Yasmin selalu percaya bahwa kerapuhannya adalah kutukan, hingga Arya datang membawa kepastian di bawah senja. Di sana, mereka mencuri satu petak langit untuk saling memiliki. Namun, ketika ikrar telah terucap dan senja mulai meredup, semesta seolah menagih kembali kebahagiaan yang mereka dapatkan.
Dan, ketika kegelapan itu datang...
Yasmin tersadar satu hal, mereka tidak sedang memiliki senja, hanya sedang meminjamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GARA-GARA SHOWER
Begitu pintu kamar mandi yang terbuat dari kaca buram itu tergeser, Yasmin seolah terhisap ke dunia lain. Matanya membulat sempurna, menyapu setiap sudut ruangan yang didominasi marmer putih bercorak abu-abu elegan.
Ini kamar mandi atau pemandian hotel mewah? batin Yasmin takjub. Pencahayaan yang tersembunyi di bawah cermin dan rak kayu memberikan kesan hangat sekaligus angkuh. Ada sebuah bathtub putih bersih berbentuk oval berdiri anggun di sudut dekat jendela, memancarkan aura kemewahan yang selama ini hanya bisa Yasmin lihat di layar televisi maupun ponselnya. Ia pun melangkah masuk dengan ragu, kakinya yang kotor terasa sangat kontras saat menginjak lantai granit hitam yang mengilat.
Yasmin mengedarkan pandangannya ke sekeliling wastafel porselen yang desainnya begitu minimalis. Di mana gayungnya? batin Yasmin bingung. Ia mencari-cari ember atau setidaknya wadah plastik untuk ia gunakan menyiram tubuhnya, namun tak ada apa-apa selain kemewahan yang membisu. "Kenapa tadi aku gak tanya ke Mbok Sari aja?" gerutunya merutuki kebodohan sendiri.
Baginya, semua barang di sini tampak begitu elit dan mahal. Yasmin bahkan takut untuk sekadar menyentuh cermin yang menyekat toilet dan bathub itu. Ia merasa jika tangannya yang kasar menyentuh benda itu, ia akan merusak keindahan atau meninggalkan noda yang tak bisa hilang.
Yasmin kemudian melangkah lebih dekat ke area basah. Ia menemukan sebuah benda panjang berwarna hitam yang menempel di dinding—sesuatu yang ia asumsikan sebagai selang alias shower. Matanya lalu mencari-cari di mana "mulut" air itu akan keluar. Di mana bukanya? batinnya sambil meraba sebuah tuas besi di bawahnya. Dengan ragu, ia lantas memutar tuas itu ke arah yang salah.
Crattt!
Seketika, kucuran air deras menghujam tepat ke arah kepalanya sebelum ia sempat menghindar...
"Aaaaah!" Yasmin menjerit tertahan. "Dingin!"
Air itu terasa seperti es yang langsung menusuk kulitnya yang lebam, membuat tubuhnya bergidik hebat. Ia panik, ia mencoba memutar tuas itu kembali namun tangannya yang basah justru membuatnya licin, menyebabkan air semakin menyembur liar membasahi baju dan rambutnya yang sudah kacau.
Tok! Tok! Tok!
"Yasmin!" seru sebuah suara berat dari balik pintu. Suara itu terdengar sangat khawatir, memecah keheningan kamar luar.
"Itu Mas Arya!" lirih Yasmin panik.
Dengan kondisi basah kuyup dan napas tersengal karena kaget, ia melangkah cepat menuju pintu kayu yang memisahkan kamar mandi dengan kamar tidur, namun ia berhenti tepat sebelum membukanya.
"Mas Arya..." bisiknya dari balik pintu, suaranya bergetar hebat karena kedinginan dan malu.
"Kamu kenapa? Aku dengar kamu menjerit," tanya Arya dari luar, suaranya terdengar sangat dekat, seolah ia sedang menempelkan telinganya di pintu. "Apa lukamu terkena air? Atau kamu jatuh?"
Yasmin menggigit bibir bawahnya, menatap genangan air di lantai marmer yang kini tercampur dengan debu dari bajunya. "Enggak, Mas. Tapi... a-airnya..."
"Airnya kenapa?"
"Aku gak tahu cara menyalakan airnya, Mas."
Hening sejenak di luar sana. Yasmin bisa membayangkan Arya sedang menghela napas panjang atau mungkin sedang menahan tawa mendengar kejujurannya yang memalukan.
"Ya udah, buka cepat pintunya!" Seru Arya lagi dari luar. Nada suaranya tidak lagi sekadar bertanya, tapi sudah bercampur dengan otoritas seorang dokter yang khawatir pasiennya mengalami cedera tambahan di dalam sana.
Yasmin membisu lagi, lidahnya seolah kelu. Ia menatap gagang pintu kamar mandi itu dengan tatapan kosong dan nanar. Pintu itu bukan pintu kayu biasa dengan gerendel yang mudah diputar, melainkan pintu kaca buram dengan bingkai logam hitam minimalis dan gagang berbentuk tuas panjang yang tampak begitu asing di matanya.
Gimana cara bukanya? batin Yasmin meratap. Ia mencoba mendorongnya, namun pintu itu bergeming. Ia mencoba menariknya, tapi gagangnya terasa kaku. Kebingungan itu membuatnya merasa semakin bodoh dan kerdil. Di dunia Arya, bahkan sebuah pintu pun terasa seperti teka-teki rumit yang tak mampu ia pecahkan.
"Yasmin? kamu dengar aku? Kamu masih di situ, kan?" suara Arya meninggi, terdengar ketukan yang lebih keras di permukaan pintu. "Buka, Yasmin! Jangan membuatku mendobraknya!"
Yasmin menggigil hebat, bukan hanya karena air dingin yang membasahi sekujur tubuhnya, tapi juga karena rasa malu yang membakar dadanya. Air mata mulai bercampur dengan tetesan air shower di pipinya. "Mas... a-aku..." suaranya bergetar hebat, nyaris tak terdengar di antara gemericik air yang masih menyala liar di belakangnya. "Pi-pintunya... a-aku gak tahu cara mendorong atau menarik pintunya, Mas."
Hening sejenak di balik pintu. Yasmin memejamkan mata erat-erat, membayangkan betapa konyolnya ia di mata pria sehebat Arya. Seorang gadis dewasa yang bahkan tidak tahu cara keluar dari kamar mandi.
"Ya udah. Kamu, tenang, Yasmin. Jangan panik," suara Arya mendadak melunak, kembali ke nada baritonnya yang menenangkan. "Gagangnya tidak diputar. Kamu cukup menekan tuasnya ke bawah, lalu geser pintunya ke arah kanan. Itu pintu geser, bukan pintu dorong."
Yasmin menelan saliva dengan susah payah. Dengan tangan yang masih basah dan gemetar, ia mencoba mengikuti instruksi itu.
Ia mulai menekan tuas besi dingin itu ke bawah—klik—lalu mendorong bingkai pintunya ke samping.
Sreeet...
Pintu itu akhirnya terbuka perlahan, menampakkan sosok Arya yang berdiri tegak di ambang pintu kamar. Pria itu masih mengenakan kemeja kerjanya yang kini lengan bajunya sudah digulung hingga siku. Begitu pintu terbuka, mata Arya langsung melebar melihat kondisi Yasmin yang basah kuyup dengan rambut yang menempel di wajah pucatnya.
"Astaga, Yasmin..." gumam Arya. Langkah kakinya tak lagi tertahan oleh keraguan. Ia merangsek masuk ke dalam area basah, mengabaikan batas privasi yang seharusnya ia jaga demi menghentikan kekacauan itu. Tangannya dengan sigap meraih tuas besi yang sedari tadi menyiksa Yasmin, memutarnya dengan satu gerakan tegas hingga gemericik air itu bungkam seketika.
Namun, air yang sempat memuncrat liar dari kepala shower yang terlepas itu tak membiarkannya lolos begitu saja. Sebagian kucuran dingin itu menghujam kepala Arya, membasahi rambut hitamnya hingga helai-helainya jatuh menutupi dahi. Bahkan, kemeja kerja yang melekat pas di tubuh tegapnya kini meresap air dengan cepat, berubah menjadi transparan dan mencetak jelas lekuk otot dada serta lengannya yang kokoh.
Di ruangan sempit yang kini terasa begitu panas oleh kecanggungan, mata mereka bertemu. Yasmin terpaku, napasnya tertahan di tenggorokan melihat sosok Arya yang kini tampak begitu... manusiawi. Tidak ada lagi setelan seorang dokter yang kaku atau wibawa yang mengintimidasi, hanya ada seorang pria yang basah kuyup karena mencoba menyelamatkannya dari hal sepele seperti sebuah keran air.
"Kenapa kamu sampai basah semua begini?" Protes Arya. Suaranya justru kini meninggi, berat dan serak, bergema di antara dinding marmer yang lembap. Wajahnya tampak kesal dengan alis yang bertaut rapat menahan emosi yang sulit Yasmin artikan.
Yasmin menunduk dalam, mencoba menyembunyikan wajahnya yang kini memerah padam. "Maaf, Mas. a-aku... aku benar-benar gak tahu cara menggunakan... ka-kamar mandi ini, Mas. Maaf... kemeja Mas Arya juga jadi basah karena aku."
Arya terdiam sejenak, menatap kemejanya sendiri yang kini menempel ketat di kulitnya. Ia menghela napas panjang.
"A-aku tadi cuma mau nyalain benda..." Yasmin bermaksud menjelaskan sambil hendak melangkah kembali menuju area shower yang masih basah lincir. Namun, kaki telanjangnya yang gemetar tak sanggup berpijak sempurna di atas marmer yang kini licin tersiram air.
"Aaaah!"
Pekikan itu pecah saat keseimbangan Yasmin hilang. Tubuhnya limbung ke belakang dengan drastis.
Dan, dalam hitungan detik yang seolah melambat, Arya bergerak dengan refleks seorang dokter yang terlatih menghadapi situasi darurat. Ia tidak membiarkan kepala Yasmin menghantam dinginnya lantai marmer. Dengan satu sentakan kuat, ia menyambar pinggang Yasmin, menarik tubuh gadis itu ke arahnya untuk meredam benturan.
Duk!
Tubuh mungil Yasmin menghantam dada bidang Arya yang basah kuyup. Karena dorongan momentum yang kuat, Ia terpaksa mundur satu langkah untuk menahan beban, hingga punggung tegapnya membentur dinding kamar mandi yang dingin. Kini, mereka terjebak dalam pelukan yang teramat erat di bawah temaram lampu kamar mandi yang setengah meredup hangat.
Wajah Yasmin terbenam di ceruk leher Arya, menghirup aroma maskulin yang bercampur dengan uap air dingin. Sementara itu, telapak tangan besar Arya mencengkeram erat pinggang Yasmin, dan tangan satunya lagi mendekap kepala gadis itu dengan protektif.
Hening.
Suasana seketika menjadi sunyi, hanya menyisakan suara napas mereka yang menderu dan detak jantung yang berpacu liar, saling beradu di balik kemeja Arya yang transparan.
Yasmin sendiri bisa merasakan panas tubuh Arya yang menembus kain basah itu, sebuah kehangatan yang kontras dengan suhu air yang tadi menyiksanya.
"Non Yasmin...!" Seru suara seseorang.
"Mbok Sari." Gumam Arya, tersentak, seolah baru saja tersengat aliran listrik yang membuatnya segera merenggangkan pelukannya. Ia melepaskan pinggang Yasmin dengan gerakan canggung yang kentara,
Sementara, Yasmin nyaris terjajar mundur, punggungnya menabrak tepian wastafel yang dingin dengan suara dentuman halus. Napasnya masih tersengal, pendek-pendek dan memburu, seolah oksigen di kamar mandi itu mendadak menguap habis. Wajahnya yang semula pucat pasi kini memerah padam hingga ke telinga, menciptakan rona panas yang kontras dengan tetesan air shower yang masih dingin di kulitnya.
****