"Cintai aku sekali lagi."
(Cuma enam suku kata. Tapi beratnya kayak batu nisan.
Kata siapa yang ngomong? Keana ke Bima? Atau Bima yang dulu, yang masih gamon, yang masih berharap? Dua-duanya bisa.
Itu celanya. Itu bagusnya.)
---
"Peluk hangat untukmu yang selalu berusaha paham akan aksaraku, aku belajar bahwa kolaborasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari algoritma yang dirancang untuk memahami bahasa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vianza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Pulang yang Nggak Pernah Sampai
...GAMON...
...Bab 1: Pulang yang Nggak Pernah Sampai...
...POV Keana...
---
Malam itu Keana pulang larut malam.
Bukan karena lembur. Bukan karena macet. Tapi karena dia sengaja minta taksi muter—tiga kali putaran di jalan yang sama—biar nggak cepet-cepet sampai di kost. Biar nggak harus ngadepin Bima yang udah pasti nunggu dengan masakan hangat dan senyum lebarnya.
Bima selalu nunggu. Bima selalu ada.
Dan justru itu yang bikin dia muak.
---
Ponsel di genggaman bergetar lagi. Layar menyala di tengah gelap taksi.
Bima (19.47): "Sayang, udah di kost? Sop iga udah mateng nih. Aku bikin sambel ijo kesukaan kamu."
Keana baca. Lalu di-swipe. Dibiarkan biru.
Bima (20.23): "Kangen. Cepet pulang ya. Sop iganya aku angetin terus biar nggak dingin."
Keana menghela napas. Kangen. Kata itu dulu manis. Sekarang?
Bima (21.05): "Sayang? Taksi-nya aman? Kok nggak bales?"
Bima (21.37): "Aku jemput yuk? Kamu di mana?"
Bima (22.14): "Udah sampai kosan? Tolong kabarin, Sayang. Aku khawatir."
22.14.
Dua jam lebih dia muter-muter. Dua jam lebih Bima nunggu. Dua jam lebih pesan itu nggak dibalas.
Keana menatap layar. 16 notifikasi dari kontak yang sama. 16 kali pertanyaan yang sama: "Kamu di mana?", "Udah makan?", "Aku khawatir."
Dulu, pesan-pesan ini bikin dia merasa dicintai.
Sekarang?
Sesak.
Bukan karena khawatir. Bukan karena takut. Tapi karena… dia tahu isi pesan itu sebelum membacanya. Karena Bima itu predictable. Karena besok pagi, Bima akan kirim pesan lagi: "Selamat pagi, Sayang. Udah sarapan?"
Dan lusa akan sama. Dan seterusnya. Dan seterusnya.
Tiga tahun. Pola yang nggak pernah berubah.
---
Keana memejamkan mata. Kepalanya bersandar di jendela taksi. Getaran jalan masuk ke tulang, tapi dia nggak merasa.
Di luar, lampu-lampu kota lewat satu per satu. Gedung tinggi, restoran mewah, mobil-mobil mahal.
Dia ingat Andra. Cowok dari kantor sebelah. Yang sore tadi ngajak ngobrol di pantry.
"Kerja sampai malem, Kean?"
"Iya. Deadline."
"Cowok lo jemput?"
Dia geleng. "Biasanya iya. Tadi suruh nggak usah."
Andra tersenyum. Senyum yang beda. Yang bikin dia ngerasa… dilihat. Bukan sebagai "pacar orang", tapi sebagai perempuan.
"Kalau gitu, jangan lembur sendiri. Kasian. Nanti sakit."
Kalimat biasa. Tapi dari Andra, rasanya beda.
Bima juga sering bilang "jangan lembur sendiri, nanti sakit". Tapi dari Bima, rasanya… ya gitu-gitu aja.
---
Taksi berhenti.
"Depan gang, Mbak?" tukang taksi nanya.
"Iya, sini aja."
Keana turun. Bayar. Langkahnya masuk ke gang sempit yang udah dia lewati ribuan kali. Lampu gang mati—lagi. Dia hafal setiap tikungan, setiap lubang, setiap tempat Bima biasa nunggu.
Malam ini, Bima nggak ada di depan kost.
Mungkin udah capek nunggu. Mungkin udah pulang.
Atau mungkin—buat pertama kalinya—Bima lepas.
---
Pintu kost dibuka. Gelap. Sepi.
Keana masuk, lepas sepatu, duduk di tepi kasur.
Ponselnya bergetar lagi. Bima.
Bima (23.47): "Sayang, sop iganya udah dingin. Aku simpen di kulkas. Besok angetin ya. Maaf kalo aku ganggu terus tadi. Aku cuma khawatir. Istirahat yang cukup. Love you."
Love you.
Dua kata yang dulu dia bales dengan dua kata yang sama.
Malam ini, dia cuma menatap layar. Jempolnya di atas kolom balasan. Mau ngetik apa? Udah sampai? Udah jelas. Makasih? Makasih buat apa? Buat sop iga yang udah dingin? Buat worry yang berlebihan? Buat cinta yang nggak pernah dia minta?
Dia meletakkan ponsel. Menatap langit-langit.
Retak di pojok kanan masih ada. Dari setahun lalu. Bima beberapa kali nawarin buat nambal, tapi dia bilang nggak usah.
Bima nurut. Selalu nurut.
Dan itu juga yang bikin dia… sebal.
---
Flashback—Setahun Lalu
Bima duduk di lantai kostannya, kepala di pangkuan Keana. Mereka abis nonton film.
"Kean."
"Hmm?"
"Aku sayang kamu banget."
Keana tersenyum. Tangannya mengusap rambut Bima.
"Aku juga sayang, Bim."
"Kita akan selalu bareng, kan?"
Keana tertawa. "Iya, iya. Lo nggak usah insecure."
Bima bangun, menatapnya. Matanya serius. "Bukan insecure. Aku cuma nggak mau kehilangan kamu."
Keana menatapnya. Di situ, di matanya, dia lihat ketulusan yang nggak bisa diragukan.
Dan diam-diam, di dalam hati, dia berpikir:
"Apa cuma segini? Apa ini terus?"
---
Kembali ke Sekarang
Keana membuka mata. Gelap. Sepi. Hanya suara kipas angin tua yang berputar.
Dia bangun. Berjalan ke dapur kecil. Buka kulkas.
Mangkuk sop iga dibungkus rapat. Daun pisang di atasnya—biar makin wangi, kata Bima.
Dia ambil sendok. Cicip sedikit.
Dingin. Tapi masih terasa rempahnya. Masih terasa Bima.
Dia makan. Sendok demi sendok. Pelan. Sendirian.
Dan di tengah makan itu, air matanya jatuh.
Bukan karena sopnya enak.
Bukan karena dia kangen.
Tapi karena dia sadar:
Dia nggak akan pernah bisa benci Bima.
Dan justru itu yang bikin dia ingin pergi.
---
Ponselnya diambil lagi. Chat dengan Bima dibuka.
Pesan terakhir Bima: "Love you."
Keana mengetik. Jari berhenti. Dihapus. Mengetik lagi. Dihapus lagi.
Akhirnya, dia ngetik satu kata.
Keana (00.23): "Iya."
Iya.
Bukan "love you". Bukan "makasih". Bukan "maaf". Hanya "iya".
Seolah semua perhatian, semua sop iga, semua worry Bima selama ini—pantesnya cuma dibales dengan satu kata.
Dia kirim.
Lalu dia matikan ponsel. Taruh di nakas. Balik badan.
Di luar, hujan mulai turun. Deras.
---
Bersambung ke Bab 2: Laki-Laki Lain
---
📝 Preview Bab 2:
Di kamar kostnya yang gelap, Bima membaca balasan itu. Hanya "iya".
Dia tahu. Dia tahu ada yang salah.
Tapi dia nggak berani nanya.
Karena kadang, lebih sakit tahu jawabannya, daripada hidup dalam tanda tanya.
Besok pagi, Keana akan bertemu Andra lagi.
Dan Bima akan mulai merasakan—bahwa cinta yang dia jaga selama tiga tahun, mungkin sebentar lagi lepas.
---