NovelToon NovelToon
Polisi & Dokter

Polisi & Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Action
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Akmaludd

Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.

Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.

bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

​Sinar matahari pagi menembus jendela kaca besar di ruang kerja Komisaris Polisi Davino. Di atas meja kerjanya, tumpukan berkas kasus berserakan, namun pikiran Vino sedang tidak tertuju pada kriminalitas di ibu kota. Matanya tertuju pada sosok pria yang duduk tegak di hadapannya, mengenakan kemeja polo hitam dengan lengan kanan yang masih sedikit kaku akibat cedera tempo hari.

​Alvin, yang baru saja kembali dari masa pemulihan singkatnya, sedang melaporkan hasil perkembangan penyelidikan kasus pencurian kendaraan bermotor yang ia tangani sebelum insiden "pagar besi" itu terjadi.

​"Laporannya sudah lengkap, Vin. Semua barang bukti sudah diamankan di Polres," ucap Alvin dengan nada tegas yang biasa.

​Vino menutup map cokelat itu, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran. Ia menatap Alvin dengan senyum tipis yang penuh arti—bukan senyum seorang atasan kepada bawahan.

​"Bagus, Al. Tapi saya nggak mau bahas soal maling motor sekarang," ujar Vino santai.

​Alvin mengerutkan kening. "Ada instruksi lain? Operasi Zebra lanjutan?"

​Vino terkekeh, menggelengkan kepalanya. "Bukan. Ini soal operasi masa depan kamu. Al, umur kita cuma beda satu tahun. Saya sudah punya Alisa, sebentar lagi kami rencana melangkah ke jenjang yang lebih serius. Lah, kamu? Masih aja betah sama surat tilang dan borgol?"

​Alvin tertegun sejenak. Ia tidak menyangka pembicaraan akan melenceng ke arah pribadi. "Saya masih fokus pada karier, Vin. Lagipula, belum ada yang cocok."

​"Belum ada yang cocok atau kamu yang terlalu kaku?" Vino bangkit, berjalan menghampiri Alvin dan menepuk pundaknya. "Dengar, menjadi polisi itu mulia, tapi punya pendamping hidup itu kebutuhan. Jangan sampai kamu tua di jalanan tanpa ada yang nungguin di rumah dengan secangkir kopi hangat. Kamu mau jadi jomlo abadi di korps ini?"

​Alvin terdiam. Bayangan seorang dokter galak yang tempo hari menanganinya di UGD tiba-tiba melintas di pikirannya. Dokter yang bibirnya tak berhenti mengomel tapi tangannya sangat lembut saat mengganti perbannya.

​"Cari yang bisa melunakkan hati batu kamu itu, Al. Jangan cari yang sama kakunya sama kamu. Cari yang berani melawan kamu, biar hidup kamu nggak monoton," tambah Vino sembari mengedipkan mata. "Kabar-kabari kalau sudah ada target. Saya siap jadi saksi nikah."

​Alvin hanya bisa memberikan hormat dan keluar dari ruangan dengan perasaan campur aduk. Kata-kata Vino terus terngiang. Cari yang berani melawan? Pikiran Alvin kembali tertuju pada Fani. Gadis itu bukan hanya berani melawan, dia bahkan berani mengancam akan menyuntiknya dengan vitamin C dosis tinggi.

​Di sisi lain kota, Fani sedang berada di lobi rumah sakit, baru saja menyelesaikan shift malamnya yang melelahkan. Matanya kantuk, dan ia hanya ingin segera pulang ke apartemennya untuk tidur selama sepuluh jam.

​Namun, saat ia berjalan menuju parkiran, ia melihat kerumunan kecil di dekat gerbang keluar. Sebuah mobil patroli polisi terparkir di sana, dan seorang pria tegap sedang berbicara dengan petugas keamanan rumah sakit.

​"Aduh, polisi lagi, polisi lagi! Apa mereka mau razia di dalam rumah sakit juga?" gerutu Fani pelan.

​Saat ia mendekat, jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Itu Alvin. Tanpa seragam dinas, hanya mengenakan jaket bomber biru tua, namun auranya tetap sama: intimidatif tapi entah kenapa menarik perhatian.

​Alvin menoleh dan melihat Fani. Ia melangkah menghampiri dengan gaya jalan yang sangat percaya diri.

​"Dokter Fani," sapa Alvin singkat.

​Fani menghentikan langkahnya, menyilangkan tangan di dada. "Apa lagi, Pak Polisi? Saya bawa SIM hari ini, STNK ada, sabuk pengaman saya pakai nanti pas sudah di dalam mobil. Bapak mau nilang apa lagi?"

​Alvin tidak terpancing. Ia justru mengeluarkan sebuah kantong plastik kecil dari saku jaketnya. "Obat saya habis. Dokter bilang saya harus kontrol dua hari lagi, tapi saya ada tugas luar kota besok pagi. Jadi saya ke sini sekarang."

​Fani menatap plastik itu, lalu menatap wajah Alvin. "Oh, jadi Bapak ke sini mau minta resep? Kenapa nggak ke bagian pendaftaran atau poli umum?"

​"Saya cari dokter yang menangani saya di UGD kemarin. Prosedurnya kan begitu, konsul ke dokter yang bersangkutan," jawab Alvin datar, meski sebenarnya itu hanya alasannya saja.

​Fani mendesah panjang. "Bapak tahu nggak ini jam berapa? Saya baru mau pulang. Saya capek, Pak Alvin."

​"Lima menit saja, Dok. Perut saya masih agak nyeri kalau buat jalan cepat."

​Melihat gurat kelelahan yang nyata di wajah Alvin—dan mungkin sedikit rasa bersalah karena telah bersikap kasar tempo hari—hati Fani sedikit melunak. "Ya sudah, ikut saya ke ruang poli yang masih kosong. Jangan lama-lama ya!"

​Di dalam ruang periksa yang sepi, Fani mulai memeriksa luka memar di perut Alvin. Jarak mereka sangat dekat. Fani bisa mencium aroma parfum maskulin Alvin yang bercampur dengan sedikit bau antiseptik. Alvin, di sisi lain, bisa melihat dengan jelas bulu mata lentik Fani dan konsentrasi yang dalam di matanya saat bekerja.

​"Masih nyeri di sini?" tanya Fani sembari menekan lembut area memar.

​"Sedikit," jawab Alvin singkat. Matanya tidak lepas dari wajah Fani.

​"Ini cuma sisa trauma tumpul. Saya kasih salep tambahan dan obat pereda nyeri yang lebih kuat. Tapi tolong ya, Pak... istirahat. Jangan langsung kejar-kejaran sama maling dulu," omel Fani tanpa sadar.

​"Terima kasih, Fani," ucap Alvin tanpa embel-embel "Dokter".

​Fani tertegun sejenak mendengar namanya disebut begitu saja. Ia berdeham, mencoba mengembalikan suasana profesional. "I-iya. Sama-sama. Ini resepnya, bisa ditebus di apotek depan."

​Saat Fani hendak berdiri, Alvin menahan lengan bajunya sebentar. "Soal kata-kata saya kemarin di UGD... saya serius. Terima kasih sudah merawat saya meskipun saya sudah menilang Anda."

​Fani mencoba menarik tangannya, tapi ia malah tersenyum tipis. "Ya, anggap saja ini amal saya buat negara lewat Bapak. Lagipula, kalau Bapak pingsan lagi, nanti yang menertibkan jalanan siapa?"

​Alvin tersenyum—kali ini lebih lebar dari sebelumnya. "Besok saya ke luar kota tiga hari. Boleh saya minta nomor telepon Anda? Untuk... konsultasi medis jika ada keluhan di sana."

​Fani memicingkan mata, menaruh tangan di pinggang. "Modus ya, Pak?"

​"Ini prosedur keamanan kesehatan, Dok," jawab Alvin dengan wajah paling serius yang bisa ia buat.

​Fani tertawa kecil. Ia mengambil pulpen dan menuliskan nomor teleponnya di balik kertas resep cadangan. "Hanya untuk keadaan darurat medis, Pak Alvin! Kalau Bapak tanya soal rute jalan tikus biar nggak kena macet, saya blokir!"

​Alvin menerima kertas itu seolah-olah itu adalah dokumen negara yang sangat rahasia. "Dimengerti, Dok. Selamat istirahat."

​Malamnya, Fani merebahkan diri di kasur, menatap langit-langit kamarnya. Ia membuka aplikasi pesan singkat dan melihat profil WhatsApp baru yang ia simpan dengan nama "Polisi Robot (Alvin)". Foto profilnya hanya gambar logo kepolisian.

​"Kaku banget sih fotonya," gumam Fani.

​Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk.

​Polisi Robot (Alvin): Terima kasih resepnya. Saya sudah tebus. Selamat malam, Fani.

​Fani tersenyum tanpa sadar, namun segera menepuk pipinya sendiri. "Eh, Fani! Sadar! Dia itu yang bikin kamu telat operan jaga tempo hari! Jangan baper cuma gara-gara disapa selamat malam!"

​Namun, di sudut hatinya yang paling dalam, Fani mulai bertanya-tanya: apakah mungkin nasihat Alisa tentang "benci jadi cinta" itu benar-benar akan terjadi padanya? Sementara di asrama polisi, Alvin duduk di tepi ranjangnya, menatap nomor Fani, teringat kata-kata Vino pagi tadi. Mungkin, batinnya, dokter galak ini adalah orang yang tepat untuk mengakhiri masa jomlonya.

Bersambung

1
Rian Moontero
mampiiirr/Bye-Bye/👍👍
Akmaluddin: makasih kak, jangan lupa like kaka👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!