Di Medan tahun 2026, Rania Putri pendiri startup yang membantu UMKM dengan teknologi data terpaksa bekerja sama dengan perusahaan besar dari Jakarta yang dipimpin oleh Reza Aditya, mantan kekasihnya yang menghilang tanpa kabar sepuluh tahun lalu.
Pada awalnya, mereka hanya fokus pada pengembangan aplikasi "UMKM Connect", namun menemukan kode aneh dalam sistem yang menyimpan jejak masa lalunya. Saat menyelidiki asal usul kode tersebut, mereka mengungkap rahasia mengejutkan, perpisahan mereka dulu adalah rencana jahat dari Doni Pratama, mantan sahabat Rania yang mengambil alih bisnis keluarga dia.
Di tengah penyelidikan yang penuh kejadian lucu dan tantangan bisnis, rasa cinta lama mereka kembali muncul. Setelah berhasil membongkar kejahatan Doni dan mendapatkan dukungan pemerintah, mereka tidak hanya menyelesaikan proyek aplikasi yang bermanfaat bagi jutaan UMKM, tapi juga menemukan kesempatan kedua untuk cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 : KEMBALI KE TEPI SUNGAI
Udara pagi yang segar menyapa wajah Rania saat mobil mereka melaju perlahan menuju tepi Sungai Deli. Di sebelahnya, Reza sedang fokus pada jalan raya yang semakin ramai dengan aktivitas pagi hari, namun sesekali dia melihat ke arah jendela dengan ekspresi yang penuh kenangan. Sudah lebih dari sepuluh tahun sejak mereka terakhir bersama-sama menginjakkan kaki di tempat yang menjadi awal mula dari semua impian mereka.
“Kita hampir sampai,” ucap Reza dengan suara pelan, memecah keheningan di dalam mobil. “Saya tidak menyangka kita akan kembali ke sini dalam keadaan seperti sekarang.”
Rania tersenyum lembut sambil melihat ke luar jendela. Beberapa bagian jalan masih sama seperti dulu – pepohonan rindang yang menjulang tinggi, rumah-rumah kecil yang berdiri di sepanjang jalan, dan aroma kopi khas Medan yang mengiringi setiap langkah perjalanan mereka. Namun, sebagian besar sudah berubah drastis – gedung-gedung baru berdiri megah, jalan raya yang lebih lebar, dan usaha-usaha kecil yang kini tumbuh dengan pesat di setiap sudut jalan.
“Sangat banyak yang berubah ya,” jawab Rania dengan suara yang penuh refleksi. “Tetapi saya merasa bahwa beberapa hal tetap akan selalu sama.”
Setelah beberapa menit lagi, mereka akhirnya sampai di lokasi yang sudah sangat akrab di hati mereka berdua. Tepi Sungai Deli yang dulu sepi kini sudah menjadi kawasan yang ramai dengan aktivitas masyarakat – mulai dari pedagang yang berjualan makanan hingga keluarga yang sedang berjalan-jalan menikmati pemandangan sungai yang masih mengalir dengan tenang. Namun, pohon besar yang pernah mereka jadikan tempat bertemu masih berdiri kokoh di sana, memberikan naungan yang sejuk bagi siapa saja yang ingin duduk sejenak.
Mereka berjalan menuju pohon tersebut, menyapa beberapa warga yang sudah mengenal Rania karena sering datang ke sini semenjak proyek UMKM Connect mulai berjalan. Setelah menemukan tempat duduk yang tepat di bawah pohon besar itu, mereka duduk bersama dan hanya diam sejenak, menikmati keheningan yang hanya terganggu oleh suara aliran air sungai dan suara kecil percakapan orang-orang di sekitar mereka.
“Masih terasa seperti kemarin saja kita duduk di sini, membicarakan proyek kita yang masih hanya sebuah gagasan,” ucap Reza setelah beberapa saat dengan suara yang penuh nostalgia. “Kita berdua yang penuh semangat, berpikir bahwa kita bisa mengubah dunia dengan teknologi yang kita ciptakan.”
Rania mengangguk dengan mata yang berkaca-kaca melihat ke arah sungai. “Ya… saya masih ingat betul hari itu. Kamu membawa buku catatan tebal yang sudah penuh dengan sketsa dan catatan, dan saya hanya membawa sebotol air mineral dan harapan yang besar.”
Mereka mulai berbagi kenangan tentang masa kuliah mereka – tentang bagaimana mereka pertama kali bertemu di kelas algoritma, bagaimana mereka sama-sama terpilih untuk mengikuti program penelitian khusus, dan bagaimana mereka akhirnya memutuskan untuk bekerja sama pada proyek akhir tahun yang kemudian menjadi dasar dari semua yang mereka capai sekarang.
“Saya masih ingat bagaimana kita sering berlama-lama di perpustakaan hingga larut malam hanya untuk mencari referensi tentang enkripsi dan sistem keamanan,” cerita Rania dengan senyum hangat. “Kamu selalu membawa makanan ringan untuk kita berdua, karena kamu tahu bahwa saya pasti akan terlupa makan jika sedang fokus pada sesuatu.”
Reza tertawa lembut mendengarnya. “Dan kamu selalu membawa buku catatan tambahan karena tahu bahwa saya pasti akan menghabiskan semua kertas di buku saya dalam waktu singkat. Kita memang komplementer satu sama lain sejak dulu.”
Mereka kemudian mulai membahas tentang apa yang terjadi setelah mereka lulus kuliah – tentang bagaimana mereka terpaksa berpisah karena masing-masing mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi dan bekerja di tempat yang berbeda. Reza pergi ke Jakarta untuk bekerja di sebuah perusahaan teknologi ternama, sementara Rania memilih untuk tetap di Medan dan membantu mengelola usaha keluarga sambil terus mengembangkan ide-ide mereka.
“Saat itu saya merasa sangat sedih harus berpisah dari kamu,” ucap Reza dengan suara yang sedikit serius. “Kita sudah bekerja sama selama hampir dua tahun, dan saya merasa bahwa kita bisa mencapai hal-hal besar jika terus bekerja bersama. Tapi saya juga tahu bahwa kita masing-masing memiliki jalur hidup yang harus ditempuh.”
Rania mengangguk dengan pemahaman. “Saya juga merasa begitu. Tapi saya selalu tahu bahwa suatu hari nanti kita akan kembali bekerja sama lagi. Saya tidak pernah berhenti mengembangkan ide-ide kita, bahkan ketika kita berada jauh dan jarang berkomunikasi.”
Mereka mulai bercerita tentang pengalaman masing-masing selama sepuluh tahun yang lalu. Reza menceritakan tentang bagaimana dia bekerja keras di perusahaan teknologi tersebut, bagaimana dia belajar tentang manajemen proyek dan pengembangan sistem skala besar, dan bagaimana dia akhirnya memutuskan untuk keluar dan mendirikan tim sendiri yang fokus pada pengembangan teknologi untuk usaha kecil.
“Saya selalu membawa catatan proyek kita yang dulu di dalam tas saya,” cerita Reza sambil menunjukkan sebuah buku catatan tua yang masih dia bawa hingga kini. “Setiap kali saya merasa tersesat atau tidak tahu arah mana yang harus ditempuh, saya akan membacanya dan ingat mengapa saya memilih jalur ini.”
Rania juga bercerita tentang kehidupannya selama sepuluh tahun terakhir – tentang bagaimana dia membantu neneknya mengelola warung makan keluarga, bagaimana dia melihat betapa sulitnya usaha kecil untuk bersaing di era digital, dan bagaimana dia akhirnya memutuskan untuk mengembangkan program kecil untuk membantu usaha kecil di sekitar daerahnya sebelum akhirnya bertemu dengan Reza lagi dan memulai proyek UMKM Connect bersama.
“Saya sering datang ke sini sendirian selama kamu tidak ada,” ucap Rania dengan melihat ke arah sungai. “Tempat ini selalu memberikan saya kekuatan dan inspirasi untuk terus bekerja keras. Saya selalu merasa bahwa kamu juga sedang bekerja untuk tujuan yang sama di sana.”
Mereka kemudian mulai membahas tentang kode dan sistem yang mereka ciptakan bersama. Reza menunjukkan bagaimana dia telah mengembangkan algoritma dasar mereka menjadi sistem yang lebih canggih, sementara Rania menjelaskan bagaimana dia telah menyesuaikannya agar sesuai dengan kebutuhan usaha kecil di daerah Medan.
“Ketika saya pertama kali menemukan kode yang kamu masukkan ke dalam sistem, saya langsung tahu itu milik kita berdua,” ucap Rania dengan suara yang penuh kagum. “Struktur enkripsinya sama persis dengan yang kita buat dulu – bahkan ada beberapa bagian yang persis sama seperti yang kita tulis di buku catatan itu.”
Reza mengangguk dan mulai menjelaskan tentang bagaimana dia menemukan bahwa Dewi telah mengembangkan sistem mereka lebih jauh lagi. “Sangat mengagumkan bagaimana seseorang yang tidak pernah bekerja sama langsung dengan kita bisa memahami inti dari apa yang kita ciptakan dan mengembangkannya dengan cara yang begitu baik.”
Mereka berbicara panjang lebar tentang masa depan proyek UMKM Connect – tentang bagaimana mereka berencana untuk mengintegrasikan semua sistem yang telah dikembangkan oleh Dewi, Adi, dan Lina ke dalam platform utama, tentang bagaimana mereka akan memperluas jangkauan proyek ke seluruh Indonesia, dan tentang bagaimana mereka akan memastikan bahwa setiap usaha kecil yang bergabung dengan mereka mendapatkan perhatian dan bantuan yang mereka butuhkan.
“Kita tidak hanya akan memberikan teknologi kepada mereka,” jelas Rania dengan suara yang penuh tekad. “Kita juga akan membantu mereka mengembangkan keterampilan dan pengetahuan agar mereka bisa mandiri dan terus berkembang bahkan tanpa bantuan kita.”
Reza mengangguk dengan penuh kesepakatan. “Dan kita akan membuat surel bahwa setiap usaha yang bergabung dengan kita memiliki cerita sendiri yang akan kita dokumentasikan dan lestarikan. Setiap usaha memiliki nilai dan kontribusi yang berharga bagi komunitas mereka.”
Saat matahari mulai bergeser ke arah tengah hari, mereka memutuskan untuk berjalan menyusuri tepian sungai seperti yang mereka lakukan dulu. Mereka melihat bagaimana banyak usaha kecil yang kini tumbuh dan berkembang di sepanjang tepian sungai – warung makan yang menggunakan sistem pemesanan online, toko kerajinan yang menjual produknya melalui platform digital, dan kelompok tani yang menggunakan teknologi untuk meningkatkan hasil panen mereka.
“Lihatlah semua ini,” ucap Rania dengan suara penuh bangga. “Semua ini dimulai dari sebuah gagasan kecil yang kita bicarakan di bawah pohon itu sepuluh tahun yang lalu. Kini telah menjadi sesuatu yang begitu besar dan memberikan manfaat bagi begitu banyak orang.”
Reza menyanggupi dengan senyum bangga. “Dan ini hanya permulaan, Rania. Kita masih bisa melakukan banyak hal lagi dan membantu lebih banyak orang. Dengan kerja sama kita yang kini semakin kuat dengan bergabungnya Dewi, Adi, dan Lina, saya yakin kita bisa mencapai hal-hal yang lebih besar lagi.”
Mereka berhenti sejenak di sebuah tempat yang pernah mereka jadikan tempat untuk mengamati sungai dan merencanakan ide-ide baru. Di sana, mereka melihat sebuah anak kecil yang sedang menggambar sesuatu di atas selembar kertas dengan penuh fokus. Ketika mereka mendekat, mereka melihat bahwa anak itu sedang menggambar pemandangan sungai dengan banyak usaha kecil yang berdiri di sepanjang tepiannya.
“Bagaimana kamu bisa menggambar semua ini dengan begitu detail?” tanya Rania dengan rasa ingin tahu pada anak itu.
“Karena saya melihatnya setiap hari, Bu,” jawab anak itu dengan suara ceria. “Banyak usaha kecil di sini yang sekarang bisa berjualan dengan lebih mudah karena ada bantuan dari orang-orang baik seperti Bu dan Pak.”
Mereka merasa hati menjadi hangat mendengar kata-kata kecil itu. Itu adalah bukti nyata bahwa semua usaha yang mereka lakukan selama ini benar-benar memberikan dampak positif bagi kehidupan banyak orang, bahkan sampai pada generasi muda yang akan menjadi penerus mereka kelak.
Ketika mereka kembali ke pohon besar itu, mereka menemukan bahwa beberapa anggota tim dari UMKM Connect telah datang untuk menemui mereka – termasuk Dewi, Adi, dan Lina. Mereka semua membawa makanan dan minuman untuk merayakan perjalanan panjang yang telah mereka lalui bersama.
“Kita mendengar bahwa kalian sedang di sini, jadi kami berpikir harus datang untuk bergabung,” ucap Lina dengan senyum ceria saat mereka mendekat. “Tempat ini adalah awal mula dari semua yang kita capai, jadi rasanya tepat jika kita merayakannya di sini.”
Mereka semua duduk bersama di bawah pohon besar itu, makan makanan yang telah disiapkan sambil berbagi cerita dan rencana untuk masa depan. Suasana yang hangat dan penuh cinta membuat setiap orang merasa bahwa mereka adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri – sebuah keluarga besar yang bekerja sama untuk tujuan yang sama.
“Saya tidak pernah menyangka bahwa proyek kecil yang kita mulai di masa kuliah akan berkembang menjadi seperti ini,” ucap Adi dengan suara penuh kagum. “Dan saya merasa sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari semua ini.”
Dewi juga menambahkan. “Saya selalu tahu bahwa karya kalian berdua memiliki potensi besar untuk membantu banyak orang. Sekarang saya merasa sangat bahagia bisa bekerja bersama kalian untuk mewujudkan itu.”
Mereka semua berjanji untuk terus bekerja sama dengan penuh dedikasi dan semangat, untuk memastikan bahwa proyek UMKM Connect tidak hanya berkembang menjadi yang terbesar di Indonesia, tapi juga menjadi contoh bagi dunia tentang bagaimana teknologi bisa digunakan untuk kebaikan dan kesejahteraan masyarakat.
Saat matahari mulai bergeser ke arah sore dan memberikan warna keemasan pada permukaan air Sungai Deli, mereka semua berdiri bersama dan melihat ke arah sungai yang telah menyaksikan awal mula dari semua impian mereka. Setiap gelombang air yang mengalir seolah menjadi pengingat bahwa kehidupan terus bergerak maju, membawa dengan diri cerita-cerita tentang perjuangan, kesuksesan, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.
“Terima kasih telah kembali bekerja sama dengan saya, Reza,” ucap Rania dengan suara penuh emosi saat mereka sedang dalam perjalanan pulang. “Tanpamu, saya tidak bisa mewujudkan semua ini.”
Reza tersenyum dan menjawab. “Sama-sama, Rania. Tanpamu, semua ini tidak akan memiliki makna yang sama. Kita memang dibuat untuk bekerja bersama, bahkan setelah terpisah selama sepuluh tahun.”
Mereka tahu bahwa perjalanan mereka masih panjang dan penuh dengan tantangan, namun dengan kerja sama yang kuat dan tekad yang bulat, mereka yakin bahwa mereka bisa mengatasi segala rintangan dan membawa perubahan besar bagi kehidupan banyak orang. Tempat yang dulu hanya menjadi tempat untuk berbagi ide kini telah menjadi bukti bahwa impian yang dibangun dengan kerja keras dan kerja sama bisa menjadi kenyataan yang membawa manfaat bagi banyak orang.
Saat mobil mereka semakin jauh dari tepi Sungai Deli, Rania melihat ke belakang dengan senyum penuh harapan. Dia tahu bahwa mereka akan selalu kembali ke tempat ini setiap kali mereka perlu mengingat dari mana mereka berasal dan tujuan mereka apa – sebuah tempat yang tidak hanya menyimpan kenangan indah, tapi juga menjadi dasar dari semua yang mereka capai dan akan capai bersama di masa depan.