Terlahir kembali sebagai Riser Phenex—bangsawan iblis paling dibenci dengan reputasi sampah—bukanlah pilihan yang buruk bagi seorang pemuda dari dunia modern. Dengan sistem "Yui" yang bermulut tajam namun setia, serta kekuatan terlarang dari masa lalu yang terkubur (Meliodas), Riser memutuskan untuk berhenti mengejar wanita yang tidak menginginkannya. Di hari Rating Game yang seharusnya menjadi kehancurannya, dia justru membakar naskah takdir. Dia membatalkan pertunangan, melepaskan gelar "pecundang", dan mulai membangun "keluarga" sejatinya sendiri. Dari pedang Saeko Busujima hingga kesetiaan Yasaka, Riser tidak hanya ingin bertahan hidup; dia ingin mendominasi dunia supranatural dengan gaya yang elegan, sarkastik, dan tak terbantahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehangatan dibalik Es
Cahaya fajar menyelinap malu-malu melalui celah jendela besar di koridor utama kastel Phenex. Setelah pertempuran yang menguras energi melawan Kokabiel dan ketegangan diplomatik dengan para pemimpin faksi, kastel ini terasa seperti satu-satunya tempat yang benar-benar aman dari hiruk-pikuk dunia luar. Bau dupa kayu cendana yang menenangkan memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma samar teh hijau yang sedang diseduh.
Riser duduk di kursi panjang di balkon kamarnya, menatap ke arah perkebunan luas keluarga Phenex yang masih berselimut kabut pagi. Dia hanya mengenakan jubah tidur sutra hitam yang longgar, memperlihatkan dadanya yang kini bersih dari tanda-tanda kegelapan, meski rasa lelah yang tumpul masih menetap di otot-ototnya.
Pintu balkon bergeser pelan dengan suara desisan kayu yang halus. Ayaka Kamizato masuk dengan langkah yang sangat ringan, seolah takut mengganggu ketenangan tuannya. Di tangannya terdapat nampan kayu berisi perlengkapan teh dan beberapa camilan tradisional.
"Anda belum beristirahat, Tuan Riser?" tanya Ayaka dengan nada suara yang rendah dan penuh kelembutan.
Riser menoleh sedikit, memberikan senyum tipis yang jarang ia perlihatkan kepada dunia luar. "Pikiranku masih sedikit terlalu aktif untuk tidur, Ayaka. Kehadiran Sirzechs dan Azazel tadi malam menyisakan banyak variabel yang harus dihitung."
Ayaka berlutut di samping meja kecil di dekat Riser, mulai menyeduh teh dengan gerakan tangan yang sangat presisi dan estetis. "Tugas untuk memikirkan variabel itu bisa menunggu hingga matahari lebih tinggi. Sekarang, tubuh Anda membutuhkan pemulihan."
[ Status Subjek: Riser Phenex ]
[ Kondisi: Kelelahan Mental (Sedang) ]
[ Rekomendasi: Relaksasi dan Asupan Energi ]
Ayaka menyerahkan secangkir teh panas kepada Riser. Saat jari mereka bersentuhan, Riser bisa merasakan betapa dinginnya jemari Ayaka—sebuah kontras yang aneh namun nyaman bagi suhu tubuhnya yang secara alami panas. Riser tidak segera melepaskan tangan itu; dia menggenggam jemari Ayaka sejenak, membuat gadis dari klan Kamizato itu sedikit tersipu, meski matanya tetap menatap Riser dengan penuh pengabdian.
"Kau juga tidak tidur," ucap Riser, suaranya kini terdengar lebih hangat. "Kau terus menjagaku sejak kita meninggalkan akademi."
"Itu adalah tanggung jawab saya sebagai bagian dari kekuatan Anda," jawab Ayaka pelan. "Melihat Anda menggunakan kekuatan yang begitu besar tadi malam... sejujurnya, itu membuat hati saya sedikit gelisah. Bukan karena takut, tapi karena saya merasa masih terlalu lemah untuk berdiri di samping Anda saat beban itu datang."
Riser menarik tangan Ayaka, memintanya untuk duduk di kursi di sampingnya daripada berlutut di lantai. Ayaka menurut, meski gerakannya tampak sedikit kaku karena rasa malu.
"Kekuatan itu memiliki harga, Ayaka," Riser menyesap tehnya, merasakan pahit dan manis yang seimbang di lidahnya. "Tapi memiliki seseorang yang bisa menyambutku kembali ke sisi 'manusiawi' setelah menggunakan kegelapan itu... itulah yang paling kubutuhkan. Dan kau melakukannya dengan sangat baik."
Ayaka menundukkan wajahnya, mencoba menyembunyikan binar di matanya. "Saya hanya melakukan apa yang hati saya inginkan."
Di sudut balkon yang tertutup bayangan, Saeko Busujima muncul dengan keanggunan seorang predator yang sedang beristirahat. Dia mengenakan kimono santai berwarna ungu gelap, rambut ungunya dibiarkan terurai bebas. Dia tidak mengganggu percakapan itu, namun kehadirannya memberikan rasa aman tambahan.
"Sepertinya aku melewatkan momen yang manis," ucap Saeko dengan nada menggoda yang dewasa. Dia berjalan mendekat dan berdiri di belakang kursi Riser, mulai memijat bahu Riser dengan tekanan yang sangat pas.
"Saeko," Riser mendesah pelan saat merasakan ketegangan di bahunya mulai mengendur di bawah jemari mahir sang Ksatria. "Kau juga butuh istirahat."
"Aku sudah cukup beristirahat dengan melihat musuh-musuhmu hancur tadi malam, Tuanku," jawab Saeko, matanya berkilat dengan kepuasan yang tenang. "Tapi melihatmu seperti ini... jauh lebih menenangkan daripada pertumpahan darah mana pun."
[ Status Hubungan: Sinkronisasi Emosional Meningkat ]
[ Ayaka Kamizato: 65% (Keterikatan Hati) ]
[ Saeko Busujima: 72% (Loyalitas & Hasrat) ]
Suasana di balkon itu menjadi sangat hangat dan intim, jauh dari citra Riser yang dingin dan manipulatif di medan perang. Di sini, di antara dua wanita yang telah menyerahkan hidup mereka padanya, Riser membiarkan dirinya menjadi sedikit lebih 'bucin'—sebuah sisi yang hanya ia simpan untuk mereka yang ada di dalam 'sarangnya'.
"Besok, kita akan mulai melatih Frozen Flash milikmu lebih serius, Ayaka," ucap Riser sambil memejamkan mata, menikmati pijatan Saeko dan kehadiran Ayaka. "Dan Saeko, aku punya sesuatu untuk memperkuat Muramasa milikmu. Tapi untuk saat ini... mari kita nikmati fajar ini sedikit lebih lama."
Keheningan fajar yang tenang di balkon itu mendadak terusik oleh suara langkah kaki yang terburu-buru dan bunyi gesekan sandal yang khas di atas lantai kayu. Saeko menghentikan pijatannya sejenak, sementara Ayaka menoleh ke arah pintu dengan ekspresi sedikit waspada. Namun, begitu sosok yang muncul terlihat, ketegangan itu mencair menjadi rasa maklum yang sedikit jenaka.
Shizuka Marikawa masuk dengan rambut pirangnya yang sedikit berantakan, masih mengenakan jas putih dokter yang disampirkan di atas gaun tidurnya yang tipis. Di tangannya, ia membawa tas medis kecil dan sebuah stetoskop yang menjuntai di lehernya.
"Riser-kun! Aku dengar dari Yubelluna kalau kau menggunakan kekuatan hitam yang menyeramkan itu lagi!" Shizuka berseru dengan nada cemas yang berlebihan, langsung menghambur ke arah Riser tanpa memedulikan etiket bangsawan.
"Shizuka, aku baik-baik saja," jawab Riser, mencoba menahan senyum saat melihat dokter pribadinya itu mulai meraba-raba keningnya dengan telapak tangan yang lembut namun sedikit ceroboh.
"Tidak, tidak! Tubuh iblis memang bisa beregenerasi, tapi energi kegelapan itu bisa meninggalkan residu di jalur mana!" Shizuka duduk di tepi kursi panjang Riser, membuat posisi mereka menjadi sangat dekat. "Buka jubahmu, aku harus memeriksa detak jantung dan aliran energimu secara langsung."
Ayaka sedikit tersipu dan memalingkan wajahnya, sementara Saeko hanya terkekeh pelan di belakang Riser. "Dokter kita sepertinya sedang sangat bersemangat pagi ini."
Riser menghela napas pasrah dan melonggarkan jubah sutranya, memperlihatkan dada bidangnya yang masih menyisakan sedikit uap dingin dari sisa pertarungan semalam. Shizuka dengan wajah serius—yang hanya muncul saat ia sedang bekerja—menempelkan stetoskopnya ke dada Riser.
[ Analisis Medis: Shizuka Marikawa ]
[ Status: Fokus Ekstrem ]
[ Aktivitas: Pemindaian Aliran Mana ]
"Hmm... detak jantungmu sangat kuat, tapi ada frekuensi yang tidak biasa," gumam Shizuka, wajahnya kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Riser. Matanya yang biasanya terlihat sayu dan ceroboh kini berkilat tajam di bawah bulu matanya yang lentik. "Riser-kun, kau harus lebih berhati-hati. Kalau kau rusak, siapa yang akan menjagaku dari monster-monster di luar sana?"
"Aku tidak akan rusak semudah itu, Shizuka," Riser mengulurkan tangan dan mengusap pipi Shizuka dengan lembut, membuat sang dokter tersentak kecil dan wajahnya memerah instan. "Tapi aku menghargai kekhawatiranmu."
Shizuka terdiam sejenak, kehilangan kata-kata akibat gestur romantis Riser yang tiba-tiba. Ia kemudian berdeham, mencoba kembali ke mode profesional meski tangannya sedikit gemetar saat merapikan tas medisnya. "A-aku akan menyiapkan ramuan penguat jiwa untukmu. Dan kau harus minum ini!"
Ia mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan merah muda yang berkilau. "Ini adalah ekstrak bunga matahari yang sudah kuberi mantra penyembuh. Rasanya manis, seperti permen."
Riser menerima botol itu dan meminumnya tanpa ragu. Rasa hangat yang nyaman langsung menjalar dari tenggorokannya ke seluruh sistem sarafnya, meredakan sisa-sisa rasa kaku akibat penggunaan kekuatan Meliodas.
[ Status: Pemulihan Mana Dipercepat ]
[ Efek: Relaksasi Mental ]
"Terima kasih, Shizuka," ucap Riser.
Shizuka tersenyum lebar, terlihat sangat puas. "Sama-sama! Tapi sebagai bayarannya, kau harus membiarkanku tidur di sini sebentar. Aku sudah terjaga sepanjang malam menunggumu pulang, dan sekarang aku sangat mengantuk..."
Tanpa menunggu persetujuan, Shizuka menyandarkan kepalanya di bahu Riser yang bebas dan dalam hitungan detik, napasnya menjadi teratur—dia tertidur lelap.
Ayaka kembali menatap mereka, senyum kecil menghiasi bibirnya. "Dia benar-benar sangat menyayangi Anda dengan caranya sendiri, Tuan Riser."
"Dia adalah jantung dari tim ini," balas Riser sambil melingkarkan lengannya di bahu Shizuka agar dokter itu tidak terjatuh. Ia menatap ketiga wanita yang ada bersamanya: Ayaka yang tenang, Saeko yang kuat, dan Shizuka yang tulus.
Momen damai ini adalah apa yang ia perjuangkan di balik semua manipulasi dan kekejaman yang ia tunjukkan pada musuh-musuhnya. Baginya, mereka bukan sekadar peerage atau aset; mereka adalah alasan mengapa Riser Phenex memilih untuk menjadi lebih dari sekadar antagonis di dunia ini.
"Istirahatlah kalian semua," bisik Riser. "Dunia luar mungkin sedang gempar karena Kokabiel, tapi di sini, waktu adalah milik kita."