NovelToon NovelToon
The Dancing Soul

The Dancing Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Suasana di koridor rumah sakit yang dingin dan berbau karbol itu mendadak mencekam saat Liana melangkah keluar sebentar untuk mengambil air minum.

Erwin sudah berdiri di sana, bersandar di dinding dengan tangan bersedekap dan wajah yang mengeras seperti batu karang.

"Kamu benar-benar mau menunggunya di dalam?" suara Erwin rendah, namun sarat dengan kekecewaan yang mendalam.

"Setelah apa yang dia lakukan padamu di Jakarta? Setelah dia membiarkan wanita itu menghinamu?"

Liana menghentikan langkahnya, ia menunduk menatap lantai ubin yang mengkilap.

"Dia sedang sakit, Win. Badannya panas sekali. Aku tidak tega meninggalkannya dalam kondisi seperti itu di tempat yang asing baginya."

Erwin melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Matanya berkilat marah.

"Dia punya uang, Li! Dia punya asisten, punya kru film, punya segalanya! Dia tidak butuh belas kasihanmu. Ini cuma cara dia untuk mengikatmu lagi dalam sandiwaranya!"

"Aku hanya menjaganya, Win!" potong Liana dengan suara yang sedikit meninggi namun tertahan.

Ia menatap Erwin dengan mata yang berkaca-kaca.

"Hanya sampai demamnya turun. Setelah itu, aku akan tetap kembali ke Jakarta untuk menyelesaikan kontrak filmku. Aku melakukannya demi kru yang lain, bukan cuma karena dia."

Erwin terdiam sejenak, rahangnya mengeras. Ia tahu sifat Liana yang terlalu lembut dan sulit melihat orang lain menderita, bahkan orang yang telah menyakitinya sekalipun.

Erwin menarik napas panjang, mencoba meredam api cemburu yang membakar dadanya.

"Baik," ucap Erwin tiba-tiba dengan nada yang sangat serius.

"Kalau kamu tetap keras kepala ingin kembali ke Jakarta, aku tidak akan melarangmu lagi. Tapi ada satu syarat."

Liana mendongak, menatap sahabatnya dengan bingung.

"Syarat apa?"

"Aku ikut ke Jakarta," tegas Erwin.

"Mulai detik ini, aku yang akan menjadi managermu. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian lagi di sana. Aku yang akan mengatur jadwalmu, aku yang akan menghadapi orang-orang seperti Arum, dan aku yang akan memastikan si Adrian itu tidak macam-macam lagi padamu."

Liana tertegun. Ia melihat kesungguhan yang luar biasa di mata Erwin—sebuah perlindungan yang tulus yang tidak pernah ia dapatkan dari Adrian.

Ia tahu Erwin rela meninggalkan pekerjaannya di desa hanya untuk menjaganya di belantara Jakarta yang kejam.

Setelah keheningan yang cukup lama, Liana akhirnya menganggukkan kepalanya perlahan.

"Baiklah, Win. Kalau itu maumu, aku setuju. Jadilah managerku."

Erwin sedikit lega, meski matanya tetap melirik tajam ke arah pintu kamar nomor 302 tempat Adrian terbaring.

"Sekarang masuklah. Selesaikan urusan 'kemanusiaanmu' itu. Besok pagi, kita semua berangkat ke Jakarta, dan ingat, aku akan selalu ada di sampingmu."

Liana kembali masuk ke dalam kamar dengan perasaan yang lebih tenang namun juga lebih berat.

Ia tahu, perjalanan kembali ke Jakarta kali ini tidak akan sama lagi.

Ada Adrian yang memohon pengampunan, dan ada Erwin yang berdiri sebagai benteng pelindungnya.

Di dalam kamar perawatan yang sunyi, hanya terdengar suara detak jantung yang teratur dari mesin monitor.

Cahaya lampu kamar yang redup menyinari wajah Adrian yang masih tampak pucat, namun matanya kini terbuka lebar, menatap lurus ke arah wanita yang duduk setia di samping tempat tidurnya.

Liana duduk dengan punggung tegak, namun tangannya masih memegang handuk kecil yang tadi ia gunakan untuk menyeka kening Adrian.

Ada keheningan yang dalam di antara mereka—sebuah keheningan yang sarat akan kenangan manis di Puncak dan luka pahit di Jakarta.

Adrian menggerakkan tangannya yang lemas, mencoba mencari ujung jemari Liana di atas seprai putih itu.

Tatapannya sendu, penuh dengan penyesalan yang tak terucapkan.

"Terima kasih, Liana..." ucap Adrian dengan suara parau yang nyaris berupa bisikan.

"Terima kasih karena tidak membiarkanku sendirian di sini. Terima kasih karena masih mau menatapku setelah semua kebodohan yang aku lakukan."

Liana terdiam sejenak, matanya menatap tangan Adrian yang gemetar.

Ia tidak menarik tangannya, namun ia juga tidak membalas genggaman itu.

Hatinya masih terasa seperti kaca yang retak, yang jika disentuh terlalu keras akan hancur berkeping-keping.

"Aku melakukannya karena kemanusiaan, Adrian," jawab Liana lirih, suaranya datar namun ada getaran luka di sana.

"Aku tidak ingin ada orang yang menderita di depanku, apalagi di tanah kelahiranku sendiri."

Adrian tersenyum pahit, ia tahu bahwa pengampunan Liana tidak akan datang semudah itu.

"Apapun alasanmu, Liana. kehadiranmu di sini adalah oksigen bagiku. Aku merasa hidup kembali hanya dengan melihat bayanganmu di ruangan ini."

Adrian menatap langit-langit kamar sebentar, lalu kembali menatap Liana dengan tatapan yang lebih serius.

"Besok kita kembali ke Jakarta. Aku berjanji, Liana, kali ini tidak akan ada lagi sandiwara. Tidak ada lagi Arum. Aku akan melindungimu dengan caraku sendiri."

Liana menarik napas panjang, teringat akan kesepakatannya dengan Erwin di koridor tadi.

"Kamu tidak perlu repot-repot melindungiku lagi, Pak Adrian. Mulai besok, aku punya pelindungku sendiri. Erwin akan ikut ke Jakarta sebagai manager pribadiku."

Mendengar nama Erwin, rahang Adrian mengeras sesaat, namun ia segera meredam egonya.

Ia tahu ia tidak punya hak untuk memprotes setelah apa yang terjadi.

"Kalau itu yang membuatmu merasa aman, aku tidak keberatan," bisik Adrian pelan.

"Asalkan aku masih bisa melihatmu menari di depan kameraku, itu sudah cukup bagiku untuk saat ini."

Liana hanya mengangguk pelan, lalu berdiri untuk mengganti air kompresan yang sudah mulai dingin.

Ia tahu, perjalanan ke Jakarta besok akan menjadi babak baru yang penuh duri, di mana cinta, benci, dan ambisi akan kembali beradu di bawah lampu spotlight ibu kota.

Pintu kamar rawat terbuka pelan, memecah kesunyian yang sempat menggantung di antara mereka.

Seorang perawat masuk membawa nampan berisi bubur putih hangat dan obat-obatan. Setelah meletakkan nampan itu di meja nakas, perawat tersebut tersenyum ramah dan pamit keluar, meninggalkan aroma makanan rumah sakit yang hambar.

Liana menarik napas panjang. Ia meraih mangkuk bubur itu, mengaduknya pelan agar uap panasnya berkurang, lalu menyodorkan sesuap ke arah mulut Adrian.

Adrian menatap Liana dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara syukur dan rasa bersalah yang amat dalam.

"Makanlah, Pak Adrian. Kamu butuh tenaga untuk perjalanan besok," ucap Liana datar.

Adrian menerima suapan itu dengan patuh. Namun, baru dua suap masuk ke tenggorokannya, Liana meletakkan kembali sendok itu ke dalam mangkuk.

Matanya yang jernih kini menatap tajam ke arah manik mata Adrian, menuntut kejujuran yang selama ini terkubur di bawah skenario film.

"Apakah kamu mencintai Arum?" tanya Liana tiba-tiba.

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, tajam dan menusuk.

Adrian tersedak pelan, ia menggelengkan kepalanya dengan cepat meski badannya masih lemas.

"Tidak, Liana. Hubungan itu hanya urusan bisnis antar keluarga. Aku tidak pernah memiliki perasaan seperti yang aku miliki padamu."

Liana tersenyum getir, senyum yang penuh dengan luka yang belum kering.

Ia teringat kembali malam di mana ia melihat Adrian membiarkan Arum memeluknya di depan banyak orang.

Ia tidak tahu bahwa di belakangnya, Arum telah menghinanya dengan sebutan "wanita kampung" yang menjijikkan, namun luka yang ia rasakan sudah cukup dalam tanpa perlu tahu kata-kata itu.

"Lalu, malam itu..." Liana menjeda kalimatnya, suaranya mulai bergetar.

"Malam di Puncak, waktu kita melakukannya. Apakah kamu melakukannya karena terpaksa? Karena tuntutan peran, atau hanya karena kamu sedang butuh pelampiasan?"

Adrian mencoba duduk tegak, mengabaikan rasa pening di kepalanya.

"Liana, jangan bicara begitu. Malam itu adalah malam paling nyata dalam hidupku—"

"Bukankah aku bukan tipemu?" potong Liana dengan suara yang pecah. Ia menatap tubuhnya sendiri dengan benci.

"Aku hanya penari pasar yang beruntung masuk ke filmmu. Aku hanya wanita gendut yang tidak punya kelas dibandingkan Arum yang glamor itu. Kenapa kamu harus memilihku untuk kamu hancurkan, Adrian?"

Mendengar kata "wanita gendut" dan "penari pasar" keluar dari mulut Liana, jantung Adrian seolah diremas.

Ia meraih tangan Liana yang memegang mangkuk, menggenggamnya kuat-kali ini ia tidak akan melepaskannya meski Liana memberontak.

"Siapa yang bilang begitu?" desis Adrian dengan mata yang berkilat penuh amarah, namun juga kesedihan.

"Bagiku, kamu adalah penari paling indah yang pernah aku lihat. Kamu bukan 'tipe' bagiku karena kamu adalah segalanya. Jangan pernah rendahkan dirimu sendiri hanya karena kebodohanku dalam menjaga perasaanmu."

Liana menarik tangannya, air matanya jatuh tepat ke dalam mangkuk bubur yang masih hangat.

"Kata-kata manis tidak akan mengubah kenyataan bahwa aku hanyalah orang asing di duniamu, Adrian. Besok kita kembali ke Jakarta, tapi jangan harap semuanya akan sama lagi."

Liana meletakkan mangkuk bubur yang kini sudah kosong ke atas nakas.

Dengan gerakan yang telaten namun terasa ada jarak yang lebar, ia menarik selimut tebal rumah sakit itu hingga sebatas dada Adrian.

Ia merapikan ujung-ujung kainnya, memastikan pria itu merasa hangat di tengah suhu ruangan yang dingin karena pendingin udara.

"Istirahatlah, Pak Adrian," ucap Liana lembut namun datar.

"Besok perjalanan ke Jakarta akan sangat panjang. Kamu butuh energi untuk menghadapi kenyataan di sana."

Liana hendak berbalik untuk duduk kembali di kursi plastiknya, namun sebuah tarikan lembut namun posesif menahan pergelangan tangannya. Adrian, meski masih lemas, mencengkeram jemari Liana seolah takut jika ia melepasnya, wanita itu akan menguap seperti asap.

Adrian menggeser tubuhnya yang kaku ke tepi ranjang, menyisakan ruang kecil di sampingnya.

Matanya yang sayu menatap Liana dengan binar kerinduan yang sangat dalam, sebuah tatapan yang dulu selalu berhasil meluluhkan pertahanan Liana di Puncak.

"Naiklah ke sini, Liana..." bisik Adrian parau.

"Hanya sebentar. Aku ingin merasakan detak jantungmu. Aku ingin tahu bahwa kamu benar-benar nyata di sini, bukan sekadar halusinasi demamku."

Liana terpaku. Jantungnya berdesir hebat mendengar permintaan itu.

Ingatan tentang kehangatan pelukan Adrian di vila malam itu sempat melintas, namun dengan cepat ia tersadar.

Bayangan Arum yang berdiri angkuh dan tamparan keras yang mendarat di pipi Adrian kemarin seolah menjadi pengingat yang menyakitkan.

Liana menggelengkan kepalanya perlahan, menarik tangannya dengan tegas dari genggaman Adrian.

"Tidak, Pak Adrian," jawab Liana dengan suara yang bergetar namun pasti.

"Tempatku bukan di sana lagi. Batasan di antara kita sudah jelas sekarang. Aku di sini sebagai rekan kerja yang menjaga rasa kemanusiaan, bukan sebagai wanita yang bisa kamu tarik kapan saja kamu mau."

Adrian tertegun, tangannya yang kosong kini menggantung di udara.

Ia melihat keteguhan di mata Liana yang biasanya selalu tunduk dan malu-malu.

"Liana, aku—"

"Tidurlah," potong Liana.

Ia membalikkan badan, berjalan menuju kursi di sudut ruangan dan duduk di sana, membelakangi Adrian.

"Erwin ada di depan pintu. Jika terjadi sesuatu, aku akan memanggilnya. Jangan meminta hal yang hanya akan menambah luka baru bagi kita berdua."

Keheningan malam di rumah sakit itu terasa semakin berat.

Adrian hanya bisa menatap punggung Liana dengan rasa sesal yang menyesakkan dada, menyadari bahwa meskipun mereka berada di ruangan yang sama, hati Liana kini berada di tempat yang sangat jauh dari jangkauannya.

1
Laila Isabella
awal cerita yg menarij
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
merry yuliana
hmmmmmm bioin si adrian bertekuk.lutit bucin abis sama liana kak
winpar
ceritanya seru
merry yuliana
hadir kak
ditunggu crazy upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!