NovelToon NovelToon
Perjodohan Berbalut Dendam

Perjodohan Berbalut Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ana L.

Demi melunasi hutang ayahnya, Naura Aulia Zafira terpaksa menikah dengan Dewa Angkasa Buwana, penguasa mafia yang kejam dan berkuasa. Pernikahan ini bukan atas dasar cinta, melainkan balas dendam masa lalu yang dipendam Dewa pada keluarga Naura.

Di balik kemewahan dan kekuasaan, Naura harus bertahan hidup di tengah kebencian, bahaya, dan sikap dingin suaminya. Namun, ketegaran dan kelembutan Naura perlahan mengguncang hati Dewa, membuatnya terjebak antara dendam kesumat atau cinta yang tumbuh diam-diam.

Saat kebencian mulai memudar dan cinta bersemi, masa lalu kelam kembali mengancam nyawa mereka. Akankah dendam mengakhiri segalanya, atau cinta mampu mengubah takdir dan membawa mereka pada kebahagiaan abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjanjian Dibalik Kerudung

Tiga hari berlalu begitu cepat, seolah waktu berlari mengejar takdir yang tak bisa dielakkan. Bagi Naura Aulia Zafira, tiga hari itu terasa seperti tiga tahun yang panjang. Di dalam kamarnya, ia menghabiskan waktunya dengan diam, berpikir, dan menata hatinya yang hancur menjadi kepingan-kepingan kekuatan. Ia berjanji pada dirinya sendiri, ia tidak akan menangis lagi. Air mata itu adalah tanda kelemahan, dan di dunia tempat ia akan masuk sebentar lagi, kelemahan adalah hal yang mematikan.

Pagi itu, kediaman keluarga Zafira dipenuhi suasana yang bukan merupakan suasana pesta pernikahan pada umumnya. Tidak ada musik yang riang, tidak ada tawa bahagia, dan tidak ada dekorasi yang meriah. Hanya ada keheningan yang berat, disertai rasa haru bercampur ketakutan yang menyelimuti seluruh penghuni rumah. Pernikahan ini dilakukan secara tertutup, hanya dihadiri keluarga inti dan beberapa saksi yang ditunjuk langsung oleh Dewa Angkasa Buwana. Pria itu bersikeras tidak ingin ada keramaian, tidak ingin ada sorak-sorai, baginya ini bukan perayaan persatuan dua hati, melainkan upacara pengambilan hak milik.

Naura berdiri di depan cermin besar di kamarnya. Ia mengenakan gaun pengantin berwarna putih gading yang indah dan anggun, disertai kerudung tipis yang menutupi separuh wajahnya. Gaun itu mahal, dirancang khusus oleh perancang busana ternama, namun bagi Naura, gaun ini terasa seperti jubah tahanan yang sedang dipakai seorang narapidana sebelum dieksekusi.

Wajahnya cantik mempesona, dandanan yang dikenakan membuatnya tampak seperti bidadari yang turun ke bumi, namun matanya... matanya yang biasanya berbinar cerah kini tampak datar, dingin, dan kosong. Tidak ada secercah pun kebahagiaan di sana.

Pintu kamar terbuka perlahan, Ibu Lina masuk dengan langkah gontai. Wanita itu tampak jauh lebih tua dan pucat dari biasanya. Air matanya sudah kering sejak semalam, habis ia habiskan untuk menangisi nasib putri kesayangannya. Ia mendekat, berdiri di samping Naura, menatap pantulan putrinya di cermin dengan rasa sakit yang tak terlukiskan.

"Cantik sekali, Nak..." bisik Ibu Lina, tangannya gemetar menyentuh bahu putrinya. "Kau terlihat sangat indah... seharusnya hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupmu."

Naura tersenyum tipis, senyum yang sampai ke bibir namun tidak sampai ke mata. Ia berbalik menghadap ibunya, lalu meraih tangan wanita yang telah melahirkannya itu.

"Ibu, jangan bersedih," ucap Naura lembut, berusaha menenangkan ibunya padahal dirinya sendiri sedang runtuh. "Ini pilihan Ayah. Ini pilihan kita semua demi menyelamatkan apa yang kita miliki. Naura akan baik-baik saja. Naura wanita yang kuat, ingat itu?"

Ibu Lina mengangguk, lalu menarik putrinya ke dalam pelukan erat, memeluknya seolah tidak ingin melepaskan lagi. Ia tahu, setelah hari ini, ia tidak akan bisa memeluk putrinya sesuka hati. Putrinya akan menjadi milik orang lain, milik pria yang ditakuti seluruh negeri.

"Maafkan kami, Nak... Maafkan Ayah dan Ibu yang pengecut ini. Kami menyerahkanmu pada singa yang kelaparan..." isak Ibu Lina pelan di telinga putrinya.

"Ayah dan Ibu tidak perlu minta maaf," jawab Naura tenang, meski hatinya terasa perih. "Semua ini sudah terjadi. Sekarang, Naura hanya berharap satu hal... semoga keputusan ini tidak menjadi penyesalan terbesar kita semua."

Ketukan pintu terdengar tiga kali, singkat dan tegas. Sebuah ketukan yang terdengar mengintimidasi, seolah membawa aura kekuasaan yang besar dari luar sana.

"Sudah waktunya, Nyonya. Tuan Dewa sudah datang," suara seorang pria terdengar dari balik pintu, suara yang berat dan dingin. Itu adalah Raga, tangan kanan kepercayaan Dewa.

Ibu Lina melepaskan pelukannya perlahan, mengusap air mata yang kembali menetes di pipinya, lalu mencium kening putrinya dalam-dalam. "Pergilah, Nak. Jadilah wanita yang tangguh. Dan ingat... di mana pun kau berada, Ibu akan selalu mendoakanmu."

Naura mengangguk, menarik napas panjang untuk mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa di dalam dadanya. Ia membetulkan posisi kerudungnya sekali lagi, menegakkan punggungnya, dan melangkah keluar dari kamar itu. Melangkah meninggalkan ruangan yang penuh kenangan indah masa kecilnya, melangkah menuju gerbang dunia baru yang penuh bahaya dan ketidakpastian.

Saat Naura menuruni tangga besar di ruang tengah, semua mata tertuju padanya. Di sana, di tengah ruangan yang luas itu, berdiri sosok pria yang menjadi penyebab segala perubahan hidupnya.

Dewa Angkasa Buwana.

Pria itu berdiri tegak, diam, dan angkuh di tengah ruangan. Ia mengenakan setelan jas hitam yang pas di badan, menonjolkan tubuhnya yang tinggi besar dan berotot. Kemeja putih di balik jasnya terlihat bersih sempurna, dasi hitamnya diikat rapi. Wajahnya tampan luar biasa, namun dingin dan kaku seperti patung marmer. Tidak ada senyum, tidak ada ekspresi lembut, hanya tatapan tajam yang menembus lurus ke arah Naura yang sedang menuruni tangga.

Tatapan mata hitam Dewa begitu kuat hingga membuat langkah kaki Naura hampir terhenti. Ada kilatan kebencian yang tersembunyi di balik tatapan itu, ada kilatan kemenangan yang membuat Naura merinding sekujur tubuh. Pria itu menatapnya bukan seperti menatap calon istri, melainkan menatap barang berharga yang baru saja berhasil ia rebut dari tangan musuhnya.

Di samping Dewa, Pak Hadi berdiri dengan kepala tertunduk dalam, tidak berani menatap putrinya. Rasa bersalah lelaki tua itu terlihat jelas dari postur tubuhnya yang membungkuk.

Naura melanjutkan langkahnya, turun hingga ia berdiri tepat di hadapan Dewa. Jarak mereka hanya beberapa langkah, namun terasa ada jurang yang sangat dalam memisahkan dunia mereka. Dunia cahaya dan dunia kegelapan.

"Kau lebih cantik dari fotomu," suara Dewa terdengar rendah, hanya cukup terdengar oleh Naura. Nadanya datar, tanpa kekaguman, lebih terdengar seperti penilaian dingin atas sebuah barang. "Sayang sekali... kecantikan ini harus hancur di tanganku."

Naura mengangkat dagunya sedikit, menatap balik mata hitam itu dengan berani. Ia tidak akan membiarkan pria ini meremukkannya hanya dengan tatapan atau kata-kata.

"Dan kau lebih menakutkan daripada rumor yang kudengar, Tuan Buwana," balas Naura pelan, suaranya tenang namun penuh penekanan. "Tapi ingatlah satu hal, saya bukan barang yang kau beli di pasar. Saya manusia. Dan saya punya harga diri."

Sudut bibir Dewa terangkat sedikit, membentuk senyum miring yang penuh sarkasme. Ia kagum dengan keberanian wanita ini. Wanita lain pasti sudah gemetar hebat atau pingsan hanya dengan berdiri di dekatnya, namun Naura... wanita ini berani membalas tatapannya dan berani bicara setegas itu.

"Harga diri?" gumam Dewa pelan, hampir berbisik. "Kita akan lihat berapa lama harga diri itu bertahan saat berada di dalam duniaku, Nyonya Buwana."

Upacara penikahan berlangsung singkat, kering, dan penuh ketegangan. Penghulu membacakan doa dan syarat sahnya pernikahan dengan lancar, namun suasananya terasa begitu suram. Saat Dewa mengucapkan ijab kabul dengan suara yang tegas, berat, dan tidak tergoyahkan, rasanya seperti bunyi guntur yang mengunci nasib Naura selamanya.

"Saya terima nikahnya Naura Aulia Zafira binti Hadi Zafira dengan mas kawin lunas tunai."

Satu kalimat itu mengubah segalanya. Dalam sekejap, Naura bukan lagi putri keluarga Zafira yang bebas. Ia kini menjadi Nyonya Buwana, istri dari penguasa dunia bawah tanah, milik pria yang memegang nyawa banyak orang di tangannya.

Setelah saksi mengiyakan dan doa selesai dibacakan, tidak ada pelukan hangat, tidak ada ciuman bahagia. Dewa hanya menoleh sebentar ke arah Pak Hadi yang masih menunduk diam.

"Sudah selesai. Hutangmu lunas, Pak Hadi. Ingat janjimu... kau tidak boleh mencarinya, tidak boleh menemuinya, dan tidak boleh ikut campur urusan kami mulai detik ini. Dia milikku sepenuhnya," ucap Dewa dingin.

Pak Hadi mengangguk lemah, tangannya gemetar memegang dadanya yang terasa sesak luar biasa. "Ya... saya ingat. Terima kasih... karena sudah menepati janjimu, Tuan Dewa."

Dewa tidak menjawab lagi. Ia berbalik badan, mengulurkan tangan besarnya ke arah Naura. Bukan uluran tangan kasih sayang, melainkan uluran tangan pemilik yang memanggil miliknya.

"Ayo. Waktunya pulang," perintahnya singkat.

Naura menatap tangan itu. Tangan yang kuat, tangan yang penuh kekuasaan, namun tangan yang juga penuh darah dan bahaya. Dengan napas tertahan, Naura meletakkan tangannya yang kecil dan halus ke atas telapak tangan Dewa yang besar, kasar, dan hangat namun menekan.

Sentuhan itu membuat aliran listrik aneh menjalar di antara mereka. Naura merasakan kekuatan yang luar biasa dari genggaman itu, kekuatan yang seolah bisa meremukkan tulang-tulangnya kapan saja. Dewa pun merasakan kelembutan dan kehalusan yang asing bagi kulitnya yang sudah terbiasa dengan kekerasan dan senjata.

Tanpa menoleh ke belakang lagi, Naura membiarkan dirinya ditarik pergi oleh Dewa. Ia tidak mau melihat air mata ibunya, tidak mau melihat penyesalan ayahnya. Jika ia menoleh, mungkin keberaniannya akan runtuh. Ia harus kuat. Ia harus bertahan.

Mereka keluar dari rumah itu, menuju mobil sedan hitam panjang yang berkilauan terparkir di halaman. Mobil mewah itu terlihat kontras dengan suasana suram di sekitarnya. Raga membukakan pintu belakang, Dewa masuk lebih dulu, lalu menarik Naura masuk ke dalam mobil itu hingga duduk berdesakan di sampingnya.

Pintu tertutup rapat, memisahkan mereka dari dunia luar, memisahkan Naura dari kehidupan lamanya. Mobil itu melaju perlahan meninggalkan kediaman keluarga Zafira, meninggalkan masa lalu Naura selamanya.

Di dalam mobil, keheningan yang tebal menyelimuti. Hanya suara mesin halus dan suara napas mereka berdua yang terdengar. Naura duduk di sisi paling pinggir, menjauh sejauh mungkin dari Dewa, menatap lurus ke depan, berusaha mengendalikan detak jantungnya yang berpacu kencang.

Dewa duduk bersandar santai, satu tangannya diletakkan di sandaran kursi belakang Naura, seolah menguasai seluruh ruang di dalam mobil itu. Ia menatap profil samping wajah istrinya yang baru saja ia nikahi. Wajah yang cantik, tenang, namun penuh ketegangan.

"Kau tidak bertanya ke mana kita akan pergi?" tanya Dewa tiba-tiba, memecah keheningan. Suaranya rendah dan berat, bergema di dalam ruang mobil yang kedap suara itu.

Naura menggeleng pelan, matanya masih menatap jalanan ibu kota yang berlalu-lalang di luar jendela. "Untuk apa saya bertanya? Ke mana pun kau membawa saya, itu pasti bukan tempat yang menyenangkan. Itu sudah saya pastikan."

Dewa tertawa kecil, tawa yang dingin dan tanpa keramahan. "Kau benar. Kau pintar." Ia mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat ke arah Naura, membuat wanita itu menegang hebat. Aroma wangi mahal bercampur bau tembakau yang khas milik Dewa menyeruak masuk ke hidung Naura. Aroma yang mengerikan namun anehnya membuat sadar.

"Kita akan pergi ke kediaman utamaku. Tempat di mana kau akan tinggal selamanya mulai hari ini," bisik Dewa tepat di samping telinga Naura. "Dan di sana, kita akan membuat peraturan baru. Peraturan yang harus kau patuhi mutlak tanpa bantahan sedikit pun. Ingat satu hal, Naura... di rumahku, aku adalah hukum. Apa yang aku katakan adalah kebenaran. Apa yang aku inginkan adalah kewajibanmu untuk penuhi."

Naura akhirnya menoleh, menatap lurus ke manik mata hitam itu. "Dan jika saya menolak?"

Wajah Dewa berubah seketika menjadi seram dan dingin. Senyumnya lenyap, digantikan ekspresi bengis yang mengerikan. Ia mengangkat satu tangannya, jari telunjuknya mengangkat dagu Naura paksa agar wanita itu menatapnya tepat di mata.

"Jika kau menolak... maka kau akan melihat sisi tergelapku. Sisi yang membuat orang-orang gemetar hanya dengan mendengar namaku saja. Aku tidak pernah main-main, Naura. Aku menikahimu bukan karena cinta, bukan karena ingin memiliki istri, tapi karena aku ingin menghukummu. Aku ingin menghukummu atas dosa ayahmu, atas rasa sakit yang keluargamu berikan padaku dulu."

Jari-jari Dewa menekan dagu Naura sedikit keras, namun tidak sampai menyakiti. Itu adalah peringatan.

"Jangan pernah membuatku marah. Karena jika kau melakukannya... aku tidak akan segan-segan membuatmu menyesal telah dilahirkan ke dunia ini. Dan percayalah, rasa sakit yang akan kuberikan padamu jauh lebih kejam daripada apa pun yang bisa kau bayangkan."

Naura menahan rasa sakit dan rasa takutnya. Ia tidak memalingkan wajah, ia tetap menatap mata Dewa dengan tatapan yang bergetar namun tidak menyerah.

"Saya mengerti, Tuan Buwana," jawab Naura pelan namun tegas. "Saya tahu posisi saya. Saya tahu saya ada di sini sebagai pembayaran hutang. Tapi saya ingatkan sekali lagi... saya tidak bersalah. Dan saya tidak akan diam saja jika kau memperlakukan saya seperti binatang."

Dewa melepaskan dagu Naura dengan kasar, lalu kembali duduk bersandar. Ia tersenyum puas melihat perlawanan kecil itu. Semakin Naura melawan, semakin menarik permainan ini baginya. Semakin kuat Naura bertahan, semakin lama ia bisa menikmati rasa sakit wanita itu saat ia akhirnya berhasil mematahkannya.

"Kita lihat saja, Nyonya Buwana. Kita lihat seberapa kuat benteng pertahananmu itu saat dihadapkan pada kenyataan pahit di duniaku nanti," ucap Dewa dingin.

Mobil itu terus melaju, semakin menjauh dari kawasan elit tempat Naura dibesarkan, menuju ke arah utara kota, ke sebuah kawasan tertutup dan eksklusif di atas bukit. Di sana, di tengah rimbunnya pepohonan dan pagar beton setinggi beberapa meter, berdiri sebuah bangunan megah yang tampak seperti istana namun memiliki nuansa benteng pertahanan yang kokoh dan tak tertembus.

Kediaman utama Dewa Angkasa Buwana. Tempat di mana kekuasaan dikendalikan, tempat di mana hukum kejam dunia bawah tanah dibuat, dan tempat di mana Naura Aulia Zafira akan memulai babak baru hidupnya yang penuh ujian.

1
Rara M.
wow 💗🎈👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!