Di balik jas putih yang bersih, seorang dokter muda bernama Evelyn Lavina hanya ingin menjalani hidup yang tenang, menyelamatkan nyawa dan melupakan masa lalunya yang kelam. Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang seharusnya tidak pernah ia kenal.
Enzo Bellucci, pria tampan dengan tatapan dingin yang disegani banyak orang. Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai pengusaha sukses. Tetapi di balik itu, ada sisi gelap yang tidak diketahui banyak orang, di merupakan seorang pemimpin mafia yang berbahaya.
Pertemuan mereka bermula di sebuah jalan, ketika Evelyn hendak perjalanan pulang. Saat di lampu merah, tiba seorang laki-laki asing masuk kedalam mobilnya dengan luka tusuk di perutnya.
Evelyn yang seorang dokter akhirnya membawa pria tersebut ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.
Sejak saat itu, hidup Evelyn berubah. Ia terjebak dalam dunia yang penuh rahasia, kekuasaan, dan bahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Lampu meja kerja itu masih menyala terang, menjadi satu-satunya sumber cahaya di ruangan luas milik Enzo. Jam dinding telah menunjukkan lewat tengah malam, namun pria itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Jas hitamnya masih melekat rapi di tubuh, kancing atas kemejanya terbuka satu, memperlihatkan urat leher yang tegang setiap kali ia menunduk membaca laporan.
Di atas mejanya, berkas-berkas tebal tersusun rapi. Semua adalah laporan penting, pengiriman, transaksi, hingga jalur distribusi yang tersebar di berbagai negara. Enzo bukan sekadar pemimpin biasa. Ia adalah otak di balik jaringan besar yang bergerak di bawah bayang-bayang hukum.
Keheningan malam itu tiba-tiba terpecah oleh bunyi ponselnya.
Drrt.....
Drrt.....
Enzo berhenti menulis. Tatapannya beralih ke layar ponsel yang menyala. Nama Joe, orang kepercayaannya tertera jelas di sana.
Tanpa ragu, ia langsung mengangkatnya.
“Ada apa?” suaranya dingin, datar, namun penuh tekanan.
Di seberang sana, terdengar napas tertahan sebelum akhirnya Joe menjawab, “Tuan, kapal kita tertahan di pelabuhan. Ada seseorang yang sengaja menggagalkan pengiriman senjata kita ke Australia.”
Tatapan Enzo berubah. Sorot matanya yang semula tenang kini mengeras.
“Siapa?” tanyanya singkat.
“Belum diketahui, tuan. Tapi mereka bergerak cepat. Sepertinya bukan kelompok biasa. Mereka punya orang dalam di pelabuhan,” jelas Joe.
Ruangan itu mendadak terasa lebih dingin.
Enzo berdiri perlahan dari kursinya. Ia berjalan ke arah jendela besar, memandang kota yang masih hidup meski malam telah larut. Lampu-lampu gedung berkelip seperti bintang yang tersebar di bumi, namun bagi Enzo, itu hanyalah wilayah kekuasaan, dan seseorang baru saja mencoba mengusiknya.
“Lakukan sesuatu, aku akan segera ke sana,” ucapnya tegas.
Panggilan terputus.
Tanpa membuang waktu, Enzo mengambil jas panjangnya yang tergantung di sandaran kursi. Gerakannya tenang, namun ada aura berbahaya yang menyelimuti setiap langkahnya. Ia mengambil pistol dari laci meja, memeriksanya sekilas, lalu menyelipkannya ke dalam jas.
Di dunia Enzo, kepercayaan adalah kemewahan. Dan malam ini, seseorang telah berani menguji batasnya.
Di sisi lain kota, pelabuhan tampak jauh lebih hidup dari biasanya. Suara mesin kapal, teriakan pekerja, dan dentingan logam bercampur menjadi satu. Namun di balik hiruk-pikuk itu, ketegangan terasa begitu kental.
Joe berdiri di dekat gudang kontainer, wajahnya tegang. Beberapa anak buahnya berjaga dengan posisi siaga. Mata mereka terus mengawasi setiap sudut, seolah musuh bisa muncul kapan saja dari kegelapan.
“Kita tidak bisa menahan ini terlalu lama,” gumam salah satu anak buahnya.
Joe menghela napas. “Kita tidak perlu menahan. Kita hanya perlu bertahan sampai tuan datang.”
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah belakang.
Semua orang langsung siaga. Tangan-tangan bergerak mendekati senjata.
Namun langkah itu berhenti saat sosok pria muncul dari balik bayangan.
Tinggi, tegap, dengan aura yang langsung membuat suasana berubah.
Enzo telah tiba.
“Lapor,” ucapnya singkat.
Joe mendekat. “Kapal kita ditahan oleh otoritas pelabuhan, tapi mereka bukan masalah utama. Ada kelompok lain yang memprovokasi mereka. Mereka memalsukan dokumen kita dan menyebarkan informasi seolah-olah kita membawa barang ilegal tanpa izin.”
Enzo tersenyum tipis.
“Ironis,” katanya pelan. “Seolah-olah kita pernah peduli soal izin.”
Beberapa anak buahnya menunduk, tak berani menatap langsung.
“Di mana mereka sekarang?” tanya Enzo lagi.
Joe menunjuk ke arah gudang tua di ujung pelabuhan. “Kami menduga mereka di sana. Tapi mereka bersenjata lengkap.”
Enzo mengangguk pelan.
“Bagus,” ucapnya.
Joe sedikit mengernyit. “Bagus, tuan?”
Enzo menoleh, matanya tajam seperti pisau.
“Aku tidak suka berburu tikus yang bersembunyi. Lebih baik mereka keluar dengan membawa senjata… jadi aku punya alasan untuk menghabisi mereka.”
Suasana mendadak sunyi.
Angin malam berhembus pelan, membawa aroma laut yang asin bercampur dengan ketegangan yang hampir meledak.
Enzo melangkah maju, diikuti anak buahnya.
“Malam ini, kita tidak hanya mengambil kembali kapal kita.” lanjutnya.
Langkahnya berhenti sejenak.
“Tapi juga mengirim pesan… bahwa tidak ada yang boleh menyentuh milikku dan hidup untuk menceritakannya.”
Dan tanpa aba-aba lagi, mereka bergerak menuju gudang tua itu, menuju pertempuran yang akan menentukan siapa yang benar-benar menguasai kegelapan malam.
Langkah kaki mereka bergema pelan di antara deretan kontainer tua yang berkarat. Angin laut berhembus kencang, membawa aroma asin yang bercampur dengan ketegangan yang semakin memuncak. Enzo berjalan paling depan, sorot matanya tajam menembus gelap, seolah ia sudah tahu apa yang menunggunya di balik gudang tua itu.
Joe memberi isyarat dengan tangannya. Beberapa anak buah langsung menyebar, mengambil posisi di sisi kanan dan kiri, mengepung area tanpa suara.
Gudang itu tampak sunyi.
Terlalu sunyi.
Enzo berhenti beberapa meter dari pintu yang setengah terbuka. Ia mengangkat tangannya, memberi tanda agar semua orang siaga.
“Perangkap,” gumamnya pelan.
Belum sempat Joe menanggapi, tiba-tiba...
DOR!
Tembakan pertama memecah keheningan malam.
Peluru melesat cepat, menghantam kontainer tepat di samping Enzo. Percikan api kecil muncul dari benturan logam.
“SERANG!” teriak Joe.
Seketika suasana berubah menjadi kacau. Suara tembakan bersahutan dari dalam gudang. Kilatan cahaya dari moncong senjata memecah gelap. Anak buah Enzo langsung membalas, berlindung di balik kontainer, peti kayu, dan kendaraan yang terparkir.
Enzo bergerak cepat.
Dengan refleks yang terlatih, ia menarik pistolnya dan membalas tembakan dengan presisi. Satu peluru, satu target. Sosok pria yang bersembunyi di balik pintu gudang langsung tumbang tanpa suara.
“Masuk!” perintah Enzo.
Dua anak buahnya menerobos lebih dulu, diikuti Joe. Tembakan semakin intens dari dalam. Suara kaca pecah dan kayu hancur menggema di seluruh ruangan.
Gudang itu ternyata sudah dipersiapkan.
Lampu redup menggantung di langit-langit, menciptakan bayangan panjang yang menipu mata. Peti-peti besar tersusun sebagai perlindungan, dan musuh sudah menunggu dengan posisi strategis.
“Sebelah kiri!” teriak salah satu anak buah.
Rentetan peluru langsung menghantam sisi kiri. Joe membalas dengan cepat, menjatuhkan dua orang sekaligus.
Enzo melangkah masuk lebih dalam. Matanya menyapu setiap sudut, menghitung, membaca pergerakan, mencari pusat kendali.
Dan kemudian, Ia melihatnya.
Seorang pria berdiri di lantai atas gudang, di atas balkon besi. Tubuhnya tegap, wajahnya tertutup bayangan, namun jelas dialah yang memimpin serangan ini.
Pria itu tersenyum tipis.
“Ternyata kau datang sendiri, Enzo,” ucapnya lantang.
Enzo mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah suara itu.
“Orang bodoh biasanya tidak bersembunyi,” balasnya dingin.
Pria itu tertawa kecil. “Atau mungkin… orang yang cukup berani untuk mengakhiri kekuasaanmu.”
Belum selesai kalimatnya, Enzo langsung menembaknya.
DOR!
Peluru melesat cepat, namun pria itu sudah lebih dulu menghindar. Ia menghilang dari balik balkon, dan seketika tembakan dari atas kembali menghujani.
“Dia pemimpinnya, tuan!” teriak Joe.
“Aku tahu,” jawab Enzo singkat.
Enzo bergerak maju, mengabaikan peluru yang berdesing di sekitarnya. Ia berlindung di balik peti, lalu melompat ke sisi lain dengan kecepatan yang nyaris tak terkejar mata.
Satu per satu musuh mulai berjatuhan. Namun mereka bukan amatir. Serangan mereka terkoordinasi, disiplin, dan tanpa rasa takut.
“Naik ke atas, periksa semuanya” perintah Enzo.
Dua orang anak buahnya langsung berlari ke tangga besi di sisi gudang.
Sementara itu, Enzo memilih jalur berbeda. Ia melangkah cepat ke belakang gudang, menemukan tangga darurat yang lebih sempit. Tanpa suara, ia menaikinya, setiap langkah penuh perhitungan.
Di atas, pria misterius itu sedang sibuk memberi perintah. “Jangan biarkan dia keluar hidup-hidup!” teriaknya.
Namun kalimat itu terhenti. Suara langkah pelan terdengar di belakangnya. Pria itu menoleh, dan membeku.
Enzo sudah berdiri di sana, pistol terarah tepat ke kepalanya. Untuk pertama kalinya sejak baku tembak dimulai, suara di sekitar mereka terasa jauh.
“Kau terlalu banyak bicara,” ucap Enzo pelan.
Pria itu tersenyum, meski keringat mulai terlihat di pelipisnya. “Kau pikir ini akan berakhir di sini?” katanya.
Enzo mendekat satu langkah. “Tidak, Ini baru permulaan.” jawabnya dingin.
DOR!
Tembakan menggema. Tubuh pria itu terjatuh, menghantam lantai besi dengan suara keras.
Di bawah, suara tembakan perlahan mereda. Anak buah Enzo mulai menguasai situasi. Satu per satu musuh tersisa menyerah… atau tidak lagi bergerak.
Beberapa menit kemudian, gudang itu akhirnya sunyi.
Joe naik ke atas, napasnya masih memburu.
“Semua sudah bersih, tuan. Kapal kita juga sudah diamankan.”
Enzo berdiri diam, menatap tubuh pria yang baru saja ia jatuhkan. Namun ekspresinya tidak menunjukkan kemenangan.
Justru sebaliknya. “Ini terlalu mudah,” gumamnya.
Joe mengernyit. “Tuan?”
Enzo menunduk sedikit, lalu berkata pelan, “Orang seperti dia… bukan dalang utama.”
"Maksud anda dia hanya pion?" tanya Joe.
Enzo hanya mengendikkan bahunya acuh dan berlalu begitu saja.
tapi sering kena tembak🧐🧐🧐