Premis:
Demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang hampir bangkrut, Alya Prameswari terpaksa menerima perjodohan dengan Adrian Wijaya, seorang Direktur muda yang dingin dan terkenal tidak menyukai wanita “cegil”. Namun pernikahan mereka hanyalah kontrak.
Alya yang sebenarnya cukup tenang justru berpura-pura menjadi istri paling menyebalkan agar Adrian segera menceraikannya.
Sayangnya rencananya gagal. Semakin Alya bersikap cegil, Adrian justru semakin sabar dan mulai melindunginya.
Ketika akting Alya berubah menjadi perasaan yang nyata, ia harus memilih: terus berpura-pura… atau mengakui bahwa ia tidak lagi ingin pernikahan kontrak itu berakhir.
Saksikan Terus Cerita ini, update setiap hari 💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Aksarasastra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kuliner Rakyat Jelata.
"Pasti Direktur dingin itu akan ilfil padaku hari ini," smirk Alya dengan senyum jahat khas nya yang dibuat-buat.
Sore itu Alya berdiri di depan gerbang kantornya sendiri, lebih tepatnya toko bunga milik ibunya..., dengan tangan di pinggang dan ekspresi seperti seseorang yang sedang merencanakan misi rahasia.
Di depannya, mobil hitam Adrian berhenti dengan elegan seperti biasa.
Alya masuk ke mobil sambil membawa satu tas kecil.
“Pak Direktur.”
Adrian meliriknya singkat.
“Ada apa?”
Alya memasang wajah serius yang sangat tidak cocok dengan dirinya.
“Hari ini kita punya agenda penting.”
Adrian mengangkat alis sedikit.
“Apa?”
Alya menatap lurus ke depan seperti seorang jenderal perang.
“Kuliner rakyat jelata,” katanya dramatis dengan kedua tangan terbuka lebar lalu di diselipkan senyum sombong.
Adrian terdiam dua detik.
“Kuliner… rakyat... Jelata?”
Alya menoleh dengan mata berbinar.
“Iya! 100! Anda benar!”
Ia menepuk dashboard mobil ringan lalu menutup mulutnya dengan kedua tangan menutupi tawa anehnya yang... Lumayan seram.
“Direkturrr...," katanya lemah lembut dengan mata kelap-kelip. " Kamu kan sudah mencoba lalapan kemarin. Jadi, hari ini kita naik level.”
Adrian menghela napas pelan.
Namun ia tidak menolak, ia tetap mengikuti instruksi Alya yang terlihat sangat semangat dan wajah berseri-seri ria.
Sepuluh menit kemudian…
Mobil Adrian berhenti di sebuah area pinggir jalan yang cukup ramai.
Lampu-lampu gerobak mulai menyala, aroma minyak goreng bercampur bumbu pedas memenuhi udara, dan suara penjual memanggil pelanggan terdengar dari berbagai arah.
Alya turun dari mobil dengan ekspresi seperti anak kecil yang baru masuk taman bermain.
“Direktur!”
Ia menunjuk satu gerobak.
“Target pertama.”
Adrian mengikuti arah jarinya.
Sebuah gerobak kecil bertuliskan CILOK PANAS.
Alya berjalan ke sana dengan semangat.
“Pakde, dua porsi, syang satu banyakin sambel kacang dan tambahkan cabai nya yang pedas. Yang satunya yang normal aja!”
Ia lalu menoleh ke Adrian pelan. Sepertinya yang normal maksud Alya adalah rasa original khusus Adrian, karena Alya doyan sekali makanan pedas.
“Direktur tahu cilok?”
Adrian menjawab jujur.
“Tidak.”
Alya langsung memasang wajah dramatis.
“Baiklah.”
Ia mengangkat satu jari seperti dosen kuliner.
“Cilok berasal dari kata ‘aci dicolok’.”
Adrian menatapnya.
“Aci?”
“Tepung tapioka bahasa kerennya, kanji bahasa rakyat kelas atasnya, dan aci versi legendarisnya.”
Alya mengambil tusuk cilok yang baru disiram saus kacang plus sambel cabainya yang terlihat coklat kemerahan.
“Ini makanan filosofis.”
Adrian benar-benar tidak mengerti ke mana arah pembicaraan ini.
“Filosofis?”
Alya mengangguk serius.
“Iya.”
Ia mengangkat satu cilok.
“Bulat.”
Adrian menunggu.
“Seperti kehidupan.”
Adrian berkedip.
“….”
Alya memasukkan cilok ke mulutnya.
“Enak!”
Ia menyerahkan satu tusuk pada Adrian.
Adrian mencoba satu.
Beberapa detik ia mengunyah pelan.
Lalu mengangguk.
“Lumayan.”
Alya langsung tersenyum bangga seperti penemu makanan itu sendiri.
“Kan!”
Namun sebelum Adrian selesai mengunyah…
Alya sudah menarik tangannya lagi.
“Belum selesai.”
Ia menunjuk gerobak lain.
“Target kedua.”
Adrian menghela napas lagi.
Gerobak berikutnya bertuliskan TELOR GULUNG.
Alya memesan dua tusuk dengan sambal pedas.
“Direktur tahu kenapa namanya telor gulung?”
Adrian sudah mulai merasa ini akan aneh.
“Kenapa?”
Alya menunjuk proses pembuatannya.
Telur yang digoreng lalu digulung di tusuk bambu.
“Karena telurnya digulung.”
Adrian menatapnya.
“Itu… sangat jelas.”
Alya tertawa kecil.
“Tapi ada filosofi juga.”
Adrian hampir menyerah.
“Apa lagi?”
Alya menggigit telor gulungnya.
“Hidup kadang harus digulung dulu baru bisa berdiri.”
Adrian menatapnya lama. Merasa aneh dengan filosofi dan logika absurd Alya.
“Alya.”
“Iya?”
“Kamu membuat filosofi dari telur goreng.”
Alya mengangguk bangga.
“Aku kreatif.”
Mereka berjalan lagi.
Gerobak ketiga: CIRENG.
Alya menunjuk papan nama itu dengan ekspresi penuh kebanggaan nasional.
“Ini legenda.”
Adrian menunggu.
“Cireng.”
Alya mengangkat satu jari lagi.
“Artinya aci digoreng.”
Adrian mulai memahami pola penamaan kuliner ini.
“Aci lagi?”
“Iya.”
Alya tertawa.
“Indonesia kreatif.”
Mereka makan cireng sambil berdiri di pinggir jalan.
Adrian sebenarnya jarang sekali makan seperti ini atau bahkan tidak pernah sama sekali.
Namun melihat Alya yang begitu bahagia membuat suasana terasa berbeda.
Alya belum selesai.
Ia menarik tangan Adrian lagi ke gerobak lain.
CILUNG
Adrian membaca papan itu dengan alis berkerut.
“Apa itu?”
Alya terlihat sangat antusias.
“Ini favorit Alya masa kecil, Lohh, Direktur. Hihi.”
Ia menunjuk gerobak.
“Cilung itu aci digulung Pak Direktur..”
Adrian menatap langit sebentar.
“Aci lagi.”
Alya tertawa keras.
“Negara kita cinta aci.”
Setelah cilung…
Alya menunjuk gerobak terakhir.
“Final boss.”
Adrian mengikuti arah jarinya.
ES CEKEK
Adrian membaca nama itu dua kali.
“Kenapa… namanya es cekek?”
Alya langsung tertawa.
Ia memesan dua plastik yang diikat dengan tali rafia.
“Direktur.”
Ia memegang kantong plastik bening berisi es sirup merah.
“Ini es legendaris.”
Adrian menunggu penjelasan.
Alya meneguk sedikit.
“Namanya es cekek karena kalau minumnya kebanyakan bisa… cekek.
Adrian menatapnya.
“….”
Alya tertawa sendiri.
“Bercanda.”
Namun setelah semua makanan itu…
Mereka kembali ke mobil.
Alya duduk dengan puas.
“Perutku bahagia.”
Adrian mengangguk pelan.
Namun sepuluh menit kemudian…
Ada suara kecil di dalam mobil.
prrt.
Alya membeku.
Ia menoleh perlahan ke Adrian.
Adrian menatap jalan dengan wajah datar.
Beberapa detik sunyi.
Lalu—
“Direktur…”
Adrian tetap tenang.
“Ya.”
Alya berbisik pelan.
“Tadi… kamu kentut ya?”
Adrian menjawab tanpa ekspresi.
“Ya.”
Alya menutup mulutnya.
Ia berusaha tidak tertawa.
Namun dua menit kemudian Adrian mengerutkan alis sedikit.
“Alya.”
“Iya?”
“Kita harus berhenti sebentar.”
Alya menoleh.
“Kenapa?”
Adrian menjawab dengan nada yang sangat profesional.
“Perutku tidak stabil.”
Lima menit kemudian mobil berhenti di sebuah minimarket.
Adrian turun dengan langkah cepat menuju toilet.
Alya duduk di mobil sambil memikirkan sesuatu.
Lalu ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Oh tidak…”
Ia berbisik dramatis.
“Direktur mencret.”
Beberapa menit kemudian Adrian kembali ke mobil dengan ekspresi tetap tenang.
Alya menatapnya dengan rasa bersalah.
“Maaf.”
Adrian menyalakan mobil lagi.
“Tidak apa-apa.”
Alya memegang tasnya erat.
“Aku tidak tahu perut direktur tidak kuat makanan rakyat.”
Adrian menjawab santai.
“Aku sedang belajar.”
Alya berkedip.
“Belajar?”
Adrian mengangguk sedikit.
“Kalau aku akan menikah denganmu, aku harus bisa menyesuaikan diri.”
Alya membeku beberapa detik.
Namun kemudian otaknya mulai bekerja dengan logika khasnya.
Ia menatap jendela mobil.
Lalu berpikir serius.
Dia pasti ilfil.
Direktur makan cilok, kentut, lalu mencret.
Ini pasti pengalaman traumatis.
Alya mengangguk kecil pada dirinya sendiri.
Bagus.
Ia hampir tersenyum puas.
Mungkin nanti setelah menikah dia akan cepat bosan.
Mungkin dia akan berpikir: wanita ini terlalu aneh.
Alya menatap Adrian sekilas.
Perceraian cepat mungkin.
Namun yang tidak ia tahu…
Adrian justru sedang menahan senyum kecil di balik wajah datarnya.
Karena meskipun perutnya sedikit kacau…
Hari itu terasa sangat menyenangkan.