Nomella Kamiyama, mahasiswi pindahan dari New York, tiba di California dengan satu misi: mempertahankan kesempurnaan hidupnya—mulai dari penampilan, kecerdasan, hingga kontrol diri yang absolut.
Namun, panggung sempurnanya terusik oleh kehadiran Zeus Sterling, pria paling populer di kampus yang dikenal sangat hangat, narsis, dan gemar menebar pesona.
Di mata Nomella, Zeus hanyalah gangguan visual yang "sok ganteng," sementara bagi Zeus, Nomella adalah tantangan bagi egonya yang setinggi langit.
Namun, di balik senyum menawan dan keramahan yang luar biasa, Zeus menyimpan rahasia kelam. Ia adalah pria yang aslinya dingin dan hancur, yang kini hidup dalam "identitas" kakaknya, Zayn, yang tewas dalam kecelakaan balap tragis. Zeus menolak semua wanita dan hanya ingin langsung menikah, sebuah bentuk duka ekstrem yang ia jalani demi memenuhi ekspektasi orang tuanya dan dunia.
Ketegangan memuncak saat Nomella mulai membongkar topeng Zeus, memicu sisi gelap sang pria yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Tirai Zzzz
Apartemen Nomella di kawasan pesisir California adalah manifestasi dari kepribadiannya: minimalis, fungsional, dan sangat rapi. Tidak ada satu pun buku yang miring di rak, dan meja belajarnya tersusun berdasarkan gradasi warna pena. Namun, ketenangan yang biasanya menjadi bahan bakar ambisinya malam ini terasa pengap.
Nomella duduk tegak di kursi belajar, cahaya dari layar laptop memantul di lensa kacamata bacanya. Kata-kata Chloe di kantin tadi siang seperti gema yang tidak mau berhenti.
“Dia dingin, tak tersentuh... Itu adalah sosok Zayn kakaknya yang hangat.”
Jari-jari Nomella yang ramping mulai menari di atas keyboard. Mencari akun media sosial Zeus Sterling semudah mencari bintang di langit malam California—semua orang tahu di mana letaknya. Akun utama Zeus, @KingZeus_Sterling, adalah galeri narsisme yang luar biasa.
Ia men-scroll layar itu. Foto Zeus sedang tersenyum lebar di depan mobil sport merah, foto dia sedang memeluk anjing liar di pinggir jalan dengan caption “Bahkan hewan pun tahu siapa yang paling tampan di sini,” dan ribuan foto dirinya yang sedang tertawa bersama mahasiswa lain. Semuanya hangat. Semuanya cerah. Tidak ada jejak pria dingin yang diceritakan Chloe.
"Palsu," gumam Nomella. Ia menutup akun itu dengan perasaan tidak puas. "Besok aku harus mendesak Chloe. Ada yang tidak beres."
Namun, insting detektif Nomella tidak membiarkannya tidur. Sebagai gadis yang terobsesi pada detail, ia mulai masuk ke kolom komentar di salah satu unggahan lama tentang profil keluarga Sterling di sebuah majalah bisnis California.
Di sana, di antara ribuan komentar, ia menemukan sebuah nama akun yang sering di-tag oleh teman-teman lama Zeus dari masa High School.
@Zzzz.
Hanya empat huruf Z. Tanpa foto profil—hanya sebuah lingkaran hitam kosong. Nomella mengetuk profil itu. Akunnya dikunci, namun karena Nomella adalah seorang ahli strategi, ia menggunakan kemampuan teknisnya untuk mencari jejak digital akun tersebut di platform arsip foto lama.
Klik.
Layar laptopnya mendadak dipenuhi oleh gambar-gambar yang membuat napas Nomella tertahan. Itu adalah akun lama Zeus. Akun yang sepertinya sudah tidak disentuh selama tiga tahun.
Nomella menatap foto pertama. Itu adalah foto di sebuah arena balap. Di sana berdiri dua pemuda yang sangat mirip, namun memiliki aura yang bertolak belakang.
Di sebelah kiri adalah Zayn Sterling. Dia merangkul pundak Zeus sambil tertawa lepas ke arah kamera. Zayn adalah definisi matahari—hangat dan hidup. Namun di sebelahnya, Zeus berdiri dengan tubuh kaku. Wajah Zeus di foto itu sangat tajam; matanya dingin, bibirnya tertutup rapat tanpa sedikit pun niat untuk tersenyum. Ia menatap kamera seolah-olah lensa itu adalah musuh yang mengganggu privasinya.
Nomella men-scroll ke bawah.
Foto Kedua: Zeus sedang duduk di perpustakaan sekolah. Ia mengenakan seragam privat yang mahal, namun auranya membuat meja di sekelilingnya tampak kosong. Tidak ada yang berani duduk di dekatnya. Ia menunduk menatap buku, rahangnya terkatup keras, dan tatapannya begitu tajam hingga Nomella bisa merasakan dinginnya hanya dari balik layar.
Foto Ketiga: Sebuah pesta prom. Zeus berdiri di sudut ruangan dengan setelan tuksedo hitam yang sempurna. Ia menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong dan angkuh. Caption-nya singkat: "Don't bother." (Jangan ganggu).
Foto Keempat: Foto Zeus dan Zayn di atas podium. Zayn memegang piala dengan bangga, sementara Zeus hanya berdiri di sampingnya dengan tangan di saku. Tidak ada kebanggaan di wajah Zeus, hanya tatapan dingin yang tak tersentuh.
"Jadi ini kau yang sebenarnya?" bisik Nomella.
Nomella menyentuh layar laptopnya, tepat pada gambar mata Zeus di masa lalu. Sangat berbeda dengan Zeus yang tadi siang mengedipkan mata padanya di kantin.
Zeus yang narsis adalah sebuah karakter yang dikonstruksi dengan sangat rapi, sebuah pertunjukan teater yang melelahkan.
Ia lalu menemukan sebuah unggahan terakhir di akun @Zzzz. Sebuah foto hitam polos dengan tanggal yang bertepatan dengan hari kecelakaan Zayn. Tidak ada caption. Hanya kesunyian.
Nomella menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit apartemennya yang putih bersih. Ia teringat bagaimana Zeus tadi siang berbisik bahwa 'terlalu sempurna itu melelahkan'. Sekarang ia paham. Zeus tidak sedang membicarakan Nomella. Dia sedang membicarakan dirinya sendiri.
Zeus sedang menghukum dirinya sendiri dengan menjadi orang lain. Dia membunuh jati dirinya yang dingin untuk memberikan dunia "Zayn" yang kedua.
"Kau ingin langsung menikah dan bercinta karena kau tidak ingin merasakan proses jatuh cinta sebagai dirimu sendiri, kan?" Nomella bermonolog. "Karena jatuh cinta berarti kau harus membuka topeng ini."
Rasa ingin tahu Nomella kini berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Sebagai gadis yang ambisius, ia biasanya hanya peduli pada kemenangan. Tapi kali ini, ia merasa ingin menang dengan cara yang berbeda. Ia ingin meruntuhkan narsisme palsu itu dan memaksa Zeus Sterling untuk mengakui siapa dia sebenarnya di bawah sorot lampu California yang menipu.
Besok, ia tidak akan menatap Zeus sebagai gangguan visual lagi. Ia akan menatapnya sebagai seorang pria yang sedang tenggelam dalam duka, yang butuh seseorang untuk menariknya kembali ke permukaan—bukan sebagai Zayn, tapi sebagai Zeus.
Nomella menutup laptopnya, mematikan lampu, dan membiarkan kegelapan kamarnya menyelimuti pikirannya yang mulai menyusun rencana.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Nomella Kamiyama menemukan sesuatu yang lebih menarik daripada kesempurnaannya sendiri: yaitu sebuah kehancuran yang indah bernama Zeus Sterling.
🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
jangan lupa tinggalkan jejak ya 🫶