Di dunia ini, ada aturan yang tidak tertulis namun absolut: Terang tidak akan pernah bisa bersatu dengan gelap, dan nyawa seorang mafia tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggu keluarganya.
Bagi Kaelan, aturan itu adalah kutukan.
Di dalam ruang rapat utama kediaman klan, yang dihiasi lampu gantung kristal senilai ratusan juta, udara terasa mencekik. Lima pria tua dengan jas rapi duduk mengelilingi meja mahoni panjang. Mereka adalah para Tetua—urat nadi dari bisnis gelap yang Kaelan pimpin. Di atas meja, tergeletak sebuah foto wanita bergaun sutra merah dengan senyum anggun yang memuakkan.
"Isabella dari klan Vivaldi. Cantik, penurut, dan yang paling penting... dia akan memperkuat aliansi bisnis senjata kita di Eropa, Kaelan," ucap salah satu Tetua dengan suara seraknya yang penuh tuntutan. "Pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan. Tidak ada penolakan."
Kaelan bersandar di kursi kebesarannya. Mata elangnya menatap foto itu d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saerin853, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Matahari pagi baru saja mengintip dari ufuk timur, memantulkan cahaya keemasan di atas riak ombak samudra. Namun, suasana di dermaga kayu pulau pribadi itu tidak lagi sesantai hari-hari sebelumnya. Hawa liburan telah menguap, digantikan oleh keseriusan yang pekat.
Speedboat berukuran besar sudah menyalakan mesinnya. Koper-koper berisi senjata dan perlengkapan medis telah dinaikkan oleh anak buah Rico.
Kaelan berdiri di ujung dermaga. Kaus kuning dan celana pendek linen telah digantikan oleh setelan jas tiga potong berwarna hitam legam yang dipesan khusus, lengkap dengan mantel panjang yang berkibar tertiup angin laut. Sang Bos Es telah kembali sepenuhnya, siap menumpas sisa-sisa pengkhianat di kotanya. Di sebelahnya, Anya berdiri dengan jaket kulit kebesarannya, menggenggam tongkat bisbol aluminiumnya erat-erat.
Di dekat tangga kapal, adegan perpisahan yang mengharukan sedang terjadi.
Keira, yang kini mengenakan pakaian kasual yang lebih praktis untuk perjalanan, memeluk erat pria paruh baya di hadapannya.
"Jaga kesehatanmu, Ayah. Jangan terlalu sering mengangkat barang berat," bisik Keira, air mata menggenang di sudut matanya saat ia mengeratkan pelukannya pada Ragas.
Ragas membalas pelukan putri tunggalnya itu sambil menepuk-nepuk punggungnya penuh kasih sayang. Mata pelayan tua yang biasanya tenang itu kini ikut berkaca-kaca. "Kau juga, Keira. Hati-hati di kota. Berjanjilah pada Ayah kau akan baik-baik saja."
"Dia akan sangat aman, Paman Ragas. Nyawa saya taruhannya."
Sebuah suara berat dan mantap terdengar dari belakang Keira. Rico melangkah maju, tangannya dengan sangat natural mengambil alih tas jinjing milik Keira. Pandangan mata sang tangan kanan mafia itu bertemu dengan Ragas, memancarkan keseriusan dan janji seorang pria sejati.
Ragas tertegun sejenak melihat interaksi itu. Sebagai seorang ayah yang sangat peka, ia langsung menyadari perubahan dinamika di antara putrinya dan pengawal setia Kaelan tersebut. Sebuah senyum kelegaan perlahan mengembang di wajah keriput Ragas. Ia mengangguk pelan pada Rico.
"Saya pegang kata-katamu, Rico," ucap Ragas, matanya menyiratkan restu yang tak terucapkan.
Setelah perpisahan usai, rombongan itu menaiki speedboat yang langsung melesat membelah ombak menuju pesawat jet pribadi yang sudah menunggu di pulau seberang. Perjalanan udara kembali ke kota terasa cepat dan dipenuhi keheningan yang menegangkan.
Beberapa jam kemudian, rombongan tiba di penthouse mewah Kaelan yang terletak di lantai tertinggi salah satu gedung pencakar langit di pusat kota.
Begitu pintu lift terbuka, suasana markas mafia langsung terasa. Puluhan pria bersetelan hitam bersenjata lengkap berjaga di setiap sudut ruangan, menunduk hormat saat Kaelan melangkah masuk.
Anya memutar lehernya, membunyikan tulang-tulangnya. "Nah, ini baru tempat yang kukenal. Aroma kopi mahal dan aura membunuh di mana-mana."
Kaelan tidak membuang waktu. Ia langsung menuju ruang kerja besarnya, yang kini telah disulap menjadi ruang strategi. Sebuah peta digital raksasa menyala di atas meja kaca di tengah ruangan, menampilkan denah sebuah rumah sakit swasta kelas atas.
Rico, yang sudah kembali ke mode profesionalnya, memaparkan situasi dengan cepat. "Paman Arthur memindahkan perawatannya ke sayap VIP di lantai delapan Rumah Sakit St. Jude. Dia menyewa tentara bayaran tambahan untuk menjaga seluruh koridor. Dia berencana melarikan diri ke luar negeri malam ini menggunakan helikopter medis dari atap rumah sakit."
"Dia tidak akan pernah mencapai atap itu," desis Kaelan dingin, memasukkan magasin peluru ke dalam pistol SIG Sauer-nya dengan bunyi klik yang mematikan. "Kita serang dari basement dan potong jalur listriknya. Aku sendiri yang akan menemuinya di lantai delapan."
Anya mendengus semangat, memukulkan tongkat bisbolnya ke telapak tangannya sendiri. "Bagus. Aku akan mengurus para penjaga di lorong tangga. Otot mereka mungkin besar, tapi lutut mereka pasti rapuh kalau dipukul dengan—"
"Tidak."
Suara Kaelan memotong ucapan Anya dengan cepat dan mutlak. Pria itu meletakkan pistolnya di atas meja, lalu berjalan menghampiri istrinya.
Anya memberengut, menatap Kaelan dengan tatapan protes. "Apa maksudmu 'tidak'? Kaelan, kita sudah membahas ini! Aku tidak mau dikurung lagi! Aku ini istrimu, bukan pajangan!"
Lucia dan Keira, yang berdiri di sudut ruangan, hanya bisa bertukar pandang dengan cemas. Mereka tahu pertengkaran hebat bisa pecah kapan saja jika menyangkut keras kepalanya seorang Anya.
Kaelan berhenti tepat di depan Anya. Alih-alih membentaknya seperti yang ia lakukan di pulau sebelum pergi berperang, Kaelan kini menggunakan taktik yang jauh lebih cerdas. Ia tahu bagaimana cara menaklukkan hati preman pasarnya.
Kaelan mengangkat kedua tangannya, memegang bahu Anya dengan lembut namun tegas. Ia menatap lurus ke dalam mata gadis itu.
"Arthur sudah tersudut, Anya. Dan hewan buas yang tersudut akan menyerang apa saja yang paling berharga bagi musuhnya," ucap Kaelan dengan suara rendah yang menggetarkan. "Kalau dia tahu kau ikut ke sana, dia akan menjadikanmu target utama. Konsentrasiku akan terpecah."
"Aku bisa menjaga diriku sendiri, Bos Es!" bantah Anya keras kepala.
"Aku tahu kau bisa. Kau wanita paling tangguh yang pernah kukenal," Kaelan memuji dengan tulus, membuat kata-kata bantahan di ujung lidah Anya tertahan.
Kaelan kemudian menoleh ke arah sudut ruangan, menunjuk Lucia yang sedang menggigit kukunya dengan cemas, dan Keira yang berdiri memeluk lengannya sendiri.
"Tapi mereka tidak bisa menjaga diri mereka sendiri, Anya," lanjut Kaelan, mengembalikan tatapannya pada istrinya. "Rumah sakit itu hanya pengalihan. Arthur mungkin mengirim sisa pembunuh bayarannya ke penthouse ini untuk menyerang dari belakang saat aku pergi. Jika itu terjadi... siapa yang akan melindungi Lucia dan Keira?"
Mata Anya sedikit membesar. Ia melirik ke arah dua wanita di sudut ruangan itu. Lucia, gadis imut yang periang, dan Keira, wanita anggun yang lembut. Keduanya sama sekali tidak tahu cara bertarung.
"Aku tidak bisa mempercayakan nyawa mereka pada pengawal biasa," suara Kaelan semakin merendah, bernada memohon namun penuh otoritas. Ia mengusap pipi Anya dengan ibu jarinya. "Aku butuh komandan di sini. Aku butuh Nyonya Obsidian untuk menjaga benteng terakhir ini selagi aku menghancurkan garis depan mereka."
Skakmat.
Kaelan berhasil memutarbalikkan keadaan. Ia tidak menyuruh Anya bersembunyi seperti orang lemah; ia justru memberikan gadis itu misi yang sangat penting—misi untuk melindungi orang lain.
Jiwa pelindung jalanan di dalam diri Anya meronta, namun kali ini ia tidak bisa membantah. Ia menatap Kaelan, lalu menatap tongkat bisbolnya, dan menghela napas panjang yang terdengar sangat kasar.
"Sialan kau, Kaelan. Kau tahu persis cara membuatku tutup mulut, ya?" rutuk Anya, meski rona merah samar muncul di pipinya.
Anya mencengkeram kerah jas Kaelan, menarik wajah bos mafia itu hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. "Dengar baik-baik, Kulkas Dua Pintu. Aku akan menjaga benteng ini dan memastikan tidak ada satu nyamuk pun yang bisa menyentuh Lucia atau Keira. Tapi kalau kau sampai terluka parah di rumah sakit itu... aku sendiri yang akan menyelesaikan sisa nyawamu."
Kaelan menyeringai miring, sebuah seringai tampan dan mematikan yang menjadi ciri khasnya. Ia menunduk, mengecup bibir Anya dengan cepat dan posesif di depan semua orang yang ada di ruang strategi itu.
"Itu kesepakatan yang adil, Istriku," bisik Kaelan.
Ia melepaskan Anya, lalu menoleh ke arah Rico dan anak buahnya. "Ayo bergerak. Kita akhiri pemberontakan ini sekarang juga."
Saat Kaelan dan pasukan berjas hitamnya melangkah keluar dari penthouse, Anya berbalik menghadap Lucia dan Keira. Preman pasar itu menyandarkan tongkat bisbolnya di bahu, tersenyum menyeringai layaknya bos mafia sungguhan.
"Nah, Nona-nona," ucap Anya, membunyikan ruas-ruas jarinya. "Selagi pria-pria itu bermain tembak-tembakan di luar sana, bagaimana kalau kita pesan piza ekstra keju dan bersiap memukul mundur siapa pun yang berani mengetuk pintu rumah ini?"
Lucia memekik girang, rasa cemasnya hilang seketika, sementara Keira hanya bisa tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya kagum. Berada di bawah perlindungan Nyonya Obsidian ternyata terasa jauh lebih aman daripada dijaga oleh puluhan pengawal bersenjata api.