NovelToon NovelToon
Polisi & Dokter

Polisi & Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Action
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Akmaludd

Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.

Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.

bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

Sore itu, kediaman Davino dan Alisa memancarkan aura yang jauh berbeda dari beberapa bulan lalu. Jika dulu rumah ini terasa seperti galeri seni yang dingin dan kaku, kini suara tawa dan aroma panggangan kue dari dapur Bi Ijah membuatnya terasa seperti sebuah "rumah" yang sesungguhnya.

Alisa berdiri di depan cermin ruang tamu, merapikan sedikit rambutnya. Hari ini ia merasa sangat bersemangat. Sejak pertemuannya dengan Keyla di acara Bhayangkari kemarin, Alisa merasa menemukan sosok kakak sekaligus sahabat yang memahami beban menjadi istri seorang perwira Satgas. Namun, ia tidak ingin lingkaran ini berhenti di sana. Ia ingin memperkenalkan Keyla kepada Fani, sahabat sejatinya sejak masa-masa sulit di fakultas kedokteran.

Suara bel berbunyi. Alisa bergegas membuka pintu.

"Assalamualaikum, Alisa!" Keyla berdiri di sana dengan senyum manisnya yang khas, menggendong Dinda yang tampak menggemaskan dengan gaun terusan bunga-bunga.

"Waalaikumussalam, Mba Keyla! Ayo masuk, aduh Dinda sayang, sini sama Tante," Alisa menyambut mereka dengan pelukan hangat.

Baru saja Keyla duduk di sofa, suara klakson mobil yang sangat Alisa kenal terdengar dari luar. Tak lama kemudian, Fani muncul dengan gaya khasnya yang energetik, membawa sekantong besar donat kekinian.

"Alisa! Aku datang membawa asupan gula—eh," Fani menghentikan langkahnya saat melihat sosok wanita asing yang anggun duduk di ruang tamu.

Alisa tertawa kecil melihat ekspresi sahabatnya. "Sini, Fan. Pas sekali kamu baru sampai. Kenalkan, ini Mba Keyla, istri dari Iptu Bagas, rekan kerjanya Mas Vino. Dan Key, ini Fani, sahabatku yang paling cerewet di rumah sakit."

Fani segera meletakkan kantong donatnya dan menyalami Keyla dengan antusias. "Halo Mba Keyla! Wah, Alisa sering cerita kalau dia punya teman baru di Bhayangkari, ternyata aslinya jauh lebih cantik ya."

Keyla terkekeh, menjabat tangan Fani dengan lembut. "Bisa saja Mba Fani ini. Salam kenal ya, Alisa juga cerita kalau Mba Fani ini dokter hebat yang selalu menjaganya di rumah sakit."

Pertemuan yang semula dikhawatirkan Alisa akan terasa canggung, ternyata mencair dalam hitungan menit. Fani dengan kepribadiannya yang ceria segera menarik Dinda untuk bermain, sementara Alisa dan Keyla menyiapkan teh di meja tengah.

Mereka bertiga akhirnya duduk melingkar di atas karpet bulu yang tebal, mengabaikan formalitas kursi sofa. Di tengah mereka, tersaji bolu pisang hangat buatan Bi Ijah, donat bawaan Fani, dan berbagai camilan lainnya.

"Jujur ya Mba Key, aku tuh sempat khawatir Alisa bakal kesepian nikah sama Davino," celetuk Fani sembari menyuap donat. "Habisnya, Davino itu dulu kelihatannya kayak patung es di monumen. Dingin banget!"

Keyla tertawa kecil, melirik Alisa yang wajahnya mulai memerah. "Mas Bagas juga bilang begitu, Mba Fani. Kapten Davino itu disegani karena ketegasannya, tapi sejak menikah, aura 'dingin' itu mulai luntur. Katanya, sekarang Kapten lebih sering cek ponsel buat lihat foto istrinya."

"Mas Vino beneran begitu, Key?" tanya Alisa malu-malu.

"Beneran, Al. Bagas sampai heran, kok pimpinannya jadi sering senyum-senyum sendiri kalau jam istirahat," goda Keyla.

Obrolan mereka mengalir dari satu topik ke topik lain. Dari urusan pasien di rumah sakit yang keras kepala, hingga cara menghadapi kecemasan saat suami mereka harus pergi melakukan penggerebekan mendadak di tengah malam. Keyla memberikan banyak nasihat berharga tentang bagaimana menjadi "tiang doa" bagi suami yang bertaruh nyawa di lapangan.

"Menjadi istri polisi itu artinya kita harus siap jadi orang pertama yang tenang saat dunia luar sedang kacau," ucap Keyla dengan nada bijak yang membuat Alisa dan Fani tertegun kagum.

Sore itu, di ruang tamu yang hangat, sebuah ikatan baru tercipta. Tiga wanita dengan latar belakang berbeda, namun kini dipersatukan oleh rasa sayang dan solidaritas. Bagi Alisa, memiliki Fani dan Keyla di sisinya adalah berkah yang melengkapi kebahagiaannya bersama Davino.

Sementara itu, suasana di kediaman keluarga Narendra di Menteng juga sedang diselimuti kebahagiaan. Rumah kolonial yang megah itu kini terasa sangat hidup sejak Maura kembali tinggal di sana.

Di ruang keluarga, Maura sedang duduk lesehan di lantai, dikelilingi oleh tumpukan berkas dan draf skripsi yang sudah dijilid rapi dengan sampul berwarna biru tua. Papa Hendra duduk di sofa di belakangnya, membaca koran sambil sesekali melirik putri bungsunya dengan tatapan bangga.

"Pa, lihat! Tanda tangan dekan sudah lengkap. Maura resmi wisuda bulan depan!" seru Maura sembari mengangkat draf skripsinya tinggi-tinggi.

Papa Hendra menurunkan korannya, tersenyum lebar hingga garis-garis tegas di wajah perwiranya melunak. "Alhamdulillah. Anak Papa akhirnya jadi sarjana. Tidak sia-sia kamu begadang tiap malam sambil mengeluh ingin menyerah."

Mama Sari datang dari arah dapur membawa nampan berisi jus jeruk segar dan camilan ringan. "Selamat ya, Sayang. Mama sudah siapkan kebaya yang paling cantik buat kamu nanti."

Maura bangkit dan memeluk Mamanya erat. "Makasih ya, Ma. Maura seneng banget Papa sama Mama sudah sehat dan bisa lihat Maura wisuda. Ini kado buat kalian."

"Kado terindah buat kami adalah melihat kamu dan abangmu bahagia, Ra," ucap Mama Sari sembari mengelus pipi putrinya.

Keluarga mereka saat ini benar-benar mencerminkan sebuah "Keluarga Cemara"—istilah yang sering digunakan Maura untuk menggambarkan rumah tangga yang harmonis, penuh kasih sayang, dan saling mendukung tanpa ada rahasia yang menyakitkan lagi.

"Ma, Pa..." Maura duduk di antara kedua orang tuanya. "Maura mau minta sesuatu boleh?"

"Apa itu, Sayang? Mau mobil baru?" goda Papa Hendra.

Maura menggeleng. "Bukan. Maura cuma mau, pas wisuda nanti, kita foto keluarga besar. Tapi beneran besar. Ada Papa, Mama, Maura, Bang Vino, sama Kak Alisa. Maura mau foto itu dipajang di ruang tamu ini, biar semua orang tahu kalau keluarga kita sudah lengkap dan bahagia."

Mendengar permintaan tulus itu, Mama Sari berkaca-kaca. Ia teringat betapa sepinya rumah ini selama lima tahun terakhir saat Davino menutup diri. "Tentu, Sayang. Kita akan foto di studio terbaik. Kak Alisa pasti cantik sekali pakai seragam Bhayangkari atau kebaya nanti."

"Dan Davino... Papa akan pastikan dia pakai seragam PDU-nya. Kita tunjukkan kalau keluarga Narendra sudah kembali utuh," tambah Papa Hendra dengan suara mantap.

Maura tersenyum lebar. Ia merasa sangat bersyukur. Di balik sosok Papa yang disiplin dan Mama yang lembut, ia menemukan tempat paling aman untuk pulang. Kebahagiaannya bukan hanya karena gelar sarjana yang sebentar lagi ia sandang, tapi karena melihat orang-orang yang ia sayangi akhirnya bisa tersenyum lepas tanpa beban masa lalu.

Kembali ke rumah Davino, malam mulai menjemput. Keyla dan Fani sudah berpamitan pulang. Dinda bahkan sempat menangis karena tidak mau berpisah dengan Alisa yang terus mengajaknya bermain.

Alisa sedang merapikan sisa cangkir teh di meja saat suara deru mobil masuk ke halaman. Tak lama, Davino masuk dengan langkah lelah namun wajahnya langsung cerah saat melihat Alisa.

"Mas sudah pulang?" Alisa menghampiri dan mencium tangan suaminya.

Davino menarik Alisa ke dalam pelukannya, mengecup puncak kepala istrinya lama. "Wanginya enak sekali. Bi Ijah masak apa hari ini?"

"Bi Ijah buat bolu pisang, tapi tadi ada Fani dan Keyla main ke sini. Kami habiskan semua donat dan kue-kuenya," cerita Alisa sembari menuntun Davino duduk.

Davino duduk di sofa, menyandarkan kepalanya di bahu Alisa. "Baguslah. Aku senang rumah ini jadi ramai. Tadi aku sempat telepon Papa, Maura sudah fiks wisuda bulan depan. Dia minta kita semua hadir."

"Iya, Maura tadi juga chat aku. Dia semangat sekali, Mas. Kita harus cari kado yang spesial buat dia ya?"

Davino mengangguk, mengusap jemari Alisa. "Apapun yang kamu mau, Sayang. Aku hanya ingin kita terus seperti ini. Kamu punya teman yang baik, Maura sukses, dan orang tuaku sehat. Rasanya... beban di pundakku hilang separuh."

Alisa memeluk lengan Davino, menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya yang berdetak tenang. "Semuanya akan baik-baik saja, Mas. Kita sudah melewati bagian tersulitnya."

Malam itu, di bawah langit Jakarta yang bertabur bintang, dua rumah yang berbeda namun terikat satu darah dan cinta, sama-sama merasakan kedamaian yang sesungguhnya. Tidak ada lagi kontrak, tidak ada lagi sandiwara. Yang ada hanyalah lingkaran hangat yang terus tumbuh, melindungi setiap hati yang ada di dalamnya.

Bersambung

1
Rian Moontero
mampiiirr/Bye-Bye/👍👍
Akmaluddin: makasih kak, jangan lupa like kaka👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!