NovelToon NovelToon
SENJA TAK BERTUAN

SENJA TAK BERTUAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dokter / Penyelamat
Popularitas:115
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Yasmin selalu percaya bahwa kerapuhannya adalah kutukan, hingga Arya datang membawa kepastian di bawah senja. Di sana, mereka mencuri satu petak langit untuk saling memiliki. Namun, ketika ikrar telah terucap dan senja mulai meredup, semesta seolah menagih kembali kebahagiaan yang mereka dapatkan.

Dan, ketika kegelapan itu datang...

Yasmin tersadar satu hal, mereka tidak sedang memiliki senja, hanya sedang meminjamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TERIKAT

​Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam menembus kepadatan arus lalu lintas dari rumah sakit, mobil Arya akhirnya melambat dan berhenti di tepi sebuah taman yang tidak asing bagi mereka. Taman yang sama dengan yang mereka kunjungi kemarin.

​Yasmin tersentak dari lamunannya. Ia menoleh ke arah Arya dengan kening berkerut, lalu beralih memandang hamparan rumput hijau di luar jendela.

"Mas? Kok kita berhenti di sini lagi?" protes Yasmin, nadanya dipenuhi keheranan. "Bukannya tadi Mas bilang mau langsung pulang?"

​Arya tidak segera menjawab. Tangannya masih menggenggam kemudi, sementara matanya terpaku pada jam di dasbor yang menunjukkan tepat pukul empat sore. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah cakrawala, di mana langit mulai berubah warna, membiarkan gradasi biru perlahan meredup ditelan semburat jingga yang hangat.

​"Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu," ucap Arya akhirnya. Suaranya rendah, nyaris seperti bisikan yang tenang namun penuh rahasia.

​Tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut, Arya segera beringsut turun dari mobil. Gerakannya tegas, seolah ia takut akan melewatkan detik-detik berharga yang sedang ia kejar.

​Yasmin hanya bisa melongo, keheranan melihat sikap Arya yang mendadak hangat.

Namun, rasa penasaran akhirnya mengalahkan rasa bingungnya. Begitu Arya membukakan pintu mobil untuknya, Yasmin pun turun, membiarkan angin sore yang sejuk menyapa kulit wajahnya.

​"Sesuatu apa, Mas?" tanya Yasmin lagi, suaranya sedikit tertelan oleh desir angin.

​Arya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengisyaratkan dengan gerakan kepala agar Yasmin mengikutinya berjalan menuju sebuah area yang lebih tinggi di taman itu.

Dan hari ini, suasana lebih sedikit ramai dari hari kemarin. Beberapa orang ada yang sibuk bersepeda melewati jalan setapak. Ada juga mereka yang hanya duduk di bangku-bangku taman. Bahkan, sebuah bangku tempat dimana Arya mengobati lukanya kemarin, kali ini telah si duduki oleh pemilik lain—sepasang paruh baya tengah bercengkrama sambil menikmati cemilan mereka berdua.

Yasmin terkekeh pelan.

"Kenapa?" Tanya Arya penasaran.

​"Aku tadi lihat bangku taman yang kita duduki kemarin, Mas ..." Yasmin memulai pembicaraan, suaranya mengalun pelan di antara desau angin sore. Ia mencuri pandang ke arah Arya, mengamati profil samping wajah pria itu yang tampak tegas namun menyimpan kelelahan yang dalam. "... lucu deh, Mas. Kali ini ada sepasang kakek-nenek yang duduk di sana."

​Arya menghentikan langkahnya sejenak, menoleh dengan kening berkerut halus. "Lucu?" ulangnya datar. "Apa yang lucu dari orang tua yang duduk di bangku taman?"

​Pertanyaan logis Arya yang terlalu 'dokter' itu membuat Yasmin mendadak salah tingkah. Ia seolah tertangkap basah sedang memikirkan sesuatu yang konyol.

"Bahkan aku sendiri pun gak sempat merasakan duduk di bangku kayu itu bersamamu." Tambah Arya. "Apa yang menurut kamu itu hal yang lucu?"

​"Uhm..." Yasmin mengulum bibirnya rapat-rapat, mencoba menelan kembali kalimat yang hampir saja meluncur. "Eng-enggak sih, Mas. Maksudku... ah, lupakan. Gak lucu sama sekali, kok."

​Arya hanya mengangkat kedua bahunya tak acuh. "Aneh," gumamnya singkat. Tanpa berniat memperpanjang teka-teki tak bermakna itu, ia kembali melangkah lebih dulu, meninggalkan Yasmin yang masih terpaku di tempatnya.

​Yasmin membisu sesaat, menatap punggung tegap Arya yang kian menjauh. Di dalam benaknya, imajinasi itu masih menari-nari dengan liar. Tadi, saat melihat sepasang paruh baya itu duduk bersisian di bangku kayu yang sama, Yasmin sempat tertegun. Ia membayangkan sebuah skenario masa depan yang mustahil, ia dan Arya, duduk di sana dengan rambut yang memutih, mengenang masa sekarang sebagai sejarah pertama kali mereka berjumpa.

​Kenapa aku tiba-tiba punya pikiran sejauh itu? batin Yasmin menggelengkan kepalanya dengan kuat, berusaha mengusir bayangan tersebut.

Enggak, Yasmin. Sadar.

Kenapa tiba-tiba kamu membayangkan hal sejauh itu, Yasmin? Dia itu dokter, pria yang gak lebih dari penolong, dan dunianya terlalu jauh dari jangkauanmu.

​Namun, debaran di dadanya tidak bisa berbohong. Ada rasa hangat yang aneh setiap kali ia membayangkan hari tua bersama pria kaku itu.

​Sadar dirinya tertinggal cukup jauh, Yasmin segera mengerjapkan mata dan berseru, "Mas, tunggu!"

​Ia setengah berlari mengejar Arya yang terus berjalan tenang di depannya tanpa menoleh sedikit pun.

Di bawah langit yang kian menjingga, Yasmin merasa ada sesuatu yang mulai tumbuh di antara langkah-langkah mereka, sesuatu yang mungkin belum berani ia beri nama.

​"Mas. Kamu kok tega tinggalin aku?!" Protes Yasmin begitu berhasil menyejajarkan langkahnya yang sedikit pincang. Napasnya agak memburu, sementara wajahnya menekuk kesal. "Kamu tahu sendiri kan, kaki aku masih sakit!"

​Arya menghentikan langkahnya secara mendadak, membuat Yasmin nyaris menabrak punggung tegapnya. Ia berbalik perlahan, menatap wajah Yasmin yang kini tampak berbeda di bawah siraman cahaya senja yang keemasan.

​Ada guratan manja yang tidak biasanya terlihat di sana. Bibirnya yang sedikit mengerucut dan binar mata yang menuntut perhatian itu membuat pertahanan Arya sedikit goyah. Entah mengapa, kemarahan kecil Yasmin justru terlihat... manis.

"Udah gak usah manja." Sahut Arya datar.

Yasmin menohok.

Dengan tak berdosa, Arya memalingkan wajah dan memandang sapuan langit jingga yang terbentang luas dihadapannya. "Coba lihat ke sana," tunjuk Arya.

​Yasmin terdiam. Di hadapan mereka, matahari sore yang besar dan berwarna oranye keemasan perlahan-lahan turun, mencium garis cakrawala. Cahayanya memantul di permukaan danau kecil di tengah taman, menciptakan kilauan perak yang menari-nari. Segalanya tampak begitu tenang, begitu kontras dengan suasana ruang ICU dan rumah sakit yang mencekam beberapa jam lalu.

​Arya menarik napas panjang, membiarkan paru-parunya terisi udara segar. "Tadi di rumah sakit, aku merasa dunia begitu gelap," Arya memulai pembicaraan tanpa menoleh, matanya tetap pada sang surya. "Tapi melihat ini... aku hanya ingin diingatkan kembali bahwa setelah kegelapan yang paling pekat sekalipun, selalu ada keindahan yang menanti untuk muncul."

Arya menelan saliva. "Setiap kali tanganku merasa bersalah dan gagal... aku selalu datang kemari, ketika matahari hendak meninggalkan nyawanya hari ini."

Lagi, Arya menelan saliva, tenggorokannya terasa kering saat kalimat itu akhirnya meluncur bebas. Matanya yang tajam kini meredup, menyimpan luka yang selama ini ia sembunyikan di balik wibawa jubah putihnya.

Yasmin tertegun. Ia menghentikan langkahnya, membiarkan tangannya masih bertumpu pada lengan Arya. Ini adalah pertama kalinya ia melihat sisi rapuh dari seorang dokter yang selalu tampak tak tergoyahkan. Kalimat Arya barusan bukan sekadar kiasan, itu adalah pengakuan dosa dari seorang pria yang setiap harinya bertaruh nyawa melawan takdir.

​Arya menoleh sedikit, menatap garis cakrawala di mana warna jingga mulai ditelan kegelapan. "Di ruang ICU tadi, aku kehilangan satu nyawa lagi. Rasanya... seperti ada bagian dari diriku yang ikut mati setiap kali detak jantung mereka berhenti."

​Hening sejenak. Yasmin bisa merasakan ketegangan di otot lengan Arya yang ia pegang. Ia kini paham mengapa Arya membawanya ke sini—bukan untuk pamer keindahan, tapi untuk mencari sisa-sisa harapan di tengah keputusasaan.

​"Mas..." bisik Yasmin lirih. Ia ingin menghibur, namun ia tahu kata-kata itu seringkali tidak cukup untuk menyembuhkan trauma sang seorang dokter, apalagi dirinya.

​"Matahari itu..." Arya melanjutkan, jarinya menunjuk ke arah sang surya yang tinggal separuh. "... dia pergi, tapi dia berjanji akan kembali besok pagi. Aku datang ke sini hanya untuk meyakinkan diriku sendiri, bahwa kegagalanku hari ini bukan berarti akhir dari segalanya."

Arya kemudian menoleh menatap Yasmin yang ternyata sedari tadi mengunci geraknya. "Besok, aku harus bangun lagi. Aku harus mencoba menyelamatkan nyawa yang lain lagi."

​Yasmin merasakan dadanya sesak. Ia teringat kembali bayangannya tentang masa tua di bangku taman tadi. Ternyata, di balik sosok Arya yang kaku, ada jiwa yang begitu merindukan ketenangan. Secara tidak sadar, Yasmin mempererat pegangannya pada lengan Arya, seolah ingin menyalurkan sedikit kekuatan yang ia miliki untuk pria itu.

​"Kamu nggak gagal, Mas," ucapnya lembut. "Matahari butuh istirahat untuk bisa bersinar lagi. Begitu juga kamu."

Arya hanya menarik senyum tipis, sEbuah lengkungan di bibir yang begitu samar namun sarat akan kelegaan. Senyum yang jarang sekali ia perlihatkan di koridor rumah sakit yang dingin, kini muncul di bawah siraman cahaya jingga yang mulai meredup bersama seseorang.

"Dulu..." Yasmin melanjutkan. "... aku mengira dokter itu adalah monster yang jahat. Sosok yang hanya bisa membuat orang sekitar terluka dan menangis. Tapi... setelah waktu memberikan aku untuk hidup menjadi dewasa, aku paham akan satu hal. Bahwa kepergian seseorang itu bukan karena mereka lelah, tapi takdir."

Arya tertegun. Pengakuan itu meluncur begitu tulus dari bibir Yasmin, menghantam dinding pertahanan diri Arya yang selama ini ia bangun dengan logika medis yang kaku. Ia bisa merasakan dadanya berdenyut nyeri. Ia tahu Yasmin sedang membicarakan luka lamanya, luka kehilangan yang pernah ia ceritakan secara tersirat.

"Dan dokter, hanyalah perantara yang mencoba menunda takdir itu sebentar saja." Lanjut Yasmin.

Arya merasa tenggorokannya tercekat. Selama bertahun-tahun ia mengutuk dirinya sendiri atas setiap garis lurus di monitor jantung, baru kali ini ada seseorang yang memandangnya bukan sebagai mesin penyelamat, melainkan sebagai manusia yang juga sedang berjuang.

​"Monster yang jahat, ya?" gumam Arya perlahan, mencoba mencairkan suasana meski hatinya masih bergemuruh. "Lantas, kamu masih trauma akan hal itu? Apalagi... setelah aku mengenakan jubah hijau tadi, kamu begitu sangat ketakutan."

Yasmin tersenyum tipis, kali ini senyumnya terlihat lebih dewasa. "Iya. Tapi ketika monster itu ternyata juga bisa merasa sedih dan butuh ditemani melihat matahari terbenam..." celetuknya. "... rasanya bersama monster itu sekarang, biasa saja."

Arya terdiam cukup lama, menatap Yasmin dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa syukur yang membuncah di dalam dirinya. Entah perasaan apa itu, rasanya sulit ia beri nama.

​"Terima kasih sudah tidak lagi menganggapku monster, Yasmin," sahut Arya dengan suara yang jauh lebih berat dan dalam.

Di bawah temaram lampu taman yang mulai menyala satu per satu, Arya merasa bahwa mungkin, takdir jugalah yang membawa Yasmin menunggunya di sofa ruangannya tadi—hanya agar ia tidak perlu menghadapi kegelapan ini sendirian.

"Terima kasih, Yasmin..." Kata Arya lagi. Kali ini, ia berpaling menatap semburat jingga yang mulai memerah di ufuk sana.

Yasmin terkekeh kecil. "Terima kasih untuk apa, Mas? justru aku yang beribu-ribu berterima kasih padamu karena telah menyelamatkan aku, bahkan... rasa trauma menganggap dokter itu adalah monster hilang seketika, setelah tahu mereka ternyata manusia biasa yang memiliki rasa bersalah."

Arya mendesis. "Sejahat itukah aku?"

Yasmin hanya mengedikkan bahu pelan. Matanya berbinar jenaka di bawah langit senja. "Mungkin bukan jahat, Mas. Tapi terlalu... dingin? Seperti kulkas dua pintu yang lupa dicolokkan ke listrik."

Tawa kecil Yasmin pecah, menghapus sisa-sisa ketegangan yang sempat menggantung di antara mereka. Arya mendengus, namun sudut bibirnya tak bisa menahan diri untuk tidak ikut terangkat. Baru kali ini ada seseorang yang berani menyamakan seorang dokter spesialis bedah saraf dengan perlengkapan dapur.

​"Kulkas, ya?" Arya menggelengkan kepala, merasa geli sendiri. "Padahal aku berusaha terlihat berwibawa di depan pasien."

"Tapi yang kamu hadapi sekarang kan bukan pasienmu." Protes Yasmin.

"Lalu?" Arya mengernyitkan sebelah alisnya.

Sontak, saat itu juga Yasmin berpaling menatap riak tenang air danau didepannya. "Y-Ya... ya..."

Ia sembunyi memukul kepalanya di sisi kanan, merutuki kegugupannya sendiri yang mendadak muncul tanpa diundang.

"Aku juga kan yang mengobati lukamu kemarin." Tambah Arya menggoda.

"Hmm. I-itu..." Yasmin mengulum bibirnya. Namun, sedetik berikutnya, ia mendongak menatap Arya lagi. "Ma-Mana ada dokter yang akhirnya membelikan pasien pakaian dan mengajaknya makan siang?"

"Mungkin juga bisa." Jawab Arya dengan anggukkan tegasnya, nadanya sedikit menantang dan tak ingin kalah.

"Enggak, lah... Mas." Sahut Yasmin. "Itu artinya, kamu udah melanggar kode etik kedokteran, Mas."

"Kalau dokter itu menganggap pasiennya spesial, bagaimana?"

"Uh?"

Arya bungkam seketika. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya, lebih cepat dari logika medis yang biasanya selalu ia agungkan. Ia tersadar bahwa kalimat itu bukan lagi sebuah pengandaian klinis, melainkan sebuah pengakuan yang telanjang.

"A-apa, Mas?" Desak Yasmin meminta kalimatnya itu di ulang, berharap ia tak salah mendengar.

"Ah." Geleng Arya. "Lupakan. Ayo pulang!"

Arya segera berbalik dan lebih dulu bergerak meninggalkan Yasmin di belakang. Langkahnya yang semula tenang mendadak berubah menjadi derap cepat yang tidak beraturan. Ia hampir setengah berlari menuju mobil, seolah-olah aspal di bawah kakinya baru saja berubah menjadi bara api. Punggung tegapnya menegang, dan telinganya memerah hingga ke pangkal leher—sebuah reaksi biologis yang tidak bisa ia sembunyikan dengan teori medis mana pun.

"Mas, tunggu! Kamu bilang aku spesial?!" Kata Yasmin menuntut penjelasan.

Suaranya melengking menembus kesunyian taman.

​Arya tidak menoleh. Ia terus melangkah, tangannya merogoh saku celana mencari kunci mobil dengan gerakan yang sedikit ceroboh. "Sudah sore, Yasmin. Anginnya makin dingin, nggak baik buat kesehatan." sahutnya ketus, mencoba mengalihkan pembicaraan dengan tameng profesionalitasnya yang sudah retak seribu.

​"Enggak bisa gitu dong, Mas!" Yasmin mempercepat langkahnya, mengabaikan rasa nyeri yang sesekali berdenyut di kakinya. Ia berhasil menyusul dan menarik ujung lengan kemeja Arya, memaksa pria itu berhenti tepat di samping pintu mobil.

​"Tadi itu apa maksudnya? Dokter yang menganggap pasiennya spesial?" Yasmin mendongak, matanya berbinar penuh selidik sekaligus geli melihat kegagapan pria di hadapannya. "Mas Arya... kamu baru saja mengaku, ya?"

​Arya menarik napas panjang, terjepit antara pintu mobil dan tatapan menuntut Yasmin. Ia memejamkan mata sejenak, merutuki mulutnya yang tadi bicara tanpa filter itu. "Aku cuma memberikan analogi medis, Yasmin. Jangan dipikirkan terlalu jauh," kilahnya, meski suaranya sedikit serak.

​Yasmin tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat renyah di telinga Arya. "Analogi medis? Sejak kapan 'spesial' jadi istilah medis, Dokter Arya? Itu namanya pengakuan!"

​Arya terdiam, ia menatap Yasmin yang kini tersenyum penuh kemenangan di depannya. Di bawah temaram lampu parkir yang kuning keemasan, Arya menyadari bahwa melarikan diri dari gadis ini jauh lebih sulit daripada melakukan operasi bedah saraf selama sepuluh jam.

​"Masuk ke mobil," perintah Arya akhirnya, suaranya kembali rendah namun kali ini tanpa nada dingin. Ia membukakan pintu untuk Yasmin.

Yasmin hanya mengangguk menurut. "Pasien spesial akan selalu menurut."

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!