NovelToon NovelToon
SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:137
Nilai: 5
Nama Author: hai el

Arsa Kalandra — pria 30 tahun yang bekerja sebagai story archaeologist: ia dibayar keluarga untuk merekonstruksi kisah hidup orang-orang yang telah meninggal, menyusun kepingan memori menjadi sebuah warisan. Ia hidup di dalam cerita orang lain sementara hidupnya sendiri membeku sejak enam tahun lalu.
Wren Amara — perempuan 27 tahun, pengisi suara buku audio yang diam-diam memiliki kanal anonim bernama "Suara Asing" — tempat ia membacakan surat-surat cinta usang yang ia temukan di toko barang antik. Jutaan orang mendengarkan suaranya, tapi tak ada yang tahu wajahnya. Ia jatuh cinta pada penulis surat-surat itu, seseorang yang menulis untuk "Langit" — nama yang tak pernah bisa ia temukan.
Yang tidak mereka tahu: surat-surat itu adalah surat yang tidak pernah terkirim dari adik Arsa yang sudah tiada.
Dan ketika Arsa ditugaskan merekonstruksi kisah hidup seseorang yang ternyata terhubung dengan adiknya — mereka bertemu.
Dua orang yang sama-sama hidup di antara suara-suara masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hai el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AMPLOP DARI DITO

Amplop itu tiba hari Selasa.

Bukan lewat jasa pengiriman resmi — Ibu Sari datang sendiri, mampir di sela jam makan siangnya, dengan amplop itu dimasukkan ke dalam plastik zip-lock transparan seperti seseorang yang tidak mau mengambil risiko apapun terhadap benda sepenting ini.

Arsa membukakan pintu. Ibu Sari menyerahkan plastik itu tanpa banyak kata — hanya memandangnya sebentar dengan ekspresi yang tidak mudah dibaca, campuran dari banyak hal yang mungkin tidak sempat ia sortir sendiri.

"Mama tidak tahu tentang ini," katanya. "Saya ambil sendiri kemarin."

"Apakah Ibu akan cerita ke Mama?"

"Nanti." Ia mengambil napas kecil. "Waktu yang tepat."

Arsa mengangguk. "Mau masuk?"

"Tidak. Ada rapat." Tapi ia tidak langsung pergi. Tangannya masih memegang tas dengan cara seseorang yang menahan sesuatu. "Arsa. Amplop itu — apakah akan jadi bagian dari rekonstruksi?"

"Tergantung isinya."

"Dan kalau ya?"

"Kalau ya, saya akan tanya izin keluarga dulu sebelum apapun."

Ibu Sari mengangguk satu kali — gerakan yang sama dengan yang ia buat di pertemuan pertama mereka, gerakan orang yang sudah memutuskan sesuatu dan tidak akan mengubahnya. "Baik." Ia membalik badan, berhenti. Tanpa menoleh: "Arsa. Apakah kamu baik-baik saja? Bukan sebagai rekonstruktor. Sebagai kakaknya Raka."

Pertanyaan yang tidak pernah ia tanyakan sebelumnya. Pertanyaan yang membuat Arsa terdiam lebih lama dari yang ia rencanakan.

"Saya sedang belajar itu," katanya akhirnya.

Ibu Sari menoleh sedikit. Senyum tipis yang tidak sepenuhnya bahagia tapi tidak sepenuhnya tidak. "Baik." Lalu ia pergi.

Arsa tidak membuka amplop itu seorang diri.

Bukan karena tidak berani — atau mungkin sebagian karena itu, tapi bukan seluruhnya. Ada alasan yang lebih sederhana: selama beberapa minggu terakhir, membuka surat-surat ini selalu ia lakukan bersama Wren. Dan tanpa pernah disepakati secara eksplisit, itu sudah menjadi caranya. Ritual kecil yang terbentuk sendiri.

Ia mengirim pesan:

"Amplop dari Dito sudah di tangan saya. Kapan Anda bisa?"

Balas datang dalam dua menit:

"Malam ini? Saya tidak ada rekaman setelah jam 7."

"Saya ke sana jam 8."

Ia tiba di atas toko buku Pak Suryadi dengan satu plastik berisi amplop dan satu kantong berisi makanan yang ia beli dari warung di jalan karena tiba-tiba sadar bahwa mereka selalu bertemu di kafe tapi tidak pernah benar-benar makan dengan benar.

Wren membuka pintu dan langsung melihat kantong makanan itu. "Anda membawa nasi padang."

"Anda tidak lapar?"

"Saya sangat lapar, saya hanya tidak mengira—" Ia membuka pintu lebih lebar. "Masuk."

Mereka makan di lantai studio — Wren duduk bersila di dekat beanbag ungu, Arsa memilih tempat yang sama dengan biasanya di dekat rak buku, dengan makanan dibuka di tengah-tengah seperti piknik dadakan. Bungkus nasi padang, rendang, sayur singkong, dan kerupuk yang Arsa beli tiga bungkus karena kerupuk selalu habis lebih cepat dari yang seharusnya.

Percakapan mengalir tentang hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan amplop — Wren bercerita tentang sesi rekaman hari itu, karakter bebek Jawa yang sudah menjadi semacam running joke antara mereka, komentar pendengar Suara Asing yang masuk minggu ini. Arsa bercerita tentang wawancara tadi pagi dengan kolega lama Pak Wahyu yang ternyata menyimpan kenangan tentang lelaki itu yang tidak terduga — bahwa Pak Wahyu diam-diam mengoleksi tanaman kaktus, dan kamarnya di kantor penuh dengan pot-pot kecil yang tidak pernah ia jelaskan kepada siapapun.

"Kaktus," kata Wren, mengunyah. "Tanaman yang bisa hidup dengan sedikit perhatian tapi tidak mati karenanya."

"Anda langsung menganalisis."

"Refleks." Wren menyodorkan kerupuk ke arahnya. "Tapi serius — itu menarik. Pak Wahyu yang oleh putrinya digambarkan jauh dan tidak mudah dijangkau, ternyata merawat tanaman yang bisa bertahan dengan sedikit air. Ada paralel yang—"

"Saya tahu." Arsa mengambil kerupuk. "Saya sudah catat itu."

Wren menatapnya dengan ekspresi yang terasa seperti senyum tapi tidak sepenuhnya. "Tentu saja sudah."

Mereka menyelesaikan makan dalam diam yang nyaman. Di luar, suara Blok M malam hari — motor, sesekali klakson, musik dari kedai di bawah yang terdengar sayup. Suara-suara yang sudah menjadi latar belakang familiar bagi Wren, dan yang malam ini terasa seperti latar belakang yang tepat untuk apa yang akan mereka lakukan.

Arsa mengeluarkan plastik zip-lock dari tasnya. Meletakkannya di tengah antara mereka.

Amplop di balik plastik transparan itu — putih, agak menguning di sudutnya. Ukurannya lebih besar dari amplop-amplop Raka. Satu kata di bagian depan, tulisan tangan yang berbeda dari yang mereka sudah sangat kenal:

Tanah.

Wren memandang amplop itu tanpa menyentuhnya.

"Apakah Anda ingin saya yang membukanya?" tanyanya. "Atau Anda?"

Arsa mempertimbangkan. "Anda yang buka. Saya yang baca."

Arsa mempertimbangkan. "Anda yang buka. Saya yang baca."

Wren mengangguk. Mengeluarkan amplop dari plastik. Meletakkannya di telapak tangannya sebentar — gestur yang terasa seperti penimbangan, atau mungkin penghormatan. Lalu dengan jari telunjuknya menyusuri tepi amplop, membukanya.

Ia mengeluarkan isinya dan meletakkan di depan Arsa.

Bukan satu lembar. Tiga lembar, dilipat bersama.

Arsa menarik napas. Membaca.

Tanah,

Aku tidak pandai memulai surat. Sebenarnya aku tidak pandai melakukan banyak hal yang mestinya mudah — seperti bilang langsung kepada seseorang apa yang aku rasakan tentang mereka. Kamu tahu itu. Kamu yang paling tahu.

Tapi dokter bilang aku perlu belajar mengatakan hal-hal yang penting sebelum terlambat. Bukan dengan cara yang dramatis, katanya. Hanya dengan cara yang jujur. Jadi ini percobaan pertamaku.

Aku mau bilang ini: kamu adalah orang pertama yang melihat foto-foto langitku dan tidak bilang cantik atau keren atau wow. Kamu bilang: "Ini terasa seperti kamu berusaha menyimpan sesuatu yang tidak bisa disimpan."

Aku tidak jawab waktu itu. Tapi kamu benar.

Aku memotret langit karena langit selalu berubah dan tidak ada yang bisa mencegahnya. Tidak ada langit yang sama dua kali. Dan aku takut kehilangan — kehilangan momen, kehilangan cahaya tertentu, kehilangan gradien warna yang hanya ada tiga menit sebelum matahari tenggelam sempurna. Jadi aku foto. Aku simpan.

Tapi kamu yang pertama kali bilang bahwa mungkin itu bukan tentang menyimpan. Mungkin itu tentang melatih diri untuk hadir di momen itu — untuk benar-benar melihat, bukan hanya lewat.

Aku sudah memikirkan itu selama dua tahun.

Dan aku rasa kamu benar lagi. Seperti biasanya.

Hal kedua yang mau aku bilang lebih susah.

Aku suka kamu ada di hidupku, Tanah. Dengan semua cara yang tidak bisa aku jelaskan dalam urutan logis. Cara kamu selalu ada tapi tidak pernah menekan. Cara kamu diam di saat yang tepat dan bicara di saat yang juga tepat. Cara kamu tidak pernah memintaku untuk menjadi lebih banyak dari yang aku bisa.

Aku pernah mengira bahwa orang-orang yang mencintai kamu harusnya mendorongmu untuk jadi lebih baik. Lebih keras. Lebih tinggi. Tapi kamu mengajariku sesuatu yang berbeda — bahwa ada orang-orang yang mencintaimu dengan cara yang membuat kamu merasa cukup seperti yang kamu sudah ada. Dan itu ternyata sesuatu yang lebih jarang dari yang aku kira.

Aku tidak tahu apa label yang tepat untuk apa yang aku rasakan terhadapmu. Aku sudah mencoba beberapa label dan semuanya terasa terlalu kecil.

Jadi mungkin tidak perlu label. Mungkin cukup: kamu penting. Kamu sangat penting.

Hal ketiga — dan ini yang paling susah:

Jangan tunggu-tunggu hal yang ingin kamu katakan.

Aku belajar ini dengan cara yang tidak mau aku rekomendasikan kepada siapapun. Dan aku tahu kamu — aku tahu kamu punya hal-hal yang kamu simpan, yang kamu tulis mungkin tapi tidak pernah kirim, yang kamu pikir bisa nanti atau belum waktunya atau takut salah timing.

Tidak ada timing yang sempurna, Tanah. Yang ada hanya sekarang dan nanti yang tidak terjamin.

Katakan. Apapun itu. Kepada siapapun yang layak mendengarnya.

Aku berharap bisa bilang lebih banyak hal ini langsung kepadamu. Mungkin suatu hari bisa.

— Langit

P.S. Nama panggilanmu cocok sekali. Kamu memang tanah. Selalu ada. Selalu bisa dipijak. Aku tidak pernah bilang ini dengan serius tapi: terima kasih sudah jadi tempat yang bisa aku kembali.

Arsa selesai membaca.

Ia tidak tahu berapa lama ia duduk tanpa bicara setelahnya. Cukup lama untuk menyadari bahwa tangannya yang memegang kertas itu sedikit gemetar — bukan hebat, tapi ada.

Jangan tunggu-tunggu hal yang ingin kamu katakan.

Dito menulis itu untuk Raka. Raka yang menulis dua belas surat tapi tidak pernah mengirim satu pun. Dito yang tahu, entah bagaimana tahu, bahwa adik satu-satunya teman yang benar-benar ia miliki di dunia itu adalah seseorang yang menyimpan terlalu banyak.

Dan kedua surat itu — dua belas dari Raka, satu dari Dito — tidak pernah sampai. Bukan karena tidak ditulis. Tapi karena ada langkah terakhir yang tidak pernah diambil oleh keduanya.

Tidak ada timing yang sempurna. Yang ada hanya sekarang dan nanti yang tidak terjamin.

Arsa meletakkan surat itu pelan di atas lantai di antara mereka.

Ia mengangkat kepala. Wren sedang menatapnya — tidak dengan ekspresi iba, tidak dengan ekspresi yang memintanya untuk baik-baik saja. Hanya menatap, dengan mata yang terasa seperti seseorang yang benar-benar hadir di momen ini. Tidak di tempat lain. Di sini.

"Dito tahu Raka menulis untuk dia," kata Arsa akhirnya. Suaranya lebih pelan dari biasanya. "Di surat itu — aku tahu kamu punya hal-hal yang kamu simpan, yang kamu tulis mungkin tapi tidak pernah kirim. Dito tahu."

"Ya."

"Tapi ia juga tidak pernah kirim suratnya."

"Ya."

Arsa memejamkan mata sebentar. Membiarkan semua itu ada tanpa mencoba memrosesnya terlalu cepat. Ini satu hal yang ia pelajari dari pekerjaannya — bahwa ada informasi yang perlu waktu untuk menetap, dan memaksanya terlalu cepat hanya akan membuat ia melewatkan teksturnya.

"Wren," katanya tanpa membuka mata. "Apakah Anda akan bacakan ini juga?"

Suara Wren datang dari arah yang sama, artinya ia tidak bergerak. Tetap di posisinya. "Hanya kalau Anda dan keluarga mengizinkan. Saya tidak akan melakukan apapun dengan ini tanpa izin."

Arsa membuka matanya.

"Saya izinkan," katanya. "Dan saya akan bicara dengan Ibu Sari."

Wren mengangguk. Lalu, dengan nada yang berubah menjadi sesuatu yang lebih lembut: "Arsa. Bagaimana dengan Anda sendiri?"

"Maksudnya?"

"Dito menulis untuk Raka — katakan, apapun itu, kepada siapapun yang layak mendengarnya. Kalimat itu berlaku untuk Dito dan Raka. Tapi juga berlaku untuk..." Wren tidak menyelesaikan kalimatnya. Tapi ia tidak perlu.

Arsa menatap surat itu di lantai di depannya. Tulisan tangan Dito yang tegak dan menekan.

Tidak ada timing yang sempurna. Yang ada hanya sekarang dan nanti yang tidak terjamin.

Ia tidak menjawab pertanyaan Wren malam itu. Tapi ia menyimpannya — di tempat yang sama di mana ia menyimpan observasinya tentang cara Wren menutup laci dengan pelan, cara ia memastikan cangkir sudah tepat, cara namanya terasa berbeda sekarang dari pertama kali ia mengucapkannya.

Semua itu tersimpan di tempat yang belum ia beri label.

Tapi semakin penuh setiap minggunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!