Melvin Blastorios, merupakan seorang ahli waris dari keluarga bangsawan Blastorios, yang terkenal akan kehebatan dan kejeniusannya. Selain itu, Melvin juga merupakan pemimpin dari sebuah organisasi rahasia di Inggris yaitu Dragon Knight of Archangel.
Arabella Winston, seorang gadis muda, cantik, bijak dan cukup terkenal di kalangan para bangsawan, yang sedang mencari seorang suamin. Walaupun begitu, Bella dikenal sebagai salah seorang gadis bangsawan yang selalu menolak banyak lamaran dari para pemuda bangsawan lain.
Ini hanyalah sebuah kisah cinta romantis antara seorang pemuda dari organisasi rahasia dengan seorang gadis muda penolak lamaran.
.
.
.
.
terinspirasi dari seri pertama novel club Inferno...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaeathaZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
.
.
.
Chapter Sebelumnya :
"Ah... Saya yakin sekali, Nona Winston pasti pernah pergi ke beberapa tempat berbahaya di kota Vincent ini." Ujar Melvin tersenyum kecil, dengan kerlingan penuh pengertian di manik kelamnya yang terlihat semakin indah di bawah cahaya lampu koridor sepi itu.
Bella terdiam.
Ucapan itu seolah bukan sekadar gurauan ringan. Ada sesuatu di baliknya—sesuatu yang terlalu tajam untuk diabaikan, namun terlalu halus untuk dipastikan.
Perlahan, ia mengangkat wajahnya kembali, menatap pria di hadapannya dengan sorot mata yang lebih waspada dari sebelumnya.
"Sepertinya Anda tahu lebih banyak dari yang seharusnya, Tuan," ucap Bella pelan.
Nada suaranya masih terdengar sopan, namun kini terselip sedikit kehati-hatian di dalamnya.
Melvin tidak langsung menjawab.
Ia hanya berdiri di tempatnya, memandang Bella dengan tatapan yang sulit dibaca—tenang, tapi seolah menyimpan sesuatu yang lebih dalam. Seolah-olah setiap gerakan kecil dari gadis itu tak pernah luput dari perhatiannya.
"Atau mungkin," lanjut Bella, mencoba menutupi kegugupannya sendiri, "Anda hanya pandai menebak."
Senyum tipis terukir di bibir Melvin.
"Jika saya mengatakan bahwa saya hanya memperhatikan, apakah itu terdengar lebih meyakinkan?"
Bella mendengus pelan.
"Untuk seseorang yang baru kembali ke kota ini, Anda terlalu… peka."
"Dan Anda terlalu menarik untuk tidak diperhatikan."
Jawaban itu datang begitu saja.
Tanpa jeda.
Tanpa ragu.
Dan entah mengapa, kalimat itu membuat Bella membeku di tempat.
Jantungnya kembali berdetak lebih cepat, seolah berusaha mengejar sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak mengerti.
Bella mengalihkan pandangannya sejenak, mencoba mengatur napasnya.
"Anda mengatakan hal seperti itu kepada semua wanita, Tuan?" tanyanya, berusaha terdengar biasa saja.
Melvin mengangkat alisnya sedikit, lalu mendekat satu langkah.
"Hanya kepada mereka yang memang pantas mendengarnya."
Sekali lagi.
Tidak ada keraguan dalam nada suaranya.
Tidak ada kesan main-main.
Dan justru itulah yang membuat Bella semakin sulit untuk mengabaikannya.
Ia menggenggam kipas di tangannya lebih erat, mencoba mencari sesuatu untuk menahan perasaannya yang mulai tak terkendali.
"Apa Anda selalu berbicara seperti ini?" gumamnya pelan.
"Seperti apa?"
"Seolah-olah Anda tahu apa yang harus dikatakan untuk membuat orang lain kehilangan arah."
Melvin tersenyum kecil.
"Apakah Anda merasa seperti itu sekarang?"
Bella menatapnya.
Dan untuk sesaat… ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
Karena kenyataannya—
Iya.
Ia memang merasa seperti itu.
Sejak pria ini muncul dalam hidupnya, segala sesuatu terasa… berbeda. Tidak stabil. Tidak seperti biasanya.
Dan yang paling membuatnya tidak nyaman—
Ia tidak ingin menghentikannya.
"Aku tidak kehilangan arah," jawab Bella akhirnya, walaupun suaranya terdengar lebih pelan dari yang ia inginkan.
Melvin tidak membantah.
Ia hanya memiringkan kepalanya sedikit, seolah sedang menilai sesuatu.
"Lalu, apa yang Anda cari di sini, Nona Winston?"
Pertanyaan itu membuat Bella sedikit terkejut.
"Apa maksud Anda?"
"Anda mengejar saya," ujar Melvin santai. "Saya rasa itu bukan sesuatu yang biasa dilakukan oleh seorang wanita sekelas Anda."
Bella terdiam.
Benar.
Ia memang mengejarnya.
Dan sekarang, saat pria itu mengatakannya secara langsung… ia merasa sedikit malu.
"Aku hanya…" Bella menarik napas pelan. "Aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mengucapkan terima kasih dengan layak."
"Apakah itu satu-satunya alasan?"
Pertanyaan itu langsung membuat Bella kembali menatapnya.
Tatapan mereka bertemu.
Dan entah mengapa, kali ini terasa berbeda.
Lebih dalam.
Lebih sunyi.
Seolah-olah dunia di sekitar mereka benar-benar menghilang, menyisakan hanya mereka berdua di koridor panjang itu.
Bella membuka mulutnya, namun tak ada kata yang keluar.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Atau mungkin… ia tahu.
Tapi ia tidak berani mengatakannya.
Karena jika ia jujur—
Maka ia harus mengakui sesuatu yang bahkan ia sendiri belum sepenuhnya pahami.
Bahwa alasan ia mengejar pria ini bukan hanya karena rasa terima kasih.
Bukan hanya karena rasa ingin tahu.
Tapi karena…
Ia ingin melihatnya lagi.
"Aku… tidak tahu," akhirnya Bella berbisik.
Dan itu adalah jawaban paling jujur yang bisa ia berikan.
Melvin menatapnya lama.
Sangat lama.
Seolah-olah ia sedang mencoba membaca setiap lapisan yang Bella miliki.
Dan untuk pertama kalinya, Bella tidak berusaha menyembunyikan dirinya.
Ia membiarkan pria itu melihat kebingungannya.
Kerapuhannya.
Sesuatu yang jarang ia tunjukkan pada orang lain.
"Kejujuran yang menarik," gumam Melvin pelan.
Bella tersenyum tipis, meskipun ada sedikit rasa gugup yang masih menggelitik di dadanya.
"Aku tidak pandai berbohong."
"Itu terlihat."
"Dan Anda?" Bella mengangkat dagunya sedikit. "Apakah Anda selalu mengatakan kebenaran?"
Melvin tersenyum.
Namun kali ini… ada sesuatu yang berbeda dalam senyum itu.
Lebih samar.
Lebih gelap.
"Tidak."
Jawaban itu sederhana.
Tapi entah kenapa, justru terasa lebih jujur dari apapun yang ia katakan sebelumnya.
Bella terdiam.
Ia tidak tahu kenapa, tapi pengakuan itu tidak membuatnya menjauh.
Justru sebaliknya—
Ia semakin penasaran.
"Setidaknya Anda jujur tentang hal itu," gumam Bella.
Melvin tertawa pelan.
"Apakah itu cukup untuk membuat Anda tetap berbicara dengan saya?"
Bella mengangkat bahunya sedikit.
"Mungkin."
"Lalu, apa yang Anda inginkan sekarang, Nona Winston?"
Pertanyaan itu kembali membuat Bella terdiam.
Ia menatap pria di hadapannya, mencoba memahami apa yang sebenarnya ia rasakan saat ini.
Dan perlahan… jawabannya mulai terbentuk.
"Aku ingin mengenal Anda."
Kalimat itu keluar pelan.
Namun cukup jelas untuk didengar.
Melvin tidak bergerak.
Namun tatapannya berubah.
Sedikit.
Hanya sedikit.
Tapi Bella bisa merasakannya.
"Apa Anda yakin?" tanyanya pelan.
"Apa itu sesuatu yang berbahaya?"
"Lebih dari yang Anda bayangkan."
Bella menelan ludahnya.
Ada bagian dalam dirinya yang mengatakan untuk berhenti.
Untuk mundur.
Untuk tidak melangkah lebih jauh.
Tapi ada bagian lain—
Yang justru ingin tetap berdiri di sini.
"Kalau begitu… Anda bisa memperingatkan saya," kata Bella akhirnya. "Bukan mengusir saya."
Hening.
Sejenak.
Lalu—
Melvin tersenyum.
Senyum yang lebih dalam dari sebelumnya.
"Baiklah," ucapnya pelan. "Kalau itu yang Anda inginkan."
Ia melangkah sedikit lebih dekat.
Jarak di antara mereka kini hampir tak ada.
Bella bisa merasakan napas pria itu.
Hangat.
Dekat.
Terlalu dekat.
"Nama saya Melvin Blastorios," ucapnya, suaranya rendah dan jelas. "Duke of Rostown."
Bella menahan napasnya.
Walaupun ia sudah mengetahui itu…
Mendengarnya langsung dari pria itu terasa berbeda.
Lebih nyata.
Lebih… menggetarkan.
"Aku Arabella Winston," jawab Bella pelan.
"Saya tahu."
"Kalau begitu, ini tidak adil," Bella tersenyum kecil.
Melvin mengangkat alisnya.
"Kenapa?"
"Karena Anda sudah mengenal saya… sementara saya tidak tahu apa-apa tentang Anda."
Melvin menatapnya.
Dalam.
Dan kali ini, tidak ada senyum di wajahnya.
"Kalau begitu, Anda harus berhati-hati dengan apa yang Anda minta, Nona Winston."
Bella tidak mundur.
Tidak kali ini.
"Aku sudah siap untuk itu."
Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.
HAnya suara hujan di luar yang terdengar semakin jelas.
Dan di tengah keheningan itu—
Ada sesuatu yang berubah.
Sesuatu yang tidak bisa dikembalikan lagi seperti sebelumnya.
Melvin akhirnya mengalihkan pandangannya sejenak, lalu kembali menatap Bella.
"Kalau begitu… izinkan saya bertanya satu hal."
"Apa?"
"Apakah Anda selalu sekeras kepala ini?"
Bella tersenyum.
"Dan apakah Anda selalu sesulit ini untuk dimengerti?"
Kali ini, Melvin benar-benar tertawa.
Dan tanpa mereka sadari—
Percakapan sederhana itu telah berubah menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar perkenalan.
Sesuatu yang perlahan…
Menarik mereka lebih dalam ke dalam satu sama lain.
Dan Bella tahu.
Malam ini—
Bukan sekadar awal dari sebuah rasa penasaran.
Tapi awal dari sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Sesuatu yang mungkin…
Tidak akan bisa ia hentikan lagi.
cerita nya keren👍👍👍