lanjutkan Jek adalah seorang yang terlahir di keluarga
kurang mampu namun ia memiliki kecerdasan dan kejeniusan tentang dunia apa saja karena ia memiliki
sistem yang dapat membuat ia kaya mendadak dalam percintaan ia menemukan ratu yang mencintainya dengan tidak kenal kondisi suka maupun duka bagaimana kelanjutan langsung ajaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 29
Gidion berdiri di gerbang kamp dengan napas tertahan saat melihat tiga siluet muncul dari balik kabut pagi. Matanya yang tajam langsung tertuju pada Jek. Ada sesuatu yang berbeda—cara Jek berjalan tidak lagi bungkuk, dan meski bajunya compang-camping, aura yang dipancarkannya terlalu kuat untuk seorang "Kuli Pingsan".
"Kalian kembali," suara Gidion bergetar. Ia melangkah maju, menghalangi jalan Jek. Tangannya memegang sebuah alat detektor frekuensi kuno yang jarumnya bergetar gila-gilaan saat didekatkan ke arah Jek.
"Jek... atau siapa pun namamu," Gidion berbisik, matanya membelalak ngeri sekaligus takjub. "Detektor ini... benda ini tidak pernah bereaksi pada manusia. Tapi saat kau lewat, dia menjerit seolah-olah kau adalah pemancar raksasa yang sedang terbakar. Kau bukan cuma teknisi, kan? Dan cahaya perak di Mercusuar semalam..."
Rara langsung bergeser, tangannya berada di gagang belati, matanya berkilat memperingatkan. Maya juga sudah bersiap menyemprotkan cairan penghilang jejak.
"Gidion," Jek memotong dengan suara yang tenang namun sangat berwibawa, membuat Gidion tersentak mundur. "Kau melihat apa yang ingin kau lihat. Jika kau ingin melihat hantu dari masa lalu, silakan. Tapi jika kau ingin melihat teman yang membawakanmu beras dan keamanan, tetaplah menatap tanah."
Gidion menelan ludah, keringat dingin mengucur di pelipisnya. Ia melihat ke arah warga kamp yang mulai keluar dari tenda, mereka menatap Jek dengan penuh harap. Gidion tahu, jika ia berteriak sekarang dan membongkar identitas Jek sebagai "Setan Perak", kamp ini akan hancur oleh ketakutan. Namun jika ia diam, ia hidup dalam kebohongan yang sangat besar.
"Identitas itu... itu beban yang berat," Gidion akhirnya menurunkan alatnya. "Aku hanya... aku hanya ingin tahu satu hal. Apakah kau akan mengubah kami menjadi kode lagi?"
Jek mendekati Gidion, lalu menepuk bahunya dengan tangan yang kasar. "Kaku sekali kau ini. Lihat aku, Gidion. Aku baru saja berjalan kaki berkilo-kilo meter, kakiku lecet, dan perutku sangat lapar. Apakah 'setan' punya masalah semanusiawi itu?"
Jek kemudian sengaja tersandung batu di depan warga, menjatuhkan radionya yang diikat tali rafia, dan mengumpat kesal dengan nada yang konyol.
"Aduh! Sialan! Maya, bantu aku! Kakiku sepertinya terkilir lagi!" rintih Jek, kembali ke akting "Kaisar Pingsan"-nya yang sangat meyakinkan.
Warga kamp tertawa melihat tingkah Jek yang ceroboh itu. Ketegangan di wajah Gidion perlahan luruh, berganti dengan senyum pahit yang penuh pemahaman. Ia menyadari bahwa Jek memilih untuk menjadi "si bodoh" demi mereka semua.
"Dasar payah," Gidion mendengus, lalu membantu Jek berdiri. "Ayo masuk. Istriku sudah menyiapkan rebusan singkong paling keras sedunia untuk pahlawan kita yang sering jatuh ini."
Maya menyenggol lengan Jek saat mereka berjalan masuk. "Hampir saja, Jek. Satu detik lagi dan kau mungkin sudah jadi monumen di tengah pasar."
"Itulah gunanya memiliki wajah yang mudah diejek, Maya," bisik Jek sambil tersenyum lebar.
Matahari kini sepenuhnya terbit, menyinari Kamp Sampah yang tetap terlihat kumuh, berantakan, dan miskin. Namun bagi Jek, Rara, dan Maya, tidak ada tempat lain yang lebih aman daripada di antara tumpukan rongsokan ini.
Kedamaian itu terasa nyata selama beberapa minggu, sampai suatu pagi sebuah kotak logam kedap udara ditemukan tergeletak tepat di perbatasan zona distorsi. Tidak ada jejak kaki, tidak ada suara mesin kendaraan yang mendekat—hanya sebuah kotak berwarna putih bersih yang tampak sangat asing di antara tanah cokelat dan karat.
Gidion memanggil Jek dengan wajah pucat. "Jek, benda ini... dia tidak mengeluarkan suara, tapi bulu kudukku merinding saat mendekatinya."
Jek berlutut di depan kotak itu. Di tutupnya, terdapat simbol grafis sederhana: sebuah lingkaran dengan garis horizontal di tengahnya—lambang Sektor Inti yang paling elit. Tanpa perlu alat pemindai, Jek tahu kotak ini telah direkayasa secara termal agar tidak memicu gangguan magnetik yang ia pasang.
"Jangan dibuka, Jek! Bisa saja itu bom gas," peringat Rara, yang sudah berdiri di belakangnya dengan busur silang rakitan siap tembak.
"Bukan bom," gumam Jek. Ia melihat sebuah panel kecil yang hanya akan terbuka dengan sidik jari tertentu. "Ini adalah undangan."
Jek menyentuhkan jarinya. Panel itu mendesis, mengeluarkan uap dingin yang segar. Di dalamnya tidak ada senjata, melainkan sebuah tablet digital kuno yang layarnya masih menyala—sebuah keajaiban teknologi yang seharusnya sudah mati di dunia luar. Di samping tablet itu, terdapat sebotol obat antibiotik dosis tinggi dan sepaket benih tanaman yang tidak termodifikasi genetika.
Maya segera mengambil tablet itu dengan sarung tangan karet. Sebuah video otomatis terputar. Bukan wajah pria berseragam yang sombong, melainkan seorang wanita tua dengan pakaian laboratorium yang lusuh namun rapi.
"Halo, Alif," suara wanita itu tenang, menyebut nama asli Jek yang sudah lama terkubur. "Atau haruskah aku memanggilmu Jek sekarang? Kami di Sektor Inti tahu apa yang terjadi di Mercusuar. Kami tahu kau telah menghancurkan 'Backup' itu. Kami tidak ingin memburumu, juga tidak ingin menjadikanmu Tuhan digital lagi."
Jek terpaku mendengar nama aslinya disebut. Ia melirik Rara yang juga tampak terkejut.
"Kami hanya ingin bertahan hidup," lanjut wanita itu. "Tanaman kami mulai gagal tumbuh karena tanah yang keracunan sisa radiasi Ares. Kami butuh sistem filterisasi air yang kau buat di kampmu—sistem analog yang tidak bisa kami pecahkan dengan algoritma. Sebagai gantinya, kami akan mengirimkan pasokan medis secara rutin. Kita tidak perlu menjadi musuh. Kita hanya perlu menjadi tetangga yang saling membantu."
Layar tablet itu padam, menyisakan pantulan wajah Jek yang tampak bimbang.
"Mereka tahu namamu," bisik Maya. "Dan mereka tahu kita punya teknologi filter air itu. Penyamaran gembel kita... sepertinya sudah bocor di level atas."
Jek berdiri, menatap botol obat di tangannya. Ia melihat ke arah warga kamp, terutama anak-anak yang sering batuk karena udara malam yang lembap. Kebenciannya pada Sektor Inti sangat besar, tapi tanggung jawabnya pada nyawa di sini jauh lebih berat.
"Mereka tidak menawarkan perbudakan," ujar Jek pelan. "Mereka menawarkan barter. Mereka mengakui bahwa teknologi tinggi mereka gagal menghadapi alam, dan mereka butuh 'sampah' kita untuk selamat."
"Apa kau akan mempercayai mereka?" tanya Rara.
Jek melihat ke arah cakrawala, di mana Sektor Inti berdiri dengan tembok-temboknya yang angkuh. "Aku tidak percaya pada mereka. Tapi aku percaya pada kebutuhan. Selama mereka butuh kita, kita aman. Dan selama kita punya obat-obatan ini, warga kita akan lebih kuat."
Jek mengambil tablet itu dan menghancurkannya dengan tumit botnya hingga berkeping-keping.
"Gidion," panggil Jek dengan suara kembali bodoh yang dibuat-buat. "Bawa kotak ini ke gudang. Bilang pada warga kita dapat kiriman 'sampah ajaib' dari langit. Dan siapkan tim untuk memperbanyak sistem filter air. Kita akan mulai berdagang dengan orang-orang kota."
Maya tersenyum, mengerti bahwa Jek baru saja memulai permainan politik tingkat tinggi yang baru—bukan sebagai kaisar, tapi sebagai perantara antara dua dunia yang hancur.
"Baiklah, Bos," sahut Maya. "Tapi jangan lupa, besok jadwalmu mencangkul di ladang selatan. Pahlawan atau bukan, ubi tidak akan tumbuh sendiri."
Jek tertawa kecil, melangkah kembali ke dalam kampnya yang kumuh, merasa bahwa meskipun identitasnya mulai tercium, ia telah menemukan cara untuk melindungi rumah barunya ini dengan cara yang paling tidak terduga: menjadi rekan bisnis bagi musuh lamanya.