Tidak pernah terpikirkan oleh Sarah bahwa dirinya akan diberi kesempatan kedua untuk kembali hidup.
Seumur hidup, hanya ia habiskan untuk berfoya-foya dan mengajar cinta Marvin yang tak pernah ia miliki hingga akhir hayatnya. Tak segan Sarah mencelakai wanita yang dicintai Marvin, Kayla. Namun di kehidupan sebelumnya, meskipun Sarah sering membawa kesialan dan membuat hidup Marvin dan Kayla menderita, mereka masih berbaik hati memberi Sarah bantuan ketika gadis itu sedang menghadapi masalah ekonomi karena ayahnya yang bangkrut.
Di kehidupan kali ini, Sarah hanya ingin mencoba membahagiakan dirinya sendiri dan melepas cinta pertama yang begitu membekas bagi dirinya.
Tapi siapa yang sangka kehidupan keduanya ternyata lebih rumit daripada yang Sarah bayangkan. Ia ditimpa bertubi-tubi kenyataan yang membuat logikanya tidak lagi berjalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Kini Kayla bingung melihat interaksi antara salah dan Tamara yang saling berbincang sambil tertawa lepas, sesekali Tamara memukul meja karena tertawa akibat lelucon yang disampaikan Sarah. Padahal sebelumnya Mereka terlihat canggung bahkan hampir bertengkar. Sekarang mereka malah terlihat seperti sahabat lama yang baru bertemu kembali setelah sekian lama.
"Lo nggak tahu kan kalau Alvian pernah nangis gara-gara gue dorong sampai dia jatuh ke got? Sumpah muka dia itu sampai item nggak berbentuk gara-gara kena lumpur yang ada di got." Hujan Tamara kemudian tertawa terbahak, dia sampai mengusap ujung matanya.
"Demi apa? Lo sampai dorong dia kayak gitu?" Sarah menanggapinya tidak percaya." Sumpah lo jahat banget," ujarnya lagi tidak menyangka bahwa Tamara bisa melakukan hal itu.
Satu fakta baru yang diketahui oleh Sarah di kehidupannya kali ini adalah Tamara merupakan sahabat kecil Alvian. Mereka bersahabat sejak masih sekolah dasar dan selalu bersama sampai sekarang. Meskipun di sekolah mereka jarang terlihat bersama bahkan berinteraksi, tapi sarah juga baru menyadari terkadang Alfian memang sering memperhatikan Tamara meskipun tidak terlalu kentara.
Ah, sarah juga baru teringat. Di kehidupan sebelumnya Alfian begitu marah besar pada Marvin karena telah membuat Tamara meninggal. Pantas saja setelah kejadian itu hubungan mereka merenggang, bahkan Alvian yang begitu dekat dengan Marvin sampai tidak ingin bertemu dengan laki-laki itu pasca kejadian itu.
"Terus gue pernah lihat di kamarnya ada celana dalam kartun,warna pink lagi. Lo bayangin warna pink loh. Alvian yang keliatan laki banget punya celana dalam warna pink."
"Ih apaan si Lo! Jorok banget, ngapain gue harus bayangin kayak gitu, lagian Lo ngapain cerita kayak gini si." Protes Sarah.
"Oke maaf, satu lagi yang harus lo tahu. Alvian pernah hampir di cium waria."
"Demi apa??" Sarah tertawa lepas bersama dengan Tamara.
Pakailah hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kedua temannya yang membicarakan hal-hal yang random sampai terbahak. Tidak lama, minuman yang mereka pesan datang. Saat ini mereka sedang berada di sebuah cafe yang cukup nyaman untuk tempat nongkrong maupun mengerjakan tugas.
"Makasih mas- loh Marvin?" Ucap Kayla yang membuat Sarah dan Tamara seketika berhenti tertawa dan melihat ke arah seseorang yang Kayla sebut namanya.
Marvin hanya melirik sekilas ke arah mereka lalu meletakkan sisa minuman yang berada di nampan." Silakan dinikmati," ucap laki-laki itu, tentu saja dengan nada khas miliknya yang terkesan datar. Maafin kemudian berbalik dan meninggalkan mereka yang masih terpaku.
"Lo tau Marvin kerja di sini, Kay?" Tanya Tamara dan hanya dibalas gelengan oleh Kayla. Tamara kemudian beralih kepada Sarah." Kalau lo? Tau Marvin kerja di sini?"
Sarah menggeleng dengan cepat. Dirinya baru menyadari jika Marvin bekerja di sini. Di kehidupan sebelumnya juga Marvin memang bekerja di tempat ini, dan Sarah melupakan hal itu. Kalau seandainya Sarah ingat, ia pasti akan segera meminta dua gadis ini untuk mencari cafe lain.
"Padahal Marvin kan bukan orang yang kekurangan? Tapi kenapa dia malah kerja di sini?"tanya Tamara heran. Baik Sarah maupun Kayla hanya diam, tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan Tamara.
"Oh iya, Lo masih suka sama Marvin?"tanya Tamara tiba-tiba. Pertanyaan itu mengarah kepada Sarah.
Sarah terkesiap dengan pertanyaan tiba-tiba dari Tamara, dia melirik sekilas ke arah Kayla lalu menggeleng dengan cepat." Enggak kok, sekarang gue lagi proses move on dari dia."ucap Sarah meskipun sebenarnya dia ragu dengan jawabannya sendiri.
"Lo yakin? Gue pikir lu udah cinta mati sama itu orang."
"Gue yakin, ya gue lelah aja. Semua orang juga pasti lelah kan kalau ngejar-ngejar cowok yang ternyata nggak pernah melihat ke arah kita sama sekali? Apalagi gue udah berusaha buat ngejar dia selama setahun lebih." Ucap Sarah sambil meratap ke arah Tamara dan Kayla secara bergantian.
"Apa karena itu lo jadi berubah kayak gini?"tanya Kayla penasaran.
Kali ini Kayla menggeleng dengan mantap." Gue berubah karena pandangan gue terhadap dunia juga sudah berubah. Banyak hal yang buat gue akhirnya berpikir, dan ya gue berubah bukan karena cowok," ujar Sarah dengan serius.
Tamara dan Kayla mengangguk paham, mereka sedikit tidak menyangka dengan jawaban gadis itu.
....
"Lo yakin kita tinggal duluan?"tanya Kayla khawatir. Saat ini mereka sedang berada di parkiran cafe, bersiap untuk pulang.
"Iya, nggak apa-apa kok. Gue udah hubungin sopir gue buat jemput."ucap Sarah sambil tersenyum.
"Hubungi gue kalau ada apa-apa. Nomor gue udah simpan kan?"tanya Tamara yang sudah berada di atas motornya.
"Iya udah gue simpan kok. Yaudah kalain duluan aja," usir Sarah secara halus ketika melihat Tamara dan juga intan tidak kunjung pergi karena mengkhawatirkannya, padahal sudah dari tadi motor matic Tamara sudah menyala.
"Ya udah kalau gitu, Kita duluan ya."
Sarah melambaikan tangannya begitu motor Tamara sudah melaju pergi meninggalkan area cafe. Sarah pun mengecek ponselnya dan belum ada pesan atau telepon masuk dari sopirnya. Beberapa menit telah berlalu dan sopir Sarah pun belum juga menunjukkan batang hidungnya.
Tiba-tiba langit yang cerah berubah menjadi mendung, rintik hujan perlahan mulai turun membasahi bumi. Segera Sarah berlari ke arah pintu masuk cafe dan berdiri di depan sana.
Sarah menepuk bajunya yang sedikit basah terkena air hujan." Yah, kok tiba-tiba hujan si?" Keluhnya.
Sarah pun tiba mengecek ramalan cuaca dan memang benar ternyata ramalan cuaca hari ini diperkirakan akan hujan. Sarah pun pasrah dan hanya berdiam menunggu sopirnya menjemputnya.
Sarah mengusap kedua lengannya yang mulai terasa dingin." Duh, mana dingin lagi." Ujarnya mengingat pakaian yang dia pakai sedikit basah karena air hujan, sehingga udara dingin terasa di kulitnya.
"Jemputan lo belum datang?"
Sarah terkejut mendengar suara seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya. Ia menoleh dan mendapati Marvin yang berdiri dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam kantong celananya. Laki-laki itu bersandar di tembok persis di samping Sarah.
"Iya," jawab Sarah seadanya tanpa melihat ke arah Marvin lagi.
Setelah itu tidak ada percakapan lagi. Mereka hanya saling diam, ditemani dengan suara guyuran air hujan yang semakin deras. Sarah menoleh ke arah samping dan melihat laki-laki itu diam di tempatnya dengan mata yang terpejam. Semakin diperhatikan Sarah menyadari jika laki-laki itu terlihat kelelahan, apakah dia kurang tidur?
Seakan menyadari jika dirinya sedang diperhatikan, Marvin membuka matanya perlahan. Sarah segera mengalihkan pandangannya ke arah jalan, ia takut jika dirinya tertangkap basah memperhatikan laki-laki itu.
"Oh iya, Vin. Gue mau ngucapin terima kasih, karena Allah udah mau bantuin gue belajar matematika satu minggu belakangan ini."ucap Sarah dengan tulus.
Hening sejenak." Ya, sama-sama."
Setelah itu Marvin kembali masuk ke dalam cafe tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sarah menghela nafas lega. Entahlah ketika laki-laki itu berada di sampingnya dirinya seakan kekurangan oksigen. Baru saja dirinya merasa lega, Marvin tiba-tiba kembali keluar dan berdiri di sampingnya.
"Nih!"
Sarah terdiam sejenak kemudian tatapannya beralih pada tangan laki-laki itu yang terulur ke arahnya dengan sebuah jaket hitam di sana.
"Apa?" Katanya Sarah kebingungan.
"Ambil, pake."ujar laki-laki itu.
"Gak usah, makasih." Tolaknya dengan halus.
Marvin bukan tipe yang banyak bicara, tapi gerakannya penuh makna. Dengan langkah yang singkat dan pasti, ia menyampirkan jaketnya yang kebesaran ke pundak Sarah yang dingin. Tatapan mereka berpaut singkat namun intens, menyeret detik demi detik ke dalam pusaran yang terasa abadi. Marvin lalu menepuk pundak Sarah, sebuah sentuhan yang membangkitkan duri di bawah kulit. Tanpa sepatah kata, ia beranjak pergi, meninggalkan Sarah yang terpaku seorang diri di depan pintu kafe yang terbuka.
Sarah mengikuti sosok Marvin dengan mata berkaca-kaca, mengamati siluetnya yang mengecil hingga tertelan kegelapan dalam kafe itu. Jantungnya berdebar kencang, memekakkan telinga, seolah berusaha menyampaikan pesan tak terucapkan. Perasaan tak menentu menggelayuti pikirannya, "Sialan Marvin!" ucapnya dalam hati.
Tiba-tiba ponsel di saku roknya bergetar, mengalihkan perhatian Sarah dari kabut emosi yang memenuhi kepalanya. Dengan gerakan mekanis, dia meraih ponsel itu. Layar menyala menampilkan pesan yang datang bukan dari supir yang diharapkan, melainkan sesuatu yang tak terduga.
08xxxxxx
Halo sayang, masih ingat ini?
(Send a picture)
Ah, sialan!