"I am not designing for anyone," (Saya tidak mendesain untuk siapa pun) jawab Gaby akhirnya, suaranya sedikit lebih kuat dari sebelumnya, berusaha menjaga martabatnya di depan kelas.
"Good," Melvin menegakkan tubuhnya, kembali menjadi asisten dosen yang profesional. "Prove it. For the next assignment, I want a 3D render of a garment that represents 'Sanctuary'. But remember, a sanctuary can easily turn into a cage if you're not careful."
(Buktikan. Untuk tugas berikutnya, saya ingin render 3D dari pakaian yang merepresentasikan 'Suaka'. Tapi ingat, suaka bisa dengan mudah berubah menjadi sangkar jika kamu tidak hati-hati.)
—Gabriella Queensa Vanessa, tinggal dengan sepupunya di London-sebagai mahasiswi baru di Oxford University bersama dua sahabat barunya, Sabrina dan Emilia. Tapi ada lagi sahabat baru Gaby yang bernama Melvin Jabulani-Blackwood. Dia awalnya baik, tapi....
Daripada kepo-mending chek it out ke ceritanya langsung!!!
Happy Reading~
[Update Tergantung Mood]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Jejak yang Tak Terlihat
Mau usahain up, beberapa....
---
Oxford – Dua Hari Kemudian
Kampus Oxford terasa seperti dunia yang berbeda.
Udara pagi yang dingin menusuk wajah Sabrina dan Emilia saat mereka melangkah keluar dari taksi yang mengantar mereka dari stasiun.
Di sekitar mereka, mahasiswa berlalu lalang dengan jaket tebal dan secangkir kopi di tangan, wajah-wajah yang tidak pernah tahu bahwa di suatu tempat di kota ini, seorang gadis telah diculik, dikurung, dan diselamatkan.
"Rasanya aneh," gumam Emilia, syalnya berkibar tertiup angin. "Semua terlihat normal. Padahal dunia Gaby hancur setahun lalu."
Sabrina tidak menjawab. Matanya menyusuri bangunan-bangunan tua, mencari sesuatu atau seseorang.
Rencana mereka sederhana: Datang ke Oxford dengan alasan mengurus administrasi. Tapi tujuan sebenarnya adalah bertemu dengan kontak Emilia, seorang mantan karyawan keamanan Blackwood yang sekarang bekerja di perpustakaan pusat Oxford. Pria itu, yang hanya dikenal dengan nama panggilan "Ghost", setuju untuk bertemu setelah Emilia mentransfer sejumlah uang yang tidak sedikit.
"Ghost" bukan nama aslinya. Tapi pria itu memang seperti hantu. Selama bekerja di Blackwood, ia mengelola sistem keamanan digital, CCTV, log akses, database properti. Ia tahu hampir semua rahasia keluarga itu. Dan ia dipecat karena "tahu terlalu banyak".
Perpustakaan pusat Oxford sepi di pagi hari. Hanya beberapa mahasiswa yang mengantuk di sudut-sudut ruangan, tenggelam dalam tumpukan buku. Sabrina dan Emilia duduk di meja panjang dekat jendela, menunggu.
Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya dengan jaket kulit lusuh dan topi beanie hitam melangkah masuk. Wajahnya penuh kerutan, matanya gelisah seperti kelinci yang selalu waspada pada bahaya. Ia duduk di hadapan mereka tanpa basa-basi.
"Kalian Emilia dan Sabrina?" suaranya serak, berbisik.
"Iya," jawab Emilia cepat. "Terima kasih sudah bersedia bertemu."
"Ghost" menggeleng. "Jangan berterima kasih dulu. Aku belum memberikan apa pun. Dan setelah aku memberikan informasi ini, kalian tidak akan pernah melihatku lagi. Aku serius."
Sabrina mencondongkan tubuh ke depan. "Kami hanya ingin tahu di mana Gaby disekap selama setahun. Dan apakah ada bukti bahwa Lord Alistair terlibat."
Ghost menghela napas panjang. Ia mengeluarkan sebuah USB drive dari saku jaketnya. Kecil, hitam, tidak mencolok.
"Ini adalah salinan log akses properti Blackwood yang tidak terdaftar. Termasuk koordinat pulau tempat Gaby dikurung. Juga rekaman percakapan antara Lord Alistair dan Melvin tentang 'proyek khusus' yang dimulai setahun lalu." Ia meletakkan USB itu di atas meja, tapi tangannya masih menutupinya. "Tapi kalian harus tahu apa yang kalian minta. Rekaman itu tidak mudah didengar. Terutama untukmu, Sabrina."
Sabrina menelan ludah. "Aku siap."
"Tidak, kau tidak siap," potong Ghost tegas. "Tapi itu bukan urusanku." Ia melepaskan tangannya, membiarkan USB itu berada di hadapan mereka. "Ambil. Aku sudah bersihkan jejak digitalku. Tidak ada yang tahu bahwa aku memberikan ini pada kalian. Tapi aku sarankan kalian segera pergi dari Oxford setelah ini. Jangan percaya siapa pun. Bahkan mungkin tidak pada satu sama lain."
Ghost bangkit, bersiap pergi.
"Tunggu," panggil Sabrina. "Satu pertanyaan. Kenapa kau membantu kami?"
Ghost berhenti. Ia tidak menoleh.
"Karena dulu aku punya adik perempuan." Suaranya bergetar sedikit. "Dia juga diculik. Dan tidak ada yang peduli untuk mencarinya. Aku tidak ingin Gaby menjadi cerita yang sama."
Ia melangkah pergi, meninggalkan Sabrina dan Emilia dalam keheningan yang berat.
---
Hotel di Oxford – Malam Hari
Kamar hotel kecil di pinggiran Oxford terasa sempit bagi Sabrina dan Emilia. Mereka duduk berdampingan di tepi kasur, laptop terbuka di hadapan mereka, USB drive sudah terpasang.
Sabrina menarik napas dalam-dalam. "Kita putar?"
Emilia mengangguk ragu. "Kita putar."
File pertama: log akses properti. Sebuah peta digital muncul, menunjukkan koordinat di sebelah barat laut Skotlandia. Sebuah pulau kecil, tidak berpenghuni, tidak tercantum dalam peta komersial. Di sampingnya, ada catatan: "Properti Blackwood - Kode: Elysian."
"Elysian..." gumam Emilia. "Seperti surga dalam mitologi Yunani. Ironis sekali."
Sabrina tidak berkomentar. Ia membuka file kedua: rekaman audio.
Suara Lord Alistair terdengar, jernih meskipun direkam dari jarak jauh.
"...dan kau yakin tidak ada yang akan menemukan tempat ini, Melvin? Jika Kaito mulai mencari..."
"Mereka tidak akan menemukannya, Dad. Aku sudah mengatur sistem jamming di seluruh perimeter. Tidak ada sinyal, tidak ada GPS, tidak ada radar. Tempat ini tidak ada di dunia."
"Dan si gadis?"
"Dia... dia baik-baik saja. Aku memberinya semua yang dia butuhkan."
"Yang dia butuhkan atau yang kau inginkan?"
"Apa bedanya?"
Hening sejenak. Lalu suara Lord Alistair lagi, kali ini lebih rendah, lebih berat.
"Kau terlalu terobsesi, Melvin. Ini hanya misi. Kau seharusnya tidak-"
"Aku tahu apa yang seharusnya aku lakukan, Dad. Tapi biarkan aku yang memutuskan bagaimana aku menjalankan misi ini. Kau yang memintaku melakukan ini, ingat? Kau yang berkata 'Lakukan apa pun yang diperlukan untuk melumpuhkan Kaito'. Aku hanya... mengambil inisiatif."
"Mengurung seorang gadis selama berbulan-bulan bukan 'inisiatif', Melvin. Itu-"
"Apa? Gila? Mungkin. Tapi lihat hasilnya, Dad. Kaito hampir bangkrut karena setengah waktunya habis untuk mencari adiknya. Bukankah itu yang kau inginkan?"
Tidak ada jawaban dari Lord Alistair. Hanya desahan panjang yang terdengar seperti kekalahan.
Rekaman itu berakhir.
Sabrina menutup laptop dengan gerakan yang terlalu keras.
"Daddy..." bisiknya, suaranya hancur. "Daddy benar-benar... dia tahu sejak awal. Dia tahu dan dia membiarkannya."
Emilia meraih tangan Sabrina, menggenggamnya erat. "Ini bukan salahmu, Sab."
"Tapi ini keluargaku," ucap Sabrina, air mata mulai jatuh. "Aku bagian dari keluarga ini. Darah yang sama mengalir di tubuhku. Apakah aku juga monster seperti mereka?"
"Tidak," tegas Emilia. "Kau memilih untuk berbeda. Itu yang membuatmu kuat, bukan lemah."
Sabrina menatap sahabatnya, mencari kebohongan di matanya. Tidak ada. Hanya ketulusan.
"Aku harus menemui Gaby," kata Sabrina akhirnya. "Bukan hanya untuk menyelamatkannya. Tapi untuk meminta maaf. Atas nama keluargaku. Atas nama semua yang mereka lakukan padanya."
"Kita akan menemui Emrys besok," ucap Emilia. "Aku sudah dapat kontaknya dari sumber. Tapi dia pasti akan curiga. Kita harus meyakinkannya bahwa kita bukan ancaman."
Sabrina mengangguk. "Kita akan bilang padanya bahwa kita tahu siapa yang bertanggung jawab. Bahwa kita punya bukti."
---
Penthouse Emrys – Malam yang Sama
Di ruang kerjanya, Emrys menerima panggilan telepon dari tim keamanannya.
"Tuan, ada dua gadis yang tiba di Oxford hari ini. Sabrina dan Emilia. Mereka menginap di hotel pinggiran kota. Pergerakan mereka mencurigakan."
Emrys menajamkan pandangan. Sabrina. Adik Melvin.
"Apa yang mereka lakukan?"
"Mereka bertemu dengan seseorang di perpustakaan pusat Oxford. Kami tidak bisa mengidentifikasi pria itu. Tapi setelah pertemuan, mereka langsung kembali ke hotel dan tidak keluar lagi."
Emrys terdiam. Pikirannya berputar cepat.
Sabrina Jabulani-Blackwood. Adik dari pria yang menculik Gaby. Putri dari Lord Alistair yang selama ini bungkam tentang keberadaan Gaby.
"Awasi mereka," perintah Emrys. "Jika mereka mencoba mendekati penthouse ini, beri tahu aku langsung. Jangan biarkan mereka masuk tanpa izinku."
"Baik, Tuan."
Setelah panggilan berakhir, Emrys berjalan ke kamar Gaby. Pintu sedikit terbuka. Ia melihat ke dalam. Gaby sedang duduk di tepi kasur, memeluk bantal, menatap kosong ke luar jendela.
"Gaby," panggilnya pelan.
Gaby menoleh. Matanya kosong, namun ada sedikit cahaya saat melihat kakaknya. "Kak Emrys."
Emrys masuk, duduk di sampingnya. "Kau tidak bisa tidur lagi?"
Gaby menggeleng. "Aku selalu tidak bisa tidur."
Emrys meraih tangan adiknya. Tangannya dingin. "Kau tahu, aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitimu lagi. Apa pun yang terjadi."
"Aku tahu, Kak." Gaby tersenyum kecil, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Tapi... bagaimana jika yang menyakitiku bukan orang lain? Bagaimana jika yang menyakitiku adalah... pikiranku sendiri?"
Emrys terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Kak," Gaby melanjutkan, suaranya hampir berbisik. "Apa yang salah denganku? Kenapa aku... kenapa aku..."
Ia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
Tapi Emrys mengerti. Ia mengerti lebih dari yang Gaby kira.
"Tidak ada yang salah denganmu, Gaby," ucap Emrys pelan. "Kau hanya manusia. Dan manusia tidak bisa mengendalikan apa yang dirasakannya, hanya apa yang dilakukannya."
Gaby menatap kakaknya, air mata mulai menggenang. "Tapi perasaanku... salah, Kak. Aku seharusnya benci dia. Tapi kenapa..."
"Karena selama setahun, dia adalah satu-satunya orang yang kau miliki," potong Emrys lembut. "Itu bukan kesalahanmu. Itu adalah mekanisme bertahan hidup. Tubuh dan pikiranmu melakukan apa pun agar kau tetap waras."
"Apakah itu berarti... aku tidak benar-benar merindukannya?"
Emrys menghela napas. "Itu berarti kau merindukan apa yang dia wakili. Keamanan. Rutinitas. Sesuatu yang familiar di tengah ketidakpastian. Bukan dia."
Gaby menangis. Untuk pertama kalinya, ia tidak berusaha menyembunyikannya.
Emrys memeluk adiknya, membiarkannya menangis di bahunya.
"Kita akan melewati ini bersama, Gaby. Aku janji."
---
Di Tempat Lain – Malam yang Sama
Di sebuah apartemen kecil di pusat London, jauh dari kemewahan mansion Blackwood, Melvin duduk di depan komputer.
Layar menampilkan peta kota dengan beberapa titik merah yang berkedip.
Salah satu titik merah itu adalah penthouse Kaito.
Yang lain adalah hotel di Oxford tempat Sabrina menginap.
Dan satu lagi... di sebuah kafe di tengah kota, tidak jauh dari apartemennya sendiri.
Melvin memperbesar peta di titik itu.
Nama yang muncul membuatnya tersenyum tipis.
"Keytlon Gardermoen."
"Akhirnya kau ikut bermain, bintang pop," bisik Melvin. "Aku penasaran... apa yang akan kau lakukan sekarang?"
Ia mengambil ponselnya, menekan sebuah nomor yang tidak tersimpan di kontak mana pun.
Setelah dua kali dering, seseorang menjawab.
"Ya?"
"Ada perkembangan," kata Melvin. "Sabrina sudah mulai bergerak. Dia di Oxford sekarang. Kemungkinan besar dia akan menghubungi Emrys dalam beberapa hari."
"Dan kau?"
"Aku akan menunggu. Seperti yang aku katakan."
Hening sejenak. Lalu suara di seberang sana berbicara lagi.
"Kau yakin ini akan berhasil?"
"Tidak," jawab Melvin jujur. "Tapi ini satu-satunya cara agar aku tidak kehilangan dia selamanya."
Setelah panggilan berakhir, Melvin berjalan ke jendela.
Di luar, hujan mulai turun. Rintik-rintik air membasahi kaca, membuat lampu-lampu kota tampak seperti bintang yang menangis.
"Aku tidak akan menyerah, Gaby," bisiknya. "Bahkan jika itu berarti aku harus menjadi iblis dalam ceritamu. Selama aku masih bisa melihatmu... aku akan terus ada."
Ia menutup matanya, membiarkan suara hujan menjadi satu-satunya musik yang ia dengar malam itu.
---
Penthouse Kaito – Pagi Berikutnya
Gaby terbangun dengan mata sembab.
Ia tidak ingat kapan tepatnya ia tertidur semalam. Yang ia ingat hanyalah pelukan Emrys, hangat dan aman, namun terasa berbeda dari pelukan yang selama setahun ia terima di pulau itu.
Jangan bandingkan. Jangan bandingkan.
Ia mengguncang kepalanya, mencoba mengusir bayangan Melvin yang selalu setia menemaninya di setiap sudut pikirannya.
Di meja nakas, sebuah ponsel baru.
Kemarin Emrys memberikannya. Sudah ada kartu SIM. Sudah ada kontak-kontak penting. Termasuk nomor Mama dan Papa.
Gaby meraih ponsel itu, jemarinya gemetar.
Ia sudah berhari-hari menunda panggilan ini. Takut. Tidak tahu harus mengatakan apa. Bagaimana menjelaskan bahwa ia selamat tapi jiwanya hancur?
Namun akhirnya, ia menekan tombol hijau.
Tuut... Tuut...
"Gaby? Sayang, apa benar ini kamu?" suara Mama Gemini di seberang sana terdengar parau, seperti orang yang sudah berhari-hari menangis.
"Ma..." Gaby berusaha bicara, tapi suaranya patah di tengah jalan.
"Mama di sini, sayang. Mama di sini." Suara Gemini juga pecah. "Kamu di mana? Kamu baik-baik saja? Kami semua merindukanmu. Papa... Papa juga di sini. Kami semua menunggumu pulang."
Gaby menangis. Untuk pertama kalinya dalam setahun, ia menangis bukan karena takut, bukan karena bingung, tapi karena lega.
Ada orang yang merindukannya.
Ada rumah yang menunggunya.
Dan mungkin....hanya mungkin.. Suatu hari nanti ia akan benar-benar pulang.
---
lanjut update lagi thor
🤗