NovelToon NovelToon
Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta - Part:2

Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta - Part:2

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Playboy / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Harem
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan asal mula jatuhnya Sang Sultan!

SINOPSIS PART 2: BULAN KUTUKAN & KEBANGKITAN RAJA

Dulu, uang triliunan adalah solusi mutlak bagi Raka Adiyaksa. Namun, bagaimana jika kekayaan itu tak lagi bisa melindunginya?

Sistem menjatuhkan hukuman terberat: "Roda Nasib Buruk". Selama 30 hari, Raka harus bertahan hidup tanpa cheat Sistem di tengah badai musibah.

Mampukah Raka melewati bulan kutukan ini dan merebut kembali takhtanya? Siapa yang akan setia, dan siapa yang akan berkhianat?

Roda nasib telah berputar. Pembalasan dendam baru saja dimulai. Selamat datang di neraka Sang Sultan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hantu Sanatorium dan Kabur di Tengah Malam

"AARGH!"

Sampai bayangan itu menyeringai dengan senyuman yang sangat mengerikan, Vino baru sadar kalau itu sama sekali bukan pantulan wajahnya sendiri, melainkan salah satu pasien sakit jiwa di dalam kamar itu yang sedang menatap lurus ke arahnya!

"BANGSAT! JANTUNG GUE MAU COPOT ANJING!" maki Vino ketakutan setengah mati, lalu tergelincir dan terguling jatuh dari tangga teras.

"Aduh! Sakit banget pantat gue!"

Sang pengawal yang berjaga di luar tembok mendengar keributan itu, dan hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangan, menahan rasa malu.

"Bos, kalau dibandingin sama rasa takut gue nunggu sendirian di tempat gelap ini, sumpah gue lebih takut nanggung malu punya bos modelan kayak lo."

Dalam urusan berbuat jahat, bosnya ini memang jagonya pasang tampang garang dan keren, tapi kerennya itu selalu cuma bertahan tiga detik doang. Ini adalah hukum alam tak tertulis yang sudah disimpulkan oleh sang bodyguard. Dan benar saja, malam ini hukum itu kembali terbukti valid.

Suara debuman tubuh yang jatuh dan jeritan keras dari dalam kompleks sanatorium itu sontak menarik perhatian para petugas keamanan yang sedang berpatroli.

"SIAPA DI SANA?!"

Disusul dengan bentakan garang, sorotan cahaya terang benderang dari senter LED langsung menembak lurus menyilaukan wajah Vino.

"Cepat! Tangkap orang itu!"

Untung saja sistem keamanan serta jumlah personel satpam di tempat ini baru saja di-upgrade habis-habisan oleh Wahyu. Kalau tidak, mana mungkin ada sepasukan satpam sebanyak ini yang standby di tengah malam.

Dalam hitungan detik, beberapa satpam bertubuh kekar langsung membekuk dan memiting Vino ke tanah tanpa ampun.

"Ada ribut-ribut apaan sih ini?" Wahyu berjalan sempoyongan menghampiri TKP, matanya masih setengah terpejam, dan tubuhnya masih terbalut piyama tidur.

Melihat dari gaya dan raut wajahnya yang masam, jelas sekali kalau asisten ini baru saja tertidur pulas dan dibangunkan secara paksa. Mood-nya sedang sangat buruk khas orang yang kena sindrom morning sickness versi tengah malam.

"Lapor Pak Direktur! Orang ini nggak punya adab moral, dia ketangkep basah lagi nyusup masuk manjat tembok rumah sakit kita di tengah malam buta. Gimana Pak? Apa mau kita serahin ke polisi aja?" lapor sang komandan satpam.

Wahyu mengucek matanya yang masih lengket, mencoba memfokuskan pandangannya. Begitu mengenali siapa pelakunya, emosinya langsung mendidih sampai ke ubun-ubun.

"Buset, kok elo lagi sih?! Bukannya kemaren siang lo baru aja bikin onar di kantor gue? Sekarang malem-malem lo malah pindah lapak ngerecokin rumah sakit gue?!" omel Wahyu menunjuk-nunjuk hidung Vino.

Dalam hati, Wahyu sudah membulatkan tekad: Kali ini gue mutlak nggak bakal serahin nih orang ke polisi lagi! Soalnya polisi aja udah nyerah dan nggak bisa ngobatin kegilaan dia!

"G-Gue... Gue cuma lagi numpang lewat doang!" Vino mencoba membela diri dan ngeles, tapi sayangnya alasannya itu malah bikin dia kelihatan makin bodoh dan mencurigakan.

Wahyu tertawa getir. "Heh, lo itu sebenernya lagi mikirin apa sih?! Jam segini lo bilang cuma 'numpang lewat' di depan rumah sakit jiwa yang lokasinya ada di pucuk bukit antah berantah ini?! Lo coba cerita dongeng itu ke setan, liat aja setan juga bakal ngetawain lo saking absurdnya!"

Pada saat itulah, Raka yang sedari tadi terbangun karena suara ribut-ribut akhirnya ikut melangkah keluar dari dalam gedung.

Belakangan ini, kondisi saraf Raka memang sedang sangat tegang dan sering cemas, membuat tidurnya menjadi sangat sensitif dan gampang terbangun. Jadi wajar saja kalau keributan segila ini pasti langsung membuyarkan waktu istirahatnya.

"Vino Pratama? Ngapain lo ke sini?"

Raka jelas-jelas terlihat tidak percaya dengan pandangannya sendiri. Dia mengucek matanya dan melihat sekali lagi. Ternyata itu memang Vino, hanya saja kali ini wajahnya terlihat lebih pucat dan dihiasi dengan raut ketakutan yang nyata.

"AAAA! HANTU!!!" Vino tiba-tiba menunjuk ke arah Raka dan menjerit histeris.

Semua orang di tempat kejadian seketika saling berpandangan dengan wajah penuh tanda tanya dan kebingungan.

Raka sendiri juga sama clueless-nya. "Hah? Dia barusan ngatain gue hantu? Emangnya gue kenapa?"

Wahyu menghela napas panjang. "Bos, mending lo ambil kaca terus ngaca sendiri deh. Liat muka lo sekarang. Dengan tampang acak-acakan dan sepucat ini, orang sehat aja bisa jantungan ngeliat lo."

"Coba Bos liat kantung mata lo itu, itemnya udah ngalahin mata panda! Terus kulit muka lo yang pucat pasi itu udah persis kayak adonan tepung roti! Kan dari kemaren gue udah bilangin, tapi Bos malah ngeyel dan nggak terima dikritik. Di hari-hari pas gue lagi nggak ada di samping Bos buat ngurusin lo, lo itu sebenernya ngasih makan diri lo sendiri apa enggak sih?! Emangnya lo bisa idup bener kalau gue nggak ada?! Lagian ngapain juga Bos maksa nyuruh gue jadi bos pengganti ngurusin perusahaan? Harusnya kan kita ke sana bareng-bareng! Liat aja sekarang kondisi lo ancur lebur gini!"

Sebelum tidur tadi, kekesalan Wahyu pada kelakuan bosnya itu memang belum tersalurkan habis. Dan sekarang, mumpung dia terbangun di tengah malam dengan mood yang hancur, dia sekalian saja memanfaatkannya untuk melampiaskan omelan dan menguliahi Raka habis-habisan.

"Gue beneran nggak abis pikir sama jalan pikiran lo, Bos. Lo itu kayaknya nggak bakal puas kalau belum nyiksa diri lo sendiri sampai hancur lebur kayak gini!"

"Tunggu, tunggu, tunggu." Pada saat inilah, Vino yang tadi ketakutan akhirnya mulai sadar dan loading otaknya kembali jalan. "Jadi... lo ini beneran Raka Adiyaksa?!"

"Ya iyalah, emangnya siapa lagi? Bapak lo?!" Raka menatap Vino dengan dagu terangkat dan penuh kesombongan tingkat tinggi.

Melihat kedatangan parasit ini, feeling Raka sudah sangat yakin bahwa tidak akan ada hal baik yang menyusul. Sudah pasti, ini ada hubungannya dengan Bella lagi.

"Nggak usah banyak bacot lo! Cepet serahin Bella ke gue sekarang juga!" tuntut Vino dengan gaya sok berkuasa dan penuh percaya diri.

Raka langsung naik pitam: "Emang lo punya bukti apa yang bisa ngebuktiin kalau Bella itu ada di sini?!"

"Bukti gue ya ELO sendiri! Karena lo ada di sini, itu artinya Bella pasti lagi lo sekap di dalem sana! Ini semua murni karena akal-akalan licik lo yang ngurung dia!" tuduh Vino dengan sangat arogan.

"Tindakan lo ini udah masuk kategori penyekapan paksa dan pembatasan hak asasi! Besok juga gue bakal laporin lo ke pengadilan dan nuntut lo!"

"Heh, bacot! Emang status lo itu apanya Bella? Berani-beraninya lo mau nuntut gue ke pengadilan? Sok aja laporin sana, laporin!" Raka sama sekali tidak mau kalah gertak. Dia bahkan memutuskan untuk langsung menggunakan fakta bahwa Bella sama sekali tidak pernah menyukai Vino sebagai senjata untuk menyerang balik ego pria itu.

"Coba deh lo ngaca! Emangnya Bella pernah sekalipun nganggep elo ada?! Lo itu cuma bucin level bawah tau nggak?! Dari dulu sampe sekarang, dia itu nggak pernah suka sama lo barang seharipun! Sehari lo ngerti nggak?! 24 Jam! Bahkan gue berani jamin, sedetik pun dia nggak pernah naruh hati sama lo!"

"Elo...!! Ah udahlah, gue males debat kusir sama lo! Tadi lo keceplosan ngomong kan? Lo sadar nggak?! Lo secara nggak langsung udah ngakuin kalau Bella emang ada di sini! Cepet serahin dia sekarang!"

"Terus kalau gue bilang NGGAK MAU, lo mau apa?!" tantang Raka.

"Kalau gitu gue bakal dobrak masuk dan geledah setiap kamar di sini satu-satu!" Vino menggeretakkan giginya dengan penuh kebencian, menunjukkan tekad bulatnya bahwa dia mutlak harus menemukan Bella malam ini juga.

"Wah, bacot lo lumayan gede juga ya nyalinya~ Yaudah, sana lo cari! Kalau lo beneran bisa nemuin dia, gue akuin gue kalah! TAPI... kalau sampe lo nggak nemuin apa-apa... gue bakal pastiin lo masuk bui malam ini juga atas tuduhan pelanggaran privasi dan penyusupan ilegal ke properti orang!" ancam Raka dengan senyum licik yang sangat menyebalkan.

Gertakan Raka ini sukses membuat nyali Vino menciut. Sebenarnya, Vino sama sekali tidak punya bukti pasti apakah Bella benar-benar ada di dalam sanatorium ini atau tidak.

Ini murni hanya sebatas asumsi dan tebakan liar di kepalanya.

Ditambah lagi, kompleks sanatorium ini sangat luas dan punya begitu banyak ruangan. Di tengah malam buta yang gelap gulita seperti ini, penglihatannya sangat terbatas. Terlebih lagi, kejadian "penampakan" mengerikan tadi masih menyisakan trauma horor di hatinya, membuatnya jadi ragu-ragu untuk melangkah masuk.

"Lo main kotor dan curang! Lo sengaja manfaatin kelemahan gue yang phobia gelap! Kalau lo berani main fair, besok pagi pas udah terang gue bakal obrak-abrik tempat ini buat nyari dia!"

"Boleh aja, terserah lo," jawab Raka dengan sangat santai dan percaya diri. Meskipun saat ini kondisi fisiknya terlihat sangat kuyu dan lemah, tapi soal adu aura dan karisma, Raka mutlak pantang menyerah dan tidak boleh terlihat kalah gertak.

"Sebenernya gue yang lebih takut gelap, Bos," rengek si bodyguard gendut dari balik tembok luar sana, terdengar seperti mau menangis.

"Siapa di sana?!" tanya Wahyu seketika waspada dan langsung siaga.

Mendengar seruan itu, Vino baru sadar. Saking asyiknya manjat tembok dan bikin keributan di dalam, dia sampai lupa kalau pengawalnya sendiri masih ditinggal kedinginan di luar sana.

"Oh, itu bodyguard gue doang kok. Tolong bukain pintu gerbangnya dong biar dia bisa masuk, dia itu juga takut banget sama gelap," pinta Vino, kali ini nada bicaranya sudah turun beberapa oktaf dan jauh lebih kalem.

Wahyu memberikan isyarat kepada para satpam untuk membukakan gerbang utama. Tak lama kemudian, si bodyguard gendut itu berlari kecil dengan langkah tergopoh-gopoh dan tubuh yang gemetaran masuk ke dalam.

"Yaudah, karena kalian udah terlanjur masuk, kita anggep aja kalian ini tamu. Malam ini gue bakal sediain kamar buat kalian nginep. Jujur aja, gue beneran males ngeladenin drama dan keributan kalian di tengah malam buta begini. Apa pun masalahnya, besok aja baru kita selesain," putus Wahyu dengan sangat bijaksana dan berjiwa besar.

Setelah itu, dia segera menyuruh staf jaga malam untuk menyiapkan sebuah kamar bagi mereka berdua.

"Pak Direktur, permisi, apa boleh saya minta tolong sekamarkan saja dengan Bos saya?" pinta si bodyguard kepada Wahyu dengan penuh harap.

"Hus! Sana pergi, jauh-jauh! Siapa juga yang sudi sekamar sama cowok bau keringet kayak lo?!" Vino langsung memasang wajah jijik.

Namun terlihat jelas, sebenarnya mereka berdua sama-sama penakut. Apalagi ini sedang berada di tengah malam buta, di dalam kompleks bangunan rumah sakit jiwa pula. Suasana mistis seperti ini memang terlalu gampang memicu imajinasi liar dan bayangan horor di kepala.

Oleh karena itu, ketika sang bodyguard memohon untuk yang kedua kalinya, Vino akhirnya dengan "terpaksa dan sangat enggan" menyetujuinya.

Kamar yang serba putih. Ranjang yang serba putih bersih. Inilah wujud dari "padang gurun" bagi para pasien mental, sebuah dunia ilusi yang hampa dan kosong.

Namun anehnya, tepat di saat punggungnya menyentuh kasur yang empuk itu, Vino tiba-tiba merasa hatinya menjadi jauh lebih damai dan tenang.

Ini adalah pertama kalinya dalam hidup, ia merasa benar-benar terisolasi dari segala kebisingan dan kekacauan duniawi yang melelahkan.

Setengah jam kemudian, lampu-lampu di Sanatorium Loch Ness kembali dipadamkan, dan seluruh lingkungan sekitarnya kembali tenggelam dalam kesunyian malam yang pekat.

"Heh, berani-beraninya lo mau saingan ngerebut cewek gue? Mimpi aja lo sana!"

Di tempat lain yang gelap, Raka dengan sangat hati-hati membalut tubuh Bella yang masih belum sadarkan diri itu menggunakan selimut tebal. Ia membaringkan gadis itu dan mengikatkan sabuk pengaman dengan kuat di kursi penumpang depan mobil sport-nya.

Setelah memastikan posisinya aman, Raka menyalakan mesin, dan memanfaatkan kegelapan malam untuk menyelinap pergi meninggalkan area sanatorium secara diam-diam. Dia sama sekali tidak mau mengambil risiko menunggu sampai langit terang, karena itu sama saja dengan memberikan peluang emas kepada Vino untuk membuat masalah.

Di kejauhan, suara raungan mesin mobil Raka terdengar sayup-sayup menghilang ditelan malam.

1
Jaka
harus kuat💪💪
Oppie Abdurahman
raka² hanya bisa menghindari masalah, bukannya dihadapin satu² sama fakta yang ada, padahal masalah akan membuatmu semakin kuat mentalnya.
Oppie Abdurahman
yahh plot wist kecelakaan disini
Lilia_safira
aku udah nungguin sampe nge cek berkali kali dan akhirnya 😄😄
Lilia_safira
jadwalin dong update kapan 😄!!
Oppie Abdurahman
akhirnya rilis
Oppie Abdurahman
mungkin bagi pecinta fiksi ini lumayan menarik, tapi tergantung selera juga sih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!