NovelToon NovelToon
My Cold Guardian Husband

My Cold Guardian Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Liana hamil anak pria lain, tapi Morgan—suami kontrak yang selalu ia maki—justru yang menggagalkan aborsinya dan mengaku sebagai ayahnya. 'Hiduplah untuk anak itu,' ucap Morgan dingin, meski hatinya hancur melihat istrinya merindukan pria yang telah membuangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terlalu Menggoda

Gemuruh guntur menggelegar di langit Jakarta, getarannya terasa hingga ke fondasi apartemen mewah itu. Hujan turun begitu deras seolah langit sedang tumpah, menciptakan simfoni bising yang menghantam kaca jendela kamar Morgan. Di dalam remang cahaya ruang tamu, Liana berdiri mematung di dekat sofa, menatap sosok Morgan yang masih menjulang di hadapannya dengan napas yang memburu.

Rencana rayuan Liana tadi sempat terhenti oleh reaksi keras Morgan, namun alam seolah memberikan kartu as tambahan baginya. Liana tahu Morgan adalah pria yang sangat memegang teguh tanggung jawab.

"Morgan ..." Liana memulai, suaranya sengaja dibuat bergetar, mencampurkan nada takut yang dibuat-buat dengan sisa-sisa keberanian dari rencana awalnya. Ia merapatkan kemeja putih besar itu ke tubuhnya, membiarkan kancing atasnya tetap terbuka sedikit agar Morgan tetap bisa melihat garis lehernya yang putih. "Hujannya ... petirnya sangat keras. Kau tahu aku tidak bisa tidur jika ada badai seperti ini. Aku takut."

Morgan menatap Liana dengan mata yang masih memancarkan sisa-sisa ketegangan. Ia menarik napas panjang, mencoba meredam gejolak di dadanya yang dipicu oleh kedekatan fisik mereka tadi. "Kau sudah dewasa, Liana. Badai tidak akan masuk ke dalam apartemen ini."

"Tapi aku tidak bisa tenang!" Liana melangkah maju, kembali menipiskan jarak. Ia memberanikan diri menyentuh ujung kaos dalam Morgan dengan jemarinya yang lentik. "Tolong ... temani aku di dalam. Kau tidak perlu melakukan apa-apa. Cukup ada di sana. Aku tidak mau sendirian di kamar seluas itu sementara petir menyambar-nyambar."

Morgan terdiam. Logikanya meneriakkan peringatan bahaya, namun sisi protektifnya—sisi yang diminta Liam untuk menjaga Liana—mulai melunak. Ia melihat Liana yang tampak mungil dan rapuh dalam balutan kemejanya. Morgan mengusap wajahnya dengan kasar, sebuah tanda bahwa pertahanannya mulai runtuh demi kenyamanan Liana.

"Hanya sampai hujan reda," ucap Morgan datar. Ia berjalan melewati Liana menuju kamar, langkahnya terdengar berat seolah ia sedang menuju ke medan perang yang ia tahu tidak bisa ia menangkan dengan mudah.

Liana menyeringai tipis di balik kegelapan. Kena kau, Morgan.

Di dalam kamar, suasana terasa jauh lebih intim. Hanya ada lampu tidur kecil di sudut ruangan yang memancarkan cahaya jingga redup. Morgan membaringkan tubuhnya di sisi kanan ranjang, tetap mengenakan kaos dalam dan celana panjangnya. Ia berbaring telentang, kedua tangannya diletakkan di atas perut, matanya menatap langit-langit dengan kaku.

Liana merangkak naik ke sisi kiri. Tempat tidur itu sangat empuk, namun ketegangan di antara mereka membuatnya terasa seperti hamparan paku. Liana tidak langsung tidur. Ia menunggu momen yang tepat. Saat guntur kembali menggelegar dengan dahsyat, Liana sengaja memekik kecil dan menghambur ke arah Morgan.

Ia memeluk lengan kekar Morgan, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. Bukan hanya sekadar pelukan biasa, Liana dengan sengaja menggesekkan tubuhnya yang hanya terbalut kemeja tipis ke sisi tubuh Morgan.

"Sangat takut ..." bisik Liana tepat di telinga Morgan. Napasnya yang hangat menyapu leher Morgan, membuat bulu kuduk pria itu meremang.

Morgan membeku. Setiap otot di tubuhnya menegang seperti kawat baja yang ditarik maksimal. Sentuhan Liana bukan lagi sekadar kontak fisik antar manusia; itu adalah serangan sensual yang langsung menghantam saraf pusatnya. Ia bisa merasakan lekuk tubuh Liana yang lembut di balik kain katun kemejanya. Keharuman rambut Liana yang beraroma bunga melati mulai memenuhi indra penciumannya, memabukkan logikanya yang biasanya tajam.

Liana tidak berhenti. Ia mulai menggerakkan kakinya yang jenjang di bawah selimut, menyentuh kaki Morgan, sementara tangannya perlahan naik menelusuri dada Morgan yang bidang. Ia bisa merasakan detak jantung Morgan yang berpacu kencang di bawah telapak tangannya.

"Morgan ... jantungmu berdetak sangat cepat," Liana mendongak, menatap dagu Morgan yang kokoh. Ia sedikit mengangkat tubuhnya, membuat kemeja itu tersingkap lebih tinggi di bagian paha.

Morgan memejamkan mata rapat-rapat. Pikirannya mulai kacau. Nafsu primitif seorang pria dewasa mulai mengambil alih kontrol dirinya. Bayangan tentang bagaimana rasanya mencicipi bibir Liana, bagaimana rasanya melanggar kontrak itu dan menyerah pada insting, terus berputar di kepalanya. Tangannya yang berada di samping tubuh mulai mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan dorongan untuk membalikkan tubuh dan menguasai Liana di bawahnya.

Liana merasakan guncangan itu. Ia merasa menang. Ia terus memberikan sentuhan-sentuhan kecil yang merangsang, berpura-pura seolah itu adalah gerakan refleks karena takut akan petir. Ia sengaja mengerang pelan saat guntur kembali terdengar, sambil semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Morgan, membiarkan dadanya menempel pada lengan Morgan.

"Kau sangat hangat, Morgan ..." bisik Liana lagi, suaranya kini terdengar sangat menggoda, jauh dari kesan ketakutan.

Morgan hampir kehilangan akal sehatnya. Ia bisa merasakan gairah yang meledak-ledak di dalam dirinya. Satu gerakan saja, satu sambutan saja dari tangannya, maka segalanya akan berubah. Kontrak itu akan hancur, dan Liana akan mendapatkan keinginannya.

Namun, di tengah badai nafsu yang berkecamuk, bayangan wajah Liam Shine muncul di benak Morgan. Ia teringat sumpah yang baru saja ia ucapkan di kapel—bukan tentang kepemilikan, tapi tentang penjagaan. Jika ia menyerah sekarang, ia bukan lagi seorang pelindung, melainkan pria lemah yang dikendalikan oleh insting hewani.

Dengan satu sentakan napas yang tajam, Morgan tiba-tiba meraih kedua pergelangan tangan Liana dan menahannya dengan kuat di atas kasur. Ia membuka matanya, menatap Liana dengan sorot mata yang begitu gelap dan intens hingga membuat Liana terdiam seketika.

"Cukup, Liana," suara Morgan terdengar parau, pecah oleh gairah yang tertahan namun tetap mengandung otoritas mutlak.

Liana tertegun, menatap Morgan dengan napas yang memburu. "Kenapa? Bukankah kau menginginkannya? Aku bisa merasakannya, Morgan."

"Ya, aku menginginkannya. Kau berhasil membuktikan bahwa aku adalah pria normal dengan hormon yang berfungsi," Morgan melepaskan tangan Liana, lalu ia duduk di pinggir ranjang, membelakangi Liana. Bahunya naik turun saat ia mencoba mengatur napasnya kembali. "Tapi aku bukan pria yang akan melanggar janjinya hanya karena sedikit godaan fisik. Aku tidak akan membiarkanmu menang dengan cara seperti ini."

Morgan berdiri, ia mengambil bantalnya dan berjalan menuju pintu kamar tanpa menoleh sedikit pun. Langkah kakinya terdengar mantap meski tubuhnya masih gemetar karena menahan gairah yang belum padam.

"Tidurlah. Hujan sudah mulai reda. Aku akan kembali ke sofa," ucap Morgan dingin.

Brak!

Pintu kamar tertutup dengan bunyi yang sangat keras. Liana terkapar di tengah ranjang yang kini terasa sangat kosong. Ia menatap langit-langit kamar dengan perasaan kesal yang luar biasa. Ia merasa dipermalukan bukan karena ditolak, tapi karena ia menyadari bahwa Morgan memiliki kekuatan mental yang jauh di atas bayangannya.

"Sialan! Robot itu benar-benar tidak punya celah!" Liana memukul bantal dengan geram.

Rencana rayuannya gagal total. Morgan berhasil menahan diri meski sudah di ujung tanduk. Liana merasa rencananya untuk membatalkan kontrak melalui skandal nafsu ini akan jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan. Ia berbalik, memunggungi pintu, dan mencoba tidur dengan perasaan dongkol yang membakar dadanya. Di luar sana, di ruang tamu, Morgan duduk terdiam di sofa, menatap hujan yang mulai mendingin, menyadari bahwa ia baru saja memenangkan satu pertempuran kecil, namun perang melawan perasaannya sendiri terhadap Liana baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!