Indira berprofesi sebagai pengacara, ia dijuluki pendekar ulung karena selalu memenangkan kasus yang dia tangani. karena kesibukannya dia lupa akan statusnya sebagai kaum jomblo sejati hingga membuat mamanya turun tangan untuk mencarikannya jodoh. hingga akhirnya dia dijodohkan dengan anak temannya yang bernama Gibran (pemilik PT Murni alam) yang berstatus duda anak 3. setelah menikah Indira dihadapkan dengan konflik keluarga hingga akhirnya dia menemukan titik kebahagian nya dengan suaminya Gibran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daisy Puppy 1412, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pengacara Indira, istri baru papaku
...“Ternyata Bu Indira sudah menikah kenapa tidak mengundang saya” ucap tuan Jason terkejut sekaligus senang. ...
...“Belum sempat mengadakan pesta pernikahan om” bisik Indira pelan....
...“Kok kamu panggil beliau om sih?” Bisik Gibran mendekat disamping Indira....
...“Iya kan tuan Jason teman kecilnya mendiang papaku sayang” bisik Indira....
...“Ooo” ucap Gibran pelan yang dalam hati merasa senang....
...Diluar gedung, Radit masih membuat masalah hingga amarah Gibran tak terkendali, dia melayangkan pukulan di pipi Radit hingga lebam “beraninya kamu menyerang aku, kamu akan aku laporkan ke polisi” teriak Radit sambil memegang pipinya....
...“Silahkan, tinggal polisi milih mau menangkap aku atau kamu”...
...“Ya jelaslah akan menangkap kamu karena kamu sudah memukul ku”...
...“Memang anda pantas dipukul” ucap Teddy....
...“Sepertinya polisi akan memilihmu karena aku sudah memberikan bukti kecurangan mu dalam acara tender ini. Selain kamu memfitnah ku, kamu juga sudah menyuap manager di perusahaan ku untuk memberikan laporan ide produk milik PT Murni Alam” tegas Gibran....
...Radit mundur satu langkah, dengan perasaan gelisah dia mencoba mengelak namun Gibran tak tinggal diam dia diam-diam sudah melaporkan ini ke pihak kepolisian beserta barang bukti hingga pihak polisi datang untuk menangkap Radit....
...Teddy melambaikan tangan pada Radit dengan penuh rasa puas, “sampai bertemu di pengadilan bapak Radit”....
...Gibran kembali dengan Teddy ke kantor nya dengan rasa bangga....
...Maya masuk keruangan Indira memberikan sampel undangan yang ingin dibagikan untuk merayakan pesta pernikahan nya, Indira melihat sampel undangan “bagus, pilih yang ini aja buat 100 lembar aja”....
...“Dikit banget Bu nyetaknya gak semua orang diundang nih?” ...
...“Ngundang orang terdekat aja, sayang uangnya kalau pesta mewah mending buat biaya ketiga anaku sekolah kan”...
...“Ibu Indira keren” ucap Maya mengacungkan jempol....
...“May, sidang terakhir nyonya Maurin bagaimana?” Tanya indira sambil membuka laptopnya....
...“Sidang berjalan lancar, nyonya Maurin juga sudah mendapatkan tujuannya yaitu bercerai dengan Indra, harta gono gini juga sudah diurus secara adil, kalau untuk kasus Indra yang menabrak keponakan anda juga sudah diusut dan mendapatkan hukuman yang setimpal”....
...“Bagus, ini daftar nama yang diundang nanti kamu yang urus” Indira menyerahkan selembar kertas yang bertuliskan daftar nama yang akan diundang di pesta pernikahan nya dengan Gibran....
...“Baik Bu” ucap Maya sambil melangkah pergi....
...Indira mengambil flashdisk yang berada di tasnya, flashdisk yang diberikan oleh Sinta waktu lalu ketika mereka bertemu di kantor....
...Indira memutar salah satu video yang tersimpan di flashdisk tersebut, ketika Indira melihat video tersebut hatinya merasa sakit karena Sinta mengalami kekerasan dalam rumah tangga yang tidak seharusnya dia terima, “Radit melebihi iblis, iblis aja kalah sama dia. Tega banget memperlakukan Sinta tidak layak” ucap Indira dengan nada ketus....
...Di video terakhir yang tak sengaja Sinta rekam di ruang kerja radit memperlihatkan hal yang tak seharusnya dia lakukan yaitu Radit mengambil foto Adina dan menciumnya, Indira mendengar jelas bahwa Radit sangat mencintai Adina. Dia melakukan hal jahat agar bisa memisahkan Gibran dan Adina....
...“Gila nih orang, sakit”. Indira yang tidak kuat mencabut flashdisk nya dan menyimpannya kembali ke dalam tasnya....
...Indira berinisiatif menelpon Sinta namun ponselnya mati....
...Di salah satu kamar di hotel samudra Sinta masih belum sadar dari pingsannya, “sint, bangun” ucap Hadi Sugito yang menemani Sinta semalaman....
...Beberapa menit kemudian Sinta tersadar dari pingsannya, dia mencoba untuk bangun namun dilarang oleh Hadi “jangan bangun dulu badanmu masih lemas”....
...“Aku pingsan???”...
...“Iya kamu pingsan dari semalam, dokter juga sudah mengobati luka di kakimu”...
...“Makasih pak Hadi”...
...“Jangan panggil bapak” ucap Hadi tersenyum....
...“Mas Hadi”...
...Hadi tersenyum senang mendengar Sinta memanggil nya dengan sebutan mas....
...“Aku keruangan ku sebentar sekalian aku pesenin kamu makan, kamu istirahat dulu”....
...“Iya”...
...Sinta mengambil ponselnya yang berada di meja kecil samping tempat tidur, dia menyalakan power ponselnya mendapati banyak sekali notifikasi telepon masuk dari Radit dan ada satu notifikasi telepon masuk dari Indira, Sinta mencoba bangun dan bersandar di tempat tidurnya pelan....
... “Aku telfon Indira dulu siapa tahu ada hal penting”...
...Indira yang masuk mobil mendengar ponselnya berbunyi, ada nama Sinta di layar ponselnya “hallo sint”....
...“Maaf aku baru nyalain ponsel ku ndi. Ada apa ndi?”...