Nayra Agata Kennedy, ia merupakan putri bungsu dari Lukas Kennedy, Nayra memliki saudari kembar bernama Nayla (Nayla lahir 45 menit lebih dulu), lahir dengan membawa duka. Ibunya meninggal dunia karena pendarahan hebat setelah berjuang melahirkannya, membuat Nayra dibenci ayah dan ketiga kakak laki-lakinya selama 21 tahun. Hanya Nayla yang selalu peduli padanya.
Takdir berubah saat Nayra bertemu seorang miliarder tampan. Dipersunting olehnya, hidup Nayra berubah drastis, dari yang dulu diabaikan, kini ia dimanjakan layaknya putri raja oleh suaminya yang penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa idayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perihal Perjodohan
"Kakak serius?" Suara Nick terdengar bergetar, matanya membelalak lebar seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari bibir sang kakak. Keheningan sejenak menyelimuti ruang tamu yang hangat itu, hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak lambat, seiring dengan detak jantung Nick yang tiba-tiba memburu.
Naga, sang kakak tertua, hanya menghela napas panjang dengan tenang. Wajahnya yang biasanya tegas dan tak banyak bicara kini tampak datar, seolah berita yang baru saja ia sampaikan bukanlah sesuatu yang mengguncang dunia. "Baca saja sendiri di info dan kabar terbaru Jakarta. Sudah viral kok di media sosial, ramai sekali. Semua orang sepertinya sudah tahu, kecuali kalian berdua yang mungkin terlalu sibuk dengan urusan masing-masing," jawab Naga santai, suaranya rendah namun tegas, tanpa sedikit pun nada kaget.
"Serius?" Tanya Nick lagi, kali ini dengan nada yang lebih tegas dan tak percaya. Tangannya dengan cepat meraih ponsel yang tergeletak di atas meja di hadapannya, jari-jarinya bergerak lincah membuka layar kunci, lalu langsung menuju aplikasi berita dan media sosial. Matanya menyapu cepat setiap baris berita yang muncul, dan setiap kata yang ia baca seolah menegaskan kebenaran yang sulit ia terima.
Belum sempat Nick memproses semua informasi itu, suara teriakan panik tiba-tiba memecah keheningan ruangan. "Kakak! Kakak Naga! Kakak Nick!" Pekik Nathan yang baru saja meledak masuk ke dalam rumah, napasnya terengah-engah seolah ia baru saja berlari maraton. Rambutnya sedikit berantakan, keringat menetes di pelipisnya, dan wajahnya pucat pasi menandakan ada sesuatu yang sangat mendesak. Ia berlari kecil mencari keberadaan kedua kakaknya, matanya menyapu ruangan dengan cemas.
Naga menoleh perlahan, menatap adik bungsunya yang tampak begitu kalut. "Ada apa sih, Nat? Kenapa kau berlarian seperti orang ketakutan begitu?" Tanya Naga dengan nada yang tetap tenang, meski matanya kini menyiratkan sedikit perhatian pada kondisi Nathan.
Nathan tidak langsung menjawab. Ia berjalan tergopoh-gopoh mendekati mereka, lalu dengan kasar duduk di samping Nick yang masih terpaku menatap layar ponselnya. "Kakak... kakak sudah baca berita itu?" Suaranya bergetar, matanya bergantian menatap Naga dan Nick. "Tuan Sean... dia benar-benar menggugat istrinya! Dan hari ini... hari ini mereka resmi cerai!" Seru Nathan, suaranya meninggi karena emosi yang meluap-luap.
Nick akhirnya mengalihkan pandangannya dari ponsel, wajahnya tampak syok dan tak percaya. "Iya... aku baru saja membacanya," jawab Nick pelan, suaranya terdengar berat.
Naga mengangguk perlahan, masih dengan ketenangannya yang luar biasa. "Iya, sidang hanya dilakukan sekali. Itu artinya tidak ada upaya mediasi lagi, dan Sean sebagai penggugat pasti memiliki bukti yang cukup kuat dan tak terbantahkan untuk memenangkan kasus ini," jelas Naga, suaranya tenang namun penuh penekanan, seolah ia sudah menganalisis semua kemungkinan sebelumnya.
"Itu artinya... semua yang Sean katakan benar? Istrinya benar-benar selingkuh?" Tebak Nick, suaranya berbisik pelan seolah takut mengucapkan kata-kata itu dengan keras. Ia meletakkan ponselnya di atas meja dengan perlahan, seolah benda itu sangat berat.
Naga menghela napas lagi, lalu menatap kedua adiknya dengan tatapan bijak. "Sudahlah, kita tidak perlu ikut campur urusan itu. Itu bukan ranah kita, bukan masalah keluarga kita. Biarlah itu menjadi urusan mereka yang harus diselesaikan dengan cara mereka sendiri," ucap Naga tenang, mencoba meredakan ketegangan yang terasa begitu pekat di ruangan itu. Mendengar itu, Nick dan Nathan hanya bisa saling bertukar pandang dan mengangguk patuh, menghormati keputusan sang kakak tertua.
Suasana hening sejenak, sebelum Naga akhirnya memecah keheningan itu dengan pertanyaan yang mengalihkan topik pembicaraan. "Oh ya, gimana soal kebun sawitmu di sana, Nick? Semuanya berjalan lancar?" Tanya Naga, matanya menatap tajam ke arah Nick, menandakan bahwa ia sangat peduli dengan urusan bisnis adiknya.
Nick mengangkat wajahnya, mencoba menyingkirkan perasaan kagetnya tadi. "Aku sudah mengirim beberapa orang kepercayaanku untuk memeriksa langsung ke Sumatra, Kak. Aku meminta mereka mengecek ulang semua laporan keuangan, kondisi tanaman, hingga kinerja karyawan. Alhamdulillah, semua sudah aman terkendali kok. Tidak ada masalah yang berarti," jawab Nick dengan nada yang lebih tenang, meski masih ada sisa keterkejutan di matanya.
Naga mengangguk puas, namun kemudian ia kembali bertanya, "Soal Pak Tarjo... yang mau kakak kirim ke Sumatra untuk menjadi orang kepercayaanmu di kebun sawit itu gimana? Apakah kau setuju?"
Mendengar nama Pak Tarjo disebut, Nick langsung menggeleng cepat dengan wajah yang penuh rasa tidak tega. "Aku rasa tidak perlu lagi, Kak. Kasihan juga Pak Tarjo, usianya sudah tua. Kalau di usia senjanya harus berpisah jauh dari anak dan istrinya, tinggal sendirian di sana... aku benar-benar tidak tega, Kak. Nanti kalau beliau ada apa-apa, siapa yang akan merawatnya?" ucap Nick dengan nada yang lembut namun tegas, menunjukkan betapa ia sangat menghargai orang tua yang selama ini setia bekerja pada keluarga mereka.
Naga tersenyum tipis, mengangguk setuju dengan keputusan adiknya. "Kau benar, Nick. Kasihan juga kalau memaksanya. Kita cari solusi lain saja nanti," ucap Naga bijaksana.
"Perlahan semua akan membaik, Kak. Pasti ada jalan keluar untuk semuanya," celetuk Nathan tiba-tiba, mencoba memberikan semangat dengan senyum tipis yang dipaksakan.
"Alhamdulillah, semoga setelah ini semua masalah selesai dan keluarga kita akan menjadi lebih baik, lebih harmonis dari sebelumnya," timpal Naga dengan harapan yang tulus, matanya menatap kedua adiknya dengan penuh kasih sayang.
Namun, suasana haru itu tiba-tiba terputus saat Nick menghela napas panjang dengan kasar, lalu menatap Naga dengan tatapan yang serius dan sedikit mendesak. "Tidak, Kak. Tidak akan membaik kalau kakak tidak segera menikah," desis Nick, suaranya tegas dan penuh penekanan.
Nathan tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana yang kembali tegang. "Hahaha, iya nih. Kakak kedua kita ini sudah kebelet nikah banget ya? Lihat tuh, matanya sudah melotot minta kepastian," kelakar Nathan, meski tawanya terdengar sedikit canggung.
Nick memelototi Nathan sejenak, lalu kembali menatap Naga dengan wajah yang penuh keluhan. "Iya, Kak! Aku sudah siap, tapi sayangnya kakak kita ini tidak buru-buru mencari istri. Jadinya aku harus menunggu terus, padahal aku juga sudah ingin membangun rumah tangga sendiri," keluh Nick, mengacak rambutnya dengan frustrasi.
Naga hanya tersenyum tipis, tetap tenang menghadapi keluhan adiknya. "Kalau kau rasa sudah yakin dan siap, segera menikah saja. Tidak perlu menunggu aku," ucap Naga santai, seolah itu adalah hal yang paling mudah di dunia.
"Tidak, Kak! Aku hanya akan menikah setelah kakak menikah!" Jawab Nick tegas, tanpa ragu sedikit pun. Itu adalah prinsip yang ia pegang teguh, ia tidak mau melangkahi sang kakak tertua dalam hal pernikahan, sebuah tradisi dan rasa hormat yang sudah tertanam kuat di hatinya.
"Jangan tunggu aku, Nick. Aku belum pasti kapan jodohku datang. Mungkin dia masih jauh, mungkin dia belum siap. Kau jangan menyiksa dirimu karena menunggu aku," jawab Naga lembut, lalu meraih ponselnya yang ada di meja, seolah ingin mengalihkan perhatian, namun matanya masih tetap memperhatikan Nick.
"Kak, coba pikirkan Arimbi dong!" Seru Nick, suaranya kini terdengar lebih lemah namun penuh kepedihan. "Dia sudah sering meminta penjelasan padaku, Kak. Wanita mana yang tahan terus-terusan diberi janji manis tanpa ada kepastian yang nyata? Aku dan Arimbi sudah enam tahun menjalin hubungan, Kak. Enam tahun bukan waktu yang singkat. Sayang kan kalau hubungan yang sudah dibangun sekian lama itu harus kandas di tengah jalan hanya karena aku tidak bisa kasih dia kepastian?" Keluh Nick, matanya menatap sang kakak penuh harapan, berharap Naga akan mengerti posisinya.
Naga menatap Nick dengan tatapan yang dalam, ia bisa merasakan kepedihan dan kerinduan adiknya akan sebuah kepastian. "Nick, dengar kakak. Aku tidak masalah jika kau memang mau menikah lebih dulu. Ketika jodohku datang nanti, aku juga pasti akan menikah kok. Tapi saat ini, sepertinya jodohmu yang lebih dulu datang mengetuk pintu hatimu. Sebaiknya kau menikah lebih dulu saja, itu lebih baik," nasihat Naga dengan suara yang lembut namun tegas, berusaha meyakinkan adiknya.
Namun, Nick tetap pada pendiriannya. Ia menggeleng kuat-kuat. "Tidak, Kak! Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, pada Tuhan, dan pada orang tua kita yang sudah tiada bahwa aku tidak akan menikah sebelum kakak menikah. Itu adalah janji yang tidak bisa aku ingkari," tegas Nick, matanya berkilat tegas, menunjukkan betapa ia sangat memegang teguh janji itu.
Nathan yang melihat kedua kakaknya mulai terjebak dalam perdebatan yang sama lagi, segera mencoba menengahi. "Sudah, sudah... jangan berdebat terus dong. Kalau begitu, kakak saja yang kasih pengertian ke pacar kakak, Arimbi kan namanya? Mungkin dia bisa mengerti kalau kakak yang menjelaskan langsung," sambung Nathan, berusaha menjadi jembatan di antara keduanya.
Nick menghela napas panjang dengan frustrasi, menatap Nathan dengan wajah lelah. "Mau sampai kapan aku harus terus memberi pengertian, Nat? Selama ini aku sudah berusaha menenangkan dia, meyakinkan dia, tapi dia kan hanya wanita biasa yang butuh kepastian, bukan janji-janji yang tak jelas waktunya. Aku juga manusia, Kak, Nat... aku juga lelah harus terus menunda-nunda," ucap Nick lirih, suaranya terdengar begitu putus asa.
Naga melihat keputusasaan di wajah adiknya, lalu ia tersenyum tipis dan berkata, "Ajak saja pacarmu ke sini, Nick. Ajak Arimbi datang ke rumah. Biar aku yang memberi dia pengertian secara langsung. Aku akan jelaskan semuanya dengan baik-baik."
Mendengar itu, mata Nathan berbinar, seolah menemukan solusi baru. "Benar, Kak! Kan selama ini aku dan Kak Naga juga tidak pernah kenal sama pacar kakak, kan? Kami juga pengin tahu dan kenal dengan calon ipar. Ajak saja dia ke sini, biar kita bisa ngobrol santai dan saling mengenal," ucap Nathan antusias, berharap usulannya bisa diterima.
Namun, Nick hanya diam, wajahnya masih tampak murung dan ragu. Naga menatap adiknya itu dengan tatapan penuh makna, berharap Nick bisa mempertimbangkan usulannya.
Nick yang melihat suasana kembali menjadi canggung dan tidak ada kemajuan, akhirnya menghela napas panjang dengan kesal. "Ah, selalu aja begini. Enggak ada solusi yang ketemu juga kalau terus-terusan begini," gerutu Nick, lalu dengan kasar ia beranjak dari duduknya. Ia melangkah pergi meninggalkan ruangan itu dengan langkah yang berat, meninggalkan Naga dan Nathan yang masih terdiam dalam keheningan yang penuh dengan unek-unek masing-masing.