NovelToon NovelToon
My Cold Guardian Husband

My Cold Guardian Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Liana hamil anak pria lain, tapi Morgan—suami kontrak yang selalu ia maki—justru yang menggagalkan aborsinya dan mengaku sebagai ayahnya. 'Hiduplah untuk anak itu,' ucap Morgan dingin, meski hatinya hancur melihat istrinya merindukan pria yang telah membuangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencuri Ciuman

Suasana di dalam ruang kuliah Makroekonomi II masih menyisakan hawa dingin dari mesin pendingin ruangan yang bekerja maksimal. Aroma buku tua dan sisa-sisa spidol papan tulis memenuhi udara. Morgan baru saja menutup laptopnya, memberikan isyarat bahwa kelas hari ini telah berakhir. Mahasiswa mulai berkemas, menciptakan kebisingan dari ritsleting tas dan seretan kursi di atas lantai porselen.

Liana Shine duduk di barisan kedua, jemarinya bergerak lambat memasukkan buku catatan ke dalam tas jinjingnya. Pikirannya masih tertuju pada cara Morgan menjelaskan tentang fluktuasi pasar tadi—begitu tenang, begitu presisi, seolah pria itu benar-benar tidak terpengaruh oleh insiden di parkiran kemarin.

Namun, ketenangan itu seketika pecah saat pintu ganda ruang kuliah terbuka dengan hentakan kasar.

Derby Neeson melangkah masuk. Pria itu tidak mengenakan kemeja rapi seperti mahasiswa ekonomi lainnya; ia memakai kaos dalam hitam yang dibalut kemeja flanel terbuka dan celana jins belel. Matanya menyapu ruangan dengan sorot liar yang provokatif, mengabaikan tatapan sinis dari beberapa mahasiswa yang masih berada di dalam.

Liana tersentak. "Derby? Apa yang kau lakukan di sini?"

Derby tidak menjawab dengan kata-kata. Ia berjalan cepat menuruni undakan tangga kelas, langkah sepatunya berdentum keras di lantai, menuju langsung ke arah meja Liana.

Di depan kelas, Morgan sedang merapikan kabel proyektor. Gerakan tangannya terhenti sejenak saat ia melihat sosok Derby melalui sudut matanya, namun ia tidak langsung mendongak. Morgan tetap melanjutkan kegiatannya, menggulung kabel dengan ketelitian yang nyaris obsesif, seolah kehadiran Derby hanyalah gangguan teknis kecil yang bisa diabaikan.

"Aku merindukanmu, Sayang," suara Derby menggelegar, sengaja dikeraskan agar memenuhi seisi ruangan yang kini mendadak sunyi.

Sebelum Liana sempat bereaksi atau berdiri dari kursinya, Derby sudah merengkuh wajah Liana dengan kedua tangannya. Gerakannya kasar dan menuntut. Tanpa mempedulikan puluhan pasang mata mahasiswa—dan yang paling penting, mata sang dosen pengampu—Derby membungkuk dan mencium bibir Liana dengan cara yang sangat provokatif, sebuah klaim kepemilikan yang vulgar di tengah lingkungan akademis yang suci.

Liana mematung. Matanya terbelalak kaget. Ia mencoba mendorong dada Derby, namun tenaga pria itu jauh lebih kuat. Ciuman itu bukan didasari rasa cinta, melainkan sebuah senjata untuk menghina martabat pria yang berdiri beberapa meter dari mereka.

Morgan Bruggman akhirnya mendongak.

Wajahnya tetap seperti topeng porselen yang dingin. Tidak ada kerutan kemarahan di keningnya. Tidak ada teriakan pengusiran. Morgan justru melangkah perlahan menuju meja dosen, mengambil tas kulitnya, dan menyampirkan jas hitamnya ke lengan kiri. Ia berjalan menuruni podium, menuju pintu keluar yang mengharuskannya melewati bangku Liana dan Derby.

Setiap langkah kaki Morgan terasa seperti detak jam yang menghitung mundur ledakan. Mahasiswa yang tersisa di dalam kelas menahan napas, berekspektasi sang dosen akan meledak atau setidaknya memberikan teguran keras atas tindakan tidak senonoh itu.

Saat Morgan berada tepat di samping mereka, Derby melepaskan ciumannya. Pria itu menyeringai penuh kemenangan, menatap Morgan dengan tatapan menantang, sementara lengannya masih merangkul bahu Liana yang gemetar.

"Oh, maaf, Pak Dosen," ucap Derby dengan nada mengejek yang kental. "Aku lupa ini kelasmu. Tapi kau tahu sendiri kan, anak muda memang sulit menahan perasaan."

Morgan berhenti melangkah. Ia berdiri tegak, membetulkan letak kacamata bacanya yang berkilat dingin di bawah lampu neon. Ia menatap lurus ke depan, bahkan tidak memberikan anugerah berupa tatapan mata kepada Derby.

"Saudara Derby," ucap Morgan, suaranya jernih, datar, dan sangat berwibawa. "Universitas ini memiliki standar etika yang jelas. Jika Anda ingin melakukan tindakan ... primitif semacam itu, saya sarankan Anda melakukannya di luar gerbang kampus. Di sini, kita menghargai intelegensi, bukan insting hewani yang tak terkendali."

"Kau bilang apa?!" Derby melangkah maju, melepaskan Liana dan mencoba mengintimidasi Morgan secara fisik.

Morgan tetap tidak bergeming. Namun, di balik saku jas yang tersampir di lengannya, tangan kanan Morgan terkepal sangat kuat. Buku-buku jarinya memutih, kuku-kukunya menekan telapak tangan hingga menimbulkan rasa perih yang nyata. Itu adalah satu-satunya tanda bahwa "robot" ini sedang berperang melawan badai amarah yang dahsyat di dalam dadanya. Ia ingin sekali menghantamkan tinjunya ke wajah Derby, menyeret pria itu keluar, dan menyatakan pada dunia bahwa Liana adalah istrinya.

Tapi ia tidak bisa. Sumpah pernikahan mereka terikat kontrak kerahasiaan. Keselamatan masa depan Liana bergantung pada ketenangan kepala Morgan.

"Liana," panggil Morgan, suaranya tetap setenang es, namun ada getaran halus yang hanya bisa dirasakan oleh Liana. Ia menoleh sedikit, memberikan tatapan yang sangat dalam kepada istrinya. "Segera selesaikan urusan pribadi Anda. Anda masih memiliki tanggung jawab esai yang harus dikumpulkan sore ini."

Tanpa menunggu jawaban, Morgan kembali melangkah. Ia berjalan melewati mereka dengan dagu terangkat, meninggalkan aroma parfum jeruk nipis dan kayu manis yang dingin di udara. Ia tidak menoleh ke belakang sedikit pun. Baginya, melihat Liana disentuh oleh pria seperti Derby adalah siksaan yang lebih berat daripada kematian, namun ia lebih memilih mati dalam diam daripada kehilangan kendali profesionalnya.

Liana berdiri terpaku, menatap punggung Morgan yang semakin menjauh. Ia melihat betapa kokohnya bahu pria itu, namun ia juga menyadari satu hal. Ia melihat kepalan tangan Morgan yang tersembunyi di balik jas itu perlahan merenggang saat pria itu mencapai pintu, seolah-olah Morgan baru saja melepaskan beban yang sangat berat.

"Lihat itu? Dia bahkan tidak peduli padamu, Liana!" Derby tertawa, mencoba merangkul Liana lagi. "Dia itu robot! Dia tidak punya hati!"

"Cukup, Derby!" Liana menyentakkan tangan Derby dengan kasar. Wajahnya memerah karena malu dan marah pada dirinya sendiri. "Keluar dari sini! Sekarang!"

"Liana, aku melakukan ini untuk—"

"KELUAR!" teriak Liana hingga suaranya serak.

Derby yang terkejut melihat kemarahan Liana yang belum pernah terjadi sebelumnya, akhirnya mendengus dan melangkah pergi sambil mengumpal.

Setelah kelas kosong, Liana terduduk lemas di kursinya. Ia menyentuh bibirnya yang terasa pahit. Ia merasa kotor, bukan hanya karena ciuman Derby, tapi karena ia membiarkan suaminya melihat pemandangan itu. Liana teringat tatapan Morgan tadi—tatapan yang tidak menghakimi, namun penuh dengan kekecewaan yang mendalam.

Liana segera menyambar tasnya dan berlari menuju kantor dosen. Ia harus menjelaskan sesuatu. Ia harus meminta maaf. Ia tidak peduli jika harus melanggar protokol mahasiswa-dosen.

Sampai di depan pintu ruangan Morgan, Liana berhenti sejenak untuk mengatur napas. Ia mendengar suara barang pecah dari dalam ruangan.

Prang!

Liana dengan ragu mendorong pintu yang sedikit terbuka. Di dalam sana, ia melihat Morgan berdiri membelakangi pintu. Gelas kaca di mejanya hancur berkeping-keping di lantai, dan tangan kanan Morgan yang berdarah karena serpihan kaca itu masih mengepal di atas meja kayu.

Morgan tidak bergerak. Napasnya terdengar berat dan tidak beraturan. Jasnya tergeletak sembarangan di lantai, sebuah pemandangan yang sangat tidak lazim bagi seorang pria yang gila akan kerapian.

"Morgan ..." bisik Liana lirih.

Morgan tersentak. Ia segera menyembunyikan tangannya yang terluka di balik punggungnya dan berbalik, mencoba memasang kembali topeng dinginnya dalam sekejap.

"Liana? Apa yang kau lakukan di sini? Saya tidak memberikan izin bagi mahasiswa untuk masuk tanpa mengetuk," ucap Morgan, suaranya kembali datar, namun matanya yang memerah tidak bisa berbohong.

Liana tidak mendengarkan. Ia berlari menghampiri Morgan, meraih tangan pria itu yang berdarah. "Kau terluka! Kenapa kau melakukan ini?"

"Itu hanya kecelakaan kecil," Morgan mencoba menarik tangannya kembali, namun Liana memegangnya dengan erat.

"Itu bukan kecelakaan, Morgan! Aku tahu kau marah! Kenapa kau tidak memukulnya tadi? Kenapa kau hanya diam dan membiarkan dia melakukan itu?!" air mata Liana mulai mengalir.

Morgan terdiam. Ia menatap Liana dengan tatapan yang menghancurkan. Rasa perih di tangannya tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa perih saat ia melihat Derby menyentuh bibir Liana. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Liana, suaranya kini terdengar sangat parau.

"Karena jika aku menyentuhnya tadi, Liana ... aku tidak akan berhenti sampai dia berhenti bernapas. Dan aku tidak akan membiarkan amarahku menghancurkan hidup yang sedang kucoba bangun untukmu. Sekarang, pergilah. Biarkan aku sendiri."

Liana membeku. Ia baru menyadari bahwa di balik sikap "debu statistik" dan wajah datar suaminya, ada seorang pria yang sedang menahan monster demi melindunginya. Ia tidak pergi. Liana justru mengambil sapu tangan dari tasnya dan mulai membalut luka di tangan Morgan dengan sangat lembut.

Malam itu, di dalam kantor dosen yang sunyi, dinding es di antara mereka tidak mencair, namun retakannya semakin besar. Morgan membiarkan Liana mengobati lukanya, menyadari bahwa meski Derby bisa mencuri ciuman di depan umum, dialah yang memiliki hak untuk merasakan perhatian Liana di tempat yang paling tulus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!