Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: RENCANA DI BALIK SENYUM
Hari ke-43 | Pukul 09:15 | Cerah
Ardi membuka mata dengan perasaan ganjil. Bukan mimpi buruk, bukan suara bising—tapi keheningan yang terlalu sempurna.
Langit-langit putih. Bersih. Tapi ada sesuatu yang berubah di udara. Seperti mata mengawas dari balik tirai.
Ia duduk, menatap ponsel. Tidak ada notifikasi dari Maya sejak tadi malam. Pesan terakhir: "Aku sampai rumah. Ayahmu sudah tidur." Ardi membalas stiker bunga. Formal. Aman. Pura-pura.
Sekarang pukul sembilan lewat. Biasanya Maya sudah mengirim foto sarapan atau keluhan tentang ART baru—Yuni.
Yuni. Wanita paruh baya dengan tatapan terlalu tajam untuk seorang pembantu. Bram mempekerjakannya dua hari setelah Bu Tuti dipecat. Alasan resmi: "Bu Tuti sudah tua, butuh istirahat." Tapi Ardi tahu ayahnya tidak pernah peduli kenyamanan pembantu.
Ada yang tidak beres.
Tapi Ardi tidak punya waktu. Pukul sebelas, rapat dengan investor asing. Proyek properti BSD. Nilai tiga triliun. Kesepakatan terbesar sejak ia menjabat CEO. Bram akan hadir sebagai pengawas.
Di kamar mandi, air dingin membasahi wajahnya. Ia menatap cermin. Mata sembab. Kerutan halus di dahi yang tak seharusnya muncul di usia dua puluh tiga. Dan senyum tipis—yang tidak ia sadari—tersungging di bibir.
Senyum itu milik Maya.
Ardi membasuhnya.
---
Pukul 10:15 – Ruang makan
Maya sudah duduk. Rambut diikat longgar, kemeja putih tanpa riasan. Di depannya, jus jeruk dan roti bakar setengah dimakan.
Yuni berdiri di sudut dapur, mencuci piring sambil melirik.
"Sarapan, Mas?" terlalu ramah.
"Kopi hitam."
Yuni menyeduh dengan gerakan efisien. Terlalu efisien.
Maya menatap Ardi sekilas. Matanya berkata: Hati-hati.
Ardi duduk di seberang. Meja panjang itu membuat jarak satu setengah meter—terlalu dekat dan terlalu jauh.
Yuni meletakkan cangkir. "Ada yang lain, Mas?"
"Tidak. Terima kasih."
Yuni tersenyum, kembali ke dapur. Pintu tidak tertutup sempurna. Suara piring digosok, air mengalir—tapi Ardi tahu Yuni mendengarkan.
"Ayah sudah ke kantor?" suara Ardi normal.
"Sudah. Dari tadi pagi." Maya menyuap roti bakar. "Dia bilang ada rapat penting."
Ardi mengangguk. Rapat yang sama. Bram pasti sudah di sana sejak jam delapan, memeriksa angka, menyiapkan jebakan.
"Kamu gugup?"
Ardi meneguk kopi. Panas. Pahit. "Tidak."
"Bohong."
Maya tersenyum kecil—senyum yang hanya Ardi kenali. Aku tahu kamu lebih dari siapa pun.
"Investor itu penting," kata Maya pelan. "Jika deal ini gagal, ayahmu akan semakin menekan."
"Aku tahu."
"Tapi ini juga kesempatan."
Ardi mengerutkan kening. "Kesempatan apa?"
Maya meletakkan roti. Matanya menatap intens. "Kesempatan menunjukkan bahwa kamu mampu berdiri sendiri. Bahwa kamu tidak butuh Bram Hartono."
Ardi terdiam.
"Ayahmu sakit, Ardi. Mungkin tidak sekarang, tapi cepat atau lambat, dia akan jatuh. Hartono Group butuh pemimpin yang kuat. Bukan anak manja yang takut pada bayangan ayahnya."
Kata-kata itu menusuk sela-sela tulang rusuknya.
"Kau takut pada ayahmu, kan?" Maya hampir berbisik. "Aku bisa membantumu."
Yuni keluar dari dapur dengan seember air. Matanya tidak melihat ke arah mereka, tapi Ardi tahu wanita itu mendengar.
"Kita bicarakan nanti." Ardi berdiri, meraih blazer.
Maya mengangguk. "Aku akan mengirim pesan."
Di pintu, suara Maya lagi: "Hati-hati di jalan."
Biasa. Formal. Tapi ada getar di akhir kalimat yang membuat Ardi ingin berbalik, menciumnya di depan Yuni, di depan kamera tersembunyi, di depan dunia.
Ia tidak melakukannya.
Pintu terbuka. Sinar matahari menyambar.
---
Pukul 11:30 – Kantor Hartono Group, Ruang Rapat Utama
Bram duduk di ujung meja. Jas abu-abu, dasi merah marun. Dua investor asing berbicara dengan logat Singapura.
Ardi di kursi seberang. Layar proyektor menampilkan grafik. Presentasi berjalan lancar. Ia menjelaskan proyeksi keuntungan, potensi pasar, strategi pemasaran.
Investor mengangguk. Sekali, mereka bertanya soal risiko. Ardi menjawab percaya diri.
Tapi matanya terus tertuju pada Bram.
Ayahnya tidak berekspresi. Tidak ada senyum bangga, tidak ada anggukan setuju. Hanya tatapan dingin yang sama seperti ketika Ardi kecil mendapat nilai seratus.
"Kau bisa lebih baik."
Rapat selesai pukul setengah satu. Investor berjabat tangan dengan Ardi, lalu Bram. Mereka akan konfirmasi dalam tiga hari.
Ardi menghela napas lega saat pintu tertutup.
"Kamu terlalu gugup di menit ketiga belas."
Suara Bram memecah keheningan. Ardi menoleh. Ayahnya masih duduk.
"Ketika menjelaskan analisis SWOT, matamu ke saya tiga kali dalam satu menit. Itu menunjukkan ketidakpercayaan diri." Bram berdiri, merapikan manset. "Investor melihat itu."
Ardi mengepalkan tangan di saku. "Aku hanya... memastikan tidak ada yang salah."
"Kamu memastikan aku tidak marah." Bram mendekat. Tingginya sama, tapi kehadirannya dua kali lipat. "Itu kelemahan terbesarmu, Ardi. Kamu selalu mencari validasi dariku."
Ardi diam.
"Kamu tidak akan mendapatkannya. Bukan karena aku pelit. Tapi karena dunia tidak akan memberimu validasi. Jadi lebih baik belajar untuk tidak membutuhkannya."
Bram menepuk pundak Ardi—sentuhan dingin, cepat, tanpa makna—lalu berjalan keluar.
Ardi berdiri di ruang rapat yang mulai gelap.
Ponsel bergetar.
Maya: "Gimana?"
Ardi: "Lancar. Tapi ayah tetap tidak puas."
Maya: "Biasa. Dia tidak akan pernah puas."
Maya: "Kita bicara. Nanti sore. Di tempat biasa."
Ardi: "Jam berapa?"
Maya: "Tiga. Ayah ada acara sampai malam."
Ardi: "Oke."
Ia menatap kaca ruang rapat. Bayangannya sendiri: rambut sedikit berantakan, rahang mengeras, mata gelap yang tak ia kenali.
Bukan Ardi yang dulu, yang ingin melukis, yang percaya pada cinta.
Lelaki di cermin itu asing.
---
Pukul 15:30 – Hotel Aston, Parkiran Bawah Tanah
Ardi memarkir mobil di sudut tersembunyi. Area parkir sepi. Hanya dua mobil lain di ujung.
Ia keluar, mengenakan kacamata hitam meski di dalam gedung. Langkah cepat ke lift. Lantai 5.
Di cermin lift, ia melihat seorang pria yang bersembunyi.
Koridor dengan karpet tebal. Kamar 512. Tiga ketukan cepat—kode mereka.
Pintu terbuka. Maya dalam gaun krem. Rambut terurai.
"Masuk cepat."
Ardi melangkah. Pintu tertutup. Double lock.
Maya memeluknya dari belakang, wajah menekan punggungnya. "Kamu tegang sekali."
Ardi diam. Menikmati hangatnya tangan Maya yang merayap ke dadanya.
"Aku dengar dari asisten ayah." Suara Maya teredam kain kemeja. "Investor itu akan setuju. Tapi ayahmu merahasiakan satu klausul."
Ardi berbalik. "Klausul apa?"
Mata Maya hitam, dalam. "Jika proyek ini gagal, kamu yang menanggung kerugian. Secara pribadi. Bukan perusahaan."
Dada Ardi sesak. "Maksudnya?"
"Ayahmu sudah menyiapkan skenario terburuk. Jika kamu jatuh, dia tidak ikut jatuh." Maya mengusap lengannya. "Dia melindungi dirinya sendiri. Seperti biasa."
Ardi berjalan ke jendela, membuka tirai sedikit. Pemandangan Jakarta membentang, tapi ia tidak melihatnya.
"Aku bisa membantumu. Tapi kau harus mau."
"Bantuan seperti apa?"
Maya mendekat, bahu mereka hampir bersentuhan. "Kamu punya cukup saham untuk memicu RUPS luar biasa. Dengan dukungan pemegang saham kecil, kamu bisa menggusur ayahmu dari kursi komisaris utama."
Ardi menoleh cepat. "Kau gila. Itu kudeta."
"Itu strategi. Ayahmu sudah tidak kompeten. Hartono Group butuh darah muda."
"Dan kau pikir aku akan menghancurkan ayahku sendiri?"
Maya tersenyum. Senyum yang sama seperti di meja makan. "Kau tidak menghancurkannya. Kau menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan lambat. Dan..." ia menjeda, "bukankah kau sudah membencinya sejak lama?"
Ardi tidak bisa menyangkal.
"Kau takut pada ayahmu, Ardi. Aku bisa membantumu melepaskan ketakutan itu." Maya meraih tangannya, menggenggam erat. "Bersamaku, kau bisa menjadi raja di kerajaanmu sendiri."
Ardi menatap tangan mereka bergandengan. Hangat. Tapi ada dingin di ujung jari Maya.
"Aku akan pikirkan."
Maya mengangguk. "Jangan terlalu lama. Kesempatan tidak datang dua kali."
Mereka berdiri diam di dekat jendela. Sinar sore menembus celah tirai.
"Ada yang mengawasi kita," kata Ardi tiba-tiba.
Maya mengerutkan kening.
"Sejak beberapa hari. Mobil hitam di depan rumah. Orang di kafe seberang kantor. Dan Yuni."
"Yuni hanya pembantu."
"Kau lihat matanya? Dia mengamati."
Maya diam sejenak. "Mungkin kamu hanya paranoid. Tekanan dari ayahmu dan proyek ini..."
"Mungkin." Ardi menghela napas. "Tapi jika benar ada yang mengawasi, kita harus lebih hati-hati."
Maya mencium pipinya cepat. "Jangan khawatir. Aku selalu punya rencana cadangan."
Ardi ingin percaya.
Tapi di dalam hatinya, ada suara kecil: Rencana cadangan untuk siapa?
---
Pukul 23:15 – Rumah Hartono, Kamar Ardi
Ardi duduk di meja tulis. Jurnal biru tua terbuka.
Ia memegang pulpen. Tangannya menggantung di atas kertas selama lima menit.
Lalu menulis.
---
Hari ke-43.
Aku hampir percaya bahwa Maya benar. Bahwa ayahku adalah musuh. Bahwa mengambil alih perusahaan adalah satu-satunya jalan.
Tapi ketika aku melihat matanya hari ini, ada sesuatu yang tidak beres. Bukan kebohongan. Bukan niat jahat. Tapi... kepentingan. Seperti aku adalah bagian dari rencana yang lebih besar.
Aku benci perasaan ini. Benci karena aku tahu aku akan tetap melakukannya. Akan tetap mengikuti kata-katanya. Akan tetap membenci ayahku lebih dalam setiap hari.
Aku jadi monster seutuhnya.
Bukan karena aku jahat. Tapi karena aku memilih untuk terus menjadi jahat.
Dan mungkin, di titik ini, tidak ada jalan kembali.
---
Ardi menutup jurnal. Matanya perih, tapi tidak menangis.
Ia mematikan lampu, berbaring, menatap langit-langit.
Ponsel bergetar.
Maya: "Tidurlah. Besok hari panjang."
Ardi: "Kau juga."
Maya: "Aku sudah tidak bisa tidur dengan tenang sejak pertama kali kau menciumku."
Ardi tidak membalas. Hanya memegang ponsel itu erat sampai matanya berat.
Di luar, bulan bersinar terang.
Dan di balik jendela, seseorang memperhatikan.