Anisa adalah gadis yang gendut dan juga pendek, beda jauh dengan sang adik yang bertubuh langsing serta berkulit putih.
siapa yang tidak tertarik bila melihat Arumi, bahkan mulut para tetangga juga tak segan mencemooh Anisa yang beda jauh dengan sang adik.
Hingga suatu hari Anisa di temukan tewas tergantung di dalam kamar, membuat seluruh keluarga menjadi berduka, namun mereka menutupi kematian Anisa yang gantung diri itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. ingin bercerita
Arumi duduk terdiam sendirian di pinggir jalan yang memiliki bangku taman sehingga dia bisa sedikit mendapat hiburan atas masalah yang sedang dia hadapi ini, andai saja Dia memiliki tujuan lain maka saat ini Arumi tidak akan pernah pulang kembali ke rumah itu Karena dia sudah merasa sangat tidak nyaman sekali di sana.
Bu Ningsih juga tidak mungkin mengizinkan bila Arumi ingin pergi dari rumah agar bisa tinggal di tempat lain, bisa dikatakan bahwa bu Ningsih begitu posesif bila bersama dengan Arumi karena dia tahu bahwa anak gadis dia yang bungsu ini memiliki kecantikan yang tidak biasa sehingga bisa mengundang kejahatan di sepanjang jalan.
Namun untuk tetap tinggal di rumah itu maka Arumi sudah mulai merasa muak dan dia tidak sanggup karena teror demi teror mulai dia rasakan juga, dia sudah berusaha mengatakan kepada bu Ningsih bahwa ada sesuatu yang tidak biasa di dalam rumah mereka namun ternyata bu Ningsih sama sekali tidak percaya dan menganggap Arumi hanya halusinasi.
Jadi Arumi benar-benar hilang arah sehingga tidak tahu harus bagaimana untuk menghadapi masalah yang sedang dia hadapi ini, ingin mengadu juga kepada siapa karena permasalahan yang dia alami bukan masalah biasa, bila bercerita kepada orang lain maka dia juga harus siap membuka aib yang telah tersimpan di dalam sana.
Aib yang menurut dia begitu besar sekali sehingga bila sampai ada yang mengetahui maka keluarga mereka harus menanggung rasa malu itu, sebenarnya Arumi tidak masalah namun keluarga yang lain pasti akan ikut bertanggung jawab untuk merasakan malu yang telah tersimpan di dalam hati mereka.
"Rum, jangan menung terus begitu dong." Vera Baru saja datang karena dia memang dari desa sebelah.
"Astaga, aku saja sampai tidak sadar Kau sudah datang." Arumi kaget melihat kedatangan Vera.
"Dari tadi aku melihat kau terus saja termenung seperti itu." Vera melihat Arumi yang memang sangat suram sekali.
"Yah mau bagaimana lagi karena aku sedang banyak pikiran seperti ini." Arumi menarik nafas panjang.
"Kau kalau memikirkan semua yang ada di dunia ini maka tidak akan ada selesai nya, besok lagi dipikir secara bergantian." Vera tersenyum manis.
"Ya yang aku pikir itu satu permasalahan namun tak kunjung selesai, setiap hari setiap malam itu yang aku pikirkan namun tidak ada solusi yang tepat." Arumi membuang muka Karena dia sudah ingin menangis.
Vera memberikan segelas kopi kepada Arumi agar gadis ini bisa sedikit tenang terlebih dahulu, mereka sudah lama berteman namun memang jarang ketemu karena Vera kadang ada di kota kadang juga dia kembali ke desa sebelah, jadi hanya beberapa momen saja mereka bisa bertemu dan ngobrol satu sama lain seperti ini.
"Kopi dulu biar tidak sakit jiwa." Vera meminum gelas yang ada di tangan dia sendiri.
"Andai kau tahu permasalahan yang aku miliki mungkin saat ini kau sudah meninggalkan aku." batin Arumi di dalam hati sembari melirik Vera.
"Semua orang itu memiliki permasalahan masing-masing, namanya juga roda kehidupan sehingga terus berputar." Vera berkata dengan bijak.
"Iya, tapi kalau sedang begini aku merasa seolah tidak sanggup ingin memikul beban yang ada di pundak." jawab Arumi dengan wajah yang begitu sedih sekali.
Vera menarik nafas panjang dan dia tidak ingin memangsa Arumi bercerita apa yang telah terjadi dan apa yang sedang dia pikirkan, sebab Vera tahu kalau Arumi tidak bercerita maka masalah yang sedang dihadapi begitu rumit dan juga kemungkinan bersangkutan dengan keluarga sehingga dia tidak bisa langsung memberitahu kepada sang sahabat.
Nanti bila sudah ada mood maka Arumi pasti akan bercerita dan mengatakan apa sebenarnya yang telah terjadi ini, untuk sekarang hanya bisa diam dan mengikuti ke mana arah pembicaraan Arumi ini, sebab dulu juga Arumi begitu ketika Vera sedang dilanda permasalahan keluarga dan hanya dia yang tetap setia menemani untuk saling curhat satu sama lain.
"Anisa ke mana ya sudah lama dia tidak kelihatan?" Vera ingin mengalihkan pembicaraan sehingga dia bertanya tentang kakak dari Arumi.
"Ah!" Arumi terlihat kaget sekali mendengar pertanyaan dari Vera.
"Itu biasanya dia sering lewat kok tapi belakangan ini aku tidak melihat dia, atau dia pergi ke kota ya?" Vera menatap Arumi yang terlihat pucat.
"Ini..anu." Arumi bingung sekali ingin menjawab bagaimana tentang pertanyaan Vera barusan.
Vera tertegun dan dia juga kebingungan ketika melihat Arumi yang semakin pucat setelah mendengar pertanyaan dari dia, entah apa yang terjadi kepada sahabat dia ini sehingga sejak tadi untuk duduk tenang pun Dia seolah tidak bisa, tambah juga dengan pertanyaan Vera tentang Anisa itu sehingga Arumi terlihat semakin tidak karuan.
"Rum, kamu kalau memang ada masalah berat cerita gih dari pada seperti ini terus." Vera cemas juga dengan Arumi.
"Ak..aku tidak bisa saat ini bercerita kepada kamu." Arumi menggeleng dan meremas gelas kopi yang ada di tangan.
"Anak Ini kenapa sih kok semakin aneh saja dia aku lihat." batin Vera di dalam hati.
"Apa yang harus aku katakan kepada dia bila Vera terus bertanya tentang Anisa?" Arumi ingin menjerit di dalam hati.
Ya tentu saja dia menjadi kebingungan dan tidak tahu harus menjawab apa dengan pertanyaan yang keluar dari mulut Vera itu, tidak tahu saja bahwa permasalahan yang sedang dia alami dan membuat dia sampai stres seperti ini karena permasalahan Anisa, ini malah mendadak saja Vera bertanya demikian sehingga otak Arumi semakin tidak karuan untuk menjawab pertanyaan itu.
Meski bukan Arumi yang melakukan kejahatan namun tetap saja gadis ini merasa bersalah dan tidak ingin membahas hal yang tidak penting lagi untuk dia, walau dia ingin membahas namun setidaknya Arumi ingin melangsung mendapat solusi sehingga dia bisa mengatakan kepada bu Ningsih bahwa apa yang telah dia lakukan itu begitu kejam sekali.
"Rum, kalau kau terus pendam seperti itu maka tidak akan ada solusi." Vera memegang pundak Arumi.
"Tapi demi Allah aku juga bingung harus mengatakan dari mana." Arumi tertunduk dan semakin menangis.
"Ya Allah sebenarnya dia ini kenapa sehingga sampai separah ini?" batin Vera di dalam hati dia.
Sebab bila melihat tangis Arumi yang begitu perih maka Fera bisa menyadari bahwa permasalahan gadis itu tidaklah mudah, pasti ada sesuatu yang begitu berat dan kemungkinan sangat mengguncang hati sehingga mereka yang ada di sana pun kebingungan ketika akan memberikan solusi yang tepat, ini sudah pasti Arumi bingung ingin bercerita dari mana.
selamat sore semuanya, jangan lupa like dan komentar kalian buat cerita Novita Jungkook ya, semoga suka dengan cerita Novita Jungkook.
ga nyangka si pocong patah hati bs gelut jg👻
calon mantu pangeran ular itu,
ada yg datang ngk sich nolong Digo bisa mampus tu anak orang