengan ayunan palu besi. Tujuannya sederhana: membuat Lin Ye kehilangan keseimbangan, menumpahkan teh mendidih itu ke tubuh Wang Hao, dan memberikan Wang Hao alasan yang sah untuk "menghukum mati" seorang pelayan di depan umum karena telah menyerang seorang kultivator.
Namun, saat Qi spiritual Wang Hao membentur tulang kering Lin Ye, Wang Hao merasa seolah jarinya baru saja menjentik bongkahan gunung es dari baja purba.
Glek!
Kaki Lin Ye bahkan tidak bergeser selebar rambut pun. Bukannya tersandung, tubuh Lin Ye hanya bergoyang sedikit seolah tertiup angin sepoi-sepoi, dan kuali teh di tangannya tetap stabil tanpa ada satu tetes pun teh yang tumpah.
"Silakan dinikmati, Kakak Senior," ucap Lin Ye dengan nada serak dan rendah, sebelum berbalik untuk pergi.
Wang Hao terbelalak. Pikirannya belum sempat mencerna bagaimana pelayan kurus itu bisa menahan serangannya, ketika tiba-tiba, sebuah energi serangan balik merambat naik melalui Qi yang ia lepaskan tadi.
BZZZT!
Itu bukan sekadar pantulan energi fisik, melainkan hawa dingin Yin yang amat sangat mematikan—sisa-sisa energi dari Sumsum Es Hitam yang bersemayam di tulang Lin Ye. Hawa dingin itu menyusup langsung ke dalam meridian jari Wang Hao dan melesat menuju lengan kanannya secepat kilat.
Wajah Wang Hao seketika memucat seperti mayat. Rasa sakit yang tajam dan menusuk, layaknya ribuan jarum es yang menembus pembuluh darahnya, meledak di dalam lengan kanannya. Meridiannya membeku sesaat, menyebabkan aliran Qi-nya di dalam Dantian menjadi kacau balau.
"Uhuk!"
Wang Hao tiba-tiba terbatuk keras, memuntahkan seteguk darah yang anehnya berwarna agak kehitaman dan mengeluarkan hawa dingin. Tubuhnya jatuh berlutut, tangannya mencengkeram dadanya yang terasa sesak. Cangkir teh spiritual di depannya tersenggol dan tumpah membasahi celananya.
Keributan itu langsung menarik perhatian seluruh alun-alun.
"Wang Hao? Ada apa dengannya?!" "Dia memuntahkan darah! Apakah dia mengalami penyimpangan kultivasi saat sedang duduk?!"
Tetua yang mengawasi dari atas panggung langsung membuka matanya. Ia mengayunkan lengan bajunya, melepaskan untaian energi yang mengangkat tubuh Wang Hao agar tidak ambruk sepenuhnya.
"Bodoh!" bentak Tetua itu dengan suara yang menggelegar ke seluruh alun-alun. "Memaksakan sirkulasi Qi saat pikiranmu dipenuhi amarah dan ketidakfokusan! Dasar murid tidak berguna, kau mempermalukan sekte di hari pembagian jatah! Diaken, bawa dia ke Aula Penyembuhan!"
Wajah Wang Hao merah padam menahan rasa malu yang tak tertahankan, sekaligus ketakutan yang mendalam. Ia ingin berteriak bahwa pelayan fana itulah yang melukainya! Tapi bagaimana caranya ia menjelaskan? Bahwa ia, seorang kultivator Tingkat Ketiga, mencoba mencelakai seorang manusia fana secara diam-diam, namun serangannya justru berbalik merusak Dantian-nya sendiri? Itu lebih tidak masuk akal daripada mengklaim matahari terbit dari barat.
Saat dua penjaga menyeret Wang Hao yang masih terbatuk darah menjauh dari alun-alun, tatapan Wang Hao mencari-cari sosok Lin Ye dengan panik.
Lin Ye berdiri sekitar sepuluh tombak dari sana. Ia memunggungi panggung, sedang berjongkok untuk mengambil nampan kayunya yang kotor. Dari luar, ia tampak seperti pelayan ketakutan yang menyingkir saat ada kekacauan.
Namun, saat pandangan mereka sekilas bertemu dari kejauhan, Lin Ye memiringkan kepalanya sedikit. Sebuah senyum tipis, sangat tipis dan teramat dingin, terukir di sudut bibir pemuda kurus itu. Tatapannya menembus jarak, menatap Wang Hao dengan pandangan yang sama seperti seseorang yang menatap bangkai babi di tukang jagal.
Bulu kuduk Wang Hao berdiri seketika. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan teror yang nyata terhadap "anjing bisu" tersebut. Ada sesuatu yang sangat, sangat salah dengan pelayan itu.
Di tempat kehormatan, Su Yue membuka matanya. Keributan Wang Hao tidak menarik perhatiannya, melainkan sisa aura dari darah yang dimuntahkan Wang Hao.
Mata Es Spiritual Su Yue memancarkan pendar kebiruan samar. Ia menatap genangan darah Wang Hao yang membeku di atas batu.
Itu... hawa Yin murni, batin Su Yue, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Hawa dingin yang persis sama dengan racun yang dikeluarkan Senior misterius semalam, namun dalam skala yang sangat kecil. Bagaimana bisa Wang Hao terkena serangan ini?
Mata tajam Su Yue langsung menyapu sekeliling Wang Hao. Tatapannya berhenti pada punggung seorang pelayan berbaju abu-abu lusuh yang sedang berjalan tertatih-tatih menjauhi kerumunan sambil memanggul nampan.
Su Yue mengerutkan keningnya. Pelayan kurus itu lagi. Ini kedua kalinya ia merasa ada kejanggalan kecil di dekat pelayan tersebut. Namun, tak peduli seberapa keras ia mencoba memindai, Su Yue tidak merasakan setitik pun riak Qi dari tubuh Lin Ye.
"Mungkinkah Senior itu sebenarnya sedang mengawasi dari bayang-bayang di sekitar alun-alun ini? Dan dia menghukum Wang Hao karena alasan tertentu?" gumam Su Yue pelan. Kesimpulan itu terasa jauh lebih masuk akal bagi pikiran seorang kultivator daripada mempercayai seorang pelayan tanpa meridian yang melakukannya.
Di kejauhan, Lin Ye berjalan menuju dapur sekte. Senyum tipis masih tersisa di wajahnya. Hari ini, ia berhasil menanamkan benih teror di hati Wang Hao dan merusak sedikit fondasi kultivasi pemuda itu.
Namun, ia tahu ini baru permulaan. Dendamnya belum terbalaskan. Wang Hao hanya anjing kecil yang menyalak. Hutan sebenarnya masih menantinya, dan Kuali Penelan Bintang di Dantian-nya kembali berputar pelan, merasa lapar akan energi baru.