NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Fan Yang Jenius

Reinkarnasi Fan Yang Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Anak Genius
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bahari

Dikhianati saudari angkatnya sendiri, Su Fan — sang jenius fana pemegang rahasia Sembilan Dao Hukum Tertinggi memilih mati daripada menyerah. Namun, maut justru menjadi pintu reinkarnasi. Ia terbangun di tubuh pemuda bernama Li Fan di alam fana yang terpencil.
Ironisnya, Li Fan hanyalah pemuda biasa dengan akar spiritual normal. Bagi orang lain, itu hal biasa. Tapi bagi Su Fan yang dulu terkutuk 10.000 akar spiritual, tubuh ini adalah anugerah termurni untuk mulai berkultivasi. Berbekal wawasan hukum tertinggi dan pengetahuannya yang melimpah, Li Fan memulai pendakian berdarah dari titik nol.
“Surga sebelumnya tidak adil bagiku. Tapi sekarang, Aku sendiri yang mengadili Surga!”

Dari manusia fana yang dianggap sampah hingga menjadi penguasa hukum yang menggetarkan semesta. Inilah kisah perjalanan Su Fan ditubuh Li Fan untuk pendakian menuju puncak agung yang mustahil. Sang jenius yang dulu terbelenggu, kini telah lepas dari rantai takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tangga Awan dan Rahasia Pos Pertama

Langkah kaki itu terasa seperti memikul gunung. Di ketinggian yang nyaris menyentuh hamparan awan, Tangga Awan Surgawi bukan lagi sekadar susunan batu giok putih yang indah, melainkan sebuah ujian hidup dan mati yang sunyi. Kabut tebal merayap di sela-sela anak tangga, dingin dan lembap, seolah-olah memiliki nyawa yang ingin menarik setiap pendaki jatuh ke dalam jurang keputusasaan.

Dari lima puluh pemuda yang memulai perjalanan dengan sorak-sorai dan keangkuhan klan masing-masing, kini hanya tersisa setengahnya. Pemandangan di sepanjang jalur pendakian sungguh mengenaskan. Beberapa anak bangsawan yang tadinya mengenakan jubah sutra mahal kini tergeletak tak berdaya di atas batu giok, wajah mereka membiru dengan busa tipis di sudut bibir. Paru-paru mereka gagal beradaptasi dengan tipisnya udara yang bercampur dengan tekanan energi spiritual yang menindas.

“Jangan melihat ke belakang, Tianyu. Fokus pada detak jantungmu sendiri,” bisik Li Fan dengan nada yang sangat tenang, kontras dengan suasana mencekam di sekitar mereka.

Jin Tianyu, yang menyamar sebagai pelayan bernama A-Gou, mengangguk dengan susah payah. Keringat membanjiri wajahnya, menetes ke anak tangga yang ia pijak. “Tuan muda... kaki saya... rasanya seperti disemen ke batu ini. Bagaimana Anda bisa berjalan seolah-olah sedang berjalan di taman bunga?”

Li Fan hanya menyunggingkan senyum tipis yang penuh rahasia. Sebagai jiwa yang pernah bertahta di puncak tertinggi Alam Dewa, tekanan spiritual tingkat rendah seperti ini baginya tak lebih dari hembusan angin sepoi-sepoi. Namun, demi menjaga peran sebagai Ma Liang, ia sengaja sedikit melambatkan langkah dan mengatur napas agar terlihat sedikit terbebani.

Akhirnya, setelah perjuangan yang melelahkan, mereka menapakkan kaki di sebuah pelataran luas yang dilapisi batu pualam hijau. Di tengah pelataran itu stands sebuah gerbang kayu raksasa yang diukir dengan relief awan dan naga yang meliuk.

Tetua Zhao, yang sejak tadi memimpin di depan tanpa mengeluarkan setetes keringat pun, menghentikan langkahnya. Ia berbalik, menatap sisa-peserta yang kini berjumlah dua puluh lima orang. Tatapannya dingin, tidak menunjukkan simpati sedikit pun pada mereka yang terengah-engah di lantai batu.

“Selamat. Kalian telah mencapai Pos Pertama,” suara Tetua Zhao menggema dengan kekuatan Qi yang membuat telinga para peserta berdenging. “Namun, jangan mengira ini adalah akhir. Ini bahkan belum bisa disebut sebagai awal.”

Seorang pemuda berpakaian mewah dari klan lain memberanikan diri bertanya sambil terbatuk. “Tetua... apakah ini berarti kami sudah diterima sebagai murid?”

Tetua Zhao mendengus menghina. “Diterima? Kalian saat ini hanyalah 'sampah' yang berhasil merangkak sedikit lebih tinggi dari sampah lainnya. Di Pos Pertama ini, kalian akan tinggal selama tiga bulan.”

“Tiga bulan? Kenapa begitu lama?” gumam beberapa peserta lain dengan nada kecewa.

“Diam!” bentak Tetua Zhao. “Tiga bulan adalah waktu yang diberikan sekte agar tubuh fana kalian tidak hancur saat mendaki lebih tinggi. Mulai besok, kalian akan diajari metode pernapasan dasar. Semakin tinggi kalian mendaki gunung ini, tekanan spiritualnya akan berlipat ganda. Tanpa membuka nadi spiritual, kalian akan meledak menjadi tumpukan daging sebelum mencapai gerbang utama.”

Li Fan menyilangkan tangan di depan dada, mendengarkan dengan seksama. Ia tahu prosedur ini. Pembukaan nadi spiritual adalah kunci untuk menghubungkan tubuh fisik dengan akar spiritual di dalam dantian.

“Perlu kalian ketahui, ada tiga tahapan gerbang di dalam tubuh yang harus kalian jebol agar jalur energi kalian terbuka sepenuhnya. Jika kalian bisa melakukannya dalam tiga bulan ini, pendakian menuju Pos Kedua, Ketiga, dan Puncak akan menjadi sangat mudah. Di gunung ini ada empat pos, dan kalian baru berada di titik terendah,” jelas Tetua Zhao.

Ia kemudian menunjuk ke deretan bangunan yang menyerupai sebuah desa kecil di sisi kanan pelataran. “Di sana ada asrama, tempat makan, dan semua fasilitas yang kalian butuhkan. Sekte telah menyediakannya. Sekarang, pergilah. Cari tempat kalian sendiri. Aku akan kembali besok pagi untuk memulai latihan.”

Begitu Tetua Zhao menghilang dalam sekejap mata, suasana yang tadinya tegang langsung pecah. Banyak calon murid yang langsung jatuh terduduk, menangis karena lega atau sekadar meratapi nasib tiga bulan ke depan.

“Ayo, A-Gou. Jangan hanya diam seperti patung,” ucap Li Fan sambil menepuk bahu Jin Tianyu. “Tuan mudamu ini butuh tempat duduk yang layak dan hidangan yang tidak berbau keringat kalian semua.”

Li Fan melangkah dengan gaya angkuh Ma Liang, membelah kerumunan menuju area pemukiman. Jin Tianyu segera mengikuti di belakang, membawa bungkusan perbekalan mereka.

“Li... maksud saya, Tuan Muda Ma, apakah kita benar-benar akan tinggal di sini selama itu?” tanya Jin Tianyu saat mereka menyusuri jalanan desa yang bersih.

“Tentu saja. Nikmati saja fasilitasnya. Jarang-jarang kau bisa tinggal di tempat dengan pemandangan awan seperti ini secara gratis,” jawab Li Fan santai.

Mereka akhirnya sampai di sebuah kedai kayu yang tampak cukup ramai. Papan namanya bertuliskan 'Kedai Angin Awan'. Bau harum masakan rempah tercium dari dalam, memicu rasa lapar yang luar biasa setelah pendakian panjang.

Li Fan memilih meja di sudut yang agak tersembunyi namun tetap bisa memantau seluruh ruangan. Ia segera menjentikkan jarinya, memanggil pelayan kedai.

“Pelayan! Bawakan hidangan terbaikmu dan teh roh paling segar. Jangan buat aku menunggu lama!” seru Li Fan dengan nada memerintah.

Seorang remaja pelayan dengan seragam cokelat berlari mendekat. “Baik, Tuan Muda! Segera saya siapkan!”

Sambil menunggu makanan, Li Fan memperhatikan orang-orang di dalam kedai. Ia menyadari bahwa tidak semua orang di sini adalah calon murid baru. Ada beberapa orang yang terlihat lebih tua dan mengenakan pakaian yang sedikit berbeda.

“Tianyu, perhatikan mereka,” bisik Li Fan. “Beberapa dari mereka sudah memiliki fluktuasi energi di tubuhnya, tapi gerakannya masih kasar. Mereka bukan murid sekte sejati.”

Tak lama, pelayan datang membawakan nampan berisi daging kambing berbumbu dan teh yang mengepulkan uap putih harum. Li Fan melemparkan dua keping perak ke atas meja sebelum pelayan itu pergi.

“Tunggu sebentar,” panggil Li Fan.

Pelayan itu berhenti, matanya berbinar melihat perak yang berkilau. “Ya, Tuan Muda? Ada yang bisa saya bantu?”

“Ceritakan padaku tentang tempat ini. Aku baru saja sampai dan merasa tempat ini sedikit... aneh. Kenapa ada orang-orang yang tampak jauh lebih tua dari kami di sini?” tanya Li Fan sambil menyesap tehnya.

Pelayan itu mendekat dan berbisik. “Tuan Muda pasti sangat berbakat bisa mencapai sini dengan cepat. Begini, Pos Pertama ini sebenarnya adalah tempat penampungan bagi banyak orang. Selain calon murid baru seperti Anda, banyak murid luar atau mereka yang gagal dalam Upacara Penerimaan tahun-tahun sebelumnya memilih untuk menetap di sini.”

“Gagal tapi menetap?” Jin Tianyu menyela sambil mengunyah daging.

“Benar. Mereka menolak untuk pulang ke dunia fana karena merasa malu atau masih penasaran. Mereka berlatih keras di asrama, berharap tahun depan bisa mencoba lagi. Beberapa bahkan sudah tinggal di sini selama tiga atau empat tahun,” jelas pelayan itu.

Li Fan mengangguk. “Menarik. Lalu, ceritakan padaku tentang Upacara Penerimaan yang sesungguhnya di puncak nanti. Bagaimana prosedurnya?”

Wajah pelayan itu sedikit berubah, ada ketakutan yang tersirat di matanya. “Itu... itu adalah ujian yang sangat mengerikan, Tuan Muda. Jika di sini Anda hanya berlatih pernapasan, di puncak nanti Anda harus melakukan pembukaan nadi spiritual secara paksa.”

“Secara paksa?” Li Fan menaikkan alisnya.

“Ya. Para peserta akan dikumpulkan dalam satu formasi raksasa. Kemudian, seorang Tetua tingkat tinggi, biasanya dari tahap Core Formation, akan melepaskan tekanan aura Qi mereka secara penuh. Tekanan itu akan menghantam tubuh Anda seperti palu raksasa, memaksa energi spiritual masuk ke dalam meridian yang masih tertutup. Tujuannya adalah untuk mendobrak akar spiritual agar bangkit secara instan.”

Pelayan itu menelan ludah. “Risikonya sangat besar. Jika tubuh Anda tidak kuat atau persiapan pernapasan Anda di pos-pos bawah tidak sempurna, tekanan itu akan menghancurkan meridian Anda. Banyak yang mati meledak di tempat, atau menjadi lumpuh seumur hidup.”

Li Fan terdiam. Metode ini memang efektif untuk menyaring bakat dalam jumlah besar, tapi sangat brutal bagi mereka yang fisiknya lemah. Di Alam Dewa, metode ini dianggap sebagai metode kelas rendah yang hanya digunakan oleh sekte-sekte kecil yang miskin sumber daya.

“Dan satu lagi, Tuan Muda,” tambah pelayan itu. “Saat seseorang berhasil bangkit, akan muncul bola cahaya di sekitar tubuh mereka. Semakin banyak bola dan semakin terang cahayanya, maka semakin besar potensi orang tersebut. Konon, bola cahaya itu adalah bayangan dari roh yang akan kita miliki nanti.”

Li Fan memberikan satu keping perak lagi, memberi isyarat agar pelayan itu pergi. Setelah pelayan itu menjauh, senyum di wajah Li Fan semakin lebar.

“Roh, ya?” gumam Li Fan dalam hati. “Jadi dunia ini menggunakan sistem Hukum Roh sebagai fondasi kultivasinya. Bola cahaya itu adalah manifestasi dari esensi jiwa yang beresonansi dengan Qi alam.”

Jin Tianyu menatap Li Fan dengan cemas. “Li Fan, tekanan dari ahli Core Formation... itu terdengar sangat berbahaya. Apakah kita benar-benar bisa melakukannya?”

Li Fan menatap sahabatnya itu dengan sorot mata yang tiba-tiba berubah menjadi sangat dalam dan bijaksana, jauh melampaui usia tubuhnya. “Berbahaya bagi orang lain, tapi bagiku, itu hanyalah kunci untuk membuka pintu yang selama ini terkunci. Makanlah yang banyak, Tianyu. Aku akan mengajarimu cara pernapasan yang sebenarnya, bukan metode sampah yang akan diberikan oleh sekte ini.”

1
dinozzo
tokoh yg menggemparkan dunia, dapat menghancurkan musuh yg menghalangi jalannya dan membalas kembalikan dengan kebaikan.
Jojo Shua
gasss
Jojo Shua
🔥👍
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
👍
Jojo Shua
🔥
RisOne Harahap
mantap,lanjut,thor
Jojo Shua
🔥
Jojo Shua
Hasss 🔥
Dian Pravita Sari
gak TST lagi smjong
Dian Pravita Sari
memang novelmtoon gal kompeten dikelilingi prketks yg makan gaji buta semua depstyrmrnnys lah
Bahari: gk ngerti ngomong apa ka🙏
total 1 replies
Jojo Shua
👍
RisOne Harahap: joss,lanjut jangan kasih kendor
total 1 replies
Jojo Shua
Menghibur....
Cerdas...
Lucu...
Bahari: Xie xie🤭
total 1 replies
gempi
j
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!