“Alasan untuk mencintaimu hanyalah soal sosial.”
Kalimat itu menghantam hatiku seperti ribuan duri. Aku terdiam, seakan waktu menarikku kembali ke masa lalu.Andai saja saat itu aku tidak menuruti egonya.
Andai saja aku lebih berani mengikuti kata hatiku… untuk menolak perjodohan itu. Mungkin sekarang, hatiku tidak akan dipenuhi luka.
— Cinta Ribuan Duri —
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Pria dengan Hati yang Membeku
Pagi di kota itu kembali dimulai dengan kesibukan yang sama, jalanan dipenuhi kendaraan yang berlomba dengan waktu, gedung-gedung tinggi berdiri kokoh seolah tidak pernah tidur.
Di antara gedung-gedung itu berdiri sebuah bangunan kaca yang menjulang tinggi dengan tulisan besar di bagian depannya.
PT Viresta Global Corporation.
Salah satu perusahaan terbesar yang bergerak di berbagai bidang bisnis, mulai dari investasi hingga teknologi. Di lantai paling atas gedung itu terdapat sebuah ruangan luas dengan jendela besar yang menghadap langsung ke pusat kota.
Di dalam ruangan itu berdiri seorang pria tinggi dengan jas hitam yang terlihat sangat rapi. Areksa Putera Wijaya.
Ia berdiri di depan jendela sambil menatap ke luar dengan ekspresi yang dingin dan sulit ditebak. Tangannya berada di saku celana, sementara pikirannya tampak sibuk memikirkan sesuatu.
Di belakangnya beberapa direktur perusahaan berdiri dengan wajah tegang. Salah satu dari mereka akhirnya memberanikan diri berbicara.
“Tuan Areksa… mengenai proyek kerja sama ini, kami sebenarnya sudah berusaha semaksimal mungkin.”
Areksa tidak langsung menoleh. Suasana ruangan itu terasa sangat menekan. Pria itu akhirnya berbalik perlahan, tatapannya tajam seperti pisau. “Semaksimal mungkin?” suaranya rendah namun tegas.
Direktur itu menelan ludah. “Iya, Tuan.”
Areksa melangkah mendekat ke meja besar di tengah ruangan, ia mengambil berkas laporan yang ada di sana lalu melemparkannya kembali ke atas meja dengan cukup keras.
“Kalau ini yang kalian sebut maksimal, berarti standar kalian terlalu rendah.”
Tidak ada seorang pun yang berani menjawab. Tatapan Areksa menyapu seluruh ruangan.
Dingin.
Tegas.
Tanpa sedikit pun emosi.
“Saya tidak membayar kalian untuk membuat alasan.” Salah satu staf menundukkan kepalanya.
“Kami akan memperbaikinya, Tuan.” Areksa tidak mengatakan apa-apa lagi.
Ia hanya duduk di kursi kerjanya lalu membuka laptopnya. Itu tanda bahwa rapat sudah selesai. Para staf segera meninggalkan ruangan dengan langkah cepat.
Begitulah Areksa dikenal di perusahaan itu.Seorang CEO muda yang tegas, dingin, bahkan terkadang terlihat kejam. Tidak ada yang berani menentang keputusannya. Tidak ada yang berani membuat kesalahan di depannya.
Namun tidak banyak orang yang benar-benar mengetahui kehidupan pribadi pria itu. Beberapa jam kemudian Areksa akhirnya meninggalkan kantornya.
Mobil hitam mewahnya melaju menuju sebuah rumah besar yang berdiri cukup jauh dari keramaian kota. Rumah itu terlihat megah namun terasa sangat tenang.
Areksa turun dari mobil tanpa banyak bicara lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Begitu pintu terbuka, suara kecil langsung menyambutnya.
“Papa!”
Seorang anak kecil berlari tertatih-tatih ke arahnya. Bocah itu terlihat masih sangat kecil, usianya sekitar satu tahun dengan wajah yang sangat lucu.
Namanya Resa.
Putra dari Areksa.
Areksa berhenti melangkah ketika bocah itu memeluk kakinya.Untuk beberapa detik, ekspresi dingin di wajah pria itu sedikit berubah.
Ia menunduk lalu mengangkat anak kecil itu ke dalam pelukannya. “Kamu sudah makan?” tanyanya dengan suara yang jauh lebih lembut dari sebelumnya.
Seorang pengasuh anak mendekat. “Tuan, Resa sudah makan siang tadi.”
Areksa mengangguk pelan. Resa memegang kerah jas ayahnya dengan tangan kecilnya.
Bocah itu tertawa kecil seolah sangat senang melihat Areksa pulang. Areksa berjalan menuju ruang keluarga sambil menggendong anaknya.
Ia duduk di sofa besar lalu membiarkan Resa bermain dengan kancing jasnya. Bagi banyak orang, Areksa adalah pria yang dingin dan sulit didekati.
Namun di depan anak kecil itu, ia tidak pernah menunjukkan sikap kerasnya. Resa adalah satu-satunya orang yang masih bisa mencairkan sebagian kecil hatinya.
Beberapa saat kemudian ponsel Areksa bergetar di atas meja. Ia melirik layar ponselnya. Sebuah pesan dari asistennya.
“Tuan, besok ada rapat kerja sama dengan perusahaan baru.”
Areksa membaca pesan itu tanpa banyak ekspresi. Ia kemudian meletakkan kembali ponselnya. Resa masih duduk di pangkuannya sambil memainkan jam tangan yang ia kenakan.
Areksa menatap anak kecil itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Banyak orang tahu bahwa ia adalah seorang duda. Namun tidak banyak yang mengetahui cerita di baliknya.
Pernikahan yang dulu ia jalani bukanlah pilihan hatinya. Ia hanya mengikuti keinginan keluarganya. Namun bahkan setelah menikah, kehidupan rumah tangga itu tidak pernah benar-benar berjalan seperti pasangan suami istri pada umumnya.
Areksa tidak pernah benar-benar menjalani kehidupan pernikahan yang normal.
Tidak pernah ada malam pertama.
Tidak pernah ada hubungan yang benar-benar terjalin.
Dan pada akhirnya, semua itu berakhir sebelum sempat dimulai dengan baik. Kini yang tersisa hanyalah dirinya dan seorang anak kecil yang menjadi tanggung jawabnya.
Areksa menatap ke arah jendela ruang keluarga.
Langit di luar sudah mulai berubah gelap.Resa tertidur perlahan di pelukannya setelah lelah bermain. Areksa menggendong anak itu menuju kamar kecil yang sudah disiapkan untuknya.
Ia meletakkan Resa di tempat tidur dengan hati-hati. Bocah itu tertidur dengan sangat tenang. Areksa berdiri di samping tempat tidur beberapa saat.
Tatapannya tetap dingin seperti biasanya. Namun jauh di dalam hatinya, ada sesuatu yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun. Sesuatu yang membuatnya menjadi pria seperti sekarang.
Tegas.
Sinis.
Dan seolah memiliki hati yang benar-benar membeku. Areksa kemudian mematikan lampu kamar anaknya sebelum keluar dari ruangan itu. Malam kembali menyelimuti rumah besar tersebut.
Sementara di luar sana, dunia terus berjalan tanpa mengetahui bahwa kehidupan beberapa orang perlahan akan saling bersinggungan.
Termasuk kehidupan seorang wanita bernama Ardila. Dan seorang pria bernama Areksa Putera Wijaya.