Di Benua Awan Gelap, yang kuat dihormati bagai dewa, dan yang lemah diinjak bagai semut. Shen Yuan, seorang pemuda dengan pembuluh nadi bawaan yang cacat, hidup dalam kehinaan di sudut kota terpencil. Namun, takdirnya berubah ketika kepingan darah dari masa purbakala menyatu dengan jantungnya, memberikannya warisan "Jalan Iblis Penelan Surga".
Dari seorang buangan, ia melangkah di atas lautan darah dan gunung tulang. Ia akan menantang keangkuhan para putra langit, menghancurkan sekte-sekte berusia ribuan tahun, dan menguak tabir kebohongan para dewa yang bertahta di Sembilan Cakrawala. Ini adalah kisah tentang fana yang menggugat takdir, selangkah demi selangkah menuju keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemburu di Balik Kabut
Badai petir terus mengamuk, menyirami Benua Awan Gelap dengan curahan air yang seolah tak berujung. Bagi Shen Yuan, hujan lebat ini adalah anugerah dari langit. Aliran air yang deras menyapu bersih jejak kaki dan aroma darah hitam yang sesekali ia muntahkan di sepanjang jalan setapak berlumpur.
Di depannya, bayangan pepohonan raksasa menjulang tinggi menembus langit malam, saling berhimpitan membentuk benteng alam yang mengerikan. Kabut berwarna hijau keabu-abuan mengalir pelan di sela-sela akar pohon yang meliuk bagai ular naga. Aroma busuk dari daun-daun yang membusuk selama ribuan tahun menyengat hidung.
Ini adalah batas terluar dari Pegunungan Kabut Beracun—tempat di mana bahkan para tetua Kota Debu Merah harus berpikir dua kali sebelum melangkah masuk.
Tanpa ragu sedikit pun, Shen Yuan menyeret kakinya yang terasa seberat timah dan menerobos masuk ke dalam tirai kabut beracun tersebut.
Begitu ia melangkah masuk, hawa dingin yang menusuk tulang langsung menyergapnya. Kabut racun itu mencoba meresap melalui pori-pori kulitnya. Namun, Nadi Iblis Penelan Surga di dalam tubuhnya segera bereaksi meski dalam keadaan lemah, menyerap racun-racun ringan tersebut dan menetralkannya secara perlahan. Keistimewaan tubuh fisiknya yang telah dibersihkan oleh Teratai Tulang Putih benar-benar menyelamatkan nyawanya kali ini.
Shen Yuan berjalan terhuyung-huyung sejauh dua li ke dalam hutan, sebelum akhirnya tubuhnya tidak bisa lagi menahan beban. Ia tersandung sebuah akar pohon yang menonjol dan jatuh terjerembap ke dalam genangan lumpur basah.
Uhuk! Uhuk!
Ia terbatuk keras, memegangi dadanya yang terasa seperti sedang diiris oleh ribuan pisau berkarat. Dantian-nya benar-benar kering kerontang, tidak ada setetes pun hawa murni yang tersisa. Wajahnya sepucat mayat yang telah dikubur berhari-hari. Membakar sepuluh tetes intisari darah adalah harga yang terlalu mahal untuk seorang pendekar di Ranah Penempaan Raga.
"Bocah gila... kau benar-benar tidak menyayangi nyawamu sendiri!" Suara Leluhur Darah bergema di dalam lautan kesadarannya, terdengar kesal namun bercampur dengan sedikit nada kekaguman yang jarang terjadi. "Menggunakan Jurus Pelarian Darah Iblis di Ranah Penempaan Raga... jika tekadmu sedikit saja lebih lemah, jiwamu pasti sudah hancur menjadi debu saat berlari tadi!"
"A-Aku masih hidup, bukan...?" Shen Yuan memaksakan sebuah senyum pahit di bibirnya yang gemetar. Ia bersandar pada batang pohon purba yang berongga, berusaha mengatur napasnya. "Leluhur... bagaimana caraku memulihkan intisari darah yang terbakar ini?"
"Hmph! Intisari darah adalah fondasi kehidupan seorang pendekar. Kehilangan sepuluh tetes berarti kau telah kehilangan separuh dari potensi masa depanmu. Jika kau membiarkannya seperti ini, jangan harap kau bisa menembus Ranah Pembukaan Nadi seumur hidupmu!" tegur Leluhur Darah dengan tajam.
Leluhur Darah terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang sangat dingin, "Satu-satunya cara untuk menambal kekosongan fondasimu dalam waktu singkat adalah dengan merampas fondasi orang lain. Esensi darah binatang buas tingkat rendah terlalu kotor untuk menambal intisari darah. Kau membutuhkan esensi darah yang murni... esensi darah dari sesama pendekar fana."
Mata hitam Shen Yuan melebar sesaat. Menelan esensi binatang buas untuk kultivasi sudah dianggap kejam oleh dunia persilatan lurus, tetapi menelan esensi manusia... itu adalah jalan iblis sesungguhnya yang akan membuatnya menjadi musuh seluruh dunia.
Namun, bayangan wajah angkuh Shen Tian dan tatapan merendahkan dari Tetua Agung Shen Cangqiu melintas di benaknya. Di dunia di mana yang kuat memangsa yang lemah, apa bedanya manusia dengan binatang buas? Jika langit tidak adil, maka ia sendiri yang akan menelan keadilan itu.
"Begitu rupanya..." Mata Shen Yuan yang tadinya meredup kini kembali memancarkan kilatan buas berwarna merah darah. "Leluhur, jika aku harus menginjak jutaan mayat untuk mencapai puncak Sembilan Cakrawala, maka biarlah lautan darah itu dimulai dari malam ini."
Tiba-tiba, telinga Shen Yuan menangkap suara samar dari kejauhan.
Suara kepakan sayap burung gagak yang terkejut, diikuti oleh gemerisik langkah kaki yang tergesa-gesa membelah semak belukar. Ada juga suara gonggongan rendah yang sangat khas.
Naluri bertahan hidupnya berteriak keras. Pasukan pengejar dari Keluarga Shen telah tiba di perbatasan Pegunungan Kabut Beracun lebih cepat dari perkiraannya! Mereka pasti menggunakan Anjing Pencium Darah—binatang siluman tingkat rendah yang sangat peka terhadap bau intisari darah yang terluka.
Shen Yuan segera meraih segenggam lumpur rawa yang berbau busuk tajam, lalu melumurinya ke seluruh tubuh dan wajahnya untuk menyamarkan sisa-sisa aroma darahnya. Ia kemudian merayap masuk ke dalam rongga gelap di bawah akar pohon purba tersebut, menahan napasnya, dan menyatu dengan kegelapan.
Tak lama kemudian, tiga sosok berpakaian serba hitam dengan lambang awan darah di dada mereka muncul menembus kabut. Mereka memegang obor yang apinya berwarna kebiruan—api yang tidak mudah padam oleh rintik hujan dan mampu menembus hawa beracun.
"Hati-hati! Kabut di sini mulai menebal. Jika kalian terpisah lebih dari sepuluh tombak, racun itu akan membuat kalian melihat ilusi," perintah seorang pria berbadan tegap yang berjalan paling depan. Ia adalah Shen Mo, salah satu kapten Pasukan Bayangan Darah yang berada di Ranah Penempaan Raga Lapisan Keenam.
Dua anggota pasukan lainnya yang berada di Lapisan Keempat mengangguk patuh. Salah satu dari mereka memegang rantai besi yang mengikat seekor anjing berbulu merah. Anjing itu mengendus-endus tanah dengan gelisah, berputar-putar di sekitar genangan lumpur tempat Shen Yuan terjatuh sebelumnya, lalu mulai melolong kebingungan karena aroma targetnya tiba-tiba tertutup oleh bau busuk rawa yang menyengat.
"Sialan! Hujan lebat dan rawa busuk ini merusak penciuman Anjing Darah," rutuk anggota pasukan yang memegang rantai. "Kapten Mo, anak haram itu pasti masuk ke arah dalam. Tapi dengan luka separah yang dikatakan Tetua Agung, mungkinkah dia bisa bertahan hidup lebih dari satu malam di pegunungan ini?"
"Jangan meremehkan mangsa yang terpojok," jawab Shen Mo dengan suara berat, matanya menyapu kegelapan hutan bak elang yang mencari tikus. "Tetua Agung mengatakan anak itu entah bagaimana bisa membunuh Shen Kai dan Shen Li hanya dalam dua tarikan napas. Ia menyembunyikan kekuatannya. Kita berpencar menjadi tiga arah. Persempit jarak pencarian menjadi lima tombak antar orang. Jika kalian menemukan jejaknya, segera letuskan Kembang Api Sinyal. Jangan coba-coba menangkapnya sendirian!"
Ketiga orang itu segera menyebar, membentuk formasi kipas dan melangkah perlahan menyusuri semak-semak berduri.
Dari balik rongga akar pohon yang gelap, sepasang mata Shen Yuan mengawasi setiap pergerakan mereka. Ia tidak memiliki senjata, tidak memiliki sisa hawa murni, dan tubuhnya lemah. Menghadapi pendekar Lapisan Keenam secara langsung sama saja dengan menyetorkan nyawa. Namun, ia tidak perlu mengalahkan ketiganya sekaligus.
Sebagai seorang pemburu, kesabaran adalah senjata yang paling mematikan.
Shen Yuan diam tak bergerak layaknya sebongkah batu mati selama lebih dari seperempat batang dupa. Ia membiarkan Shen Mo lewat, dan memusatkan pandangannya pada salah satu anggota pasukan di Lapisan Keempat yang kini telah terpisah cukup jauh dari rekan-rekannya akibat pekatnya kabut beracun.
Anggota pasukan itu berjalan mengendap-endap, memegang pedang baja di satu tangan dan obor di tangan lainnya. Ia terus mengusap matanya yang mulai perih karena hawa beracun. Tanpa ia sadari, ia melangkah semakin dekat ke arah pohon purba tempat Shen Yuan bersembunyi.
Gemerisik...
Anggota pasukan itu berhenti, mengarahkan obornya ke arah rongga di bawah akar. Matanya menyipit, berusaha menembus kegelapan. "Siapa di sana?!"
Itu adalah kata-kata terakhir yang ia ucapkan di dunia ini.
Bagaikan hantu air yang melompat keluar dari rawa berlumpur, Shen Yuan melesat dari tempat persembunyiannya. Ia tidak menggunakan tinju atau telapak tangannya karena kekurangan hawa murni. Sebaliknya, saat ia melompat, tangannya meraih sebuah dahan kayu purba yang telah membatu sekeras besi.
Dengan kekuatan jasmani yang tersisa, Shen Yuan mengayunkan dahan membatu itu dengan kecepatan kilat, membidik sisi leher pria berpakaian hitam tersebut.
Craaak!
Kayu sekeras besi itu menghantam leher anggota pasukan tersebut, meremukkan tulang leher dan menghancurkan pita suaranya seketika. Pria itu bahkan tidak sempat menjerit. Obor dan pedang di tangannya terlepas, namun sebelum benda-benda itu jatuh ke tanah dan menimbulkan suara bising, Shen Yuan menendangnya ke udara dan menangkap tubuh pria itu.
Shen Yuan menyeret tubuh pria yang sedang sekarat itu kembali ke balik rongga akar yang gelap. Mata pria itu melotot penuh teror menatap wajah pemuda berlumuran lumpur yang bagaikan iblis dari kedalaman Sembilan Neraka.
Tanpa belas kasihan, Shen Yuan meletakkan telapak tangannya tepat di atas Dantian pria tersebut.
Sutra Penelan Surga, Putaran Mutlak!
Seketika itu juga, hawa murni merah kehitaman yang tipis namun sangat rakus merayap keluar dari tangan Shen Yuan, menembus pakaian dan kulit pria tersebut. Pria itu kejang-kejang dengan hebat. Esensi darah di dalam tubuhnya mendidih, lalu disedot keluar secara paksa memasuki Nadi Iblis Penelan Surga.
Berbeda dengan esensi darah binatang buas yang liar dan sulit dijinakkan, esensi darah seorang pendekar fana jauh lebih murni dan mudah diserap. Aliran kekuatan yang hangat merayap masuk ke Dantian Shen Yuan yang kosong, bagaikan air hujan yang menyirami tanah retak di musim kemarau.
Hanya dalam sepuluh tarikan napas, tubuh anggota pasukan di Lapisan Keempat itu mengering menjadi kerangka berlapis kulit tipis. Bahkan hawa murni di dalam Dantian-nya pun diserap habis oleh Shen Yuan.
Shen Yuan memejamkan matanya, merasakan perubahan di dalam tubuhnya. Rasa sakit di dadanya berkurang drastis. Hawa murninya pulih hingga mencapai sepertiga dari batas puncaknya, dan yang paling penting... di dasar lautan darahnya, satu tetes intisari darah yang tadinya terbakar kini perlahan mengembun kembali!
"Luar biasa..." bisik Shen Yuan, membuka matanya yang kini memancarkan cahaya darah yang tajam. "Esensi darah manusia... kekuatan yang benar-benar memabukkan."
Ia telah membunuh satu. Masih ada puluhan, mungkin ratusan Pasukan Bayangan Darah di luar sana yang mencari kepalanya.
Shen Yuan mengambil pedang baja milik mayat tersebut, lalu menyarungkannya di pinggangnya yang compang-camping. Ia menjilat bibirnya yang kering, mengubah perannya dari seekor domba yang diburu menjadi sang serigala pemangsa.
Di kedalaman Pegunungan Kabut Beracun, malam pembantaian baru saja dimulai.