bertemu dengan pria yang super duper nyebelin udah mah dia yang di tabrak ke mobil sekarang dia yang harus ganti rugi
itu yang di alami Ara bertemu dengan yoga pria yang paling nyebelin versi dia
ehh harus bertemu lagi dengan pria nyebelin dalam ikatan pacar(sewaan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Septiayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
semakin banyak berhutang
Pagi itu terasa berbeda.
Cahaya matahari masuk perlahan ke dalam kamar, menyinari wajah Arabella yang masih tertidur di pangkuan ibunya.
Perlahan, Arabella membuka matanya.
Ia mengedip beberapa kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya.
Beberapa detik ia hanya diam.
Hingga akhirnya ia sadar—
kepalanya masih berada di paha ibunya.
“Ibu…” gumamnya pelan, suaranya masih serak.
Ia tersenyum kecil, mengira ibunya masih tertidur.
Arabella mengangkat tubuhnya perlahan.
“Ibu, bangun… udah pagi…”
Namun…
tidak ada respon.
Keningnya berkerut.
“Ibu?”
Ia menyentuh tangan ibunya.
Dingin.
Perasaan tidak enak langsung menyergap.
“Ibu…?”
Suaranya mulai bergetar.
Ia mengguncang bahu ibunya sedikit lebih kuat.
“Ibu, bangun… jangan bercanda…”
Tetap diam.
Tidak ada gerakan.
Jantung Arabella langsung berdegup kencang.
“Ibu?!”
Panik.
Ia mengguncang lebih keras.
“Ibu bangun! Bu! IBU!”
Air matanya langsung jatuh tanpa bisa ditahan.
Napasnya mulai tidak teratur.
Tangannya gemetar.
Ia tidak tahu harus bagaimana.
Kamar itu terasa sempit.
Sepi.
Menakutkan.
“Aku harus… aku harus gimana…”
Ia mondar-mandir sebentar, panik sendiri.
Lalu dengan tangan gemetar, ia meraih ponselnya.
Nama itu langsung muncul di pikirannya.
Yoga.
Tanpa ragu, ia menekan tombol panggil.
—
Di sisi lain kota, Yoga baru saja bangun.
Ponselnya bergetar di meja samping tempat tidur.
Ia mengerjapkan mata, sedikit heran melihat nama Arabella di layar.
Pagi-pagi seperti ini?
Ia langsung mengangkat.
“Halo—”
Tangisan langsung pecah dari seberang.
Yoga langsung duduk tegak.
“Bela?!”
“Ibu aku… Yoga… ibu aku nggak bangun… aku takut… aku nggak tahu harus gimana…”
Kata-kata Arabella kacau.
Terpotong oleh tangis.
Wajah Yoga langsung berubah serius.
“Tenang, Bela. Dengar aku.”
Suaranya tegas tapi menenangkan.
“Aku ke sana sekarang. Jangan panik. Aku datang.”
Tanpa menunggu jawaban, ia langsung bangkit.
Dengan cepat ia bersiap.
Beruntung, pagi itu ia menginap di apartemennya yang tidak jauh dari kos Arabella.
—
Sementara itu, Arabella kembali ke sisi ibunya.
Tangannya menggenggam tangan ibunya erat.
“Ibu… jangan gini… aku takut…”
Air matanya terus mengalir.
Di sela kepanikannya, ia menghubungi Althea.
“Thea… tolong ke kos… sekarang… aku butuh kamu…”
—
Tidak lama, Althea datang.
Melihat kondisi itu, wajahnya langsung pucat.
“Ya Allah, Bela…”
“Ibu aku nggak bangun…” suara Arabella lemah.
Althea langsung sigap.
“Kamu tenang dulu, aku di sini.”
Ia mengurus kedua adik Arabella, menenangkan mereka agar tidak semakin panik.
—
Tak lama kemudian—
pintu terbuka dengan cepat.
“Bela!”
Yoga datang.
Napasnya sedikit terengah.
Ia langsung menghampiri.
Melihat kondisi ibu Arabella, wajahnya langsung tegang.
“Kita bawa ke rumah sakit sekarang.”
Tanpa banyak bicara, ia mengangkat tubuh ibu Arabella dengan hati-hati.
“Ayo!”
—
Di rumah sakit.
Semua terasa cepat.
Terlalu cepat.
Perawat datang, tandu didorong, suara alat medis terdengar di mana-mana.
Arabella hanya bisa mengikuti…
dengan kaki yang terasa lemas.
Saat pintu ruang pemeriksaan tertutup—
dunianya seperti ikut tertutup.
Ia tidak kuat lagi.
Tangisnya pecah.
Yoga langsung menariknya ke dalam pelukan.
“Bela… tenang…”
“Aku takut…” isaknya. “Aku takut kehilangan ibu…”
Yoga mengusap rambutnya pelan.
“Tidak akan terjadi apa-apa.”
Namun di dalam hatinya, ia sendiri tidak yakin.
—
Waktu berjalan lambat.
Sangat lambat.
Hingga akhirnya—
seorang dokter keluar dari ruangan.
Arabella langsung berdiri.
“Dok… ibu saya gimana?”
Suaranya bergetar.
Dokter menatapnya dengan ekspresi serius, namun tetap tenang.
“Kami sudah melakukan pemeriksaan awal.”
Arabella menelan ludah.
“Kondisi ibu Anda cukup serius.”
Air mata kembali jatuh.
“Beliau mengalami penyakit jantung koroner yang sudah berada pada tahap lanjut.”
Arabella terdiam.
Dokter melanjutkan, kali ini dengan penjelasan yang lebih rinci.
“Penyakit jantung koroner adalah kondisi di mana pembuluh darah yang menyuplai darah ke jantung mengalami penyempitan atau penyumbatan.”
Arabella mencoba mendengarkan, meski kepalanya terasa berat.
“Penyumbatan ini biasanya disebabkan oleh penumpukan lemak atau plak di dinding pembuluh darah. Akibatnya, aliran darah ke jantung berkurang.”
Yoga yang berdiri di sampingnya ikut fokus mendengarkan.
“Jika aliran darah berkurang terlalu banyak, jantung kekurangan oksigen. Itu yang menyebabkan nyeri dada, sesak napas, bahkan bisa menyebabkan serangan jantung mendadak.”
Arabella menutup mulutnya, menahan tangis.
Dokter melanjutkan dengan nada lebih dalam.
“Dalam kasus ibu Anda, penyumbatan sudah cukup parah. Kemungkinan besar sudah berlangsung lama, tapi mungkin tidak terdeteksi sejak awal.”
Arabella langsung teringat…
ibunya yang sering menahan sakit.
Yang tidak pernah mengeluh.
“Karena itu, kondisi beliau sekarang memburuk dan menyebabkan pingsan.”
Seketika kaki Arabella terasa lemas.
Yoga langsung menopangnya.
“Untuk kondisi seperti ini,” lanjut dokter, “tindakan terbaik adalah operasi, biasanya berupa pemasangan ring atau bypass jantung, tergantung hasil lanjutan pemeriksaan.”
Arabella menatap dokter dengan mata penuh harap.
“Kalau tidak dioperasi, Dok…?”
Dokter terdiam sejenak.
“Risikonya sangat besar. Bisa terjadi serangan jantung sewaktu-waktu.”
Hening.
Dunia Arabella seperti runtuh.
“Operasi harus segera dilakukan.”
Satu kalimat itu terasa sangat berat.
Arabella menunduk.
Tangannya gemetar.
“Saya… tidak punya biaya sebesar itu, Dok…”
Suaranya nyaris tidak terdengar.
Saat itulah—
Yoga melangkah maju.
“Lakukan yang terbaik untuk ibu dia.”
Arabella langsung menoleh.
“Yoga… jangan…”
Namun Yoga tetap menatap dokter.
“Segera lakukan tindakan.”
Dokter mengangguk.
“Baik, kami akan siapkan.”
—
Ibunya langsung dibawa ke ruang operasi.
Pintu tertutup.
Lampu merah menyala.
Arabella terduduk lemas.
Tatapannya kosong.
Air matanya terus jatuh.
“Aku… makin berhutang sama kamu…”
Suaranya lirih.
Penuh rasa bersalah.
Yoga duduk di sampingnya.
Menariknya perlahan ke dalam pelukan.
“Sudah…”
Suaranya lembut.
“Sekarang yang penting ibu kamu selamat.”
Arabella menangis di dadanya.
“Aku takut… kalau aku kehilangan dia… aku nggak punya siapa-siapa lagi…”
Yoga memeluknya lebih erat.
“Kamu punya aku.”
Kalimat itu sederhana.
Namun terasa sangat dalam.
Arabella memejamkan mata.
Menangis lebih dalam lagi.
Di tengah rasa takut…
rasa bersalah…
dan rasa terjebak—
perasaannya pada Yoga semakin tumbuh.
Dan kali ini…
ia benar-benar tidak tahu…
bagaimana cara menghentikannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waktu terasa berjalan sangat lambat.
Arabella masih duduk di depan ruang operasi.
Lampu merah itu masih menyala.
Tanda bahwa ibunya masih berjuang di dalam sana.
Tangannya gemetar.
Sesekali ia menatap pintu itu dengan harapan—
seolah berharap pintu itu terbuka dan semuanya baik-baik saja.
Namun kenyataan tidak seindah itu.
Tangisnya belum juga berhenti.
Ia bersandar di dada Yoga, mencari sedikit ketenangan.
Yoga memeluknya erat.
Tangannya terus mengusap pelan punggung Arabella.
“Tenang… aku di sini…”
Bisiknya pelan.
Beberapa menit kemudian—
langkah kaki terdengar mendekat.
“Yo.”
Suara itu membuat Yoga menoleh.
Rafi.
Ia datang dengan napas sedikit terengah, membawa sebuah paper bag di tangannya.
“Gue beliin makan,” katanya sambil menyerahkan kantong itu.
Yoga mengangguk.
“Thanks.”
Tanpa banyak bicara, ia langsung membuka paper bag tersebut.
Aroma makanan hangat langsung tercium.
Namun Arabella tidak bereaksi.
Tatapannya masih kosong.
“Bela,” panggil Yoga pelan.
Tidak ada respon.
Yoga menghela napas pelan.
Ia mengambil sendok, membuka makanan itu, lalu menyendok sedikit.
“Buka mulut.”
Arabella menggeleng pelan.
“Aku nggak lapar…”
Suaranya lemah.
Yoga menatapnya serius.
“Kamu harus makan.”
Arabella tetap menggeleng.
“Nggak bisa…”
Yoga mendekatkan sendok itu.
“Sedikit saja.”
Arabella menutup mulutnya.
Namun Yoga tidak menyerah.
“Kalau kamu sakit, siapa yang jagain ibu kamu nanti?”
Kalimat itu membuat Arabella terdiam.
Perlahan…
ia membuka mulutnya.
Suapan pertama masuk.
Tangisnya kembali jatuh.
Namun kali ini, ia tetap makan.
Yoga terus menyuapinya dengan sabar.
Tidak terburu-buru.
Penuh perhatian.
Sesekali ia mengusap air mata Arabella dengan ibu jarinya.
“Pelan-pelan…”
Beberapa suapan berlalu.
Arabella mulai sedikit lebih tenang.
Saat Yoga kembali mengangkat sendok—
tiba-tiba tangan Arabella menahan pergelangan tangannya.
“Cukup…”
Yoga mengerutkan kening.
“Kamu belum banyak makan.”
Arabella menggeleng.
“Kamu juga belum makan.”
Yoga terdiam.
“Tidak apa-apa.”
Arabella menatapnya.
“Kamu dari tadi juga belum makan, kan?”
Yoga tidak menjawab.
Namun diamnya sudah cukup menjadi jawaban.
Arabella menarik pelan sendok dari tangan Yoga.
“Sekarang gantian.”
Yoga sedikit terkejut.
“Bela—”
“Buka mulut.”
Nada suaranya pelan, tapi tegas.
Yoga menatapnya beberapa detik.
Lalu… tanpa banyak protes—
ia menurut.
Suapan itu masuk.
Arabella menyuapinya pelan.
Meski tangannya masih sedikit gemetar.
Namun ada sesuatu yang berubah.
Suasana yang tadi penuh kecemasan…
perlahan terasa hangat.
Mereka saling diam.
Namun tindakan kecil itu—
berbicara lebih dari kata-kata.
Beberapa saat kemudian—
tanpa sadar—
mereka saling menyuapi.
Bergantian.
Pelan.
penuh dengan perhatian.
senyum yang dalam.
Tatapan yang hangat.
Seolah dunia di sekitar mereka berhenti sejenak.
—
Rafi yang berdiri tidak jauh dari sana hanya bisa memperhatikan.
Ia menyilangkan tangan di dada.
Menatap mereka dengan ekspresi sulit dijelaskan.
Dalam hatinya ia bergumam,
“Ini… bukan sekadar perjanjian.”
Tatapannya berubah lebih dalam.
“Ini udah kayak pasangan beneran…”
Ia menghela napas pelan.
“Bahkan… lebih dari itu.”
Rafi memalingkan wajahnya sejenak.
Memberi mereka ruang.
Namun dalam pikirannya—
satu hal terus terlintas.
Perasaan seperti ini…
tidak akan mudah dihentikan.
Dan kalau suatu saat semuanya berakhir—
yang tersisa…
bukan hanya kenangan.
Tapi juga luka.