NovelToon NovelToon
Pawang CEO Galak: Bos, Izinkan Saya Resign!

Pawang CEO Galak: Bos, Izinkan Saya Resign!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:22.3k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Dominic Vance bukan sekadar CEO; dia adalah monster korporat yang menghancurkan perusahaan demi olahraga. Kejam, paranoid, dan tak tersentuh.

​Hanya satu orang yang berani menatap matanya tanpa gemetar: Harper Sloane, sekretaris eksekutifnya yang berhati dingin. Harper membereskan kekacauan Dominic, memegang semua rahasia gelapnya, dan menjadi satu-satunya wanita yang tidak bisa dibeli dengan uang.

​Namun, saat Harper mengajukan pengunduran diri untuk membalas dendam masa lalunya, Dominic tidak memecatnya. Dia mengunci pintu. Baginya, Harper bukan sekadar aset. Dia adalah obsesi.

​"Kau bisa lari ke ujung dunia, Harper. Tapi aku akan membeli tanah tempatmu berpijak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Bab 9: Kandidat 3 - Si Sempurna

​"Silakan masuk, Klara." Harper mendorong pintu kayu raksasa itu lebar. "Ini kandidat ketiga kita."

​Dominic yang sedang bersandar santai di kursinya memutar bola mata. Dia baru saja menarik napas lega setelah si jenius kacamata keluar. Sekarang Harper sudah membawa korban baru. Pandangan Dominic langsung mengunci sosok wanita yang berjalan masuk mengekor di belakang Harper.

​Klara melangkah masuk dengan ketenangan seorang pembunuh bayaran profesional. Tidak ada bunyi hak sepatu yang berisik karena dia memakai pantofel datar hitam. Pakaiannya setelan blazer abu-abu polos tanpa merek, celana bahan lurus, dan kemeja putih yang dikancingkan sampai ke pangkal leher. Rambut hitamnya diikat cepol sangat ketat sampai Dominic yakin kulit kepala wanita itu tertarik ke belakang. Wajahnya bersih, tanpa riasan sama sekali. Sangat biasa. Sangat standar.

​"Klara," panggil Dominic dengan nada tajam. "Kamu tahu aku baru saja membuat dua orang menangis dan berlari keluar dari ruangan ini?"

​"Aku tahu, Pak Dominic." Klara menjawab dengan nada suara sedatar papan setrika. "Harper sudah memberikan laporannya padaku di lobi tadi. Rata-rata masa mental karyawan baru di ruangan ini adalah sepuluh menit. Aku berencana mematahkan rekor itu hari ini."

​Dominic mendengus. Menarik. Wanita ini tidak punya rasa takut. Tapi Dominic pantang menyerah. Di atas meja kerjanya ada tumpukan dokumen tebal dari perusahaan logistik bernama Jalur Lintas Nusantara.

​"Kita lihat saja nanti," tantang Dominic. Dia melempar setumpuk kertas itu ke ujung meja hingga berhamburan. "Semua laporan itu salah ketik. Berantakan. Cari kesalahannya, hitung ulang pajaknya, dan perbaiki dalam waktu sepuluh menit. Kalau kamu gagal, pintu keluar terbuka lebar untukmu."

​Klara bahkan tidak mengedipkan mata. Dia berjalan tenang ke meja, mengeluarkan bolpoin merah jambu dari sakunya, dan mulai membalik halaman. Gerakannya sangat cepat. Suara kertas yang dibalik terdengar seperti baling-baling kipas angin. Matanya bergerak lincah dari kiri ke kanan. Jari telunjuknya mengetuk meja mengikuti irama otaknya yang sedang berhitung.

​Dominic melipat tangan di dada. Dia menunggu wanita itu berkeringat dingin, mengeluh sakit kepala, atau setidaknya memohon tambahan waktu. Tapi Klara terus bekerja dalam keheningan total.

​Tepat delapan menit kemudian, Klara menutup dokumen itu. Dia merapikan kertas-kertas yang berantakan menjadi satu tumpukan rapi dalam dua ketukan di meja.

​"Selesai, Pak," lapor Klara. "Ada tiga puluh kesalahan penulisan angka desimal, empat kesalahan rumus penyusutan aset, dan dua halaman yang tertukar urutannya. Semuanya sudah aku revisi dan aku tandai. Aku juga sudah membuatkan ringkasannya."

​Dominic ternganga. Dia melirik Harper. Sekretarisnya itu kini sedang bersandar di dinding sambil menyilangkan tangan, tersenyum sinis penuh kemenangan.

​"Jangan senang dulu," geram Dominic pada Harper. Dia kembali menatap Klara. "Dokumen itu urusan anak magang. Sekarang urusan yang menentukan hidup matimu di sini. Buatkan kopi. Arabika murni. Suhu harus sembilan puluh derajat."

​"Sudah aku siapkan sejak awal, Pak." Klara membuka tas jinjing kanvasnya. Dia mengangkat sebuah termos logam kecil. Dengan cekatan, dia menuangkan cairan hitam pekat ke dalam cangkir porselen putih yang juga dia bawa sendiri dari rumah. Asap tipis mengepul sempurna. Aroma kopi segar langsung menyebar memenuhi seluruh penjuru ruangan.

​"Biji kopi dari perkebunan lokal Lereng Sejahtera," jelas Klara seraya menyodorkan cangkir itu. "Digiling tepat dua puluh menit yang lalu. Suhunya persis sembilan puluh derajat celcius, tidak lebih tidak kurang."

​Dominic menatap cangkir itu seolah isinya adalah racun sianida. Dia mengambilnya dengan tangan sedikit kaku. 

Ini pasti jebakan. Dia mendekatkan cangkir ke hidungnya. 

Aromanya sempurna. Dia menyesapnya pelan. 

Pahitnya pas, tingkat keasamannya seimbang, dan suhunya terasa nyaman meluncur di tenggorokan. 

Sialan. Wanita ini setengah manusia setengah mesin.

​"Bagaimana rasanya, Pak?" tanya Klara polos.

​Dominic meletakkan cangkir itu kembali ke meja. Jantungnya berdebar kencang.

Dia kehabisan amunisi.

Dokumen beres. Kopi sempurna. 

Penampilan sama sekali tidak memancing perhatian. Klara adalah wujud nyata dari karyawan ideal yang tertulis di buku panduan bisnis paling membosankan di dunia.

​Harper berjalan perlahan mendekati meja. Dia meletakkan selembar kertas kontrak di hadapan Dominic beserta sebuah pulpen mahal.

​"Silakan tanda tangan di sini, Pak," ucap Harper dengan nada puas. "Persetujuan seratus persen dari CEO. Sesuai klausul kontrak kerja kita. Klara lulus semua ujian."

​Dominic menatap pulpen itu. Kalau dia menandatanganinya, Harper akan pergi hari ini juga. 

Harper akan keluar dari gedung ini, meninggalkannya bersama mesin fotokopi bernapas ini. 

Tidak. Dia menolak. 

Dia menginginkan Harper yang suka melawan, bukan Klara yang cuma bisa menuruti perintah.

​Dominic bangkit berdiri. Dia berjalan mengitari meja dan mendekati Klara. 

Jarak mereka sangat dekat. Dominic menatap wajah Klara lekat-lekat. 

Matanya menelusuri dahi, hidung, pipi, hingga dagu Klara. Dia mencari satu saja kecacatan untuk dijadikan alasan pemecatan. 

Ketombe? Bersih. 

Bau badan? Hanya tercium wangi sabun mandi bayi.

​Napas Dominic memburu. Otaknya bekerja keras menyusun alasan paling masuk akal.

​"Bapak mencari sesuatu di wajahku?" tanya Klara yang mulai merasa risih ditatap terus-menerus.

​Dominic menegakkan tubuhnya. Dia menunjuk pintu keluar dengan gerakan tangan yang sangat dramatis.

​"Keluar," perintah Dominic mutlak.

​Mata Harper membelalak lebar. Klara mengerutkan kening kebingungan.

​"Maaf, Pak?" tanya Klara bingung. "Ada yang salah dengan pekerjaanku? Kopinya kurang enak? Atau aku salah menghitung pajaknya?"

​"Kerjamu sempurna," jawab Dominic dingin. "Kopimu enak. Baju setelanmu sangat memadai."

​"Lalu kenapa aku disuruh keluar?"

​Dominic menatap Klara dengan ekspresi wajah luar biasa serius. "Suara napasmu terlalu keras. Hembusan udara dari hidungmu itu merusak aliran energi positif di sekitar mejaku. Singkatnya, kamu mengganggu feng shui ruanganku. Pergi sekarang sebelum perusahaanku bangkrut karena napasmu yang berisik itu."

​Klara melongo. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar. 

Dia menatap Dominic seakan bosnya itu adalah pasien rumah sakit jiwa yang lupa minum obat. Tanpa berniat membantah orang gila, Klara mengambil tasnya, berbalik cepat, dan keluar dari ruangan.

​Pintu tertutup rapat. Keheningan yang menegangkan menyelimuti ruangan. Dominic tersenyum miring, merasa bangga dengan alasan jeniusnya barusan. Dia menoleh pelan ke arah Harper, bersiap melontarkan ejekan pedas.

​Krak.

​Suara patahan benda keras menghentikan senyum Dominic seketika. Matanya langsung tertuju pada tangan Harper. 

Pensil kayu tebal berbahan jati yang tadinya utuh kini terbelah menjadi dua bagian tajam di dalam genggaman Harper. Serpihan kayunya berjatuhan ke atas karpet.

Wajah Harper merah padam, urat di pelipisnya menonjol, dan matanya menyala terang seperti api yang siap membakar Dominic hidup-hidup.

1
Muft Smoker
Dom ,, kelakuan mu emnk udh kelewat batas ,,
Kalo emnk km tertarik dg Harper tggal ngomong baik2 gx perlu ngrendahin org lain ,,
Kostum Unik
Cuma di novel ini loh karakter cewek gk bego gk penakut gk gentar cm krn ktm lawan nya cowok.. Di novel mana pun mau gmn hbt nya karakter cewek ttp aja mereka melempem pada akhir nya...
Muft Smoker: betul kak ,,
dsini semua tokoh perempuan ny bnr2 nunjukin Kalo mereka bnr2 ras terkuat di bumi ,,
total 2 replies
Naviah
percayalah Dom, sikapmu ini bukanya bikin Harper suka sama kamu tapi bikin menjauh, arogansi mu udah over dosis
Naviah
perlu priksa mata Dominic ya Harper, ban nya gak kenapa napa tapi dibilang bocor🤣
Kostum Unik
Astaghfirullah DomDom.. Kamu mmg udah keterlaluan. Lambemu pengen ku gerus pake ulekan
Naviah
gak habis fikir ban bocor? 🤣
Rlyn
tarik nafas Harper 🤭🤣
Savana Liora: 😄🤭🤭🤭🤭🤣🙏
total 1 replies
Kostum Unik
Sabar sabar sabar ini bulan puasa... Gk ada kan manusia modelan DomDom.. Pasti gk ada. Cuma ada di cerita ini kan kak Savana... /Sob/
Savana Liora: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭
total 1 replies
Kostum Unik
Luar biasa emg Harper ini. Sabar nya bukan main sm si ogep DomDom
Savana Liora: 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
Naviah
astaga tikus got sebesar anak kucing kena fitnah🤣
Naviah
ya pintar dalam bisnis tapi mines dalam percintaan 🤣
ms. S
dom.. cemburu buta
Muft Smoker
kak Savana ,,
Dominic kasih liburan dlu deh ,,
biar fresh jiwa dn raga ny ,,
gx usah jauh2 ,,
kirim k Amazon aj laa ,,
bikin rusuh trus soalny🤭🤭🤣🤣🤣
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
This Is Me
Kak Savana, bisa gak nih Harper lepas aja dari Dom. Sekali ini tokoh cowoknya sakit jiwa beneran. Kasian Harper
Savana Liora: lupa ya kalo judulnya pawang.

kayak pawang ular 🤣🤣
total 3 replies
Maria Lina
hellooo sapa lo pacar bukan istri ap lgi.herper bkn budok lo tau dsr ego lo
Savana Liora: 🤣🤣🤣🤣🤭🤭
total 1 replies
Maria Lina
hellooo sapa lo pacar bukan istri ap lgi.herper bkn budok lo tau dsr ego lo1
Sastri Dalila
si dom² ada aja usaha nya
Savana Liora: namwnya jg usaha 🤣🤣
total 1 replies
Sastri Dalila
si dom²😂😂
Sastri Dalila
🤣🤣🤣
Kostum Unik
🤣🤣🤣 Harper kalau nanti dia cinta dan bucin sama kau. Itu anugerah apa musibah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!