Aku berumur tujuh tahun saat nyamuk itu menggigit.
Aku berumur lima puluh dua saat akhirnya bisa berjalan lagi.
Empat puluh lima tahun di antaranya adalah sunyi.
Namaku Mahesa. Kakiku mulai membengkak sejak kecil. Dokter bilang cidera. Ibu bilang kutukan. Ayah bilang aku harus kuat.
Tidak ada yang bilang bahwa aku akan kehilangan segalanya.
Ayah meninggal jatuh dari bangunan. Ibu pergi membawa adik—dengan teriakan terakhir: "Dadah kaki gajah!" Kakek menjual sawah, lalu mati di pelukanku.
Sendirian. Mengemis. Dikucilkan. Mencoba bunuh diri—tali putus, atap roboh.
Lalu datang Reza, anak kecil pemberani yang berjanji: "Aku akan jadi dokter. Aku akan obati kaki Bapak."
Dua puluh tahun kemudian, pintu gubuk itu diketuk. Ia kembali.
Operasi berhasil. Aku bisa berjalan lagi.
Tapi infeksi kembali. Dokter bilang: amputasi.
Aku menatap kakiku—kaki yang menyiksaku selama 45 tahun, tapi juga satu-satunya yang setia menemani. Lalu aku berkata pada Reza:
"Aku mau pergi utuh."
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: DIAGNOSIS FILARIASIS, TERLAMBAT
Dokter spesialis. Kota besar. Rumah sakit yang lebih besar. Dinding putih yang lebih dingin.
Kakek Surya duduk di kursi plastik. Di ruang tunggu yang penuh orang. Tubuh tuanya membungkuk, tangan memegang tongkat, mata sayu menatap pintu ruang periksa. Mahesa di sampingnya. Kaki kanan terbungkus kain bersih—kain dari bekas baju kakek yang sudah dipotong. Terlihat. Tidak bisa disembunyikan.
Dua jam menunggu. Tiga jam. Nomor 47. Mereka nomor 47.
Orang-orang datang dan pergi. Beberapa melihat Mahesa. Beberapa mengernyit. Seorang ibu menarik anaknya menjauh. Seperti biasa. Seperti selalu.
Kakek menggenggam tangan Mahesa. Tangan keriput itu hangat. "Sebentar lagi, Nak."
Mahesa mengangguk. Tidak takut. Tidak cemas. Hanya... pasrah. Apa pun hasilnya, ia sudah siap. Sudah terbiasa dengan kenyataan pahit.
"Nomor 47!"
Mereka masuk. Ruangan kecil. Dinding putih. Meja besi. Dokter muda dengan kacamata tebal. Wajah serius.
"Duduk." Dokter menunjuk kursi. Matanya sudah pada kaki Mahesa. Sejak mereka masuk.
Mahesa duduk. Kaki kanan diangkat ke bangku kecil sesuai instruksi. Dokter memeriksa. Memegang. Menekan. Mengukur dengan alat. Membalik-balik buku tebal di mejanya.
Lama. Terlalu lama.
Kakek tidak sabar. "Dok, bagaimana?"
Dokter mendesah. Melepas kacamata. Menatap mereka bergantian. Wajahnya tidak bisa dibaca.
"Filariasis," katanya. Suara datar. Seperti mengucapkan cuaca. Seperti mengucapkan hal biasa. "Kaki gajah. Elephantiasis."
Filariasis. Kaki gajah. Kata-kata yang pernah didengar. Dari petugas puskesmas. Dari tetangga. Dari bisik-bisik di pasar.
Tapi sekarang resmi. Sekarang diagnosis. Sekarang... nyata.
"Sudah terlambat." Dokter melanjutkan. Kata-kata itu jatuh seperti batu. "Sudah stadium lanjut. Cacing filaria sudah merusak sistem limfatik. Pembengkakan permanen."
Terlambat. Kata yang menggantung. Kata yang menghukum. Kata yang bilang: seharusnya dari awal. Seharusnya saat demam pertama. Seharusnya saat bengkak pertama. Seharusnya... seharusnya.
Tapi tidak ada yang tahu. Tidak ada yang peduli cukup untuk tahu. Tidak ada dokter yang datang ke kampung. Tidak ada uang untuk ke kota. Tidak ada yang mengerti.
Kakek diam. Wajahnya pucat. Tapi tidak menangis. Tidak putus asa. Hanya diam. Mencerna.
"Bisa diobati?" tanya kakek akhirnya. Suara serak. Tapi masih ada harapan di sana.
Dokter mengangguk. "Bisa. Tapi tidak sembuh total. Kaki akan tetap besar. Obat hanya membunuh cacing. Menghentikan perkembangan. Tidak mengembalikan jaringan yang sudah rusak."
Cacing. Di dalam kakinya. Di dalam tubuhnya. Selama bertahun-tahun. Sejak gigitan nyamuk itu. Sejak demam pertama. Sejak bengkak yang dikira cidera.
Tanpa ia tahu. Tanpa ia bisa melihat. Tanpa ia bisa melawan. Cacing yang hidup di dalamnya. Yang memakan. Yang tumbuh. Yang menang.
Dokter menulis resep. Kertas putih. Coretan tidak terbaca. Lalu menyodorkan.
"Ini obatnya. Minum rutin. Setiap bulan. Jangan putus. Kalau putus, cacing bisa aktif lagi. Lebih parah."
Kakek membaca resep. Wajahnya berubah. Pucat jadi lebih pucat.
"Berapa, Dok?" tanyanya pelan.
Dokter menyebut angka. Angka yang besar. Sangat besar. Untuk orang seperti mereka, angka itu seperti gunung.
Kakek mengangguk. Tidak bertanya lagi. Hanya melipat resep. Memasukkannya ke saku.
"Terima kasih, Dok," katanya. Lalu berdiri. Membantu Mahesa berdiri.
Mereka keluar. Dari ruangan. Dari rumah sakit. Dari dunia putih yang dingin.
---
Di luar, matahari terik. Mahesa duduk di bangku taman dekat rumah sakit. Kakek di sampingnya. Diam. Berpikir.
"Kek," Mahesa memulai. "Jangan beli obat. Mahal. Aku... aku tidak apa-apa."
Kakek menatapnya. Lama. Mata tua itu berkaca. Tapi tegas.
"Sawah," katanya. "Kita jual sawah."
Mahesa terkejut. "Kek! Sawah tinggal satu! Itu dari nenek!"
Kakek menggeleng. "Nenek sudah lama pergi. Dia tidak butuh sawah. Kamu butuh obat. Kamu butuh hidup."
Hidup. Apakah ini masih hidup? Kaki besar. Luka tak sembuh. Ditinggal semua orang. Hanya jadi beban.
Tapi kakek melihat berbeda. Kakek melihatnya sebagai cucu. Sebagai alasan untuk berjuang. Sebagai... keluarga.
---
Dua hari kemudian, sawah laku. Kakek pulang dengan uang di tangan. Wajahnya lega. Tapi matanya... matanya sedih. Sawah terakhir. Warisan nenek. Sekarang milik orang lain.
Mereka ke apotek. Membeli obat. Sepuluh tablet untuk satu bulan. Mahal. Sangat mahal.
Mahesa memegang obat itu. Kecil. Putih. Tidak sebanding dengan sawah. Tidak sebanding dengan air mata kakek. Tapi ini satu-satunya harapan.
Pulang. Naik bus. Kakek diam sepanjang jalan. Mahesa juga diam. Tapi tangan mereka menggenggam. Tidak lepas.
---
Malam pertama. Mahesa minum obat. Satu tablet. Dengan air putih. Dengan doa.
Lima menit kemudian, perutnya mual. Dunia berputar. Kepala pusing. Ia berlari ke belakang. Muntah. Semua keluar. Obat keluar. Harapan keluar.
Kakek datang. Membantu. Menyeka. Memberi air.
"Tahan, Nak," katanya. "Ini biasa. Obat keras. Tubuhmu kaget."
Tahan. Kata yang selalu ia dengar. Dari ayah. Dari ibu. Sekarang dari kakek. Seperti ia punya pilihan. Seperti ia bisa tidak tahan.
Tapi Mahesa tahan. Bukan karena kuat. Bukan karena pilihan. Tapi karena tidak ada pilihan lain. Karena menyerah berarti kehilangan kakek juga.
---
Hari kedua. Obat kedua. Muntah lagi. Tapi tidak separah kemarin.
Hari ketiga. Obat ketiga. Muntah sedikit. Pusing masih.
Hari keempat. Kelima. Keenam.
Setiap malam, kakek di sampingnya. Menemani. Menyeka. Memberi semangat.
"Kamu kuat," katanya. "Seperti ayahmu. Dia juga kuat."
Mahesa menangis di pelukan kakek. Bukan karena sakit. Bukan karena obat. Tapi karena... ada yang menemani. Ada yang tidak pergi.
---
Malam ketujuh. Setelah muntah mereda, setelah pusing hilang, Mahesa duduk di beranda. Kaki kanan di atas bangku. Kakek di kursi goyang di sampingnya.
Bintang-bintang di langit. Jangkrik bernyanyi. Angin malam sejuk.
"Kek," Mahesa berkata pelan. "Maaf... aku jual sawah Kakek."
Kakek diam. Lalu berkata, "Sawah bisa dicari lagi. Tapi kamu nggak. Kamu satu-satunya yang kakek punya."
Air mata Mahesa jatuh. Tanpa bisa ditahan.
"Kakek takut nggak?" tanyanya. "Takut kalau... kalau nanti kakek pergi, aku sendiri?"
Kakek menatapnya. Lama. Lalu mengulurkan tangan keriput. Menyentuh pipi Mahesa.
"Kakek sudah tua," katanya. "Mungkin besok, mungkin lusa. Tapi selama kakek masih ada, kakek akan jagain kamu. Dan kalau kakek sudah pergi, kamu harus jaga diri sendiri. Kamu bisa. Kamu kuat."
Mahesa menangis di pangkuan kakek. Melepas semua. Semua yang ditahan.
Kakek mengelus kepalanya. Perlahan. Seperti ayah dulu. Seperti yang hilang.
---
Obat habis. Sepuluh tablet. Satu bulan berlalu.
Kaki masih besar. Masih bengkak. Tapi tidak lebih besar. Tidak lebih bengkak. Berhenti.
Mereka ke rumah sakit lagi. Periksa lagi. Dokter bilang cacing mati. Obat bekerja. Tapi kerusakan tetap. Kaki akan seperti ini selamanya.
Mahesa menerima. Tidak kecewa. Sudah tahu dari awal. Yang penting berhenti. Yang penting tidak tambah parah. Yang penting... masih bisa bersama kakek.
Pulang. Naik bus. Kali ini tidak ada yang menjauh. Mungkin karena kakek. Mungkin karena mereka sudah biasa. Mungkin karena... tidak peduli.
Mahesa duduk di samping kakek. Memegang tangannya. Tangannya keriput. Hangat. Ada.
Di luar, matahari mulai turun. Langit jingga. Indah. Mahesa melihatnya. Untuk pertama kalinya, ia melihat keindahan.
Bukan karena sembuh. Bukan karena normal. Tapi karena... ada yang menemani. Ada yang berjuang. Ada yang mencintai.
Kakek menjual sawah untuknya. Kakek menemaninya setiap malam. Kakek berkata "kamu satu-satunya yang kakek punya."
Itu lebih berharga dari sawah mana pun. Lebih mahal dari obat apa pun.
Mahesa tersenyum. Tipis. Tapi tersenyum.
"Kek," katanya.
"Iya, Nak?"
"Terima kasih."
Kakek menatapnya. Tersenyum balik. Senyum tua yang membuat keriput di wajahnya semakin dalam.
"Sama-sama, Nak. Sama-sama."
Bus terus berjalan. Membawa mereka pulang. Ke rumah kayu. Ke hidup sederhana. Ke masa depan yang tidak pasti.
Tapi bersama. Berdua. Kakek dan Mahesa.
Itu cukup. Untuk hari ini. Untuk diagnosis terlambat. Untuk sawah yang hilang. Untuk obat yang pahit.
Itu cukup.
Karena ada yang berjuang. Ada yang tidak menyerah. Ada yang bersama.
Malam ini, itu cukup.
---