Di mata dunia, Michael Brown atau Kay adalah pewaris tunggal Brown Group yang angkuh dan bad boy penggila balap liar. Namun, di balik gelar playboy palsunya, Kay menyimpan rahasia: ia telah lama memperhatikan Paris Desmon, gadis pendiam yang menjadi satu-satunya ketenangan di tengah kepalsuan sekolah elit mereka.
Dunia Kay terguncang saat ia mengetahui bahwa sahabatnya, Luciano Russo, menjadikan Paris sebagai objek eksperimen emosional demi memuaskan rasa penasaran liar Max. Kay terpaksa menyaksikan dari bayang-bayang saat Luciano berbohong telah meniduri Paris hanya demi gengsi, sementara Paris sendiri tetap tulus mencintai Luciano tanpa tahu dirinya sedang dipermainkan.
Terjebak dalam kode etik persahabatan dan rasa sesak melihat gadis yang ia kagumi dirusak secara mental, Kay menghadapi pilihan sulit: Tetap diam sebagai penonton yang dingin, atau menghancurkan reputasi "Tiga Pilar" demi menyelamatkan Paris dari kehancuran yang direncanakan sahabatnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Kantin St. Jude’s Academy saat jam makan siang menyerupai auditorium opera yang bising. Suara denting alat makan perak bertemu piring porselen beradu dengan tawa para siswa yang terdengar dipaksakan.
Di sini, hierarki sosial terlihat sejelas denah bangunan. Di pojok kanan, dekat jendela besar yang menghadap ke gedung-gedung pencakar langit Manhattan, terdapat meja panjang yang secara tidak resmi telah dipesan untuk "Tiga Pilar".
Paris duduk tiga meja di belakang mereka, membelakangi kerumunan itu. Ia menuruti pesan Luciano: Jangan duduk dekat-dekat meja kami.
"Kau bahkan tidak menyentuh saladmu, Paris," tegur Delaney sambil mengunyah apel hijaunya. Mata Delaney menyipit, memandang ke arah meja depan yang sedang menjadi pusat perhatian.
"Dan kenapa kau terus menunduk? Kau seperti sedang bersembunyi dari FBI."
"Aku hanya... sedang memikirkan konsep desain untuk tugas akhir ayahku," bohong Paris. Tangannya gemetar saat memegang garpu. Ia bisa merasakan tatapan Luciano, meski ia tahu laki-laki itu tidak sedang melihat ke arahnya.
Di meja depan, suasana tampak berbeda. Kay sedang bersandar di kursinya, kakinya yang panjang terjulur ke depan dengan santai, sementara Max sedang asyik menjelaskan sesuatu tentang pertandingan akhir pekan lalu. Luciano? Dia hanya menatap layar iPad-nya, jemarinya bergerak cepat mengerjakan soal-soal kalkulus tingkat lanjut.
"Hei, lihat itu," bisik Delaney tiba-tiba.
Paris memberanikan diri untuk melirik. Kay sedang melemparkan sepotong buah ke arah meja siswa kelas sepuluh di dekat mereka, hanya untuk memancing reaksi. Saat ia tertawa, tawanya terdengar kering dan kasar.
"Luciano benar-benar hebat bisa tahan berteman dengan orang seperti Kay," gumam Delaney. "Kay itu seperti predator. Dia tahu siapa yang lemah, dan dia akan menyerang mereka hanya untuk hiburan."
Tiba-tiba, suara Kay meninggi, menembus kebisingan kantin. "Max, lihat gadis di sana itu. Yang pakai sweter kebesaran seperti karung goni. Bukankah dia anak desainer produksi yang sering masuk majalah itu? Sayang sekali, ayahnya membuat baju indah, tapi anaknya tidak tahu cara memakainya."
Paris membeku. Ia tahu siapa yang dimaksud Kay. Ia adalah satu-satunya siswi yang selalu memakai sweater oversized.
Max tertawa pelan, mencoba meredam suasana. "Sudahlah, Kay. Tidak semua orang ingin menjadi pusat perhatian seperti kau."
Paris merasakan wajahnya memanas. Hinaan itu terasa nyata, menusuk kulitnya. Ia melirik ke arah Luciano. Luciano tidak mendongak dari iPad-nya. Ia tetap diam, seolah-olah ia tidak mendengar sahabatnya sendiri menghina wanita yang baru tadi pagi ia kirimi pesan "Aku mencintaimu".
Rasa sesak mulai memenuhi dada Paris. Ia merasa seperti debu di bawah sepatu mewah mereka.
Tak tahan dengan atmosfer kantin, Paris berdiri secara tiba-tiba. "Delaney, aku harus ke perpustakaan. Ada referensi yang harus kucari."
"Tapi kau belum makan!" seru Delaney, namun Paris sudah melangkah pergi dengan cepat.
Ia berjalan menyusuri lorong-lorong sepi menuju sayap kiri sekolah. Perpustakaan St. Jude’s adalah tempat perlindungannya. Di sana, di antara barisan buku tua yang menjulang tinggi, ia bisa bernapas tanpa merasa dihakimi. Ia masuk ke sudut paling tersembunyi, tempat yang sama di mana semuanya dimulai.
Paris duduk di lantai, menyandarkan kepalanya pada rak buku kayu ek yang dingin. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh satu per satu. Ia mencintai Luciano, tapi apakah cinta ini memang harus semenyakitkan ini?
Menjadi kekasih yang disembunyikan, menjadi saksi saat kekasihnya membiarkan orang lain menghinanya.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang teratur mendekat. Paris segera menghapus air matanya dan menahan napas. Langkah itu berhenti tepat di depan rak tempatnya bersembunyi.
Sebuah bayangan panjang jatuh di atas kakinya.
Paris mendongak dan menemukan Luciano berdiri di sana. Tidak ada iPad, tidak ada buku matematika. Hanya Luciano dengan kedua tangan di saku celananya, menatap Paris dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa kau lari?" tanya Luciano. Suaranya rendah, bergema di antara rak-rak buku.
"Aku... aku hanya ingin belajar," jawab Paris parau.
Luciano berlutut di depannya. Gerakannya anggun, bahkan saat ia harus berjongkok di lantai perpustakaan yang berdebu. Ia mengulurkan tangan, menyeka sisa air mata di pipi Paris dengan ibu jarinya. Sentuhannya dingin, namun membuat jantung Paris berdegup kencang.
"Kau mendengar apa yang dikatakan Kay," ucap Luciano. Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan.
"Kenapa kau tidak mengatakan apa-apa, Lucian?" bisik Paris. "Kenapa kau membiarkan dia bicara seperti itu tentang aku?"
Luciano terdiam sejenak. Ia menatap mata Paris yang kemerahan. "Jika aku membelamu, rahasia kita berakhir. Dan kau tahu apa konsekuensinya. Keluargaku akan menarikku dari sekolah ini malam ini juga jika mereka tahu aku menjalin hubungan dengan seseorang yang—"
"Yang tidak setara denganmu?" potong Paris pahit.
"Bukan itu maksudku," Luciano memegang kedua bahu Paris. "Ini tentang kontrol. Aku belum siap kehilangan kontrol atas hidupku. Aku sedang berusaha, Paris. Aku mengirimkan pesan itu pagi tadi karena aku ingin kau tahu bahwa kau adalah satu-satunya hal yang nyata di sekolah palsu ini."
Luciano menarik Paris ke dalam pelukannya. Untuk pertama kalinya, ia memeluk Paris dengan erat. Paris bisa merasakan detak jantung Luciano yang cepat di balik kemeja seragamnya.
"Maafkan aku soal Kay," bisik Luciano di atas kepala Paris. "Dia bajingan, dan aku sudah memintanya untuk diam tadi. Jangan dengarkan dia. Kau jauh lebih berharga dari semua desain yang pernah dibuat ayahmu."
Paris terisak pelan di dada Luciano. Kehangatan ini adalah candu. Luciano tahu persis bagaimana cara menariknya kembali tepat saat Paris ingin pergi.
"Ingat," Luciano melepaskan pelukannya dan menatap wajah Paris dengan serius. "Mulai besok, aku akan fokus penuh untuk olimpiade. Kita tidak akan bertemu seperti ini lagi untuk sementara. Jangan biarkan Kay atau siapapun merusak pikiranmu. Fokuslah pada dirimu sendiri, babe."
Luciano kembali mengecup pucuk kepala Paris, lebih lama dari malam sebelumnya. Kali ini, ia juga mencium keningnya, sebuah janji bisu yang membuat Paris merasa aman sekaligus terperangkap.
"Aku harus kembali sebelum mereka curiga," ujar Luciano. Ia berdiri, merapikan setelannya, dan kembali menjadi pangeran es yang tak tersentuh dalam hitungan detik.
Paris menatap keberangkatan Luciano. Di satu sisi, ia merasa dicintai. Di sisi lain, ia menyadari bahwa ia baru saja menyerahkan hatinya pada seorang laki-laki yang mungkin tidak akan pernah memilihnya jika dunia melihat.
Sore itu, saat Paris berjalan menuju gerbang sekolah, ia melihat Kay sedang berdiri di dekat mobil sport-nya, merokok dengan gaya angkuh. Saat Paris lewat, Kay sengaja mengembuskan asap rokoknya ke arah Paris.
"Gadis pendiam," panggil Kay.
Paris berhenti, jantungnya berpacu. "Ya?"
Kay menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan seringai aneh. "Luciano sepertinya sangat tertarik dengan belajarmu di perpustakaan tadi. Hati-hati, Paris. Luciano adalah orang yang sangat teliti. Dia tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan. Dan aku penasaran, alasan apa yang dia miliki untuk melirik seseorang sepertimu."
Kay kemudian masuk ke mobilnya dan melesat pergi, meninggalkan Paris yang berdiri terpaku di trotoar New York yang mulai mendingin.
Apakah Kay tahu?
Paris merogoh ponselnya. Satu pesan baru dari Mine.
Mine: Aku baru saja mulai belajar. Bayanganmu ada di antara angka-angka ini. Jangan merindukanku terlalu dalam.
Paris tersenyum getir. Di kota sebesar New York, ia merasa sangat kecil. Ia mencintai seorang laki-laki yang menjadikannya rahasia, sementara dunia mulai mencium bau kebohongan di antara mereka.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
lnjut Thor yg bnyk yh 🥰😍