Aku berumur tujuh tahun saat nyamuk itu menggigit.
Aku berumur lima puluh dua saat akhirnya bisa berjalan lagi.
Empat puluh lima tahun di antaranya adalah sunyi.
Namaku Mahesa. Kakiku mulai membengkak sejak kecil. Dokter bilang cidera. Ibu bilang kutukan. Ayah bilang aku harus kuat.
Tidak ada yang bilang bahwa aku akan kehilangan segalanya.
Ayah meninggal jatuh dari bangunan. Ibu pergi membawa adik—dengan teriakan terakhir: "Dadah kaki gajah!" Kakek menjual sawah, lalu mati di pelukanku.
Sendirian. Mengemis. Dikucilkan. Mencoba bunuh diri—tali putus, atap roboh.
Lalu datang Reza, anak kecil pemberani yang berjanji: "Aku akan jadi dokter. Aku akan obati kaki Bapak."
Dua puluh tahun kemudian, pintu gubuk itu diketuk. Ia kembali.
Operasi berhasil. Aku bisa berjalan lagi.
Tapi infeksi kembali. Dokter bilang: amputasi.
Aku menatap kakiku—kaki yang menyiksaku selama 45 tahun, tapi juga satu-satunya yang setia menemani. Lalu aku berkata pada Reza:
"Aku mau pergi utuh."
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: TEMAN SEKOLAH MELEMPAR BATU
---
Sore. Matahari masih terik, tapi mulai meredup. Mahesa duduk di beranda. Kayu lapuk yang sama. Pojok yang sama. Tempat yang menjadi miliknya.
Kaki kanan diangkat. Diinjakkan di bangku rendah. Di tempat yang terkena sinar matahari. Agar kering. Agar tidak infeksi. Agar sembuh. Setidaknya itu harapannya.
Luka dari abses yang pecah di kelas masih ada. Merah. Terbuka. Tapi lebih kering dari kemarin. Lebih... mungkin. Mungkin akan sembuh. Mungkin tidak infeksi lagi. Mungkin...
Tiga hari sudah sejak kejadian di sekolah. Tiga hari ia kurung di rumah. Tiga hari hanya keluar ke sumur dan ke beranda. Tiga hari menjadi hantu di rumah sendiri.
Ibu tidak menyuruhnya masuk. Tidak juga menyuruhnya keluar. Hanya diam. Seperti biasa. Seperti selalu. Seperti... menerima bahwa ini memang tempatnya. Di beranda. Di pojok. Di antara ada dan tiada.
Anak-anak lewat. Dari sekolah. Pulang. Berjalan berkelompok. Tiga orang. Empat. Lima. Tertawa. Bercerita. Tentang ulangan. Tentang guru. Tentang hal-hal normal yang tidak akan pernah lagi ia rasakan.
Mahesa menunduk. Tidak mau dilihat. Tidak mau dikenali. Tidak mau menjadi target.
Tapi langkah mereka berhenti. Tawa mereka berubah. Menjadi bisik-bisik. Menjadi cekikikan.
Mahesa tahu. Tanpa melihat. Tahu dari pengalaman. Tahu dari getaran. Tahu dari... ketakutan yang sudah hafal.
"Eh, kaki gajah!"
Suara itu. Rudi. Yang selalu Rudi. Yang paling keras. Yang paling kejam. Yang paling... senang melihatnya menderita.
Mahesa tidak bergerak. Tidak menjawab. Tidak melihat. Hanya menunduk lebih dalam. Hanya berharap mereka lewat. Hanya berharap... hilang.
Tapi Rudi tidak pernah lewat. Tidak pernah melewatkan kesempatan.
"Kaki gajah! Masih hidup?" Rudi mendekat. Dua langkah dari pagar. Teman-temannya ikut. Mereka berdiri di depan beranda. Berjajar. Seperti barisan algojo.
Mahesa diam. Menatap kakinya. Kaki kanan yang terhampar di bangku. Yang menjadi alasan semua ini.
"Lihat! Kakinya besar banget!" teriak yang lain. Budi. Yang biasanya diam. Yang sekarang ikut-ikutan.
"Busuk!" teriak yang lain. "Bau!"
Mereka menutup hidung. Pura-pura mual. Pura-pura mau muntah. Seperti di kelas dulu. Seperti di sungai. Seperti di mana-mana.
Mahesa masih diam. Tapi tangannya gemetar. Hatinya bergetar. Air mata sudah di ambang. Tapi ditahan. Jangan sampai mereka lihat. Jangan sampai mereka menang lagi.
"Kok diam?" Rudi mengejek. "Bisu? Atau emang nggak punya mulut?"
Tawa. Pecah. Seperti biasa. Seperti selalu.
Dan kemudian, Rudi membungkuk. Mengambil sesuatu dari tanah. Batu. Kecil. Seukuran kelereng. Tapi batu.
Mahesa melihatnya. Jantung berhenti. Napas tertahan.
"Rudi, jangan..." suara seseorang. Pelan. Hampir tidak terdengar. Mungkin Siti. Tapi Siti tidak ada di sana. Atau ada? Mahesa tidak berani melihat.
Rudi melempar. Batu melayang. Ke arah beranda. Ke arah Mahesa.
Byar.
Tidak kena. Kena pagar kayu. Berdecit. Jatuh ke lantai beranda.
Tertawaan. Lebih keras. Lebih gembira.
"Kaki gajah! Kaki gajah!" teriak mereka bersama. Seperti lagu. Seperti ritual. Seperti yang benar.
Rudi mengambil batu lagi. Lebih besar. Sedikit. Teman-teman ikut. Membungkuk. Mencari batu. Di jalan. Di selokan. Di mana saja.
Dan lemparan dimulai.
Batu-batu kecil melayang. Tidak besar. Tidak bisa melukai parah. Tapi batu. Tapi mengenai. Tapi menyakitkan.
Satu kena paha. Satu kena punggung. Satu kena lengan. Mahesa menahan. Tidak berteriak. Tidak bergerak. Hanya memejamkan mata. Hanya berharap... selesai.
Tapi satu batu—yang paling tepat sasaran—mengenai kaki kanan. Tepat di luka yang terbuka. Di tempat abses pecah. Di tempat yang paling sakit.
Nyeri. Tajam. Seperti disayat pisau. Seperti dibakar api. Mahesa tersentak. Napasnya terputus. Tapi ia tidak berteriak. Tidak mau kasih puas. Tidak mau memberi mereka kemenangan.
"Pergi!" teriaknya. Suara serak. Suara yang keluar dari tenggorokan kering. Suara yang lemah. Suara yang... kalah.
Tapi mereka tidak pergi. Mereka malah tertawa lebih keras. Lebih gembira.
"Marah! Kaki gajah marah!"
Seolah ini lucu. Seolah ini permainan. Seolah ini hari biasa. Seolah Mahesa bukan manusia. Bukan anak yang punya perasaan. Bukan siapa-siapa.
Lemparan terus. Batu demi batu. Hujan batu kecil di beranda. Di lantai. Di pagar. Di tubuh Mahesa.
Ia melindungi kepalanya. Melindungi wajahnya. Tapi tidak bisa melindungi kaki kanan. Kaki yang terbuka. Kaki yang jadi sasaran utama.
Darah mulai mengalir. Dari luka lama. Dari luka baru. Bercampur. Merah di kulit yang pucat.
Melihat darah, beberapa anak berhenti. Wajah mereka berubah. Mungkin takut. Mungkin kasihan. Mungkin... sadar bahwa ini sudah kelewatan.
Tapi Rudi tidak berhenti. Rudi terus melempar. Dengan senyum. Dengan kepuasan.
"Rudi, udah!" seseorang menarik tangannya. Siti. Akhirnya Mahesa melihat. Siti ada di sana. Di antara mereka. Berusaha menghentikan.
Rudi melepaskan diri. "Biarin! Dia kan kaki gajah! Dia nggak berhak hidup normal!"
Kata-kata itu. Lebih sakit dari batu. Lebih dalam dari luka. Lebih... menghancurkan.
Dia nggak berhak hidup normal.
Mahesa menatap Rudi. Untuk pertama kalinya. Langsung. Menatap mata yang penuh kebencian. Mata yang melihatnya sebagai monster.
Dan di mata itu, ia melihat dirinya. Seperti yang Rudi lihat. Jelek. Busuk. Tidak pantas. Sampah.
Air mata jatuh. Tidak bisa ditahan lagi. Mengalir deras di pipi. Bercampur debu. Bercampur darah. Bercampur... segalanya.
Melihat Mahesa menangis, Rudi tertawa puas. "Nangis! Kaki gajah nangis!"
Tapi Siti mendorong Rudi. Keras. "Udah, Rudi! Cukup!"
Rudi terhuyung. Hampir jatuh. Marah. Tapi Siti tidak takut. Berdiri di antara Rudi dan Mahesa. Menghadang.
"Ayo pergi!" teriak Siti ke teman-teman lain. "Ini nggak benar!"
Beberapa anak mulai pergi. Satu per satu. Malu. Atau takut. Atau... sadar.
Rudi melihat sekeliling. Sendirian sekarang. Teman-teman sudah menjauh. Siti masih berdiri di depannya dengan mata membara.
"Kamu belain dia?" Rudi mendesis. "Dia kan... dia kan penyakit!"
"Dia teman kita," Siti berkata. Suara mantap. "Dulu. Sebelum kamu jadi kejam."
Rudi meludah. Mendorong Siti. Tapi Siti tidak jatuh. Hanya bergeser sedikit.
Rudi pergi. Dengan langkah kesal. Dengan umpatan. Meninggalkan Siti dan Mahesa.
Sore itu sunyi. Hanya suara jangkrik mulai berbunyi. Hanya debu yang perlahan mengendap.
Siti berbalik. Menghadap Mahesa. Yang masih duduk di beranda. Tubuh gemetar. Kaki berdarah. Air mata tak berhenti.
"Maaf," bisik Siti. Suara pecah. Matanya berkaca. "Maaf... aku terlambat."
Mahesa tidak menjawab. Tidak bisa. Hanya menatap. Menatap Siti yang berdiri di depan pagar. Yang kecil. Yang berani. Yang... ada.
Siti masuk ke halaman. Tanpa izin. Tanpa ragu. Mendekati beranda. Mendekati Mahesa.
Ia berlutut. Di tanah. Di depan beranda. Menatap kaki Mahesa yang berlumuran darah.
"Ini parah," katanya. "Kamu harus ke dokter."
Mahesa menggeleng. "Nggak ada uang."
Siti menghela napas. Lalu berdiri. "Tunggu di sini."
Ia berlari. Meninggalkan Mahesa sendirian. Dengan luka. Dengan darah. Dengan pertanyaan.
Tapi tidak lama. Sepuluh menit. Dua puluh. Siti kembali. Dengan kotak kecil. Dengan tas plastik.
"Aku bawa obat," katanya. Napas terengah. "Dari ibu. Ibu kerja di klinik."
Obat. Plaster. Kapas. Betadin. Hal-hal yang Mahesa tidak pernah punya.
Siti naik ke beranda. Tanpa ragu. Duduk di samping Mahesa. Di lantai kayu lapuk. Tidak peduli kotor. Tidak peduli bau. Tidak peduli... apa pun.
"Aku bersihin ya," katanya. Suara pelan. Tangan hati-hati.
Mahesa mengangguk. Tidak tahu harus berkata apa.
Siti membersihkan luka. Dengan kapas. Dengan betadin. Sakit. Tapi Mahesa tahan. Menahan lebih dari biasanya. Karena ini bukan ejekan. Ini... perawatan.
"Kenapa?" Mahesa bertanya. Suara serak. "Kenapa kamu bantu aku?"
Siti berhenti. Menatap Mahesa. Lama.
"Karena aku teman kamu," katanya. "Dulu. Sebelum aku... takut. Sebelum aku ikut-ikutan Rudi. Sebelum aku jadi pengecut."
Air mata Mahesa keluar lagi. Tapi kali lain. Bukan karena sakit. Bukan karena takut. Tapi karena... sesuatu yang hangat. Yang lama hilang.
"Makasih, Siti."
Siti tersenyum. Senyum yang sama seperti dulu. Seperti di kertas yang ia kirim. Seperti di sungai sebelum semuanya hancur.
"Kamu harus sembuh, Mahesa," katanya. "Kamu harus sekolah lagi. Aku tunggu."
Sekolah lagi. Aku tunggu.
Kata-kata itu. Sederhana. Tapi seperti obat. Seperti harapan. Seperti... alasan untuk bertahan.
Siti selesai membalut. Berdiri. Melihat karyanya. "Nanti ganti dua kali sehari. Jangan kena air dulu."
Mahesa mengangguk.
Siti turun dari beranda. Berjalan ke pagar. Berhenti. Berbalik.
"Besok aku ke sini lagi. Bawa makanan. Ibu masak banyak." Ia tersenyum. Lalu pergi. Berlari kecil. Menghilang di tikungan jalan.
Mahesa duduk di beranda. Memandangi kaki yang terbalut rapi. Bersih. Dirawat.
Bukan oleh ibu. Bukan oleh ayah. Tapi oleh Siti. Teman yang sempat hilang. Yang sekarang kembali.
Di lantai beranda, batu-batu kecil masih berserakan. Saksi bisu kekejaman sore itu. Tapi di sampingnya, ada kotak obat. Ada kapas bekas. Ada... bukti kebaikan.
Malam turun. Ibu pulang dari pasar. Melihat Mahesa di beranda. Melihat balutan baru. Melihat kotak obat.
"Siapa?" tanya ibu.
"Siti. Teman sekolah."
Ibu diam. Lama. Lalu masuk ke rumah. Tanpa berkata apa-apa lagi.
Tapi malam itu, saat Mahesa tidur di dapur—masih di dapur, masih di lantai—ia mendengar langkah kaki. Ibu. Membawa tikar. Menggelar di sampingnya.
"Di sini saja," ibu berkata. Pelan. Hampir tidak terdengar. "Biar... biar tidak kedinginan."
Ibu pergi. Kembali ke kamar. Ke Bima.
Tapi tikar itu tetap di sana. Dan Mahesa, untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, tidur tidak sendirian di lantai dapur.
Ia memegang balutan di kakinya. Mengingat Siti. Mengingat keberanian. Mengingat... kebaikan.
Batu-batu mungkin masih akan datang. Rudi mungkin masih akan melempar. Tapi hari ini, ia tidak sendiri.
Ada Siti. Ada tikar dari ibu. Ada... harapan kecil.
Itu cukup. Untuk malam ini. Untuk luka yang terbalut. Untuk besok yang mungkin.
Itu cukup.
---