NovelToon NovelToon
Aku Milikmu, Tuan Mafia

Aku Milikmu, Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Cinta Murni
Popularitas:336
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Rachel hanya ingin menyelamatkan nyawa adiknya.
Namun bantuan dari ayah tirinya itu justru berubah menjadi mimpi buruk ketika ia dijual pada Tom—seorang pria kaya, kejam, dan terobsesi memilikinya. Terperangkap dalam sangkar emas yang menyesakkan, Rachel akhirnya memilih kabur dan mempertaruhkan segalanya demi kebebasan.
Di saat itulah ia bertemu Liam Smith. Pria misterius yang tampak dingin dan tak tersentuh. Bagi Rachel, Liam hanyalah seorang penyelamat. Tapi ia tidak tahu satu hal, bahwa Liam adalah bos mafia dan dirinya adalah seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya yang tak pernah bisa Liam lupakan.
Namun, ketika Rachel akhirnya mengetahui siapa Liam sebenarnya, ia dihadapkan pada dua pilihan. Akankah ia mampu bertahan dengan pria yang bisa melindunginya dari seluruh dunia? Atau akankah ia justru memilih meninggalkannya sebelum dunia Liam menghancurkan hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebenaran yang Lain

Malam kedua tanpa Liam di rumah itu terasa lebih sunyi daripada malam sebelumnya. Lampu-lampu menyala di beberapa sudut, cukup untuk menerangi lorong panjang dan ruang tamu yang luas, tapi terasa kosong. Rachel tahu Liam mungkin tidak akan pulang malam ini. Namun tubuhnya tetap berada dalam kondisi siaga, seolah kondisi di rumah ini bisa berubah kapan saja.

Sunyi di sini bukan jenis sunyi yang menenangkan. Bukan juga kesunyian kamar tidur di tengah hujan atau dini hari menjelang pagi. Ini sunyi yang terasa seperti menunggu sesuatu atau seseorang, yang belum tahu kapan akan datang.

Rachel akhirnya keluar dari kamarnya. Ia berjalan pelan menuju ruang makan yang tampak sudah rapi, dengan meja makan bersih tanpa adanya beberapa piring makanan yang dihidangkan. Di dapur, Mrs. Cassel masih terlihat membereskan peralatan, gerakannya tenang dan teratur, seperti seseorang yang sudah terbiasa menghabiskan malam dalam rutinitas yang sama.

Rachel berhenti di ambang pintu. Ia tidak langsung bicara, melainkan duduk di salah satu kursi, menautkan jemarinya di pangkuan, lalu terdiam beberapa detik. Pikirannya terlalu penuh untuk kembali ke kamar dan mengurung diri sendirian di sana.

Ia tidak ingin sendirian malam ini. Bukan karena takut. Tapi karena jika ia sendirian, semua pertanyaan itu akan kembali menekan dari dalam.

“Mrs. Cassel…” suara Rachel terdengar pelan, hampir ragu. “Bolehkah Anda… menemani saya sebentar lagi?”

Mrs. Cassel menoleh, jelas terkejut. Alisnya terangkat sedikit, seolah permintaan itu terdengar tidak biasa. Namun setelah sesaat, ia mengangguk pelan.

“Tentu, Rachel,” jawabnya. “Kalau itu tidak merepotkan.”

“Tentu saja tidak,” Rachel menggeleng cepat. “Justru saya yang… tidak ingin mengganggu.”

Mrs. Cassel tersenyum kecil dan duduk di seberangnya. Malam itu, di antara mereka seolah tidak ada status sebagai pelayan dan tamu, melainkan hanya dua orang dewasa yang sama-sama membawa kesepiannya masing-masing.

Rachel menarik napas. “Semalam, aku sudah mendengar sedikit tentang Tuan Smith,” katanya hati-hati. “Dari Anda… dari hal-hal kecil yang tanpa sengaja saya lihat. Tapi rasanya itu belum cukup.”

Ia menatap meja, lalu kembali mengangkat wajahnya. “Saya ingin mengenalnya lebih banyak. Apa pun. Tentang seperti apa dia sebenarnya.”

Mrs. Cassel menautkan tangannya di atas meja. Wajahnya berubah lebih serius, namun tidak tertutup.

“Tuan Smith…” ia berhenti sejenak, mencari kata yang tepat. “Bukan orang yang mudah dipahami dari luar.”

Rachel tersenyum tipis. “Ya. Sepertinya saya mulai menyadarinya.”

“Ia pria yang sangat tertutup,” lanjut Mrs. Cassel. “Jarang bicara tentang dirinya sendiri. Bahkan kepada kami yang sudah lama bekerja di sini.”

“Sudah berapa lama Anda mengenalnya?” tanya Rachel.

“Hampir tujuh tahun,” jawab Mrs. Cassel tanpa ragu. “Dan selama itu, saya jarang sekali melihat beliau benar-benar beristirahat. Beliau pekerja keras. Pergi dan datang tanpa banyak cerita.”

Rachel mengangguk pelan. “Dia memang terlihat seperti orang yang… tidak pernah berhenti.”

“Betul,” sahut Mrs. Cassel. “Dan beliau tidak suka rumah yang terlalu ramai. Tapi bukan karena tidak peduli. Lebih karena beliau tidak terbiasa.”

“Tidak terbiasa?” Rachel mengulang.

Mrs. Cassel tersenyum samar. “Kesepian membuat seseorang belajar menjaga jarak, Nona. Dan kadang itu terlalu jauh.”

Rachel terdiam, mencerna kalimat yang entah kenapa terasa tepat.

“Namun satu hal yang selalu sama,” lanjut Mrs. Cassel. “Beliau selalu memastikan orang-orangnya aman. Tidak hanya kami, tapi juga keluarga kami."

Rachel membeku. “Dia benar-benar… melakukan itu?”

Mrs. Cassel mengangguk. “Tanpa banyak bicara. Bahkan kami diminta untuk tidak menceritakannya pada siapa pun. Beliau tidak suka dipuji.”

“Kenapa?” tanya Rachel lirih.

“Katanya, itu bukan kebaikan,” jawab Mrs. Cassel. “Itu hanya bentuk tanggung jawab.”

Rachel menghela napas pelan. Setiap cerita terasa terlalu konsisten untuk menjadi sebuah kebohongan. Cerita itu tidak dibungkus dengan kisah heroik, dan tidak juga terdengar dilebih-lebihkan. Namun, justru itulah yang membuatnya terasa begitu nyata.

Rachel tidak langsung berbicara setelah cerita terakhir Mrs. Cassel selesai. Ia menunduk, seraya jarinya menyentuh tepi cangkir yang sudah dingin. Ada dorongan di dadanya, bukan rasa ingin tahu biasa, tapi sesuatu yang lebih tajam. Ia tahu pertanyaan itu berbahaya. Namun jika ia tidak menanyakannya sekarang, pikirannya akan terus berputar.

“Tuan Smith…” Rachel mengangkat wajahnya perlahan. Nada suaranya hati-hati, seolah satu kata yang salah bisa mengubah segalanya. “Apakah dia… punya kekasih?”

Mrs. Cassel tidak langsung menjawab. Ia menarik napas, lalu menggeleng kecil. “Saya tidak tahu soal kekasih. Beliau tidak pernah membawa urusan seperti itu ke rumah.”

Rachel mengangguk, lalu menunggu jawaban itu diselesaikan.

“Tapi,” lanjut Mrs. Cassel, suaranya sedikit lebih rendah, “saya bisa mengatakan satu hal dengan pasti. Ini pertama kalinya Tuan Smith membiarkan seorang wanita tinggal di sini lebih dari semalam.”

Kalimat itu mendarat pelan, tapi berat. Rachel merasakan dadanya menegang, seperti ada benang yang ditarik tanpa peringatan.

Mrs. Cassel menatapnya sejenak dengan ragu, lalu memutuskan untuk jujur sepenuhnya. “Beliau memang sering membawa wanita pulang,” katanya. “Namun hanya untuk satu malam. Dan itu selalu wanita yang berbeda. Tidak pernah ada yang datang dua kali sejauh ini.”

Rachel memalingkan wajah dan bibirnya mengatup. Di dalam hati, ia sedang mengumpat. 'Jadi dia memang pria yang seperti itu juga', batinnya.

Pria dengan malam-malam singkat dan wajah-wajah wanita yang berganti. Gambaran yang selama ini ia duga dan tidak ingin ia akui, akhirnya mendapat bentuknya malam ini.

Ia merasakan sesuatu yang asing menyelinap masuk. Bukan marah, bukan juga perasaan takut. Perasaan itu seperti sesuatu yang lebih samar, atau lebih memalukan untuk diakui. Rasanya seperti ada rasa terusik, atau seperti wilayah yang bahkan belum ia sadari ingin ia jaga.

Namun kebingungan itu tidak datang sendirian. Ada lapisan lain yang menahannya bahwa Liam bukanlah Tom. Ia tidak pernah memaksa Rachel melakukan sesuatu yang ia inginkan. Ia bahkan berhenti ketika Rachel menolak. Dan terlebih lagi, Ia menyelamatkan Anna tanpa menjadikannya sebagai alat. Kebenaran-kebenaran itu pun berdiri berseberangan, membuat kepala Rachel terasa penuh.

“Terima kasih sudah jujur,” ucap Rachel akhirnya, suaranya terkendali. Ia tidak ingin Mrs. Cassel membaca gejolak di dalam dirinya.

Mrs. Cassel mengangguk, seolah mengerti lebih dari yang diucapkan. “Tuan Smith bukan malaikat, Rachel. Tapi ia juga bukan pria yang kejam tanpa batas. Ia hanya… pria yang hidupnya tidak sederhana.”

Rachel menyandarkan punggung ke kursi. Kata-kata itu tidak menenangkan, namun justru membuatnya semakin sadar bahwa posisinya kini berada di wilayah abu-abu yang berbahaya.

Percakapan mereka terhenti ketika ponsel Rachel bergetar di atas meja. Suara dengung pendek itu terdengar terlalu keras di ruang makan yang sunyi. Rachel menatap layar dengan nama satu huruf muncul jelas di sana.

'L'

Napasnya tertahan sesaat. Ia langsung mengangkat ponsel, lalu berdiri tanpa sadar. Mrs. Cassel yang masih berada di sebelahnya lantas memberi isyarat kecil, lalu bangkit dan pergi untuk memberi Rachel ruang.

“Halo?” jawab Rachel, berusaha menjaga suaranya tetap normal.

“Aku akan pulang malam ini,” suara Liam terdengar tenang, dingin seperti biasa. Tidak tergesa, tapi tidak juga hangat.

Rachel sontak menegakkan tubuh, seolah pria itu bisa melihatnya dari kejauhan.

“Tapi mungkin sudah sangat larut saat aku tiba,” lanjut Liam. Ada jeda singkat, cukup lama untuk membuat Rachel berharap, atau merasa takut, akan kalimat berikutnya. “Kalau ada yang ingin kau bicarakan… besok pagi saja.”

Tidak ada pertanyaan yang lolos dari mulut Rachel. Tidak ada ruang juga untuk menawar perkataan Liam. Telepon itu pun kemudian terputus dalam jeda yanh singkat.

Rachel menurunkan ponsel itu perlahan. Layar ponselnya menjadi gelap, memantulkan bayangan wajahnya sendiri yang tampak tegang dan penuh pertanyaan yang belum terjawab. Negosiasi yang ia susun rapi, juga kalimat-kalimat yang ia latih di depan cermin, malam ini semuanya tertunda lagi.

Ia tahu seharusnya ia merasa lega. Malam ini ia tidak perlu menghadapi Liam. Dan ia tidak perlu mengucapkan tawaran yang mungkin akan ditolaknya dalam waktu singkat. Namun yang muncul justru kegelisahan baru.

Setelah semua yang ia dengar tentang Liam, tentang kebaikan-kebaikannya yang tersembunyi, juga tentang fakta-fakta baru yang baru ia dengar tentangnya, besok pagi mungkin tidak akan lagi terasa sederhana. Percakapan di antara Liam dan Rachel bukan sekadar percakapan yang tertunda. Melainkan awal dari sesuatu yang belum ia pahami, dan mungkin tidak bisa ia kendalikan.

1
Yellow Sunshine
Hai, Readers! Selamat menikmati karya baru dari author ya? Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya. bcos ur support means a lot. Salam hangat, dari author 🤗
Mia Camelia
miris banget😔
Yellow Sunshine: Happy reading, Reader! Selamat menikmati episode-episode selanjutnya yg semakin menarik 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!