Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.
Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Empat — Bukit-Bukit yang Jauh Dari Zona Bahaya
Selamat membaca ceritaku, semoga kalian suka yaa
Langit hampir sepenuhnya gelap ketika mereka akhirnya melihat garis perbukitan membentang di hadapan mereka. Beberapa orang di rombongan menghela nafas lega. “Bukitnya sudah dekat..” gumam Asa.
Namun Jay tidak berhenti. Ia justru mengamati bukit terdekat dengan tatapan tajam, lalu menggeleng pelan. “Bukan yang itu.” Niki menoleh menatap Jay, “kenapa? Itu paling dekat.”
“Terlalu dekat,” jawab Jay singkat. “Dan terlalu terbuka.” Bukit pertama memang tampak mudah diakses, lereng landai, pepohonannya jarang dan jalurnya terlihat jelas bakan dari bawah.
Terlalu jelas.
“Kalau aku jadi tentara,” lanjut Jay pelan, “aku akan mengirim drone ke sana dulu. Atau menjadika titik pengawasan.”
Regan langsung paham. “Jadi kita cari yang tidak menarik perhatian.” Jay mengangguk kepala pelan. Ia menunjuk ke arah kanan, ke bukit yang lebih tinggi, lebih curam, sebagian tertutup batu besar dan vegetasi liar. “Yang itu lebih sulit didaki. Tapi justru itu yang kita butuhkan.”
Arsya menatap bukit tersebut. Jalurnya hampir tidak terlihat, semak-semak lebat, bebatuan tajam dan bayangan gelap di sela-selanya. “Makhluk besar tadi tidak akan mudah naik ke sana,” katanya pelan.
“Dan tanah hidup sulit berkembang di permukaan berbatu,” lanjut Jay.
Mereka pun memutar arah. Langkah terasa lebih berat karena tanjakan mulai terasa. Dazzel masih berjalan terpincang, namun Domi dan Regan bergantian menopangnya.
Angin di perbukitan lebih kencang. Udara lebih dingin. Semakin tinggi mereka mendaki, suara hutan di bawah mulai terdengar jauh, seperti dunia lain. Sesampainya di titik cukup tinggi, Jay memberi isyarat berhenti.
Di sana terdapat cekungan alami di antara batu besar, cukup tersembunyi dari bawah, namun masih memberi pandangan luas ke arah hutan dan kota Sejuk yang samar terlihat di kejauhan. “Ini,” ujar Jay pelan. “Untuk malam ini.” Niki langsung memeriksa sekeliling, memastikan tidak ada jejak makhluk atau tanda aktivitas.
Aman.
Arsya berdiri di tepi batu, menatap ke bawah. Dari ketinggian itu, lampu-lampu kendaraan militer terlihat seperti garis cahaya kecil bergerak di jalan utama. Sesekali, kilatan lampu sorot menyapu hutan. Mencari.
Lyno berdiri di samping kakaknya, “kita jauh ya sekarang…” Arsya tersenyum tipis, “lumayan.”
Jay duduk di atas batu, membuka peta yang tadi ia ambil dari ruang kerja ayahnya. Ia menyinari dengan senter kecil yang di tutup kain agar cahayanya redup. “Kota Abadi ada di balik pegunungan barat,” katanya pelan. “Kalau kita terus lewat jalur atas seperti ini, kita bisa menghindari jalan utama dan pos militer.”
“Berapa hari?” Tanya Regan. “Dua sampai tiga. Tergantung kondisi.”
Angin malam berdesir lebih kuat. Di bawah sana terdengar raungan jauh, entah kanihu, eksperimen gagal atau manusia kesakitan yang perlahan berubah. Namun dari ketinggian ini, untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan Kota Sejuk, mereka tidak merasa diburu.
Hanya sedikit waspada. Arsya duduk di samping Jay, pria yang sibuk menatap peta di tangannya. “Kamu yakin Kota Abadi bukan jebakan?” Jay terdiam beberapa detik. “Aku yakin itu pusatnya.”
“Pusat apa?” Jay menatap cahaya samar di kejauhan. “Pusat jawaban.” Arsya memandangnya lama, lalu mengangguk pelan. Di atas perbukitan yang lebih tinggi dan lebih sunyi, mereka bukan lagi sebagai pelarian melainkan saksi. Dan mungkin, satu-satunya kelompok yang masih mempertahankan kemanusiaan mereka sepenuhnya.
“Kita akan tinggal disini?” tanya Arsya pelan pada Jay.
Pria itu menoleh sekilas, menatap gadis itu beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk. “Mungkin akan naik sedikit lagi. Sampai benar-benar di luar jalur apapun.”
Arsya pun paham.
Tidak ada protes, mereka kembali mendaki, semakin tinggi, udara makin tipis dan dingin.
Tanah berbatu menggantikan permukaan hutan yang lembek dan mencurigakan. Pohon-pohon tumbuh lebih rapat, batangnya besar dan tua, seperti penjaga alami yang telah berdiri puluhan tahun.
Ketika akhirnya mereka mencapai puncak kecil yang tertutup vegetasi tebal, suara pertama yang mereka dengar adalah—
“Huu… huuu…”
Burung hantu, semua otomatis berhenti, menatap sosok burung itu dari dahan pohon. Lyno berbisik pelan, “masih ada burung…”
Dan memang benar.
Di bawah sana, hutan terasa kosong. Tidak ada kicau burung, tidak ada suara ranting kecil yang diinjak hewan. Seolah ekosistemnya membeku. Namun di atas sini, suara serangga malam terdengar normal.
Daun bergesekan wajar.
Angin terasa alami.
Regan mengamati sekeliling, “hewan-hewan naik ke atas.” Jay mengangguk pelan, “lingkungan bawah sudah tercemar, insting mereka lebih cepat dari manusia.”
Arsya memperhatikan jejak kecil di tanah kering terlihat seperti bekas kaki rusa. Ada juga bulu halus tersangkut semak, tanda hewan kecil lewat belum lama ini. “Ini zona netral,” gumamnya.
“Untuk sekarang,” koreksi Niki.
Mereka mulai menatap tempat. Domi dan Asa mengumpulkan ranting kering untuk api kecil yang di tutup batu agar tidak terlalu terlihat dari jauh. Regan membantu Dazzel duduk bersandar pada batang pohon besar.
Jay berdiri agak menjauh, menatap ke bawah lereng.
Dari sini, kota Sejuk hanya terlihat seperti bayangan gelap dengan titik-titik cahaya bergerak. Arsya menghampirinya. “Kamu kepikiran sesuatu.” Jay tidak langsung menjawab. “Aku cuma berpikir… kalau hewan saja tahu harus naik ke tempat lebih bersih, kenapa manusia malah berkumpul di pusatnya.”
“Karena manusia percaya pada sistem,” jawab Arsya pelan. “Hewan percaya pada insting.”
Jay tersenyum tipis.
Angin malam menggerakan rambut Arsya sedikit. Untuk sesaat, dunia terasa jauh lebih tenang. Terpisah dari kekacauan di bawah sana. Namun ketenangan itu bukan tanpa arti. Melainkan seperti jeda sebelum bab berikutnya.
“Malam ini kita istirahat, besok kita lanjut ke barat.” Arsya mengangguk. Di atas perbukitan yang dipenuhi pohon tua dan suara burung hantu, mereka menemukan perbedaan yang sangat nyata.
Di bawah, dunia berubah menjadi laboratorium dan medan perburuan.
Di atas, alam masih mencoba bertahan.
Dan untuk kesekian kalinya, sejak wabah itu menyebar, mereka masih bisa merasakan sesuatu yang berbeda dari yang lain, berada di sisi yang masih hidup dan memiliki hak untuk memilih.
Api kecil menyala redup, tertutup susunan batu agar cahayanya tidak menyebar jauh. Wajah-wajah lelah terlihat lebih tenang, setidaknya untuk malam ini.
Jay berdiri sedikit menjauh dari lingkaran api, matanya menyapu rombongannya satu per satu. Lyno yang sudah tertidur bersandar pada Arsya, Dazzle yang masih menahan perih di kakinya dengan paksa menidurkan tubuhnya. Ibu dengan bayi yang kini tertidur di pelukannya. Pria tua yang nafasnya terdengar berat setiap beberapa menit, sampingnya remaja perempuan seusia Lyno.
Serta dua pemuda yang ternyata saudara kembar sedang menghangat tubuh mereka di sisi api unggun. Jumlah mereka terlalu banyak, dan perjalanan ke Kota Abadi terlalu jauh.
Jay menghembuskan nafas pelan. Jika mereka tetap bersama, kecepatan akan melambat. Resiko sedikit bertambah. Suara bayi saja bisa mengundang makhluk di malam hari.
Ia menatap Niki dan Regan bergantian. “Kalian ada ide? Atau saran?”
Niki dan Regan saling pandang sebentar, seolah menyamarkan pikiran tanpa perlu banyak kata. “Soal tempat menetap,” ujar Regan lebih dulu, “kota sudah bukan pilihan. Terlalu terbuka, terlalu mudah dikontrol.”
Niki melanjutkan, nadanya lebih tenang dari biasanya. “Kalau kita tetap bergerak tanpa titik pulang, kita akan habis pelan-pelan. Bukan karena kanihu, tapi karena lelah.”
Jay mengangguk pelan kepalanya, “jadi?”
Niki menunjuk ke arah barat, ke siluet pegunungan yang lebih gelap dari langit malam. “Kita tidak masuk langsung ke Kota Abadi. Kita berhenti di perbukitan perbatasannya.”
Arsya memperhatikan dengan seksama. “Kita buat tempat tinggal di sana,” lanjut Niki. “Titik tetap. Dekat dengan pusat informasi.. Tapi tidak di dalam jangkauan langsung.”
Regan menambahkan, “kalau ada pergerakan militer, kita bisa mengamati dari atas. Kalau ada eksperimen lepas, kita punya waktu untuk menghindar.”
Jay berpikir. “Itu berarti, kita menjadi sosok bayangan.” Niki tersenyum tipis, “lebih baik jadi bayangan daripada jadi objek uji coba.”
Arsya melirik ke arah ibu dengan bayi dan pria tua yang sudah tertidur, disampingnya gadis yang ternyata cucu dari pria tua itu. “Kita tidak sendiri sekarang, energi mereka tidak sekuat kita.” katanya pelan.
Niki mengangguk, “itu sebabnya kita butuh tempat yang bisa disebut ‘pulang’. Bukan cuma persinggahan.”
Regan menyilangkan tangan. “Dan kalau suatu saat kita harus menyerang, atau menyelamatkan orang dari dalam Kota Abadi… kita sudah punya markas.”
Kata ‘markas’ terdengar asing tapi juga, tepat. Jay menatap api kecil yang mulai meredup. Dulu mereka hanya ingin selamat, sekarang mereka bicara tentang bertahan, mengamati dan mungkin melawan.
“Perbukitan perbatasan…” gumam Jay. “Tinggi. Sulit dijangkau kendaraan. Tanah berbatu. Lebih stabil.” Arsya menatapnya. “Kamu setuju?” Jay terdiam beberapa detik, lalu ia mengangguk pelan. “Kita buat dua tujuan.”
Semua menatapnya.
“Besok kita cari titik paling aman di perbukitan ini untuk rombongan tinggal sementara. Setelah itu, tim kecil bergerak lebih dulu memetakan perbatasan Kota Abadi.” Niki mengangkat alis, “tim kecil?”
“Kita belum masuk,” jawab Jay. “Kita mengintai dulu.” Regan tersenyum tipis. “Itu lebih masuk akal.”
Angin malam berhembus lebih dingin tapi suasana di antara mereka terasa lebih hangat. Karena mereka tidak hanya bereaksi terhadap ancaman. Mereka mulai menyusun masa depan. Di atas perbukitan yang masih alami, di antara suara burung hantu dan dedaunan.. Sekelompok manusia yang tersisa mulai merancang tempat untuk pulang.
Bukan kota yang dijanjikan militer, ataupun zona aman palsu, melainkan tempat yang mereka bangun sendiri yang akan mereka sebut sebagai ‘rumah’.
terima kasih sudah membaca, jangan lupa beri like dan vote ya, kita lanjut besok lagi..