NovelToon NovelToon
Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Dibuang Pacar Dinikahi Guru Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.



Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

Rafa menaiki tangga dengan langkah terburu-buru. Setibanya di lantai atas, dia segera masuk ke dalam kamar, mengunci pintu dan menutup gorden rapat-rapat hingga suasana kamarnya menjadi gelap.

Rafa merasa gelisah, kedua tangannya mengepal di dada yang semakin sesak. Wajahnya yang pucat kini tampak memerah, begitu juga dengan matanya.

Bayangan dirinya dan Khaylila mengalami kecelakaan saat hujan deras turun dan berakhir dengan kepergian gadis yang sangat dicintainya itu terus menghantui pikirannya.

Suara petir dan hujan deras yang bergemuruh semakin memperkuat ingatan masa lalu itu, seolah menekan kepalanya tanpa henti.

Ucapan kedua orang tua Khaylila yang mengatakan kalau putri mereka meninggal karena salahnya juga terus berdenging di telinganya.

"Maafkan aku, maafkan aku," gumam Rafa sambil memejamkan matanya erat.

Andai saat itu dia tidak mengizinkan Khaylila mengendarai sepeda motor sendiri di tengah hujan yang sedang mengguyur deras, mungkin gadis itu masih ada bersamanya.

"Istirahatlah, Sayang. Kamu pasti lelah," ucap Oma Atira.

Dara sebenarnya penasaran, tapi melihat reaksi Oma Atira yang sepertinya juga tidak ingin membicarakannya membuat Dara tidak jadi bertanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada Rafa.

"Iya, Oma."

Saat sudah sampai di lantai atas, pandangan Dara langsung tertuju pada pintu kamar sang suami yang tertutup rapat.

Langkahnya mendekat ke dekat pintu, sedikit menempelkan daun telinga ke pintu tersebut namun tidak terdengar apapun dari dalam sana.

Dara menghembuskan napas berat lalu memilih untuk masuk ke kamarnya sendiri.

"Ada apa sebenarnya?" gumam Dara.

Di kamarnya, Rafa sudah jauh lebih tenang. Dia sudah bisa mengendalikan dirinya sendiri.

Kini pria tampan itu sedang duduk di lantai sambil bersandar pada ranjang. Di tangannya terdapat sebuah foto Khaylila yang nampak sangat cantik menggunakan dress putih motif bunga-bunga dan topi pantai.

Foto yang dia ambil saat dulu dia pergi ke pantai dengan gadis tersebut.

Sudah lama sekali Rafa tidak mengalami perasaan seperti tadi. Biasanya, saat hujan turun, dia tidak merasa apa-apa selama tidak terkena tetesan air hujan. Namun, mengapa trauma Rafa kembali muncul tadi? Apakah ada alasan tertentu?

"Apakah karena aku bersama Dara?" gumam Rafa.

Rafa kemudian mengajak foto Khaylila bicara. "Apakah kamu tidak suka aku dekat dengan wanita lain?"

Ya. Rafa akhirnya menilai alasan tersebut sebagai penyebab kembalinya rasa trauma yang sudah lama tidak dirasakannya.

"Maafkan aku. Seharusnya aku tak menerima perjodohan ini. Pasti kamu sedih, 'kan aku menikah dengan wanita lain? Tapi tenang saja, aku tak mencintainya. Aku terpaksa menikah dengannya. Cintaku hanya untukmu sejak dulu, sekarang, dan selamanya," ucap Rafa dengan air mata mulai membasahi pipinya.

"Apa kamu tak suka tadi aku pulang dengannya? Aku hanya kasihan, tidak lebih. Tenang saja, aku tak akan jatuh hati padanya, hm."

Bagai orang gila, Rafa terus mengajak foto Khaylila bicara. Menumpahkan semua kesedihan dan kerinduannya pada sosok gadis yang kini telah tiada. Meyakinkan Khaylila kalau dia tidak akan pernah jatuh cinta kepada wanita lain selamanya.

 

Malam itu, suasana di meja makan terasa begitu tegang. Tak ada suara lain yang terdengar, kecuali sendok dan garpu yang bersentuhan dengan piring.

Meskipun memang setiap kali makan suasana seperti itu, namun kali ini terasa sangat berbeda menurut Dara. Terlebih saat dia melihat ekspresi wajah Rafa yang murung dan tampak sangat tidak ramah.

"Kenapa gak dihabiskan, Raf?" tanya Oma Atira saat Rafa berdiri dan hendak pergi.

"Rafa sudah kenyang. Rafa juga mau pergi ke suatu tempat, Oma."

"Ke mana?" tanya Oma Atira.

Rafa terdiam sejenak dan melirik ke arah Dara yang nampak tenang menikmati makan malamnya. "Ke rumah Khay," jawabnya.

Oma Atira menghembuskan napas berat. "Raf...."

"Rafa pergi dulu," potong Rafa kemudian benar-benar pergi.

"Tunggu!"

Rafa yang hendak masuk ke dalam mobil pun berhenti saat Dara memanggilnya.

Tidak berbalik apalagi bertanya ada apa, Rafa tetap diam sampai Dara mengatakan sesuatu padanya.

"Om mau ke mana?" tanya Dara.

"Kau tidak tuli, bukan?" tanya Rafa dengan nada sarkastik.

"Lagi pula, aku akan pergi ke mana tentu bukan urusanmu. Jangan karena aku bersikap baik padamu hari ini, kau jadi besar kepala dan berhak ikut campur mengenaku!"

Setelah mengatakan hal itu, Rafa langsung masuk dan mobil hitam yang dikendarainya pergi meninggalkan Dara yang masih termenung di teras rumah.

Dara mengerjapkan matanya beberapa kali. Sesaat kemudian dia tertawa sumbang. Lebih tepatnya menertawai dirinya sendiri yang dengan pedenya bersikap peduli pada suaminya itu.

Dara memukul kepalanya pelan. "Bo-doh! Be-go! Ngapain juga tadi lo tanya dia mau ke mana. Padahal ya terserah dia lah mau pergi ke mana juga. Dara ... Dara ... ." "Mau apa kamu ke sini?!"

Baru juga sampai, tapi Rafa sudah mendapat sambutan tidak mengenakkan dari pria paruh baya yang merupakan ayah kandung Khaylila.

"Om apa kabar?" tanya Rafa ramah.

"Buruk. Kabar saya buruk semenjak saya kehilangan putri kandung saya satu-satunya! Kehilangan untuk selamanya! Dan itu semua gara-gara kamu!" bentak Waryo, ayah kandung Khaylila.

Rafa menunduk, kedua tangannya mengepal bukan karena dia marah Waryo memarahinya. Melainkan karena dia benar-benar merasa bersalah.

"Maafkan saya," ucap Rafa dengan nada lirih.

"Maafmu saja tidak akan bisa mengembalikan Khaylila kami!" Sari, ibu kandung Khaylila datang dan ikut memarahi Rafa.

Rafa berlutut, bersimpuh di hadapan Waryo serta Sari. Tetap menunduk karena dia merasa tidak sanggup melihat kemarahan, kesedihan serta kehancuran di wajah kedua orang tua Khaylila.

"Maafkan saya, saya memang sudah lalai dan tidak bisa menjaga Khaylila dengan baik. Ini semua memang salah saya karena membiarkan dia mengemudikan sepeda motor sendiri disaat hujan deras kala itu," ucap Rafa dengan suara bergetar.

"Saya sudah menerima hukumannya selama lima tahun ini. Semenjak Khaylila pergi, sejak itu pula saya hidup dengan perasaan bersalah yang terus memenuhi hati dan pikiran saya."

"Saya bersumpah, saya tidak akan pernah berhak bahagia selama sisa hidup saya!" ujar Rafa.

"Bagus! Memang itu yang kami mau. Kamu memang tidak berhak bahagia selamanya. Seperti Khaylila yang sudah pergi selamanya!" bentak Sari. Dia lalu menangis di pelukan suaminya.

"Sekarang lebih baik kamu pergi dan jangan pernah datang ke sini lagi. Melihatmu sungguh membuat kami muak dan semakin tidak bisa melupakan Khaylila!" ucap Waryo.

Rafa berdiri, dia mengeluarkan sesuatu dari saku jaket yang dipakainya.

"Bawa pergi uang itu! Kamu kira uang yang setiap bulannya kamu berikan pada kami bisa mengganti nyawa Khaylila? Bisa membawa Khaylila hidup kembali?!" sarkas Sari saat Rafa menyodorkan amplop putih besar dan tebal yang dia sangat tahu apa itu isinya.

Rafa tidak menghiraukan ucapan Sari. Dia menyimpan amplop tersebut ke meja kayu yang ada di teras dan mundur kembali.

"Saya akan tetap memberikan uang setiap bulannya. Anggap sebagai uang gaji Khaylila yang tidak bisa lagi dia berikan kepada kalian," ujar Rafa.

Khaylila memang berasal dari keluarga yang sederhana. Ayahnya, Waryo, bekerja sebagai satpam di sebuah toko roti terkenal, sementara ibunya, Sari, mengelola warung kecil di dekat rumah.

Selama ini, mereka tinggal di rumah kontrakan yang cukup sederhana. Gaji Khaylila sebagai guru di SMA dan pengajar les privat menjadi penghasilan tambahan yang sangat membantu keluarganya.

Rafa langsung pamit pergi setelah menyimpan uang tersebut. Dia tahu kalau Waryo dan Sari hanya pura-pura menolak. Toh selama ini mereka tidak pernah mengembalikan uang yang dia berikan.

Dalam pikir Rafa, mungkin mereka hanya sungkan meski sebenarnya sangat butuh.

Setelah mobil yang dikendarai oleh Rafa pergi, Sari langsung mengambil amplop tersebut dan membukanya.

"Gimana?" tanya Waryo yang sama tidak sabarnya seperti Sari.

"Seperti biasa, Pak. Banyak. Dua kali lipat dari gaji Khaylila dulu," jawab Sari dengan kedua mata berbinar senang.

"Andai aja Khaylila masih ada. Mungkin sekarang kita sudah besanan sama Nyonya Atira. Kita sudah kecipratan kaya raya nya, Pak," ucap Sari.

"Sudahlah, Bu. Khay sebenarnya pasti tidak akan senang melihat kita yang selalu menerima uang dari Rafa," sahut Waryo.

"Tapi kan kita gak pernah minta, Pak. Rafa sendiri kok yang ngasih secara suka rela. Udah ah, yuk masuk! Udah malem!" Sari masuk ke rumah sambil terus menghitung uang berwarna merah yang ada di dalam amplop.

❤️

Hari jum'at, jam kedua pelajaran adalah olahraga. Setelah berganti pakaian, semua murid berkumpul di lapangan untuk bermain voli.

Selain Rafa yang jadi guru idola baru di sekolah itu, guru olahraga bernama Pak Yoga juga ternyata sudah jadi idola di sana sejak lama.

Pak Yoga usianya hanya selisih dua tahun di atas Rafa. Tubuhnya tinggi dan atletis. Cocok sekali jadi guru olahraga.

Murid-murid kelas XII IPA 2 berbaris rapi mendengarkan arahan dari Pak Yoga. Sudah diputuskan siapa saja yang akan bermain, baik dari kelompok murid laki-laki maupun perempuan.

Kelompok Dara akan melawan kelompok Renita. Dara, yang memang gemar bermain voli, tidak menemui kesulitan berarti. Setiap smash yang dia lakukan berhasil mencetak skor, membuat Renita geram.

Siapa sangka di balik penampilan Dara yang terkesan cupu, dia ternyata mahir dalam olahraga voli. Namun, sejak awal Renita memang tidak menyukai Dara, apalagi dia berada di pihak Monica yang juga sahabatnya. Ide jahat pun muncul di benak Renita.

"Siap-siap aja deh, lo!" gumam Renita sambil tersenyum miring.

Tiba saat Renita mendapat kesempatan untuk melakukan smash. Dia langsung tujukan bola berwarna kuning polet biru itu kepada wajah Dara.

"Awww!"

"Yes!" Renita bersorak senang dalam hati karena tepakannya tidak meleset. Dia mengacungkan jempol ke lantai atas di mana Monica berada.

"Mampus lo!" gumam Monica kemudian berbalik untuk masuk kembali ke dalam kelas. Tadi dia kebetulan izin ke toilet. Tidak disangka, dia malah mendapatkan tontonan menarik dan membuat hatinya puas.

Semua murid langsung menghampiri Dara yang terjatuh sambil memegangi wajahnya, termasuk Pak Yoga yang juga merasa cemas.

"Kamu gak apa-apa?" tanya Pak Yoga.

"Ya ampun, hidung lo berdarah!" seru Bebi yang langsung membantu Dara untuk bangun.

"Kita ke UKS saja," ucap Pak Yoga.

"Dara, lo gak apa-apa, 'kan? Maaf ya, gue gak sengaja." Renita datang dan pura-pura merasa bersalah.

"Kamu itu gimana sih, Ren? Lain kali lebih hati-hati lagi!" omel Pak Yoga.

"Ya maaf, Pak. Saya kan gak sengaja," balas Renita cuek.

Akhirnya Dara diantar oleh Pak Yoga untuk pergi ke UKS meski sebelumnya Dara sudah menolak dan mengatakan akan pergi sendiri saja.

Di perjalanan menuju UKS, mereka berpapasan dengan Rafa yang hendak masuk kembali ke kelas X.

Tidak seperti waktu itu yang Dara terkena lemparan bola basket dan Rafa langsung bertanya dengan penuh perhatian Dara kenapa. Kali ini Rafa terlihat cuek dan hanya menganggukkan kepala saja pada Pak Yoga. Melirik ke arah Dara pun tidak.

Dara menghembuskan napas berat. Perasaannya tidak nyaman, karena seingatnya, dia tidak melakukan kesalahan apapun kali ini pada suaminya itu.

"Kamu tidak apa-apa, 'kan saya tinggal?" tanya Pak Yoga.

"Sudah. Gadis ini pasti tidak apa-apa, kan ada saya," balas Bu Nindi yang bertugas di UKS.

Pak Yoga mengangguk dan pamit untuk kembali ke lapang karena jam pelajaran masih berlangsung.

Dara meringis saat hidungnya diperiksa oleh Bu Nindi.

"Siapa nama kamu?" tanya Bu Nindi.

"Dara, Bu."

"Kayaknya sih gak ada masalah serius. Tapi mungkin hidung kamu bakal agak bengkak beberapa hari. Rajin kompres aja ya. Atau pergi ke dokter biar lebih jelas dan tahu kenapa-kenapanya," ujar Bu Nindi.

Dara mengangguk paham. Dia menatap sendu ke arah kacamata kesayangannya yang kini sudah patah dan tentunya tidak akan bisa digunakan kecuali kalau dipasang plester untuk sementara waktu.

Dara mengepalkan kedua tangannya. Dia yakin kalau Renita sengaja melakukannya. Apalagi tadi dia juga sempat melihat Monica di lantai atas.

"Awas aja kalian," gumamnya.

Saat jam istirahat datang karena para laki-laki harus pergi ke mesjid untuk melaksanakan ibadah shalat jum'at, Bebi dan Dara pergi ke kantin.

Suasana kantin lumayan sepi karena yang ada hanya para siswi saja.

Bhuk!

"Aww!" Entah sudah berapa kali Dara memekik kesakitan hari ini. Sudah hidungnya, sekarang pundaknya yang disenggol lumayan kencang oleh seseorang. Belum lagi kakinya terasa panas karena terkena air panas dari kuah bakso yang tumpah.

"Kalo jalan liat-liat dong!"

Dara mengangkat kepalanya, menatap penuh kebencian pada sosok Monica yang berdiri sambil melipat kedua tangan di depan dada.

"Lo sengaja, 'kan?!" ujar Dara.

"Heh, jangan asal nuduh lo! Bukan gue yang salah, tapi lo yang salah karena jalan gak liat-liat!" bantah Monica.

"Lo ada masalah apa sih sebenarnya sama gue?!" sentak Dara kesal. "Gue udah cukup diam dan sabar ya karena lo selalu ngusik gue. Gue juga gak tau maksud dari ucapan lo tempo hari itu apaan. Tapi lo terus aja gangguin gue. Mau lo apa?!"

"Dara, udah," bisik Bebi sambil menarik baju seragam yang dikenakan oleh Dara.

"Oh. Si cupu mulai berani rupanya sama gue," gumam Monica.

"Denger ya cupu," ucap Monica sambil melangkah mendekati Dara, wajahnya menunjukkan rasa puas karena berhasil memancing emosi Dara.

"Gue udah bilang kan, kalau gue gak akan pernah puas gangguin hidup lo," bisik Monica hingga hanya Dara saja yang bisa mendengar ucapannya.

Monica kembali mundur dan mengikis kembali jaraknya dengan Dara. "Lo sama temen lo yang sama-sama cupu itu udah ganggu pemandangan di sekolah ini tau, gak?"

Bebi langsung memindai penampilannya sendiri. Dia merasa tidak ada yang salah dengan penampilannya.

Dara yang kesal mendengar ucapan Monica langsung mengambil gelas berisi air minum yang ada di meja terdekat, entah milik siapa, dan tanpa ragu menyiramkannya ke arah Monica.

Air itu mengenai wajah dan seragam Monica dengan sempurna. Tak ada yang menyangka Dara akan berani melakukan hal tersebut. Semua siswa yang ada di kantin langsung heboh dan histeris menyaksikan aksi nekat Dara.

Sementara itu, Monica terkejut dan mulutnya menganga tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Wajah dan seragamnya basah kuyup oleh air yang disiramkan Dara.

"Lo!" ujar Monica dengan marah sambil menunjuk Dara.

"Apa?! Bukannya di sini lo itu anggota OSIS ya? Harusnya bisa dong ngasih contoh yang baik, termasuk ucapan yang keluar dari mulut lo itu!" Dara menegaskan sambil menatap tajam ke arah Monica.

"Apa-apaan lo, hah?!" Braden yang baru datang langsung menghampiri Dara dan Monica.

"Tanya sama cewek lo itu!" balas Dara ketus. Jujur, hatinya lumayan nyeri saat Braden tiba-tiba datang dan langsung membentaknya.

"Braden ...." Monica merengek menampilkan wajah sedih seakan paling teraniaya pada kekasihnya. "Muka sama seragam aku basah nih gara-gara dia!" tunjuknya pada Dara.

Braden langsung menatap tajam ke arah Dara. Dia hendak mengatakan sesuatu namun urung saat Dara lebih dulu membisikkan sesuatu padanya.

1
falea sezi
enak bgt si aldi najis pas sakit ke istri pas seneng2 ke. selingkuh an jangan. bego erina np erina di buat bloon sih
falea sezi
erina mending cerai duda tua banyak ngapain suami mu bekas. jalang lu mau
Ikky
dipersilahkan
Ikky
3
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!