Lima tahun menikah, Samira tak pernah dicintai.
Pernikahannya lahir dari kesalahan satu malam bukan dari cinta, melainkan kehamilan yang memaksa Samudra menikahinya.
Ia mencintai sendirian. Bertahan sendirian.
Hingga suatu hari, lelah itu tak bisa lagi ditahan.
“Lepaskan aku, Mas… aku menyerah.”
Karena pernikahan tanpa cinta hanya akan mengajarkan satu hal: kapan seseorang harus berhenti bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Mainan Dari Papa
Samudra menghela napas panjang. Jarum jam sudah menunjuk pukul 16.00 sebentar lagi jam kerja berakhir. Sebenarnya semua pekerjaannya sudah selesai sejak tadi siang. Tidak ada lagi rapat, tidak ada berkas mendesak, tidak ada alasan untuk lembur hari ini.
Tapi entah kenapa… ia masih ingin berada di kantor. Masih ingin duduk di ruangan ini. Masih ingin menunda pulang.
“Huft…”
Untuk kesekian kalinya ia mengembuskan napas berat.
Tok… tok…
Ketukan di pintu membuatnya mengangkat kepala.
“Masuk.”
Pintu terbuka, dan Sania melangkah masuk dengan rapi seperti biasa.
“Ada apa, San?” tanya Samudra datar.
“Semua pekerjaan hari ini sudah selesai, Pak. Apakah Bapak mau pulang, atau masih ada yang perlu dikerjakan?” tanya Sania sopan.
Samudra melirik jam di pergelangan tangannya.
16.27 Jam pulang. Matanya kembali terangkat.
“Kamu boleh pulang dulu, San. Saya masih di sini.” Ucap Samudra pada Sania.
Sania ragu sejenak. “Masih ada pekerjaan, Pak?”
Samudra menggeleng singkat. “Enggak. Saya cuma… masih mau di sini.”
Sania menahan napas sebentar. Ia sebenarnya memang sudah ingin pulang, tapi rasanya tidak enak kalau bosnya masih di kantor sementara dia pulang duluan. Takut dicap karyawan tak sopan.
“Jadi saya pulang duluan nggak apa-apa, Pak?” tanyanya memastikan.
Samudra menatapnya datar.
“Kan saya sudah bilang kamu boleh pulang. Kalau kamu tanya lagi, saya suruh kamu lembur.”
Sania langsung menegakkan badan. “Baik, Pak. Terima kasih. Kalau begitu saya pamit dulu.”
Ia sedikit menunduk, lalu berbalik keluar. Pintu tertutup pelan. Ia takut Samudra berubah pikiran kalau menutup pintunya dengan keras.
Ruangan kembali hanya berisi Samudra… dan pikirannya sendiri.
Ia bersandar di kursi. Tangannya terangkat, mengusap wajah perlahan.
Kenapa ia ingin pulang hari ini?
Padahal biasanya ia orang yang akan keluar kantor saat sudah tengah malam.
Matanya tanpa sadar melirik ponsel di meja. Layarnya hitam. Tidak ada notifikasi atau pesan apapun dari Samira.
Dan justru itu yang membuat dadanya terasa aneh.
Samudra meraih ponselnya. Layar menyala. Percakapan dengan Samira masih terbuka.
Pesan terakhirnya.
Samira: Mas, aku izin pergi ke mall sama Mama dan Binar ya.
Samudra: Boleh.
Hanya itu.
Tak ada lanjutan apapun dari percakapan tersebut.
Jempolnya diam di atas layar. Biasanya… Samira selalu memberi pesan kapan pulang atau bertanya lembur atau tidak.
Samudra mengunci layar. Meletakkan kembali ponselnya ke atas meja. Lalu menghela napas lagi.
“Kenapa sih…” gumamnya pelan.
Ia sendiri tidak tahu kenapa hatinya terasa tidak tenang.
Beberapa detik berlalu.
Lalu—
Tangannya bergerak lagi. Ia mengambil ponsel. Membuka chat. Mengetik.
Ia menatap tulisan itu. Seolah mempertimbangkan sesuatu.
Lalu dihapus kembali pesannya. Rahangnya mengeras sedikit.
“Apa urusannya gue nanya…” gumamnya pelan.
Ia meletakkan ponsel lagi. Namun baru lima detik... Diambil lagi.
Kali ini ia langsung mengetik.
Samudra:
Binar udah makan?
Ia menatap layar sebentar lalu menghapus lagi.
Samudra tertawa kecil tawa pendek tanpa suara.
“Konyol.”
Lalu ia melempar ponsel pelan ke meja. Bersandar lagi di kursi. Menatap langit-langit seolah memikirkan apa yang barusan akan ia lakukan.
•••••
Lima belas menit berlalu sejak Samudra akan mengirimkan pesan. Ruangan itu kembali sunyi, hanya menyisakan suara pendingin udara yang berdengung pelan. Samudra akhirnya bangkit dari kursinya. Ia meraih jasnya, mematikan lampu ruangan, lalu melangkah keluar.
Ia pulang.
Keputusan yang tadi terasa berat… kini justru terasa seperti satu-satunya hal yang ingin ia lakukan.
Di perjalanan pulang, mobilnya melaju tenang menembus jalanan sore. Lampu lalu lintas mulai menyala satu per satu, menandakan hari perlahan berganti senja. Samudra menyetir tanpa radio, tanpa musik, hanya ditemani pikirannya sendiri.
Sampai tiba-tiba matanya menangkap sesuatu di sisi jalan. Sebuah toko mainan.
Refleks kakinya mengurangi tekanan pedal gas. Mobil melambat. Tatapannya tetap tertuju ke etalase kaca toko itu, tempat berbagai boneka warna-warni dipajang.
Entah kenapa…
Ia ingin berhenti. Beberapa detik ia hanya duduk diam di balik kemudi.
Lalu, tanpa banyak berpikir, ia menepikan mobil dan turun.
Langkahnya membawanya masuk ke dalam toko.
Bel kecil di pintu berdenting pelan. Aroma plastik baru dan kain boneka langsung tercium. Rak-rak penuh mainan tersusun rapi: mobil-mobilan, puzzle, robot, sampai boneka berbagai ukuran.
Samudra berdiri di tengah lorong.
Sedikit bingung. Matanya menyapu satu per satu rak.
“Kira-kira Bibi suka yang mana ya…” gumamnya pelan.
Ia berjalan perlahan. Tangannya mengambil sebuah boneka kelinci. Memandanginya sebentar lalu diletakkan lagi.
Ia mengambil boneka beruang. Menatapnya lama. Lalu mengembalikannya. Alisnya sedikit berkerut.
Ia sadar satu hal—
Ia tidak tahu mainan apa yang disukai anaknya.
Bukan karena Binar tidak pernah bercerita. Tapi karena… ia jarang benar-benar mendengarkan.
Dada Samudra terasa sedikit sesak. Ia menelan ludah.
Seorang pegawai toko mendekat dengan senyum ramah.
“Cari mainan untuk anak, Pak?”
Samudra mengangguk. “Iya.”
“Umur berapa?”
“Lima tahun.”
Pegawai itu langsung tersenyum lebih lebar. “Anak perempuan atau laki-laki?”
“Perempuan.”
“Oh, kalau anak perempuan umur segitu biasanya suka boneka, set masak-masakan, atau mainan edukasi warna.”
Samudra mengangguk pelan.
“Dia lebih suka boneka atau main peran, Pak?”
Pertanyaan itu membuat Samudra diam. Beberapa detik. Pegawai itu menunggu.
Namun Samudra tidak langsung menjawab. Karena ia tidak tahu.
Dan kesadaran itu terasa… menampar pelan.
“Boneka aja,” jawabnya akhirnya.
Pegawai itu mengangguk, lalu mengambil satu boneka dari rak atas. Boneka itu tidak terlalu besar, tapi tampak lembut, berwarna pastel dengan pita kecil di kepalanya.
“Ini lagi banyak disukai anak-anak, Pak. Bahannya halus dan ringan.”
Samudra menerima boneka itu. Tangannya menyentuh kainnya. Benar sekali bahannya lembut.
Tanpa sadar ia membayangkan—
Binar memeluk boneka ini sambil tertawa. Binar menunjukkan padanya dengan mata berbinar.
Binar berkata, “Makasih, Papa!”
Dadanya menghangat.
“Iya. Saya ambil ini,” katanya.
Pegawai itu tersenyum. “Baik, Pak. Saya bungkus ya.”
Samudra mengangguk. Beberapa menit kemudian ia keluar dari toko dengan kantong belanja di tangannya.
Ia kembali masuk mobil. Kantong itu ia letakkan di kursi samping.
Matanya meliriknya sebentar.
Lalu sudut bibirnya terangkat tipis. Senyum kecil. Yang bahkan ia sendiri tidak sadar.
•••••
Samudra memarkirkan mobilnya di halaman rumah, lalu melangkah masuk. Baru saja melewati ambang pintu, ia langsung disambut pemandangan yang jarang ia lihat Samira sedang menggendong Binar yang tampak rewel, pipinya basah oleh air mata.
“Tuh, lihat, Bibi… Papa pulang,” ujar Samira lembut, mencoba menenangkan.
Biasanya Binar akan langsung antusias setiap kali melihat ayahnya. Namun kali ini tidak. Gadis kecil itu sama sekali tak bereaksi, malah semakin erat melingkarkan tangannya di leher ibunya, seolah tak ingin dilepas.
“Anak Papa yang cantik kenapa?” tanya Samudra pelan, suaranya terdengar canggung namun penuh perhatian.
Alih-alih menjawab, Binar justru sempat melirik paper bag di tangan Samudra. Rasa penasaran sempat muncul, tapi ia memilih diam tak ingin berharap terlalu banyak pada Papanya.
“Bibi mimpi buruk, Papa. Takut hujan,” jelas Samira mewakili Binar. “Salim dulu, sayang. Itu Papa pulang, Nak.”
Meski masih sesenggukan, Binar perlahan turun dari gendongan ibunya. Tanpa ragu, ia mengulurkan kedua tangan kecilnya ke arah Samudra, meminta digendong.
Samudra sedikit tertegun lalu senyum tipis muncul di wajahnya. Ia segera meraih Binar dan mengangkatnya dengan hati-hati, seakan takut anak itu menghilang kalau ia bergerak terlalu cepat.
“Nih, Papa punya sesuatu buat Bibi,” katanya lembut.
Ia menyerahkan paper bag itu. Mata Binar yang masih sembap langsung berbinar kecil. Dengan gerakan polos, ia membuka kantongnya dan mengeluarkan sebuah boneka kelinci berbulu lembut.
Tangisnya berhenti. Benar-benar berhenti.
Binar memeluk boneka itu erat, lalu tanpa diminta menempelkan pipinya ke bahu Samudra. Tangan mungilnya bahkan masih mencengkeram kerah baju ayahnya, seolah takut dilepas lagi.
Samira terdiam. Ada sesuatu yang terasa hangat sekaligus asing di dadanya melihat pemandangan itu.
Samudra pun terdiam beberapa detik. Ia tak menyangka hadiah kecil itu bisa membuat Binar langsung tenang dan lebih dari itu, anaknya sekarang malah bersandar nyaman di pelukannya.
“Dia suka,” gumam Samira pelan.
Samudra menoleh. “Iya… kelihatannya.”
Namun tepat saat suasana itu mulai terasa hangat—
Binar tiba-tiba berbisik lirih di telinga Samudra,
“Papa… jangan pergi tinggalin Bibi sama Mama, ya."
Kalimat polos itu membuat tubuh Samudra membeku. Tangannya yang tadi mengusap punggung anaknya langsung terhenti di udara.
Dan dari balik tatapannya, ada sesuatu yang berubah sesuatu yang bahkan Samira tidak pernah lihat sebelumnya.
@@@
Hai Semuanya!
Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!
Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.
Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!
Terima Kasih!