NovelToon NovelToon
Kembalinya Kaisar Iblis

Kembalinya Kaisar Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Spiritual / Sistem / Time Travel / Mafia / Reinkarnasi
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: BAYANGAN MAGYO

Malam di Klan Namgung biasanya sunyi setelah larut. Tapi malam ini, sunyi terasa berbeda—lebih pekat, lebih berat, seperti ada sesuatu yang mengintai di balik kegelapan.

Namgung Jin duduk bersila di kamarnya, tapi pikirannya tidak tenang.

"Magyo."

Kata itu terus berputar di kepalanya. Organisasi yang ia dirikan ribuan tahun lalu, dengan tangannya sendiri, dari nol. Ia ingat saat pertama kali memutuskan untuk mendirikan sekte sendiri—frustrasi dengan kemunafikan Jeongpa (fraksi kebenaran) yang mengaku suci tapi korup di dalam. Ia ingin menciptakan tempat di mana kekuatan adalah segalanya, di mana yang lemah tunduk pada yang kuat, tanpa topeng moralitas palsu.

Dan ia berhasil. Magyo tumbuh menjadi kekuatan terbesar di Murim, menyaingi bahkan Delapan Sekte Besar sekalipun.

Tapi kemudian datang pengkhianatan. Cheon Mu-gi, murid kesayangannya, menusuknya dari belakang.

"Sekarang Magyo muncul lagi. Dan mereka berhubungan dengan Namgung So-ho..."

Ini bisa berarti banyak hal. Mungkin Magyo hanya mencari sekutu baru. Mungkin mereka ingin memperluas pengaruh. Atau mungkin...

"Mungkin mereka mencari sesuatu. Atau seseorang."

Ia teringat cincin di balik bajunya. Pusaka Klan Namgung. Apa hubungannya?

Pintu kamarnya diketuk—ketukan kode yang ia sepakati dengan Tetua Pyo. Tiga ketukan pendek, satu panjang.

"Masuk."

Tetua Pyo meluncur masuk dengan cepat, wajahnya tegang.

"Jin-ah, ada masalah."

"Apa?"

"Orang itu—agen Magyo—masih di kompleks. Ia bertemu dengan Nyonya Kim sekarang."

Simma di dada Namgung Jin berdenyut keras. Dingin. Marah.

"Di mana?"

"Paviliun utama. Tapi kau tidak bisa—"

Namgung Jin sudah berdiri. "Jagakan ibuku."

"Apa?!"

"Jika sesuatu terjadi padaku, lindungi ibuku. Aku titip."

Ia melesat keluar sebelum Tetua Pyo bisa membantah.

---

Paviliun utama Klan Namgung di malam hari berbeda. Lampu-lampu minyak menyala di setiap sudut, menciptakan bayangan-bayangan yang menari-nari. Para pengawal berjaga di pos-pos mereka, tapi Namgung Jin tahu pola mereka—ia sudah mempelajarinya selama berhari-hari.

Ia bergerak di antara bayangan, menghindari lampu, memanfaatkan setiap sudut buta. Tubuhnya masih lemah, tapi pengalaman ribuan tahun membuatnya mampu bergerak seperti hantu.

Di belakang paviliun utama, ada jendela kecil—jendela gudang penyimpanan. Tidak pernah dikunci. Ia masuk lewat sana.

Di dalam, gelap. Ia merangkak di antara tumpukan kotak dan perabotan usang, menuju ke lantai atas. Dari sana, ia bisa mendengar suara samar dari ruang tamu utama.

Ia menemukan celah di dinding—celah kecil antara panel kayu. Cukup untuk melihat dan mendengar.

Di ruang tamu, Nyonya Kim duduk di kursi utamanya. Di hadapannya, berdiri pria berjubah hitam yang dilihatnya siang tadi bersama Namgung So-ho. Pria itu melepas topinya, memperlihatkan wajah—wajah kurus dengan bekas luka bakar di pipi kiri. Matanya kuning pucat, seperti mata ular.

"Utusan Magyo." Nyonya Kim menyebutnya, suaranya bergetar meskipun berusaha tenang. "Apa yang kau inginkan?"

Pria itu tersenyum—senyum yang membuat bulu kuduk merinding. "Namaku Cheon Ma-ryong."

Di balik dinding, jantung Namgung Jin—Cheon Ma-ryong yang asli—hampir berhenti.

Apa?!

Pria itu melanjutkan, "Aku pemimpin baru Magyo. Pewaris sah dari Iblis Murim yang legendaris."

"Pewaris?" Nyonya Kim mengerutkan kening. "Aku dengar Iblis Murim mati ribuan tahun lalu."

"Benar. Tapi ajarannya hidup. Dan aku adalah penerusnya." Pria itu—yang mengaku bernama Cheon Ma-ryong—berjalan mendekat. "Tapi kita tidak di sini untuk membahas sejarah. Kita di sini untuk membicarakan kerjasama."

"Kerjasama?"

"Kau punya masalah dengan anak selir itu—Namgung Jin." Matanya yang kuning berkilat. "Kami bisa membantumu menyingkirkannya."

Nyonya Kim diam sejenak. "Apa imbalannya?"

"Cukup sederhana. Setelah kau berkuasa penuh atas Klan Namgung, kau harus mendukung Magyo saat kami bergerak melawan Delapan Sekte Besar."

"Kau gila!" Nyonya Kim hampir berdiri. "Itu sama saja dengan mengkhianati Murim!"

"Atau kau bisa terus hidup dalam ketakutan terhadap bocah enam belas tahun itu." Pria itu tersenyum sinis. "Pilihanmu, Nyonya."

Nyonya Kim menggigit bibir. Tangannya gemetar.

Di balik dinding, Namgung Jin—yang asli—mengamati dengan mata dingin.

"Menggunakan namaku... untuk tujuan sendiri."

Ia harus mengakui, orang ini berani. Mengaku sebagai pewaris Cheon Ma-ryong? Itu adalah klaim berbahaya. Tapi juga bodoh. Karena Cheon Ma-ryong yang asli ada di sini, mendengar semuanya.

"Apa jaminanku kalian bisa membunuhnya?" tanya Nyonya Kim akhirnya.

"Kau sudah lihat sendiri kemarin. Bocah itu menang bukan dengan kekuatan, tapi dengan tipu daya. Tapi tipu daya tidak akan berguna melawan kekuatan sejati." Pria itu mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya—sebuah botol kecil berisi cairan hitam. "Ini adalah racun dari Magyo. Tidak terdeteksi. Tidak berbau. Campurkan dalam makanannya, dan dalam tiga hari, ia akan mati seperti orang sakit biasa."

Nyonya Kim menatap botol itu. Tangan gemetarnya meraih...

"Jangan."

Suara itu datang dari belakang.

Nyonya Kim dan pria itu menoleh. Di ambang pintu, berdiri Namgung Jin. Wajahnya pucat, tapi matanya—matanya hitam pekat, seperti jurang.

"K-Kau?! Bagaimana kau—"

"Masuk lewat belakang." Namgung Jin melangkah masuk, tidak peduli pada ancaman. "Dan kau..." Ia menatap pria yang mengaku sebagai Cheon Ma-ryong. "...berani menggunakan nama itu?"

Pria itu terkejut, tapi cepat pulih. "Bocah lancang. Kau tahu siapa aku?"

"Cheon Ma-ryong?" Namgung Jin tertawa—tawa yang dingin, menusuk. "Aku kenal Cheon Ma-ryong. Dan kau bukan dia."

"Apa kau—"

"Diam."

Satu kata. Tapi entah kenapa, pria itu terdiam. Ada sesuatu dalam tatapan bocah di depannya yang membuatnya... takut.

Namgung Jin berjalan mendekat, langkahnya tenang, seolah tidak peduli bahwa pria ini bisa membunuhnya dalam satu serangan.

"Cheon Ma-ryong memiliki teknik bernama Hwasin—pemisahan jiwa dari raga. Ia juga menguasai Gucheon Mabeop—Kitab Sembilan Jurang. Dan yang paling penting..." Ia berhenti tepat di depan pria itu. "...ia tidak akan pernah memanggil dirinya sendiri dengan gelar 'Iblis Murim' di depan orang asing. Itu terlalu norak bahkan untuknya."

Pria itu membelalak. "K-Kau... siapa kau sebenarnya?"

"Aku adalah mimpi burukmu."

Dan saat itu, Namgung Jin menyerang.

Bukan dengan pedang. Bukan dengan tinju. Tapi dengan sesuatu yang lebih sederhana—telapak tangan terbuka, menampar botol racun di tangan pria itu. Botol itu terbang, jatuh ke lantai, pecah. Cairan hitam tumpah, dan asap tipis mengepul.

"Kurang ajar!" Pria itu marah. Ia melayangkan serangan—cakar hitam penuh energi gelap.

Tapi Namgung Jin sudah mundur, menarik Nyonya Kim yang terpaku. Keduanya berguling menjauh.

Serangan itu menghantam dinding, membuat lubang besar.

"Lari!" bisik Namgung Jin pada Nyonya Kim.

Wanita itu menatapnya dengan mata terbelalak—musuh yang ingin ia bunuh, kini menyelamatkannya. Tapi ia tidak punya waktu berpikir. Ia berlari keluar.

Pria Magyo itu menggeram. "Bocah sialan! Kau merusak rencanaku!"

"Rencana bodoh." Namgung Jin berdiri, meskipun lututnya lemas. Gerakan tadi menguras energinya. "Kau pikir dengan meracuni satu orang, kau bisa menguasai Klan Namgung? Dasar amatir."

"Aku akan membunuhmu!"

Pria itu menyerang lagi. Kali ini lebih cepat.

Namgung Jin tidak bisa menghindar. Tubuhnya sudah mencapai batas.

Tapi tiba-tiba, sesosok bayangan melesat di antara mereka.

"Jangan sentuh dia!"

Tetua Pyo.

Pria tua itu berdiri di depan Namgung Jin, pedang terhunus. Napasnya tersengal—ia berlari secepat mungkin.

"Tetua..."

"Diam kau! Aku sudah bilang jangan bertindak sendiri!"

Pria Magyo itu mengukur lawan barunya. "Tetua Pyo... kau ikut campur? Ini di luar urusanmu."

"Apa pun yang mengancam Klan Namgung adalah urusanku." Pedang Tetua Pyo siap menyerang. "Kau mau bertarung?"

Pria itu tersenyum sinis. "Aku tidak punya waktu untuk orang tua sepertimu."

Tiba-tiba, ia melemparkan sesuatu—bola asap. Ruangan itu dipenuhi kabut hitam.

Saat kabut hilang, ia sudah pergi.

Namgung Jin jatuh berlutut. Napasnya tersengal-sengal.

"Jin-ah!" Tetua Pyo membantunya berdiri. "Kau gila! Melawan agen Magyo sendirian!"

"Dia... mengaku sebagai Cheon Ma-ryong..." bisik Namgung Jin.

"Apa?"

"Dia menggunakan nama itu. Itu... tidak bisa kubiarkan."

Tetua Pyo menatapnya aneh. "Kau kenal Cheon Ma-ryong?"

Namgung Jin tidak menjawab.

---

Satu jam kemudian, Namgung Jin duduk di perpustakaan, tubuhnya dibalut perban. Tetua Pyo memeriksa lukanya—beberapa memar dan luka gores, tapi tidak parah.

"Kau beruntung."

"Aku tahu."

"Tapi kau bodoh. Sangat bodoh." Tetua Pyo menghela napas. "Kenapa kau lakukan itu? Untuk menyelamatkan Nyonya Kim? Dia musuhmu!"

Namgung Jin diam sejenak. Lalu menjawab, "Bukan untuk dia. Tapi untuk..."

Ia tidak melanjutkan. Simma di dadanya berdenyut. Untuk Namgung Jin asli? Untuk ibunya? Untuk klan ini?

Ia sendiri tidak tahu.

"Kau aneh." Tetua Pyo duduk di sampingnya. "Tapi aku mulai mengerti kenapa kepala klan mempercayaimu."

"Kau tahu tentang cincin itu?"

"Tahu. Aku yang menyarankannya."

Namgung Jin menatapnya. "Kau?"

"Aku sudah lama mengamati kau, Jin-ah. Sejak kau selamat dari serangan itu, ada perubahan. Bukan perubahan kecil—tapi perubahan total. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku tahu satu hal: kau adalah harapan terbaik klan ini."

Tetua Pyo menatapnya serius.

"Jadi, kumohon. Jangan bertindak bodoh lagi. Kau terlalu berharga."

Untuk pertama kalinya, Namgung Jin merasa... dihargai. Bukan sebagai Iblis Murim yang ditakuti, tapi sebagai seseorang yang dibutuhkan.

Simma berdenyut hangat.

---

Pagi harinya, Namgung Jin dipanggil ke paviliun utama.

Di ruang tamu, Nyonya Kim duduk dengan wajah pucat. Di sampingnya, Namgung So-ho menunduk, tidak berani menatap.

Di kursi utama, Namgung Cheon menatap mereka semua dengan wajah keras.

"Jin-ah, duduk."

Ia duduk.

"Semalam, terjadi sesuatu. Istriku..." Namgung Cheon menatap Nyonya Kim. "Katakan sendiri."

Nyonya Kim menggigit bibir. Lalu, dengan suara bergetar, ia berkata, "Aku... aku bersekongkol dengan Magyo. Untuk membunuhmu, Namgung Jin."

Keheningan.

Namgung So-ho gemetar. "I-Ibu..."

"Tapi semalam, kau menyelamatkanku. Meskipun kau tahu aku ingin kau mati." Nyonya Kim menatap Namgung Jin dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa?"

Namgung Jin menatapnya datar. "Karena ibuku mengajariku bahwa membalas dendam tidak menyelesaikan apa pun."

Bohong. Tapi bohong yang indah.

Nyonya Kim menangis. "Aku... aku malu."

Namgung Cheon menghela napas. "Istriku, kau telah melakukan kesalahan besar. Tapi karena tidak ada yang jadi korban, dan karena Jin-ah memaafkanmu, aku akan memberi kesempatan kedua."

Ia menatap Nyonya Kim tajam.

"Tapi ingat. Satu kesalahan lagi, dan kau akan kuusir dari klan ini."

Nyonya Kim menunduk. "Aku... aku mengerti."

Namgung So-ho hanya bisa diam, gemetar.

---

Setelah pertemuan itu, Namgung Jin berjalan kembali ke paviliunnya.

Di tengah jalan, ia bertemu Pemburu Kwon—pria yang pernah mencoba membunuhnya, kini menjadi mata-matanya. Pria itu menyamar sebagai pedagang, membawa keranjang berisi sayuran.

"Ada laporan, Tuan Muda."

"Bicara."

"Agen Magyo itu—namanya Heuksim. Bukan pemimpin, hanya utusan tingkat menengah. Tapi ia membawa pesan penting."

"Pesan apa?"

"Magyo sedang mencari seseorang. Seseorang yang mereka sebut 'Guru Sejati'. Mereka percaya bahwa Iblis Murim yang asli mungkin masih hidup."

Namgung Jin diam.

"Guru Sejati..."

"Ada lagi, Tuan Muda. Heuksim bilang, mereka punya petunjuk bahwa Guru Sejati ada di wilayah Klan Namgung. Itu sebabnya mereka datang ke sini."

Simma berdenyut keras.

"Terima kasih. Kau boleh pergi."

Pemburu Kwon membungkuk, lalu pergi.

Namgung Jin berdiri di tengah jalan, merenung.

"Mereka mencari aku."

Ini bisa jadi ancaman. Tapi juga bisa jadi peluang.

"Jika Magyo mencari gurunya, dan aku adalah gurunya..."

Ia tersenyum tipis.

"Mungkin aku bisa menggunakan mereka, bukan sebaliknya."

---

1
brajamusti
bacanya loncat2 ah.. soalnya jadi kayak dracin.. bosan
brajamusti
duh cewenya nempel trussss.. mau tambah kuat gimana... bikin susah aja
brajamusti
dasar murid laknat.. malah pada suka sama guru ya.. 🤣
YANI AHMAD
baru ketemu novel sikat kek gini, kereen lanjut thor 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!