NovelToon NovelToon
CINTA PERTAMA ANDREA

CINTA PERTAMA ANDREA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Konflik etika / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Kepulangan Andrea adalah hal yang paling Vhirel tunggu-tunggu. Hubungan mereka tidak pernah bisa di larang, selalu ada canda dan tawa meski kerap kali ada permusuhan yang pada akhirnya mereka saling mengerti bahwa sebuah perbedaan adalah sesuatu yang indah dalam sebuah hubungan. Namun sayangnya, status mereka hanyalah sebatas kakak beradik.

Lantas mengapa bisa mereka menganggapnya lebih dari sekedar itu?

Mereka bahkan tak pernah peduli jika keduanya telah menentang takdir Tuhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TERTAHAN OLEH INGATAN

Jadi orang yang bisa memaafkan kesalahan orang lain, karena siapa tahu ada konsumen yang datang dengan cerita dan sikapnya masing-masing, karena nggak semuanya sempurna, tapi tetap perlu diterima. Kamu paham kan maksud Kakak apa?

Kalimat-kalimat Vhirel tadi masih menggema di kepala Dea, berputar-putar seperti piringan hitam yang rusak. Nadanya yang lembut, berat, dan terasa begitu dewasa terus mengusik relung batinnya.

​Ah, Dea! Ayolah, sadar!

Umpatnya dalam hati.

Dia itu Kak Vhirel. Kakakmu sendiri! Apa yang sebenarnya kamu rasain?!

​Dea meremas jemarinya, mencoba mengusir debaran tak masuk akal yang masih tertinggal. Ia harus waras. Ia harus menarik diri kembali ke kenyataan sebelum perasaannya melangkah terlalu jauh ke zona terlarang.

​"Permisi, Buk."

​Suara berat dan serak itu menyentak Dea dari lamunannya, disusul hiruk-pikuk lain—beberapa tukang yang sibuk bekerja, bunyi palu bertemu kayu, dan gesekan alat-alat bangunan yang menandai proses renovasi calon butik itu.

Dea refleks berbalik cepat. Di ambang pintu, berdiri seorang pria—seorang tukang yang usianya sulit ditebak, tidak terlalu muda namun belum bisa dikatakan tua—menatapnya dengan raut bingung sekaligus segan.

​"Iya?" Sahut Dea cepat, berusaha mengatur napasnya agar kembali normal.

​"Ini... soal desain untuk dindingnya, Buk? Apa benar yang ini?" Pria itu menunjukkan selembar kertas denah yang sudah agak lecek.

​Dea berdehem sejenak, mencoba menepis bayangan Vhirel yang masih membekas di pelupuk matanya. Ia melangkah mendekat, memusatkan seluruh perhatiannya pada kertas di tangan pria itu.

Fokus. Batinnya.

ya. Ia harus fokus pada pekerjaan, pada hal-hal nyata yang ada di depan mata.

​"Hmmm, iya. Benar yang itu," jawab Dea, suaranya kini terdengar lebih mantap meskipun sisa rona merah di pipinya belum sepenuhnya pudar. Hingga akhirnya, ia ​mulai menjelaskan dengan detail, jemarinya menunjuk ke arah sudut-sudut ruangan yang masih kosong.

"Saya ingin konsepnya klasik tapi tetap terasa lembut. Gunakan sentuhan warna cream yang hangat, jangan terlalu mencolok..." Jelas Dea, suaranya lembut namun penuh keteguhan. Sementara itu, lengannya ikut bergerak, menunjuk beberapa sudut bangunan seolah sudah melihat bentuk akhirnya jauh sebelum renovasi itu benar-benar selesai.

"... dan saya ingin dinding ini memberikan kesan tenang, seperti rumah lama yang penuh kenangan tapi tetap elegan." Sambung Dea.

​Sambil berbicara tentang palet warna dan tekstur dinding, Ia seolah sedang membangun tembok pelindung untuk dirinya sendiri. Setiap instruksi yang ia berikan tentang cat dan dekorasi adalah upayanya untuk menimbun ingatan tentang tatapan Vhirel tadi.

Ya. Ia membenamkan diri dalam urusan teknis, membiarkan istilah-istilah arsitektur dan desain interior memenuhi kepalanya. Ia berharap aroma cat baru dan debu konstruksi mampu menenggelamkan sisa wangi maskulin itu—aroma yang mengejutkan, bahkan memabukkan, yang kini bahkan masih tak ingin tinggal.

****

Satu menit. Hanya tersisa enam puluh detik sebelum citra profesionalnya dipertaruhkan. Langkah kaki Vhirel bergema keras, beradu dengan lantai marmer koridor yang dingin. Di belakangnya, sang sekretaris setengah berlari, berusaha menyamakan ritme langkah bosnya yang tampak tak kenal ampun.

​Vhirel akhirnya mendorong pintu ruang rapat. Suara engsel pintu yang terbuka seolah membelah keheningan yang sempat mencekam di dalam sana. Dengan napas yang masih memburu dan dada yang naik turun tak beraturan, ia berusaha menguasai keadaan.

​"Halo, selamat pagi. Saya Vhirel Putra Wiratmadja," sapa Vhirel. Ia memaksakan sebuah senyum tipis namun berwibawa kepada pria di hadapannya—seorang lelaki yang usianya mungkin hanya terpaut beberapa tahun darinya.

​Pria itu berdiri, menyambut uluran tangan Vhirel dengan mantap. "Kenalkan, Pak. Saya Aldo Mahendra. Senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan Pak Vhirel. Semoga kerja sama di antara kita bisa berjalan dengan lancar."

​Vhirel mengangguk. "Kita mulai sekarang?"

"Mari, Pak."

Vhirel mempersilakan lelaki itu duduk kembali. Sementara itu, ia menarik kursi dan duduk di sampingnya, sama-sama menghadap layar.

"Pertama-tama, izinkan saya memperkenalkan profil perusahaan kami, Pak." Ucap Vhirel. "Dan, sekretaris kami yang akan memaparkannya.”

Lelaki itu lantas mengangguk pelan dan mengalihkan pandangannya ke layar yang menyala.

Dan, rapat pun dimulai. Hingga, ke momen ketika sang klien diijinkan untuk berbicara, memaparkan proyek besar itu dengan nadanya yang tegas dan jelas, pikiran Vhirel justru terlempar ke tempat lain.

Di hadapannya, layar infokus menyala terang, memproyeksikan angka-angka dan grafik yang seharusnya ia cermati. Namun, cahaya putih dari layar itu hanya menjadi latar kosong bagi imajinasinya. ​Setiap kali ia mengerjapkan mata, yang muncul bukanlah data perusahaan, melainkan wajah Dea.

​Vhirel masih bisa mengingat dengan jelas raut wajah wanita itu tadi pagi. Bagaimana mata Dea berkilat karena amarah, napasnya yang pendek-pendek menahan emosi, dan bagaimana bibirnya bergetar saat meluapkan kekecewaan. Kemarahan yang, anehnya, justru terlihat memukau di mata Vhirel—sebuah kecantikan yang liar dan jujur.

​Bayangan Dea yang sedang murka seolah menempel di layar infokus, menutupi setiap poin presentasi yang sedang dibahas. Suara klien pun perlahan memudar, berganti dengan gema teriakan Dea yang masih terngiang di telinganya.

​"Pak Vhirel? Bagaimana menurut Anda mengenai poin efisiensi ini?" suara Aldo menariknya kembali ke realitas.

​Vhirel tersentak kecil, jemarinya meremas pulpen digital di atas meja. Ia harus fokus. Batinnya. Namun, menghapus jejak emosi Dea dari benaknya ternyata jauh lebih sulit daripada memenangkan tender manapun.

Vhirel berusaha keras menarik kembali kesadarannya yang tercecer. Ia berdeham, mencoba mengusir bayangan Dea yang seolah menari-nari di atas grafik batang pada layar proyektor. "Ya." Angguknya sambil memposisikan duduknya lebih nyaman, lebih kepada mengusir rasa kikuk yang tiba-tiba muncul.

"Ya. Saya setuju dengan arah efisiensinya, Pak,” jawab Vhirel. “Meski begitu, ada beberapa aspek yang mungkin perlu kita evaluasi ulang agar tetap seimbang."

Aldo mengangguk paham. "Baik, Pak. Nanti kita evaluasi bersama untuk memastikan penerapannya berjalan optimal.”

Vhirel hanya mengangguk sambil sembunyi menghembuskan napasnya penuh kelegaan.

****

1
falea sezi
heran liat ortunya ini egois bgt wong bukan saudara kandung sah saja lah jalin hubungan klo. ttep aja emak nya melarang pergi aja dea pergi jauh biar anak nya gila jd ibu koke egoiss amatt
falea sezi
virel g tegas maunya ma siapa Luna apa dea klo mau dea ya jauhin si ulet luna
Kar Genjreng
pokonya jangan ada cinta Antara kakak' Adek kesan nya yang anak angkat ga tau diri padahall namanya perasaan kan tapi jangan sampai itu memalukan keluarga
falea sezi
lanjut . emakk nya knp sih wong bukan inces aja kok hadeh
Kar Genjreng
jangan ada rasa cinta dong biar pun bukan satu kandung tetapi ,,di besarkan oleh orang tua yang sama kasih sayang yang sama jangan ada rasa cemburu layaknya
kekasih tetapi ingat sebagai kakak beradik,,,
Penulis🇰🇷Nuansa Korea: hai kak, salam kenal. jika berkenan saya penulis novel Chef seleb bergaya Korsel, kalau suka yg ada nuansa Korea, kuliner, dan budaya Korsel 😊 saya penulis pemula, masih banyak belajar, boleh dikasih saran & dukungannya ya💜terima kasih🙏
total 1 replies
Kar Genjreng
sapai dua bab belum tau
Kar Genjreng
mampir tapi masih kurang paham ,,, sebenarnya bayi siapa ,,dan Surya dan Oliv itu siapa nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!