NovelToon NovelToon
Montir Hati Tuan Muda Arogan

Montir Hati Tuan Muda Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Balas Dendam / Cintamanis / Fantasi Wanita / Konflik etika / CEO
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: riniasyifa

Arjuna Adhitama terbiasa mendapatkan segalanya dengan mudah. Uang, kekuasaan, wanita, semuanya tunduk pada kemauannya. Sampai satu malam yang hujan deras, mobil sport mahalnya mogok di jalan sepi yang jauh dari kota. Di tengah kegelapan dan badai itu, harapannya untuk diselamatkan hampir hilang... sampai ada sepeda motor tua melintas dan berhenti.

Pengendaranya adalah seorang gadis muda dengan baju kotor penuh oli, wajah cantik yang setengah tertutup rambut basah, dan senyum jahil yang bikin Arjuna kesal setengah mati. Dia Kirana.

Sejak malam itu, hidup Arjuna tidak pernah sama lagi. Di mana pun dia berada, takdir seolah mempertemukannya terus dengan Kirana. Gadis itu terusik ketenangannya, membuat emosinya naik turun, bikin dia marah tapi sekaligus ingin tahu lebih dalam.

Apa yang terjadi ketika Tuan Muda paling dingin jatuh hati pada satu-satunya wanita yang tidak peduli sama sekali padanya?



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Arjuna menggeleng pelan, langkah kakinya mendekat perlahan. Ia menatap sekeliling lagi, lalu kembali menatap wajah penuh debu di depannya. Rasa bangga dan kekaguman di dadanya meluap-luap. Gadis ini benar-benar ajaib. Di tangan orang lain, rongsokan tetaplah rongsokan. Di tangan Kirana, sampah berubah jadi benteng.

"Kamu ... benar-benar makhluk aneh tapi sangat jenius, Kirana," gumam Arjuna pelan, suaranya rendah dan dalam. Ia tidak peduli ada Pak Hendra di dekatnya. Ia melangkah mendekat, mengangkat tangannya, dan perlahan menyeka noda hitam di pipi Kirana dengan ibu jarinya yang mulai kasar karena kerja keras beberapa hari terakhir ini. "Tiga hari. Kau ubah neraka jadi benteng. Kau ubah sampah jadi harta. Aku mulai berpikir ... mungkin aku yang tidak pantas berdiri di sisimu."

Kirana tertegun sejenak, matanya menatap tajam ke manik mata Arjuna yang dalam. Jantungnya kembali berdetak kencang hal yang selalu terjadi setiap kali Arjuna bicara lembut begini. Ia menepis tangan Arjuna pelan, membuang muka dengan pipi yang memanas.

"Ee ... jangan sok romantis! Aku cuma melakukan apa yang biasa aku lakukan. Lagipula ... siapa lagi yang mau membereskan kekacauan kalau bukan aku? Kamu? Paling banter cuma bisa perintah orang, eh ternyata angkat besi saja bisa ngeluh!" balas Kirana berusaha keras tetap galak, meski senyum kecil tak bisa ditahan di bibirnya.

Belum sempat Arjuna membalas, suara kendaraan terdengar dari luar. Suara mesin berat dan kasar, berbeda dengan mobil mewah Arjuna.

Pak Hendra yang mengintai lewat celah jendela langsung tersenyum lebar.

"Mereka datang, Tuan Muda. Mereka semua datang."

Arjuna langsung berubah sikap. Detik sebelumnya ia terlihat pasrah dan lelah, dalam sekejap mata ia kembali menjadi Arjuna Adhitama. Punggungnya ditegakkan, tatapannya tajam, aura dingin dan berwibawa kembali menyelimutinya seketika. Debu di bajunya, keringat di wajahnya ... semuanya seolah hilang tertutup kekuatan karismanya yang luar biasa.

Kirana yang melihat itu di sampingnya sedikit menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum geli. "Dasar Tuan Muda, cepat sekali ganti topengnya."

Pintu gerbang dibuka perlahan. Masuklah sekelompok orang, sekitar 15 orang seperti yang dikatakan Pak Hendra. Mayoritas laki-laki, berwajah keras, kulit terbakar matahari, tangan kasar ... orang-orang yang hidup dari keringat dan kerja keras. Ada mantan mekanik kepala, mantan mandor pabrik, mantan kepala keamanan, hingga akuntan tua yang setia.

Saat mereka masuk dan melihat perubahan besar bengkel itu, mulut mereka serentak terbuka tak percaya. Mereka mengira akan masuk ke tempat berantakan, ternyata disambut tempat yang sudah tertata rapi, aman, dan nyaman.

Dan saat mata mereka tertuju pada dua sosok yang berdiri di tengah ruangan ... mereka langsung memberikan hormat dengan serentak.

"Selamat siang Nona Wijaya! Tuan Muda Adhitama! Kami datang untuk mendukung kebenaran!" seru seorang pria tua berbadan besar, berkumis tebal bernama Pak Danu, mantan kepala bengkel kepercayaan Arya Wijaya dulu.

Kirana sedikit kaget, tapi ia tidak mundur. Sesuai karakternya, ia tidak suka basa-basi atau kemewahan, tapi ia mengerti posisinya sekarang. Ia melangkah maju satu langkah, berdiri sejajar dengan Arjuna. Wajahnya yang tadi ceria berubah tegas, tajam, dan berwibawa. Matanya yang indah menatap satu per satu wajah orang-orang itu.

"Terima kasih Pak Danu dan semuanya ..." suara Kirana terdengar lantang, jelas, dan berwibawa, sangat berbeda dari suaranya saat mengomeli Arjuna tadi. "Di sini tidak ada tuan atau nyonya. Tidak ada bangsawan atau pengemis. Kita semua sama. Kita adalah orang-orang yang percaya pada kebenaran, pada kejujuran, dan pada warisan mendiang Arya Wijaya."

Kirana menunjuk sekeliling ruangan.

"Lihat tempat ini. Dulu ayahku membangunnya dengan tangan kosong dan kerja keras. Sekarang kita bangun kembali dengan cara yang sama. Kita tidak punya uang banyak. Kita tidak punya kekuasaan politik. Tapi kita punya keahlian, kita punya keberanian, dan kita punya kebenaran di pihak kita."

Arjuna melangkah maju menyusul Kirana, berdiri di sisi kanan gadis itu. Suaranya yang berat, dingin, dan berwibawa langsung membuat suasana makin khidmat.

"Dan Saya Arjuna Adhitama. Mulai hari ini, saya melepaskan segala kemewahan dan jabatan saya di Grup Adhitama. Di sini, saya hanyalah mitra kerja Nona Kirana. Tujuan kita satu: Menjatuhkan kejahatan yang sudah terlalu lama bersembunyi di balik nama besar keluarga kami. Mengembalikan hak yang dirampas. Dan melindungi apa yang pantas dilindungi."

Arjuna menatap mereka tajam.

"Kalau ada di antara kalian yang takut, ragu, atau lebih memilih kekayaan ... silakan pergi sekarang. Kami tidak akan menahan. Tapi bagi yang bertahan ... bersiaplah. Perang panjang menanti. Bahaya mengintai di setiap langkah. Hidup kalian tidak lagi aman seperti dulu."

Hening sejenak. Lalu Pak Danu bangkit berdiri tegak, matanya berapi-api.

"Kami tidak pergi, Tuan Muda! Nona Muda! Kami sudah menunggu hari ini bertahun-tahun! Mendiang Tuan Arya menyelamatkan nyawa kami dan keluarga kami. Nyawa kami adalah milik Nona Kirana! Kami bertahan sampai titik darah penghabisan!"

"BERTAHAN SAMPAI TITIK DARAH PENGHABISAN!" teriak seluruh anggota serentak, menggema kuat di dinding bengkel.

Kirana tersenyum lebar, senyum yang tulus dan bangga. Ia menoleh sedikit ke arah Arjuna, bertatapan mata. Di pandangan itu, ada pesan diam: Kita punya kekuatan sekarang, Arjuna.

Arjuna membalas dengan anggukan kecil dan kilatan bangga di matanya.

Setelah suasana mereda, mereka berkumpul di meja besar untuk rapat pertama.

Di atas meja, terhampar peta wilayah dan denah perusahaan Adhitama. Arjuna sedang menjelaskan strategi bisnis dengan bahasa yang rumit, istilah-istilah mahal, dan analisis tajam. Semua orang mendengarkan takjub.

"Kita harus serang di sektor distribusi. Mereka lemah di jalur logistik pinggiran kota. Kita bisa masuk lewat celah ini ..." jelas Arjuna sambil menunjuk peta dengan gaya seorang ahli strategi perang.

Kirana yang mendengarkan dari sambil menguap pelan, lalu tiba-tiba menyodorkan kunci pas besarnya ke tengah peta, menancapkannya tepat di satu titik. Semua orang diam menatapnya, termasuk Arjuna yang mengerutkan kening.

"Terlalu berputar-putar," potong Kirana santai. "Bahasa kamu terlalu rumit, Tuan Muda. Intinya begini ..."

Kirana menatap semua orang, lalu berkata polos tapi tajam.

"Perusahaan mereka itu seperti mesin mobil tua yang sok megah. Luarnya mengkilap, tapi dalamnya penuh karat dan kotoran. Kamu mau merusak mesin itu? Kamu tidak perlu bongkar seluruh bodi atau ganti suku cadang mahal. Kamu cukup masuk ke bagian paling kecil, bagian yang paling mereka abaikan ... lalu kamu kencangkan bautnya sampai putus, atau kamu lepas satu sekrup penting saja. Mesin besar itu akan hancur sendiri karena tidak kuat menahan bebannya."

Kirana menunjuk wajah Arjuna dengan senyum menantang.

"Jadi Tuan Muda ... jangan pikir terlalu tinggi. Mereka itu cuma mesin rusak. Kita cukup cari baut yang kendornya."

Arjuna terdiam. Lalu perlahan ... ia tertawa. Tawa yang lepas dan tak terbendung. Semua anggota bengkel bengong melihat Tuan Muda dingin itu tertawa bahagia hanya karena omelan gadis montir.

"Benar," ucap Arjuna sambil menatap Kirana penuh kekaguman. "Analisisku rumit, tapi solusimu ... paling tepat sasaran. Baiklah, Nona Ahli Mesin ... kamu tentukan mana 'baut kendor' yang harus kita kencangkan."

Rapat itu berlanjut dengan semangat baru. Di dalam ruangan itu, tidak ada lagi perbedaan kelas. Ada Arjuna yang jenius strategi, ada Kirana yang jenius solusi sederhana tapi mematikan, ada orang-orang setia yang berani mati.

Di luar sana, Ratna Adhitama sedang tertawa puas mengira dua anak muda itu sudah lari ketakutan dan bersembunyi. Ia tidak tahu ... bahwa di dalam hutan itu, benih-benih kekuatan yang jauh lebih hebat sedang tumbuh kokoh. Dan pemimpin dari kekuatan itu bukan hanya satu, tapi dua orang yang saling melengkapi kelebihan dan kekurangan, pasangan yang tidak mungkin dikalahkan siapa pun.

Sore itu, setelah rapat selesai dan semua sibuk bekerja, Arjuna berdiri di pintu gerbang, menatap matahari terbenam yang indah. Kirana datang menghampirinya sambil mengunyah sepotong roti sisa makan sederhana mereka.

"Sudah mulai terasa berat belum jadi pemimpin pasukan pemberontak?" tanya Kirana sambil berdiri di sampingnya, menatap langit yang berwarna jingga kemerahan.

Arjuna menoleh, menatap profil samping wajah gadis itu yang diterangi cahaya senja. Wajah yang kotor debu, rambut yang berantakan, tapi bagi Arjuna ... inilah wajah terindah dan termahal di dunia.

"Berat? Tidak," jawab Arjuna pelan, suaranya lembut dan rendah. Ia menggeser posisinya, mendekat hingga bahu mereka bersentuhan. "Justru untuk pertama kalinya dalam hidupku ... aku merasa ringan. Aku merasa punya tujuan. Aku merasa hidupku benar-benar berguna."

Arjuna menunduk menatap mata Kirana.

"Semua itu karena kamu, Kirana. Kamu mengubah segalanya. Kamu mengubah tempat ini jadi rumah. Kamu mengubah orang-orang ini jadi keluarga. Dan kamu mengubah aku ... dari Tuan Muda yang kesepian dan sombong, jadi manusia yang punya alasan kuat untuk bertahan hidup dan berjuang."

Kirana berhenti mengunyah. Jantungnya berdegup lagi, detak jantung yang tak pernah salah. Ia menatap balik Arjuna, matanya berkilat, ada rasa haru yang ditahan.

"Kamu ... kamu memang pandai bicara manis ya, Tuan Muda. Padahal tadi pagi masih ngomel-ngomel karena disuruh angkat ember air," kata Kirana berusaha bercanda, tapi suaranya sedikit bergetar.

Arjuna tersenyum, senyum yang paling lembut. Ia mengangkat tangan kanannya perlahan, menyentuh sisi wajah Kirana, jari-jarinya menyisir rambut gadis itu ke belakang dengan lembut.

"Apa pun yang kamu suruh, akan aku lakukan. Angkat besi, bawa air, makan makanan sederhana, tidur di kasur keras ... semuanya akan aku jalani. Asal ... asal kamu tetap ada di sini. Di sampingku."

Suasana senja itu hening, indah, penuh janji. Di tengah hutan, di dalam benteng tua itu, dua hati makin terikat erat.

Mereka belum tahu, bahwa langkah balas dendam pertama mereka sudah di depan mata. Dan musuh mereka, Ratna Adhitama, sedang bersiap melancarkan serangan besar yang akan menguji kesetiaan, keberanian, dan cinta mereka sampai ke titik terakhir.

Bersambung ...

1
ana
bagus.lanjut thor
sunshine wings
Mantap.. gak rugi bacanya.. alur ceritanya hebat..
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
👍👍👍👍👍
❤️❤️❤️❤️❤️
riniandara: Terima kasih kakak🤗🥰
total 2 replies
Teh Fufah
seruuuu nihhhh ceritanya...
riniandara: terima kasih kak atas review nya ya
total 1 replies
riniandara
Assalamualaikum semua! semoga sehat selalu ya. oh ya kalau kalian suka jangan lupa tinggalkan Jejak serta like ya teman-teman. happy reading/Kiss//Heart/
azela
wah makin penasaran apakah mereka akan berhasil. lanjut up Thor kalau bisa doubel ya he he/Applaud//Applaud//Applaud/
riniandara: siap kakak
total 1 replies
riniandara
pasti lanjut baca ya kak happy reading
azela
lanjut author semangat semakin seru aj/Applaud//Applaud//Applaud/
azela
jangan menyerah Kirana ada tuan dingin yang akan mendukungmu
Muft Smoker
ad rahasia apa niih di antara mereka ,, 🤭🤭🤭🤭
azela
akhirnya terbongkar juga, ternyata Kirana itu bukan gadis biasa keluarga mereka juga sangat dekat dulu.
azela
lanjut Thor semakin penasaran aja
Ita Xiaomi
Semangat Kirana.
Ita Xiaomi
Tenang Kirana, Arjuna akan menyayangi dan mencintaimu dgn setulus hati.
Lisa
Ceritanya menarik jg nih 👍
Lisa: Sama² Kak..oke Kak nanti aq review ya
total 2 replies
Lisa
Aku mampir Kak
azela
siapa Kirana? dari percakapan mereka yang penuh teka bisa di pastikan jika Kirana ini bukan gadis biasa/Right Bah!/
azela
lanjut kak semakin penasaran deh
azela
jangan-jangan Kirana ketua mafia/CoolGuy/
azela
/CoolGuy//Grin//Grin//Grin//Grin//Grin//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
azela
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!